Maaf Ibu, Ku Langgar Janjiku - Saifullah | My Everything

Maaf Ibu, Ku Langgar Janjiku

Hari sudah menjelang sore. Aah.. Aku berdoa hari ini tidak turun hujan, aku tidak ingin Ibu kebasahan karena hari ini Ibu akan pulang.
***

"Tina, ganti bajumu !, masak mau pergi ke pesta pakai baju begitu? Ga cocok itu, warnanya ga matching !" Teriak Ibu

.
"Iih Ibu apa sih, orang bagus begini, aku ga mau ganti"

.
"Kamu itu kalau dibilangin Ibu ga pernah mau dengar !"
.
"Biarin, selera Ibu norak, semua harus matching, baju ibu pink, warna anting ibu juga pink, bajunya hijau, antingnya juga hijau, norak !." jawabku dengan muka kesal.
.
"Iiih kamu itu yang norak" kata ibu marah sambil menjewer kupingku.
.
"Aah sakiiit, Ibu ini jangan suka maksa aku terus dong, dulu aku sering pakai celana boxer Ibu marah, sekarang aku turutin pakai baju cewek, masih cerewet juga" sahutku menggerutu sambil mengusap-usap kupingku.
.
Lalu kulihat Ibu sedang mencari-cari baju di lemariku.
.
"Udah diem, lepas itu, ganti yang ini !" Kata Ibu memaksa.
.
"Aaah ga mau.. ! Lihat itu banyak bordirannya disana-sini, kaya orang tua saja pakai itu"
.
"Tapi ini lebih bagus dari pada yang kamu pakai itu, Tina.."
.
"Engga !!" Sahutku, bergegas mengambil tasku, lalu kabur.
***
"Tina, makan dulu nak".
.
Suara Tante membangunkanku dari lamunan, kenanganku saat itu bersama ibu, kami berdua selalu saja bertengkar. Dan saat ini aku benar-benar merindukannya, berharap mendengar suaranya saat mengomel kepadaku lagi, seperti dulu.
.
"Nanti saja, Tante" jawabku sembari tersenyum samar.
.
"Tante taruh disini ya Nak, dari tadi pagi kamu belum makan, makanlah sedikit" kata Tante dengan lembut.
"Iya Tante, terimakasih"
.
Aku terus memandangi sepiring nasi itu, Ibu sering sekali mengajakku makan sepiring berdua, entah kenapa saat makan bersama Ibu aku menjadi begitu lahab.
***
"Tina, ayo sini makan sepiring bareng Ibu"
Ajak Ibu, sambil menyodorkan sepiring nasi porsi besar.
.
Akupun duduk bersamanya, menyendok makanan dipiring yang sama.
.
"Acaranya apa sih? Ganti ya chanelnya, masih iklan tuh" pintaku
.
"Ga boleh, jangan diganti nanti kelewat " kata Ibu sambil merebut remote ditanganku.
.
"Aah berita kriminal ya? Ganti dong.. aku ga suka nonton itu.."
.
"Ini tuh bagus Tina, bikin kamu makin waspada, biar kamu tambah wawasan" tungkasnya.
.
Aku menghela nafas jengkel.
"Ga habis pikir deh, bisa-bisanya nelen makanan sambil lihat korban pembunuhan. Sadis"
.
Lalu Ibu memukul kepalaku dengan remote.
"Dasar anak nakal, ngatain Ibunya sadis !"
.
"Aduuh sakit, Ganti dong.."
.
"Engga, boleeeh..!"
Ibu menyembunyikan remote dibelakang punggungnya.
***
"Tina.."
Aku tersentak, sekali lagi lamunanku buyar, baru kusadari Bapak sudah ada di dekatku, ia merengkuh pundakku.
"Sudah waktunya Nak"
Akupun terdiam lalu memandang Bapak dengan tatapan memohon, seperti aku hendak berkata, jangan lakukan ini, aku masih ingin bersama ibu, tapi mulutku sama sekali tidak terbuka.
"Tina.., Ibumu harus segera dimakamkan"
Kata bapak lagi, dengan suaranya yang lirih lalu semakin erat dia merengkuhku.
Kita saling menatap, terlihat Bapak menahan air mata disudut matanya dengan sekuat tenaga. Tapi ternyata, Bapak tidak sekuat itu, air matanyapun tumpah, ia menangis.
.
Tapi aku tidak, tidak akan. Ibu bilang dia tidak mau melihatku menangis. Lalu aku memandang Ibu, Ibu masih ada di sini, terbaring di depanku. Seketika Bapak mendekapku, seakan mengerti saat ini batinkulah yang sedang menangis.
.
Bapak meraih tanganku dan menggenggamnya, membantuku untuk berdiri.
.
"Mari antar Ibumu pulang, Nak" suaranya terdengar begitu parau, dan air matanya seakan tidak bisa berhenti menetes.
Tapi saat mereka datang, hendak membawa ibu, Maafkan aku Ibu.. Aku harus melanggar janjiku, aku tidak sekuat itu, airmataku tidak sanggup lagi kubendung.

By: EYP


Gambar terkait:

  

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah