Kisah Tertulis 11 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 11

Apa ini mimpi?

Ellea.

Wanita yang entah untuk berapa puluh kali membuatku menangis. Mengutuki malam, mengutuki cahaya bulan yang temaram, dan mengutuki kerlip bintang. Karena semua itu mengingatkanku padanya. Betapa dia seringkali mengeluh karena tidak bisa membayangkan bagaimana rupa dan warnanya, tapi dia percaya itu semua indah. Karena aku yang bercerita.

Ellea.

Wanita yang demi nya aku rela bersujud di pertengahan malam. Meminta pada Tuhan. Saat hatiku terkerat oleh rasa rindu yang tak lega hanya dengan memandang sketsa tanpa warna. Memohon agar kami segera dipertemukan karena rasa rindunya tak lagi tertahan.

Ellea.

Ellea-ku.

Tadi, hampir saja hatiku terjatuh saat menyadari ada seorang pria bersamanya.

Hampir saja jatuh, sampai akhirnya Ellea memperkenalkan pria itu padaku.

"Dia dokter yang menangani operasiku ..."

Pria berwajah tenang itu mengangguk, dengan segaris senyum ramah di bibirnya. Kau tahu bagaimana leganya aku? Sama seperti saat kau sudah berada di tiang gantungan tapi tiba-tiba sang algojo berteriak membebaskanmu.

Kudengarkan penjelasan mereka. Bahwa Ellea baru sekitar setahun ini melakukan operasi mata. Masih harus rutin menjalani pengecekan tentang kondisi pasca operasi. Karena itu dia sering menemui sang dokter di tempat praktek, dan kadang di luar.

Aku hanya mendengarkan, sambil satu tangan menggenggam jemari Ellea.

.

Jam 7 malam.

Aku melepaskan celemek putih dan menggantungnya bersama jajaran milik karyawan lain. Setelah merapikan diri, lalu berjalan keluar dari ruangan khusus karyawan. Sempat berpapasan dengan mereka yang ber-shift malam, menganggukan kepala dan sesekali menyapa. Berpamitan pulang pada lelaki tua berambut setengah botak yang masih sibuk di depan meja kasir, si pemilik restoran. Dia hanya menjawab dengan suara yang tertelan di tenggorokan karena terlalu sibuk menghitung jumlah uang.

Angin berembus menyambut saat pintu kaca terbuka. Suara riuh orang-orang di sekitar bercampur dengan suara desing mesin kendaraan yang melintas. Sementara lampu-lampu toko begitu terang hingga suasana malam tak kalah benderangnya dengan siang.

Di sana, berdiri di bawah tiang besi bercat hijau berukir dengan bola lampu bulat bercahaya kekuningan. Di bawah bias cahaya kulihat wajahnya.

Gadisku. Terpujaku.

Ellea. Dalam balutan jaket berkerah bulu dipadu dengan celana jeans, sementara kakinya tertutup oleh sepatu abu-abu selutut berhak tinggi. Dia memakai topi hangat dengan rambut terurai panjang.

Aku berjalan mendekat. Hingga jarak kami hanya sekitar satu langkah saja. Dari sini bisa kucium harum parfumnya.

"Apa aku terlalu lama?" tanyaku sambil meraih tangannya.

Dia tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu mengikuti langkahku.

"Athaya, aku sudah bisa melihat sekarang ..." Dia tertawa saat aku tetap menggandeng tangannya.

"Apa aku menggandengmu hanya saat kau tidak bisa melihat saja, Nona?"

Kami bertatapan.

"Tidak."

Aku mempererat genggamanku.

"Aku ingin seumur hidup menggandeng tanganmu setiap kita berjalan bersisian."

"Athaya, bisakah bicara yang tidak manis padaku? Itu selalu membuat jantungku berdebar, kau tau?" Dia menahan senyum.

"Tidak."

"Tidak bisa?"

"Hmm."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin jantungmu terus berdebar saat bersamaku."

Kami bertatapan lagi.

Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah membayangkan kami bisa bertatapan seperti ini. Bukan karena dia buta dan akan buta selamanya. Tapi kupikir, saat dia bisa melihat, saat itu aku yang akan menjadi buta.

"Matamu berkaca-kaca." Dia berucap pelan.

"Tidak apa-apa. Ini memang selalu seperti itu."

"Apa karena aku?"

"Tidak."

"Apa karena aku?"

"Ya."

"Maaf ..."

"Tidak apa-apa. Bukan kau yang menyakitiku. Tapi karena perasaan untukmu melebihi kemampuanku!" Aku mengusap matanya yang mulai basah.

Dia mengulurkan tangan, mengusap sudut mataku dengan bibir bergetar.

"Aku mendengar suaramu saat mengejar mobil waktu itu ..." lirihnya.

"Ya ... aku mengejar."

"Lalu ... saat kami sampai ... ayah berteriak marah karena darahmu mengotori kaca mobilnya."

Aku mengalihkan pandangan.

"Kau membuat luka sebagai tanda ... iya kan?"

Aku kembali menatapnya.

"Mendengar itu ... aku menangis berminggu-minggu ..." dia terisak, "jika aku tahu kau akan melakukannya ... aku tidak akan meminta tanda. Itu menyakitiku, kau tau?"

"Ya, ya. Aku tau .. maaf, maaf!" Aku mengusap airmata yang semakin deras itu. Sampai akhirnya kubenamkan wajah Ellea di dadaku.

Kadang, ada rasa rindu yang tidak bisa terobati oleh pertemuan. Karena terlalu hebat, karena begitu dalam. Hanya airmata yang bisa mengungkapkan. Dan saat ini, kami sedang merasakannya.

Entah bagaimana lagi agar airmatanya terhenti di saat yang seharusnya dipenuhi oleh tawa.

.

Kami menyeberangi jalan. Melangkah bersisian di sepanjang trotoar. Menikmati suasana malam. Dimana terlihat pemain musik jalanan sedang menggesek biola dengan topi sebagai wadah receh dilemparkan. Jajaran makanan pinggir jalan yang menguarkan harum khas kue atau makanan berminyak yang menggoda penciuman. Juga kerlip aksesoris dan perhiasan berbahan batu dan perak yang menyemarakkan keindahan malam.

Beberapa kali kami menghentikan langkah. Duduk di kurai besi tepi trotoar sambil menikmati minuman penghangat malam dan menggenggam kue panas di tangan. Tidak banyak bercerita, seringkali terdiam dan membiarkan hati yang mengungkapkan kerinduan lewat tatapan mata dan senyuman.

"Kau ingat dulu aku bertanya bagaimana rupa bintang?" Ellea mendongak ke atas. Hingga membuat leher panjangnya semakin jelas.

"Kau selalu memintaku menjelaskannya berulang-ulang." Aku tersenyum.

"Dan saat pertam kali aku bisa melihat bintang, aku sedikit kecewa ..."

Dia menoleh padaku, aku menatapnya bertanya.

"Karena yang kau ceritakan berkali lipat lebih indah dari yang kulihat."

Aku memalingkan wajah, dan tertawa.

"Itu karena hatimu yang bilang begitu."

Dia menatapku.

Aku menarik napas. Menyandarkan punggung di sandaran bangku, lalu mendongak. "Kadang indah atau tidaknya rupa tergantung bagaimana hati yang menjelaskannya ..."

Saat aku melirik, kulihat senyum di wajah Ellea.

Sesaat kami saling diam. Lalu,

"Ellea, maukah kau menikah denganku?"

Gadis itu menoleh. Menatapku dengan mata sedikit membesar.

"Apa?"

"Menikah denganku."

"Athaya ..."

"Ya?"

"Tapi ... aku ... lebih tua dari mu."

"Apa menurutmu itu masalah?"

"Tidak, aku hanya ..."

Kami bertatapan, lama. Membiarkan detak rasa yang berbicara. Dia juga menginginkan pernikahan, tapi ada kabut tipis yang menutupi kebahagiaannya.

"Aku takut jika hanya merepotkanmu saja," lirihnya.

"Maka aku juga akan merepotkanmu."

Dia sedikit tertawa. Sementara aku tersenyum menatapnya.

"Selama ini, aku membagi dua semua uang dari hasil penjualan buku. Setengah untuk keluargaku, setengahnya lagi untuk operasi dan biaya hidupmu." Aku menarik napas, lalu menatap kedua mata Ellea lebih dalam lagi. "Aku janji tidak akan membiarkanmu merasa tidak bahagia. Aku janji akan memberikan hidup yang layak untukmu dan keluarga kecil kita. Jadi menikahlah denganku.

Ellea ... menikahlah denganku."

Kulihat sesuatu jatuh menitik dari sudut matanya.

Tak dijawabnya pertanyaanku. Tapi dia memelukku erat sebagai jawabannya.

***

Aku tersentak ke samping.

"Ayah!" Terdengar Ellea berteriak mencegah.

Belum sempat aku berdiri dengan benar, saat tinju itu melayang lagi. Lebih keras.

Kembali aku terhuyung. Ditambah dengan rasa perih di pelipis mata. Kembali aku berdiri. Lalu,

"Dengarkan aku dulu, Paman!"

Kepalaku tersentak. Lagi. Bahkan kini mulai terkqecap rasa asin dari sudut bibir.

"Ayah!" Lagi, Ellea mencoba menahan. Tapi kemudian gadis itu terhempas ke belakang karena dorongan lengan ayahnya.

"Paman, dengarkan aku dulu! Paman-"

Lengannya mengayun keras tanpa menungguku selesai bicara. Aku terjatuh, karena kaki yang mulai goyah oleh sakit kepala akibat hantaman ayah Ellea.

Setetes merah terjatuh ke lantai rumah Ellea. Aku mengusapnya dengan punggung tangan. Sementara pandangan sesaat menggelap, lalu kembali normal.

Cukup. Ini sudah cukup.

Lengannya terangkat lagi saat melihatku mulai berdiri. Tapi aku menahannya dengan telapak tangan.

Wajahnya mengeras kemerahan. Menandakan betapa marahnya dia mengetahui aku mencoba melawan.

Dia menyentak, agar cekalanku terlepas, tapi aku menahannya lebih kuat. Lalu mendorongnya sedikit keras. Membuat pria itu terjebak di antara dinding dan aku.

"Paman, ayo kita bicara!" Aku menekan lengannya yang masih berusaha berontak, "bicaralah padaku apa alasannya ..."

Kami bertatapan. Saling bertatapan dengan arti yang berbeda. Lalu, aku menunduk dan luruh di bawah kakinya.

"Katakan padaku, apa syaratnya agar bisa kunikahi Ellea?"

 Penulis: Patrick Kellan

10       11       12

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah