Kisah Tertulis 12 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 12

Tidak semua kebencian punya alasan kuat di baliknya. Sebagian orang bisa membenci orang lain bahkan tanpa alasan yang jelas, tapi menunjukkan sikap seolah mereka mempunyai dendam yang teramat dalam.

Tadinya, kupikir ayah Ellea pun seperti itu. Seperti beberapa orang yang mengaku sebagai haters Napoleon Bonaparte selama ini. Tapi ternyata, kemudian dia mengingatkanku pada sesuatu.

Ayah Ellea tidak membenciku karena kami keluarga miskin. Tapi karena akulah penyebab kebutaan Ellea.

Dia anak perempuan satu-satunya. Yang paling diinginkannya. Tapi saat Ellea berusia 6 tahun, dia harus mengalami hal buruk saat bermain denganku.

Aku yang masih berusia 4 tahun mendorongnya dari atas ayunan saat dia sedang mengayun dalam kecepatan tinggi.

Hingga taman bermain yang tadinya dipenuhi suara tawa anak kecil kemudian berganti dengan jerit tangis.

Jerit Ellea.

Kepalanya membentur batu dengan keras. Sangat keras. Bersamaan dengan darah yang mengucur deras membasahi sebagian rumput taman. Ayahku segera membawa Ellea ke klinik terdekat. Lalu menanggung biaya pengobatannya.

Tadinya hanya seperti itu. Tadinya tidak ada yang pantas di khawatirkan seperti yang dokter klinik itu bilang. Sampai akhirnya kemudian keluarga Ellea menyadari sesuatu. Bukan cuma bekas jahitan luka di kepalanya yang membekas, tapi juga penglihatan yang semakin hari semakin memudar.

Ketika aku mulai memasuki bangku sekolah dasar, Aku mulai sering mendengar teriakan dari rumah Ellea.

"Ellea! Berjalanlah dengan benar! Kau merusak hasil karyaku!" Kudengar teriakan Zackie, kakak tertua Ellea waktu itu.

Aku mengintip dari jendela kamar. Dulu, rumah Ellea belum sebesar itu. Tak jauh berbeda dengan rumah keluargaku. Dari jendela kamar, aku bisa melihat ruang dalam rumah mereka saat jendelanya terbuka.

Kulihat Ellea. Dia berdiri menunduk, menangis ketakutan karena tak sengaja menabrak tugas sekolah yang sedang dikerjakan Zackie.

Lalu semakin hari, kedua kakaknya mulai mempertanyakan mata Ellea pada sang ayah yang saat itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Seringkali gadis kecil itu tanpa sengaja melakukan hal-hal yang menjengkelkan karena penglihatan yang semakin memburuk.

Aku sering memperhatikan mereka, tapi demi Tuhan aku tidak tahu kalau salah satu penyebab kebutaan Ellea karena peristiwa jatuh di taman waktu itu.

Ayahnya tidak pernah mengatakan dengan jelas. Dia hanya selalu marah pada keluargaku, terutama padaku. Merasa aku penyebab kebutaan Ellea, tapi juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Karena kondisi syaraf mata Ellea memang punya potensi mengalami kebutaan sejak dia lahir. Dan peristiwa jatuh itu hanya salah satu faktor penyebab mempercepat kebutaannya.

Saat aku naik ke kelas dua, Ellea tak lagi pergi ke sekolah. Ada seseorang yang selalu datang ke rumahnya untuk mengajari Ellea.

"Ellea, lihat! Aku menggambar wajahmu di sekolah tadi!" Aku menunjukkan buku gambarku padanya.

Tapi Ellea tidak melihatnya. Dia hanya terpaku menatapku, pandangannya benar-benar kosong hingga kukibaskan tangan di depan wajahnya berkali-kali. Apa dia mengantuk? Itu yang kupikirkan.

Tapi kemudian ...

"Athaya ... sekarang semuanya gelap," lirihnya waktu itu.

Aku menatapnya dengan mulut terbuka. Bagaimana bisa semuanya gelap jika saat itu matahari jelas bersinar terik di atas langit?

"Kenapa gelap?"

"Aku tidak tahu ..."

"Sama sekali tidak bisa melihatku?"

"Tidak."

Aku menjulurkan lidah ke arahnya. Biasanya dia akan marah. Tapi benar, dia hanya diam. Lalu perlahan airmatanya mulai menetes.

"Aku tidak dapat melihat ... karena itu sekarang ayah merasa kesal padaku ..."

Aku terdiam. Hanya melihatnya menangis dengan sangat menyedihkan. Hingga yang terpikir olehku adalah bagaimana cara membuatnya tertawa lagi.

Ayahnya tidak kesal. Dia marah. Dia marah pada dirinya sendiri karena melihat keadaan Ellea begitu menyedihkan. Sebagian orang menunjukkan rasa sedih dengan kemarahan. Begitu pun dengan ayah Ellea.

Yang lebih menyakitinya, dia tidak punya cukup uang untuk melakukan operasi mata dan mencari pendonornya. Ingin menggantikan kebutaan Ellea, tapi dia punya banyak tanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Hingga saat dia mulai punya cukup uang untuk melakukan operasi, dokter bilang syaraf mata Ellea harus mendapatkan banyak terapi terlebih dahulu. Karena itu, dia membawa Ellea pindah ke kota.

Sekarang jelas sudah.

Jelas sudah alasannya tidak menyukaiku.

Di hadapanku, dia duduk dengan rahang mengeras menahan kemarahan dan kesedihan setelah akhirnya menumpahkan semua dalam cerita.

Baru kali ini aku mengerti perasaannya.

"Aku mencintai Ellea, Paman. Beri aku kesempatan agar bisa melakukan lebih banyak dari yang paman berikan."

Mata tajamnya menatapku. Seperti seseorang yang berusaha mencari jawaban atas keraguannya di mataku. Aku balas menatapnya. Membiarkan ia membaca hatiku lewat mata.

Hingga akhirnya kulihat rahangnya tak lagi mengeras seperti tiap kali dia bertemu denganku selama ini.

"Jaga dia untukku. Karena dia putriku satu-satunya ..." suaranya sedikit bergetar, menyadari bahwa ia sedang menyerahkan putri kesayangan pada pemuda yang paling dibencinya.

"Aku akan menjaganya," jawabku dengan penuh keyakinan, "karena dia wanitaku satu-satunya ...."

***

Kadang, orang tanpa sadar memilih memupuk kebencian di dalam hati hingga akhirnya tak bisa mengendalikan diri. Lucunya lagi, kadang dia yang dibenci tidak pernah tahu apa kesalahannya. Hingga yang terjadi akhirnya muncul kesalahapahaman yang berulang-ulang.

Seperti yang ayah pikirkan. Bahwa ayah Ellea membenci kami karena mereka dulu pernah menjadi agen koran yang sama. Hingga kadang saling berebut pelanggan untuk bertahan. Sementara ibu berpikir bahwa keluarga Ellea membenci kami karena status sosial mereka tak lagi sebanding.

Kudengar beberapa kali ibu bilang, bahwa setelah menjadi kaya, ayah Ellea berubah menjadi sedikit arogan. Begitu juga dengan istrinya.

Dari kedua belah pihak tak ada yang pernah mencoba untuk saling bicara.

"Hei, kudengar dari bos bahwa dalam waktu dekat kau akan menikah!" Toby menyenggol lenganku saat aku membuka celemek yang kupakai di ruang karyawan.

Aku tersenyum, mengiyakan tanpa banyak bicara.

"Dengan gadis yang kau peluk di sini beberapa minggu yang lalu?" Pemuda bertubuh pendek itu masih penasaran.

"Ya."

"Lalu kapan pernikahannya?"

"Dalam waktu dekat."

"Ohh." Dia mengangguk-angguk, "jika kau butuh sesuatu, kau bisa minta tolong padaku. Tentang toko pembuat cincin yang bagus misalnya."

Aku menoleh, lalu tersenyum.

"Terimakasih, tapi aku sudah memesannya beberapa hari yang lalu. Hari ini akan mengambilnya."

"Ohh." Lagi dia mengangguk. "Lalu apa kau akan berhenti bekerja setelah menikah dengannya?"

"Ya."

"Haha, aku tahu kau akan berhenti bekerja. Karena kulihat penampilan gadis itu menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga kaya. Kupikir ayahnya pasti memberimu modal untuk masa depan kalian. Beruntung sekali," ucapnya sambil menepuk bahuku.

Aku menatapnya tajam. Tapi melihat senyum polos itu, akhirnya aku memilih untuk tak mempedulikannya.

Bukankah memang seperti itu? Beberapa orang melihat hanya satu adegan dari perjalanan hidupmu, menilai sesuai dengan cara pandang hidup mereka, lalu dengan mudah menyimpulkan apa yang dia pikir adalah kebenarannya.

Aku tersenyum sekilas, lalu berpamitan padanya. Menyapa beberapa teman pekerja di sepanjang koridor menuju keluar lalu berpamitan pada sang bos yang tengah sibuk menghitung lembaran uang.

Di luar, langit memerah diiringi hembusan angin kecil yang menyejukkan khas suasana menjelang malam.

Aku tidak berjalan ke arah tempat tinggalku, tapi ke arah yang berbeda. Berniat mengambil cincin yang kupesan di sebuah toko perhiasan minggu lalu.

Langkahku melambat. Menyadari ada sosok yang sangat kukenal tak jauh di seberang sana.

Ellea.

Baru saja turun dari mobil mewah warna silver setelah pria itu membukakan pintu dengan sangat sopan khas bangsawan.

Ellea, dan dokter yang menangani operasinya.

Aku terdiam. Merasa mulai ada sesuatu yang sangat tidak mengenakkan di dalam dada. Aku tahu mungkin hari ini adalah jadwal mereka bertemu untuk membahas kondisi mata Ellea. Tapi apa harus selalu makan di luar berdua saja?

Bahkan Ellea tidak bilang ada jadwal bertemu dokter itu padaku!

Suara klakson mobil memekakkan telinga saat hampir saja tubuhku terserempet. Disusul makian yang terdengar dari balik kemudi.

Aku hanya mengangkat kedua tangan sebagai tanda permintaan maaf. Lalu setengah berlari menuju tepi. Sesaat menoleh ke arah mobil yang terparkir di halaman sebuah kafe, dengan langkah lebar mengikuti mereka masuk ke dalam sana.

Suasana kafe terlihat begitu nyaman, terutama di depan sana tengah bernyanyi seorang wanita seksi bersuara merdu. Menyanyikan lagu romantis penuh cinta. Sesuai sekali dengan cara dokter muda itu menatap Ellea.

Mereka berdua menuju meja paling tepi. Dimana bisa terlihat jalanan dan lalu lalang pejalan kaki dari sana. Tempat paling strategis jika ingin membicarakan tentang apa saja. Termasuk tentang perasaan mungkin.

Pria berkemeja biru tua itu menarik kursi untuk Ellea, lalu setelah yakin gadis itu sudah merasa nyaman, dia segera menarik kursi dan duduk tepat di sebelahnya.

Kulihat dia tersenyum. Tadinya dia memang tersenyum. Sampai akhirnya dia melirik, lalu menyadari aku ada di ruangan yang sama. Berjalan ke arah mereka.

Seperti menyadari perubahan raut wajah pria di depannya, Ellea menoleh.

Terlihat kilatan kaget di mata coklat itu. "Athaya," gumaman itu terbaca dari gerak bibirnya.

Aku menyeret kursi tak jauh dari sana, mendekat, lalu duduk tepat di antara mereka.

Duduk. Dan hanya diam. Begitu juga mereka berdua. Astaga, ini sungguh seperti sedang menangkap basah dua orang pencuri.

Untuk beberapa saat, kami membiarkan hanya alunan musik dari panggung yang terdengar.

"Athaya ..." Ellea jelas seperti merasa bersalah. Atau dia memang bersalah?

"Tidak apa-apa. Kalian bicara saja," jawabku sambil menatap dokter muda itu tajam.

Hening lagi.

Sialnya, aku harus melihat Ellea dan dokter itu bertatapan. Seperti bicara lewat tatapan mata. Dan itu, bagiku sangat menyakitkan.

Aku meraih tangan Ellea dan menggenggamnya. Tanpa bicara.

Dokter itu menarik napas, lalu berpaling. Tapi kulihat dia tersenyum tipis. Sementar Ellea ...

Dia menahan senyum.

Mereka ini, benar-benar...

"Athaya ..."

Aku menoleh. Senyum Ellea semakin terkembang.

"Apa kau sedang cemburu?"

Penulis: Patrick Kellan

11       12       13

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah