Kisah Tertulis 13 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 13

"Tidak!"

"Yaa ... kau cemburu!"

"Tidak!"

" ... kau memang sedang cemburu!"

Aku berhenti melangkah, lalu berbalik padanya. Menyadari senyumnya yang tertahan itu seperti tengah menggoda. Apa itu lucu?

Apa pergi berdua saja dengan dokter tanpa sepengetahuanku menurutnya itu lucu?

Aku berpaling. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kafe tadi sudah tak terlihat lagi. Begitu juga mobil dokter yang dengan tenang mempersilahkan aku dan Ellea membicarakan masalah kami berdua saja.

Seolah-olah bukan dia sumber masalahnya.

Kini suasana sudah dipenuhi cahaya terang lampu jalan dan kendaraan. Biasanya aku menyukai saat berjalan berdua saja dengan Ellea di bawah rindang daun sepanjang trotoar. Membicarakan apa saja. Membicarakan tentang semua yang ingin ditanyakan Ellea.

Ya. Seharusnya aku lah tempatnya bertanya. Bukankah aku calon suaminya?

"Kau bilang, sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi di luar cek rutin di Rumah Sakit?" Aku menatapnya.

Kulihat itu. Perubahan di raut wajahnya. Senyum yang semula terlihat menggoda itu kini memudar. Berganti dengan tatapan yang entah apa artinya.

Aku benci ini. Sungguh. Aku benci saat harus memecahkan misteri di buku yang biasanya dengan mudah kubaca. Entah karena aku yang tak dapat memahami aksaranya, atau karena dia memang tak mengizinkanku membuka lebar agar dengan mudah terbaca lembarnya.

"Ya, kami hanya kebetulan bertemu di jalan ... lalu akhirnya dia mengajakku makan sebentar." Dia tertunduk, tak sanggup menunjukkan binar matanya.

Aku benar kan? Tak ada hal penting yang harus dibicarakan tapi mereka sengaja makan di luar.

Mataku menyipit. Menyadari ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Bukankah waktu setahun adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal satu sama lain? Saling menceritakan masalah, saling menilai, lalu sama-sama muncul rasa saling ketergantungan,

Ketergantungan.

Bukankah Ellea mencintaiku karena dulu dia bergantung padaku? Sebagian orang tidak bisa membedakan antara membalas cinta, dan membalas kebaikan yang pernah diterimanya.

Sesaat, kami saling hening. Hening yang sungguh menyakiti.

"Ellea ..."

"Ya?"

Aku terdiam.

"Ellea."

"Ya?"

"Bisakah tidak menyakitiku?"

Matanya membesar. Lalu kembali muncul rasa bersalah di dalam sinarnya.

Dalam hidup, aku enggan menghiba. Tapi untuk hati yang kuinginkan setengah mati ... aku rela melakukannya.

"Athaya ..."

"Ya?"

Dia terdiam.

"Athaya."

"Ya?"

"Pertanyaanmu menyakitiku." Matanya sedikit berkaca. Lalu berpaling agar aku tak melihatnya. Kemudian menunduk. Sambil memainkan kaki, punggung tangannya sekilas mengusap mata.

"Ah! Bintang jatuh, Nona!" Aku menengadah menatap langit. Bulan pucat terlihat tak benderang, karena itu jutaan bintang terlihat lebih jelas.

Ellea ikut mendongak. Lalu kembali menatapku.

"Itu bukan bintang jatuh. Itu pesawat."

"Bukan, itu bintang jatuh."

"Itu pesawat!"

"Lalu apa bedanya. Bintang jatuh atau pesawat, keduanya hanya benda bercahaya di angkasa sana!"

"Kau akan mengucapkan permintaan?"

"Hmm."

"Meminta apa?"

"Agar Tuhan mengabulkan cita-cita masa kecilku."

"Apa itu?"

"Rahasia!"

"Rahasia apa? Beritahu aku!"

"Tidak, itu rahasia!"

"Beritahu aku! Aku janji tidak akan memberitahukannya pada siapa-siapa!"

"Tidak! Itu tetap rahasia ...!" Aku berjalan mendahuluinya.

"Athaayaa!"

Aku tersenyum. Satu tangan terbenam di dalam saku celana, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Ellea.

Kami berjalan menyusuri paving trotoar. Menikmati suasana malam dan segala keramaiannya. Di dalam genggaman tanganku, jemari Ellea menggeliat. Lalu balas menggenggam.

"Athaya ... kau sudah tidak cemburu lagi?"

"Aku tidak cemburu."

Ellea tertawa.

"Kau memang cemburu ...!"

"Tidak, aku tidak cemburu!"

"Lalu kenapa kau menggenggam tanganku di depan dokter Martin? Lalu kenapa kau menarik kursi di antara kami lalu seenaknya duduk di sana? Dan kenapa kau menatap wajah dokter Martin dengan sangat galak? Kau memang cemburu!"

"Tidak!"

Untungnya, ini malam hari.

Ellea berusaha menjajari langkahku yang semakin lebar.

"Athaya..! Bilang kau memang cemburu!"

"Tidak!"

****

Aku melangkah turun dari bus yang kami naiki. Berbalik dan mengulurkan tangan padanya, lalu menahan berat tubuh Ellea saat gadis itu melangkah keluar dari pintu yang sama.

Bus melaju dengan kecepatan sedang. Sedang kami berdua berjalan ke arah yang berlawanan.

"Jadi kau sudah berhenti?" Ellea bertanya.

"Ya."

"Ohh."

"Lalu apa rencanamu setelah ini?"

"Nanti saja kuceritakan apa rencanaku."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin membawamu ke suatu tempat lebih dulu," jawabku, "apa kau lelah?" Aku sedikit melambat. Menyadari bahwa langkahku mungkin terlalu lebar untuk gadis yang mengenakan rok sempit seperti Ellea.

Hari ini dia terlihat cantik. Sangat cantik. Entah karena hari ini dia mengenakan pakaian yang begitu pas, atau karena dia memang semakin cantik dari waktu ke waktu ... di mataku.

"Sedikit. Tapi aku benar-benar penasaran dengan apa yang akan kau tunjukkan."

Aku tersenyum.

Kami berbelok ke halaman sebuah apartemen. Tidak terlalu mewah, tapi cukup berkelas.

Sekilas, dia menoleh padaku, bertanya. Tapi sengaja tak kubalas tatapannya.

Melewati lobi, lalu menyusuri koridor dan berdiri berjajar tepat di depan pintu lift bersama beberapa orang lainnya.

"Athaya ..."

Aku menggenggam tangan Ellea. Membiarkan beberapa pasang mata tersenyum simpul menyadarinya. Lalu saat lift berdenting dan pintu terbuka, aku memegangi kedua bahunya saat kami melangkah masuk ke dalam sana.

Pintu lift kembali berdenting saat angka menunjukkan lantai berapa yang ditekan.

Saat kami kembali menyusuri koridor menuju angka pintu yang tepat, dadaku berdetak. Menyadari bahwa kami memang sudah sejauh ini. Menyadari bahwa semua kesedihan yang telah kami lalui, akan segera terbayarkan.

Di sini.

Aku membuka pintu lebar-lebar.

Di rumah kami.

Matanya membulat saat melihat ada wajahnya tertempel di dinding bercat sedikit keunguan itu. Sketsa wajah Ellea dalam sebuah bingkai kayu warna hitam.

Wajah yang selama beberapa tahun menemaniku di kamar sempit itu. Melihatku menangis. Bahkan kadang kubasahu dengan airmataku. Tapi tetap tersenyum manis di hadapanku.

"Rumah kita." Aku berucap padanya.

Ellea terdiam

"Beberapa minggu yang lalu, setelah bertemu denganmu. Melihat kau sudah tidak membutuhkan biaya operasi itu, aku membeli ini."

Mata coklat itu mulai berkaca-kaca.

"Kau suka?"

Ellea menggigit bibir.

Entahlah. Tapi aku merasa ada yang salah dengannya. Itu bukan airmata haru yang seharusnya terlihat. Itu airmata ... kesedihan.

"Ellea?" Aku menyadarkannya.

Dia menatapku.

"Ellea?"

Airmata meluncur turun membasahi pipinya.

"Athaya ... aku tidak bisa ... menikah denganmu ... maaf!" Dia berbalik dan berlari pergi.

Meninggalkan jantungku yang jatuh menggelepar di atas lantai. Dan saat aku berkedip, ada sesuatu yang meluncur turun dari sudut mata.

Ellea ... menolakku.

***

Untuk beberapa waktu, dia menghindariku. Tidak menerima kedatanganku, bahkan tidak menerima telepon dariku.

Aku merasa mati.

Mati dalam keadaan semua indra masih berfungsi. Kecuali hati.

Tapi hari ini, hatiku terbangun dari komanya. Sayang, itu terbangun untuk menggeliat kesakitan.

Di depan sana. Untuk kesekian kali, aku melihat mereka. Berdua. Tengah berdiam menikmati indahnya langit sore. Berdiri bersandar di depan kap mobil mewah warna silver yang terparkir di tepi jalan dimana dari sana terlihat keindahan pemandangan yang terbentang di bawah sana.

Saling bicara. Saling bercerita.

Dokter itu, memang sudah menggantikan posisiku di hati Ellea. Jangan tanyakan sakitnya seperti apa. Karena aku takkan bisa menjelaskannya.

Rasanya seperti kau diberitahu bahwa besok takkan ada lagi pergantian siang dan malam. Hanya akan ada kegelapan. Seumur hidup.

Bukan kesedihan yang kau rasakan. Tapi ketakutan. Takut jika akhirnya nanti kegelapan akan menghabisimu secara perlahan.

Tidak ada yang takut akan kematian, yang mereka takutkan hanya bagaimana detik-detik proses yang dirasakan.

"Katakan padaku apa alasannya?" Aku bertanya.

Mereka berdua sedikit tersentak. Menyadari tiba-tiba aku berada di sana, tepat di hadapan mereka. Berdiri, dalam tegak yang rapuh. Entah wajahku sudah semenyedihkan apa aku tak peduli.

Sesaat, kami saling diliputi keheningan.

Keheningan yang begitu menyiksa.

"Apa alasanmu menolak menikah denganku?"

Lagi. Tak ada jawaban.

"Ellea ... aku cemburu."

Gadis itu memelukku. Erat.

"Athaya. Jangan menikahiku. Hasil tesnya menunjukkan aku akan kembali mengalami kebutaan ..." bisiknya sedikit terisak, "aku tidak mau seumur hidup merepotkanmu ..."

"Aku tahu," jawabku. Ya aku tahu, karena beberapa waktu yang lalu aku mendatangi dokter itu untuk bicara. Sedikit menekan, hingga akhirnya dia bercerita tentang keadaan yang sebenarnya. Itu sakit saat dia lebih memilih bercerita pada dokter itu daripada bercerita padaku, tapi aku memahami apa yang dikhawatirkan Ellea.

Dia mendongak menatapku.

"Tapi merindukanmu, itu jauh lebih merepotkan ..." aku balas menatapnya dalam-dalam. "Ellea, menikahlah denganku."

 Penulis: Patrick Kellan

12       13       14

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah