Kisah Tertulis 14 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 14

Ellea akan kembali mengalami kebutaan. Dan kali ini, untuk selamanya. Saraf matanya tak bisa berfungsi atau menerima kornea mata baru.

Itu yang dijelaskan dokter Martin, juga beberapa dokter yang kami temui.

Jadi dia akan buta selamanya.

Lalu apa itu masalah? Menurutku, itu sama sekali bukan masalah. Aku bisa menerimanya. Sungguh.

Di depanku, Ellea menangis. Menangisi takdir yang seperti mempermainkannya.

Aku tidak punya banyak kata untuk menenangkan Ellea. Aku hanya membiarkannya membasahi kemejaku dengan airmatanya.

Airmata yang sebenarnya menyakitiku.

***

Tidak seperti kebanyakan para gadis yang akan menikah. Ellea mempersiapkan begitu banyak syarat padaku. Bukan. Bukan syarat dalam hal materi, tapi dalam rupa pertanyaan.

Pertanyaan yang sangat absurd, menurutku.

"Katakan sejak kapan kau menyukaiku?"

"Sejak aku duduk di sekolah dasar."

"Apa alasannya?"

"Hmmm ... aku tidak tahu."

"Apa karena aku tidak bisa melihat dan kau iba?"

"Tidak."

"Apa karena kau senang ada gadis kecil yang selalu mendengarkan ceritamu?"

"Tidak. Beberapa anak perempuan ingin aku bercerita untuk mereka tapi aku tidak mau."

"Lalu sejak kapan kau mencintaiku?"

"Bukankah itu sama?"

"Apa yang sama?"

"Menyukai dan mencintai."

"Tidak, itu tidak sama."

"Apa bedanya?"

"Menyukai itu saat kau melakukan sesuatu untuk kesenanganmu. Sedang mencintai itu saat kau melakukan sesuatu untuk menyenangkan seseorang."

"Aku tidak merasa ada bedanya."

"Athaya, itu berbeda!"

"Kalau begitu, sehari setelah aku menyukaimu."

"Itu tidak jelas."

"Ayolah, aku memang tidak bisa menjelaskan kapan tepatnya."

"Baiklah, sekarang pertanyaan berikutnya."

"Astaga, kau punya berapa pertanyaan untukku, Nona?"

"Banyak sekali."

"Apa semuanya adalah syarat bagiku untuk menikahimu?"

"Ya!"

"Oke, tanyakan lagi."

"Apa alasanmu mencintaiku?"

Aku terdiam.

"Athaya?"

"Aku tidak tahu."

"Bagaimana kau tidak tahu? Setiap orang punya alasan kenapa menjatuhkan hatinya pada seseorang."

"Karena ... kau satu-satunya wanita yang paling kumengerti."

Dia terdiam.

"Aku tidak pernah mendengar ada alasan mencintai yang seperti itu?"

"Sekarang kau mendengarnya."

Kulihat senyumnya. Lalu dia berdehem, dan menggeser duduknya lebih dekat di hadapanku.

"Lalu bagaimana saat aku mulai merepotkanmu?"

"Aku akan membantumu ..."

"Membantu apa?"

"Membantumu memasuki dunia lama yang harus kau masuki lagi ..."

"Dunia gelap ..."

Aku menatapnya. Menatap mata coklat yang mulai berkaca-kaca.

"Bagaimana jika nanti aku tidak bisa melakukan semua pekerjaan rumah dengan benar ... karena aku tidak bisa melihat."

"Bukankah ada aku?"

"Tapi ..."

"Aku bekerja di rumah. Di depan layar komputer. Sambil mengawasimu."

"Aku merasa menjadi seperti anak kecil yang harus diawasi ..."

"Kalau begitu kau jangan kemana-mana. Duduk saja di sebelahku."

"Bagaimana kalau aku ingin duduk di pangkuanmu?"

"Heeii ... Ellea! Kau menggodaku!"

"Tidak!"

"Ya!"

"Tidak, tidak!"

"Nakal sekali!"

Dia tertawa. Sementara aku mengusap air yang tetap saja menetes keluar dari sudut matanya meski ia tertawa.

***

Setelah melewati segala acara pernikahan, setelah penyambutan dan penerimaan kedua mempelai dalam keluarga masing-masing, setelah menjalani semua prosesi yang melelahkan, akhirnya di sinilah kami.

Di dalam sebuah apartemen yang beberapa waktu lalu kutunjukan pada Ellea.

Aku menyibak tirai jendela. Seketika cahaya mentari pagi menyeruak masuk melalui kacanya. Mengalahkan redup lampu tidur kekuningan di sisi ranjang.

Di atas ranjang, Ellea menggeliat. Mengerjapkan mata sebentar. Lalu saat menyadari aku berdiri bersandar di dekat jendela, dia menutupi wajah dengan selimut tebal yang menyelimuti tubuh polosnya.

"Maaf, aku kesiangan!" ucapnya dari balik selimut.

Aku menahan senyum, "Kelelahan, Nona?"

"Mmm ...!"

"Kenapa menutupi wajahmu?"

"Aku malu!"

Dia mengintip, lalu kembali menutupi wajahnya saat menyadari kini aku sudah duduk di tepi ranjang.

"Semalam kau tidak malu!"

"Athaya ..."

Aku menarik selimut hingga wajahnya terlihat. Kedua pipinya bersemu kemerahan. Dengan senyum gugup yang sungguh lucu. Aku tidak tahu dia sepemalu ini.

"Sudah siang, Nona! Apa masih ingin berlindung di balik selimut sepanjang hari?"

"Mmm ...!"

"Hari ini, kita akan pergi ke suatu tempat."

"Kemana?"

"Ke tempat yang indah."

"Yeey!"

"Jadi sekarang kau mandi dulu."

"Mmm ... kau keluar dulu."

"Aku? Keluar? Hei, aku suamimu!"

"Athaya ... aku benar-benar malu!"

Aku menarik selimut yang menutupinya. Lalu,

***

Dia mempermainkan ujung kakinya di pasir, lalu sedikit memekik tiap kali ombak laut menghempas buih di mata kakinya.

Lalu berlarian.

Lalu merentangkan tangan dan menari-nari.

Lalu mengumpulkan kerang-kerang di sepanjang pantai.

Sementara aku menikmati kebahagiaannya.

Akan kubawa dia ke tempat-tempat indah yang bisa kutunjukkan. Agar saat suatu hari nanti penglihatannya menghilang, ada banyak keindahan rupa yang bisa diingatnya.

"Athaya."

"Ya?"

"Aku jatuh cinta lagi."

"Padaku?"

"Ya. Dulu, aku jatuh cinta padamu karena hatimu begitu hangat."

"Lalu sekarang?"

"Pada wajahmu."

Dia meraba setiap lekuk wajahku dengan jemarinya. Sambil menatapku dalam-dalam.

"Athaya. Kau ini tampan sekali."

 Penulis: Patrick Kellan

13       14       15

5 Komentar untuk "Kisah Tertulis 14"

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah