Kisah Tertulis 16 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 16

Ada orang yang tidak bisa menerima kekurangan diri sendiri walau itu bukan masalah besar bagi orang-orang yang mencintainya.

Ada orang yang tidak bisa menimbang antara ketakutan hati dan kasih sayang yang seharusnya disyukuri.

Ada orang yang berpikir bahwa saat dirinya dicintai, berarti dia hanya boleh memperlihatkan segala yang terbaik, yang serba sempurna, lalu terlupa arti cinta yang sebenarnya.

Bukankah cinta itu berarti saling menerima apa adanya? Segala lebihnya, juga setiap titik kekurangannya.

Setidaknya jika kau merasa hidupmu tak penting lagi, hiduplah untuk orang-orang yang menyayangimu. Mereka, yang rela melakukan apapun untuk melihat senyummu.

Mereka, yang kebahagiaan hatinya tergantung padamu.

Di sana, ayah Ellea berdiri dalam tegar yang dipaksakan. Berkali tertunduk, mengusap airmata, lalu memeluk wanita separuh baya yang gak henti mengucurkan airmata.

Tak jauh dari mereka terlihat dua orang laki-laki bergaris wajah nyaris serupa dengan Ellea, bersama masing-masing keluarga kecil mereka.

Sementara aku ...

"Ellea ...!!"

Tersungkur aku, saat keranda itu terangkat dan dibawa menuju ke pemakaman. Ditegakkan oleh beberapa kerabat dan teman, tapi aku kembali terjatuh karena lutut yang gemetar.

Merasa separuh napasku tengah diambil paksa. Merasa ragaku seketika tanpa jiwa. Seperti dipaksa berjalan dalam kegelapan yang tak akan ditemukan di mana ujungnya.

Inilah buta yang sebenarnya.

Saat kau tahu jiwamu tak punya cahaya untuk menyinari pekat abadi. Di sini. Di dada yang berlubang karena jantungnya tercabut keluar.

Tanah merah itu masih bertabur bunga-bunga segar. Mulai ditinggalkan para pengantar hingga akhirnya sendiri dalam keheningan.

Menggelepar.

Tak ada isak. Tak ada tangisan.

Hanya kuciumi tanah itu, karena basahnya masih menguarkan harum tubuh Ellea.

Elleaku.

Pernah kucabut segenggam merah dari dada
Kuberikan padamu
Meminta, setengah menghiba
Agar kau jagakan itu
Tapi akhirnya terbawa 
Kekal, bersama hidupmu

Ellea, mati jiwaku

***

Tak ada ucapan berbela sungkawa dari mereka yang mengaku penggemar. Karena sama sekali tak ada yang tahu kesakitan apa yang sedang dialami penulis favorit mereka. Baguslah. Setidaknya aku tak perlu mendengar beberapa orang membahas dan mulai menyalahkan kepergian Ellea.

Napoleon Bonaparte tetap harus menjalani hidup seperti biasanya.

Sendiri. Terluka. Dan tak terlihat bentuknya.

Jika kalian pikir untuk membuktikan cinta lalu aku harus mengikuti langkah yang salah. Itu bukanlah cinta. Karena jika aku mengikuti dosa yang dilakukannya, lalu siapa yang akan mendoakan Ellea agar dia bisa memasuki surga? Mungkin, akan kuhabiskan seumur hidupku untuk memohon agar Tuhan mau menerimanya.

Lagipula, masih ada keluarga yang membutuhkan keberadaanku. Mereka, yang memberi pelukan agar tak terjatuh aku ke dalam kesedihan yang semakin dalam. Dengan senyuman tulus penuh kerinduan.

.

Setahun sudah aku menjalani semuanya dalam keadaan terpincang.

Seringkali masih terbayang sosok Ellea di atas ranjang, di sofa, di dapur, di kamar mandi, dan ... di pangkuanku.

Kadang terlihat begitu jelas hingga kugumamkan namanya berulang-ulang. Lalu menghilang bersama dengan jatuhnya kaca-kaca di pelupuk mata.

Kadang tercium harum tubuhnya.

Kadang, jika ingatanku sudah begitu parah menginginkannya, aku membenamkan diri di atas ranjang. Meremas rambut, lalu berteriak dengan separuh wajah menekan bantal.

Meneriakkan nama Ellea berulang-ulang. Sampai sakit dihatiku sedikit menghilang.

Sampai aku berhenti menangis dan menata suasana hati lagi.

Lalu kembali ke depan layar komputer. Mengetik baris demi baris menceritakan kisah-kisah baru. Kisah yang membuat pembaca di luar sana mendapati banyak sensasi rasa. Kadang debar cinta, kadang tentang kesakitan dan luka.

Napoleon Bonaparte. Tetap menulis diksi dari hari ke hari. Tak peduli seberat apa yang tengah dirasakan saat ini. Karena yang aku tahu, saat menulis, separuh beban terangkat dari bahuku.

***

Kaca jendela kereta dihiasi percikan rinai hujan. Udara basah terasa hingga ke dalam. Menciptakan hembusan dingin yang menyejukkan.

Dua orang gadis di hadapanku memegang sebuah novel dengan gambar sampul seseorang yang berdiri menghadap belakang. Asik bercerita tentang cerita yang baru saja dia baca.

Aku mengalihkan pandangan keluar kaca. Lalu menyadari bahwa kereta sudah sampai di salah satu stasiun kota.

Sebagian penumpang bergegas keluar. Termasuk kedua gadis di hadapanku. Beberapa saat kemudian kereta kembali bergerak menuju stasiun berikutnya.

Ekor mataku menyadari ada sebuah buku tergeletak begitu saja di bangku yang ditinggalkan.

Novel gadis tadi.

Ragu, aku mengulurkan tangan dan mengambilnya. Seketika dahiku berkerut menyadari judul dan nama pengarang yang tertera.

Aimee Ath.

Dengan judul 'Pangeran Berhati Dingin'

Aimee?

Benarkah ini hasil karya gadis manja itu? Tanpa sadar, selarik senyum terukir di bibir. Membayangkan rupa pengarang dari buku yang kupegang. Teringat betapa gadis konyol itu sering melakukan kesalahan saat membuat tulisan. Hingga tak jarang aku memarahinya.

Aku tahu, seorang junior memang tak selamanya menjadi junior. Bisa jadi suatu hari nanti dia sejajar denganmu, atau bahkan puluhan langkah di depanmu.

Takdir, tak ada yang tahu.

Aku mulai membuka lembarnya satu demi satu. Mulai menyelami hasil karyanya. Keren. Bahkan jiwaku bisa ikut terhanyut dalam diksi yang dituliskannya.

Hingga kemudian senyumku mulai menghilang setelah membaca paragraf demi paragraf yang ia tuliskan.

.

***

Pangeran dingin itu mencabut jantung sang putri. Menggoreskan pisau, mengukir sebuah nama tepat di tengahnya. Lalu dikembalikan begitu saja. Dibenamkan lagi ke dada sang putri, tanpa rasa.

Apa yang sudah pernah tercabut keluar lalu tergores kata, saat dikembalikan, denyutnya tak lagi sama.

Sialnya, sang putri berharap jantungnya diambil oleh pangeran yang telah menjalani bertukar hati. Pangeran yang di telapak tangannya, jantung wanita terpujanya telah tergenggam.

Menyakitkan, saat hatimu menyerah pada orang yang salah. Terlihat olehmu saat itu menggelepar. Lalu merahnya perlahan memudar.

***

....

Dear you,

Seperti malam yang lalu-lalu, aku menunggumu keluar dari tempatmu melayani puluhan pembeli. Melihat seorang Napoleon Bonaparte yang sedang menyembunyikan jati diri dengan hanya menjadi seorang suruhan. Tapi hari ini kudapati yang berbeda. Seorang gadis ... menjemputmu di luar. Lalu ... kalian berdua berpelukan. Erat. Hingga membuatku sesak napas.

Dan semakin sesak, saat menyadari bahwa dia yang sedang kau peluk itu ... adalah Elleamu.

.

Dear you,

Pernikahan kalian sungguh sederhana, tapi begitu sakral. Mungkin kau bahagia ya. Haha, tentu saja. Tapi aku ... seperti tengah bernapas dalam ruangan tertutup rapat. Pengap. Sesak. Harusnya aku bahagia kan? Tapi ternyata, aku memang hanya manusia.

Aku menangis, menyadari betapa remuk jantungku, lalu saat kucoba untuk menyatukan bagian-demi bagian. Ada satu tempat yang bagiannya menghilang.

Jantungku tak lagi utuh. Menyedihkan ya?

.

Dear you,

Kalian begitu bahagia. Hingga saat berjalan di sepanjang bibir pantai aku melihat wanitamu selalu tertawa. Menari, berputar, lalu memelukmu lagi dan lagi. Merabai wajahmu dengan mata berbinar penuh cinta, dan semua lakunya terbalas olehmu dengan hangat yang sama.

Rasanya seperti aku sedang menonton adegan pembunuhan paling sadis di sebuah layar besar. Banyak darah, banyak daging terkoyak, dan banyak ... airmata.

Sakitnya begitu nyata.

.

Dear you,

Aku melihatmu bersujud memeluk nisan baru itu. Dengan bahu berguncang hebat. Tanpa peduli seberapa kotor bajumu oleh tanah merah.

Bahkan berpasang-pasang tangan yang ingin membantumu berdiri kau singkirkan penuh kemarahan.

Di titik ini, aku mengerti. Bahwa saat kau benar-benar mencintai seseorang, apa yang menyakitinya akan menyakitimu juga.

Aku menangis melihat lemahmu. Sungguh, ini lebih menyakitkan daripada saat aku mencemburui kebersamaan kalian.

.

Dear you,

Mungkin suatu hari kau mengerti, bahwa di setiap langkahmu yang sunyi, kau tidak pernah sendiri.

Hei, Tuan Napoleon, aku mengikuti langkahmu bahkan sampai detik ini.

***

Pemuda itu menutup buku di tangannya. Buku yang isinya hanya seperti curahan hati seorang gadis untuk pria yang sangat dicintainya.

Dan ia tahu benar siapa penulisnya.

Sementara di sebuah bangku beberapa deret di belakangnya terlihat seorang gadis berkulit seputih susu. Berambut panjang dengan sorot mata yang kini sudah menggambarkan kedewasaan.

Menatap keluar jendela, sesekali menatap lurus ke depan. Bangku di mana duduk seorang pria kepada siapa diksinya indah terangkai penuh makna.

Kereta berhenti lagi di sebuah stasiun.

Athaya bangkit berdiri dan ikut berdesakan melangkah keluar. Menuruni pintu kereta, lalu berjalan di sepanjang stasiun.

Tak jauh di belakangnya, gadis berambut panjang itu mengikuti.

Hanya saja kini, kehadirannya telah diketahui.

 Penulis: Patrick Kellan

15       16       1

4 Komentar untuk "Kisah Tertulis 16"

Cerita nya bagus! Saya masih harus banyak belajar lagi...

Iya, lebih bagus lagi kalau bacanya dari episode 1 gan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari ceritanya.

Dari awal sampai akhir.... Akhirnya saya puas.... Tapi cerita yang menurut saya menyentuh dan bagus selalu dengan akhir yang membuat penasaran.... 😑😐😑

Betul, berharap ada kelanjutan cerita antara Athaya dengan Aimee. Tapi sayangnya ini cerita terakhir karena toko utama, Ellea sudah meninggal.

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah