Kisah Tertulis 2 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 2

"Hei!" Aku berdiri di balik jendela.

Dia hanya diam. Tapi aku tahu dia mendengarkan. 

"Masih marah?" tanyaku.

Dia masih diam. Selama beberapa menit kami tak saling bicara. Kudengar suara-suara ayah Ellea berteriak dengan seseorang di dalam sana. 

Ayah Ellea orang yang sangat temperamental. Dia terlihat selalu marah. Terutama pada keluargaku. Aneh. Mungkin ada baut yang kendur di otaknya. 

Dia juga sering marah pada Ellea. 

Marah, tapi kulihat dia mengusap mata tiap kali mulutnya mengeluarkan kata-kata busuk untuk Ellea. Yang paling sering kuingat adalah ucapannya tentang, "Jangan membuat dirimu menyedihkan di depan orang lain. Kau putri ayah yang paling cantik!"

Ya, Ellea memang putri satu-satunya. Kedua kakaknya adalah laki-laki. Kudengar, dulu ayahnya sangat menginginkan anak perempuan dan lahirlah Ellea. Tapi dengan keadaan yang tidak diharapkannya.

Dia marah pada istrinya. Marah pada dunia. Dan marah pada dirinya sendiri.

Karena itu sekarang dia berubah menjadi sosok temperamental.

Dan kenapa dia marah pada keluargaku? Entah. Mungkin karena bunga-bunga di taman rumah kami lebih sering didatangi kupu-kupu dari pada taman bunganya. Ah, maksudku. Aku tidak tahu. 

Mungkin juga dia membenci tanpa alasan yang jelas. Seperti kebanyakan orang dewasa di luar sana, yang bisa membenci hanya dalam sekali pertemuan. Padahal yang kutahu, butuh waktu untuk menilai seseorang. Karena yang ia tunjukkan dalam satu kali pertemuan, bisa saja itu karena sedang dipengaruhi oleh banyak hal. Aku bicara apa? Entahlah, kutipan itu aku dengar dari Bu Leni. Maaf, sempat membuatmu mengira aku terlalu cerdas untuk usia yang sebenarnya.

"Kenapa kemarin berbohong padaku?" Akhirnya Ellea bertanya karena aku hanya diam.

"Aku nggak tahu bagaimana akhirnya. Jadi aku mengarangnya sendiri." Aku menjawab, "maaf."

"Pantas saja akhirnya Putri Salju menikah dengan Kurcaci. Itu sama sekali tidak pantas menurutku ..." Dia cemberut.

"Hmm."

"Hmm apa?" Kejarnya.

"Kau tau, banyak penulis cerita di luar sana hanya mengisahkan tentang omong kosong?" Aku bersandar di tepi jendela.

"Omong kosong?" Dahinya mengernyit.

"Ya, omong kosong. Bahwa setiap tokoh harus seorang putri, atau harus seorang pangeran. Bahwa setiap pangeran harus naik kuda dan tidak bekerja, dan bahwa setiap putri harus ... sempurna kecantikannya ..." 

Aku menatapnya. Menatap mata biru pucat yang terdiam tanpa gerakan. 

Putri yang aku lihat ini ... tidak sempurna. Dan aku bukan pangeran berkuda yang kaya raya. 

Dongeng itu sialan. 

"Kau tau ada sebuah kisah yang ditulis oleh penulis favoritku!" 

"Kisah tentang putri dan pangeran?"

"Hmm, mungkin begitu."

"Bagaimana cerita yang ditulisnya?" Dia mulai tertarik.

"Sebelum terlahir ke dunia, setiap jiwa adalah cermin dari sikapnya. Mereka yang berhati baik, maka akan memiliki kecantikan yang luar biasa. Tapi di sana pun ada kejahatan. Mereka yang berhati jahat ingin mencelakai putri-putri berwajah cantik."

"Lalu mereka berhasil?" 

"Ada yang berhasil, dan ada yang tidak. Beberapa putri menjadi korban karena kecantikannya. Dan sebagian lainnya, kabur dari surga ke dunia."

"Lalu?"

"Di dunia, mereka takut terlihat dan menjadi korban berikutnya. Karena itu mereka bersembunyi."

"Bersembunyi? Di mana?"

"Di dalam raga tak sempurna." 

Ellea terdiam. Aku juga terdiam. Kuharap, dia tahu apa yang kubicarakan. Dan sepertinya dia memang menyadarinya.

"Lalu ... siapa nama penulisnya?" tanyanya pelan.

Aku berpikir untuk beberapa saat. Berpikir, nama keren apa yang biasanya dimiliki oleh seorang penulis.

Tapi tak kutemukan nama keren. Jadi aku mengatakan nama tokoh sejarah favoritku.

"Napoleon."

"Napoleon?" Dia mengulang.

"Ya. Napoleon Bonaparte."

Dia mengangguk-angguk. 

***

       Minggu pagi.

Aku mengayuh sepeda lebih cepat. Selesai sudah tugas mengantar koran ke setiap pintu di beberapa gang. 

Mendung terlihat menggantung di atas sana. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Udara terasa dingin, karena ini memang masih jam 6 pagi.

"Sudah selesai, Athaya?" Ayah, yang bekerja sebagai agen koran bertanya saat aku menyandarkan sepeda di depan rumah.

"Ya," jawabku sambil berlalu masuk.

Sekilas dia menepuk kepala saat aku melewatinya di pintu. Tercium aroma masakan ibu dari dapur. Sementara adik merengek di gendongannya.

"Ibu, apa aku harus mencuci sepatu? Tapi sebentar lagi hujan akan turun kan?" Aku bertanya. Lebih tepatnya, meminta pendapat.

Dia menoleh sekilas. 

"Tidak usah. Nanti jika tidak kering, besok kau tidak bisa pergi ke sekolah," putusnya.

Aku berlalu dari hadapannya. Sekilas mencubit pipi Aluryn yang terus merengek, entah minta apa. Menuju kamar yang engsel pintunya mulai bermasalah hingga harus kuangkat jika ingin membuka atau menutup.

Jam segini, biasanya Ellea belum membuka jendela kamarnya. Sedikit pemalas dia. 

Daun jendela sedikit berderit saat aku membukanya. Ah, aku salah. Ternyata Ellea sudah duduk di balik jendela. Jendela dengan tepi berukir yang mewah.

Gadis itu menggerai rambutnya yang basah. Sepertinya baru saja selesai mandi. 

"Athaya?" Dia bertanya, setelah mendengar suara jendela terbuka.

"Hei!" Aku menyapa.

"Apa sebentar lagi akan hujan?" tebaknya.

"Ya."

"Aku suka hujan!" Dia tersenyum. Menampakan rona merah jambu di pipinya.

Aku menengadah menatap langit. Benar. Tetes-tetesnya mulai turun.

Lalu, aku mulai berpikir sesuatu.

Kulangkahkan kaki keluar dari tepi jendela. Lalu melompat turun menjejak tanah berumput. Melewati pondasi pagar yang baru dibuat oleh ayah Ellea, kemudian berdiri di luar jendela gadis itu.

Sementara kepalaku, mulai dibasahi oleh tetes-tetes air yang semakin banyak.

"Ulurkan tanganmu!" 

"Kenapa?"

"Menyentuh hujan!"

Ragu, Ellea mengulurkan tangan keluar. Lengannya kurus, pucat dan gemetar. Mungkin karena terlalu lama berdiam dalam ruangan tanpa terkena cahaya matahari.

Aku menyentuhnya. 

Sedikit merasa aneh saat tangan kami saling menggenggam. Sedikit. Hanya sedikit. Berganti dengan wajah yang memanas.

Tangannya terlalu pendek. Tidak sampai menyentuh curahan hujan. 

"Mana?" Dia bertanya.

"Tanganmu tidak sampai."

"Percikan saja ke wajahku!" 

Aku memercikkan air ke wajahnya. Dia tertawa. 

"Kau suka?"

"Ya!"

Aku memercikan lagi. Sambil menahan dingin. Sementara seluruh bajuku sudah basah oleh air hujan yang semakin tercurah.

"Bagaimana rupa hujan?" Dia bertanya kemudian.

"Ada banyak air yang tertumpah dari langit sana!"

"Bagaimana bentuknya?"

"Seperti jarum."

"Kecil?"

"Tidak terlalu kecil ..."

"Aku ... ingin melihat ..."

Aku terdiam.

"Athaya .."

"Ya?"

"Jika aku minta kau berikan matamu, apa akan kau beri?"

Lagi, aku terdiam. 

"Tidak."

"Oh ..."

"Karena aku masih ingin membacakan cerita untukmu."

Dia tersenyum lebar.

"Nanti setelah, semua ceritanya sudah kubaca. Aku akan memberikannya padamu ..."

Penulis: Patrick Kellan

1       2       3

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah