Kisah Tertulis 9 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 9

Kalau kau pikir setelah menerbitkan buku perdanamu lalu namamu akan melejit tinggi hingga seluruh dunia mengenalmu, itu salah.

Itu baru langkah awal, langkah pertama. Langkah dimana biasanya seorang bocah akan terseok dan kadang terjerembab bahkan enggan untuk melangkah lagi. Langkah dari jalan yang masih panjang. Apalagi jika kau adalah penulis pemula, belum punya nama, dan sama sekali tidak punya relasi dengan seseorang di bidang media.

Mungkin, kau akan berdarah-darah terlebih dahulu.

Itulah sebabnya, aku senang, tapi tidak menunjukkan bahagia berlebihan seperti Aimee saat memelukku.

.

"Jadi, kau akan memakai nama pena atau nama asli?" Pak Sam bertanya waktu itu, saat naskah yang kuselesaikan dalam waktu dua bulan sudah berada di tangannya.

Aku terdiam.

"Memakai foto di bagian tentang penulis?"

Aku terdiam lagi.

"Pikirkan dulu, besok aku mau kau sudah yakin dengan jawabannya."

Aku mengangguk, lalu pamit keluar dari ruangannya. Melangkah keluar dari rumah mewah dengan beberapa kendaraan dari hasil menulis. Itu sungguh keren kan? Sayangnya, beberapa penulis memilih mundur saat merasa kemampuannya tidak sempurna.

Memangnya apa yang sempurna? Aku tidak pernah menemui seseorang yang menjadi ahli hanya karena bakat. Butuh kerja keras. Kerja keras. Ah, lupakan! Aku tahu dua kata itu bagimu hanyalah sebuah klise.

Biarkan dirimu merasa orang lain superior dan kau selalu menjadi kerdil di hadapannya. Begitu kan?

Aku tidak sedang mengajarimu untuk menjadi penulis yang angkuh. Aku hanya memberitahumu. Jika kau benar-benar ingin menjadi penulis, cobalah puji dirimu sendiri di hadapanmu. Ingat, di hadapanmu. Bukan di hadapan orang lain karena itu akan berkesan kau sedang menyombongkan diri.

Memuji hasil karya sendiri, itu akan menjadi semacam sugesti bahwa tulisanmu memang bagus. Itu yang akan membuatmu yakin bahwa tulisanmu memang layak diperhitungkan oleh orang lain.

Bertanyalah pada senior di mana cacatnya, tapi jangan biarkan mereka membuatmu merasa kau hanyalah seorang junior dan sampai selamanya menjadi junior. Mengerti maksudku? Baguslah.

Sebuah bus berhenti tepat di depanku, lalu aku melompat naik. Sepanjang perjalanan aku memikirkan nama apa yang pantas, juga memikirkan perlukah memperlihatkan rupa?

Perlu?

***

"Perlu!" Aimee mengangguk.

Aku menatapnya.

Sore itu, saat aku mengajari Aimee - untuk yang terakhir kali- aku memberitahunya tentang pertanyaan Pak Sam tadi.

"Kenapa perlu?" tanyaku.

"Karena ... kenapa kita harus menyembunyikan identitas yang sebenarnya? Maksudku ... itu sama sekali tidak keren! Terbuka saja! Jadi nanti saat sudah banyak orang yang tahu karyamu, mereka akan berteriak histeris saat bertemu denganmu di jalan! Lalu meminta tanda tangan, bahkan bisa jadi kau akan kebanjiran kado-kado sebagai tanda mereka menyukai kisah-kisah yang kau tulis!" Aimee menjelaskan dengan senyum lebar.

Kerjap kebahagiaan terpancar jelas dari sepasang mata bulatnya.

"Apa itu penting?" Aku menyeringai.

"Menurutku ... itu penting. Ah, begini saja. Paling tidak kau akan dikenal apa adanya. Maksudku, jelas dan tidak ada yang disembunyikan."

"Itu merepotkan," sanggahku sambil mulai merapikan buku-buku yang terserak di atas meja.

Aimee menyandarkan dagunya di atas meja. Dia memang lebih suka duduk di atas lantai dan menulis di sana. Sementara aku duduk di kursi di balik meja kayu berukir di antara kami.

"Merepotkan bagaimana?" Dia tak mengerti.

"Merepotkan saat harus berhadapan dengan orang banyak dan mereka semua mengenalmu."

Dahinya berkerut.

"Bukannya itu ... bagus?"

"Tidak. Itu merepotkan!"

"Oke, terserah kau saja!" Ketusnya, "jika dari awal memang kau berpikir seperti itu lalu kenapa bertanya?"

Entah.

Aku memang suka menanyakan pendapat orang lain, tapi tidak ingin memakainya. Aneh? Tentu saja. Sebagian orang mengataiku keras kepala. Biarkan, itu memang hak mereka. 
"Hari ini ... mungkin hari terakhir aku mengajarimu."

"Hah?" Matanya membesar.

"Aku akan pergi ke kota, seperti kata ayah."

"Hei ... tapi bukankah kau sedang memproses buku pertamamu?"

"Aku sudah bicara pada Pak Sam. Dia bilang tidak apa-apa, kami masih tetap akan berhubungan lewat telepon. Lagipula dia punya rumah di kota. Jadi lebih mudah menemuiku di sana."

Aimee terdiam.

Lalu matanya mulai berkaca-kaca, "Lalu ... bagaimana denganku? Aku belum cukup pintar ..."

"Pembohong."

"Apa?"

"Aku tahu kau sudah jauh lebih baik."

"Tapi ... masih ingin tetap belajar."

"Kalau begitu, sampai selamanya kau akan bergantung pada orang lain."

Air menitik dari sudut mata Aimee. Dia mengusapnya dengan punggung tangan. "Tapi ... aku sudah terbiasa denganmu ..."

Hatiku merasa terenyuh, "Sebelumnya .. kau terbiasa tanpaku."

"Ya, tapi itu berbeda ..."

Aku terdiam.

"Athaya ... kau pernah merasakan ini? Saat ingin menunjukkan keberadaanmu di hati seseorang, tapi tetap tidak bisa menggeser orang yang lebih dulu di sana?"

Aku menatapnya. Apa Aimee sedang berusaha mengungkapkan perasaannya?

"Ah, lupakan." Dia memandangi jemarinya di atas meja.

Sesaat, kami berdua saling diam.

"Ada istilah, jika kau membuat seorang penulis jatuh cinta, maka kau tak akan pernah mati. Karena akan selalu dikenang dalam karyanya."

"Ya ..." Aku mendengarkan.

"... begitu juga jika kau membuat seorang penulis patah hati."

"Aimee ..."

"Jika kau menulis kisah 'Jiwa cantik yang bersembunyi di dalam raga tak sempurna' untuk Ellea, suatu hari nanti kau akan menemukan kisah tentang Seorang Pangeran dingin yang memberi sebuah pisau pada seorang gadis, agar menikam dirinya sendiri."

Setetes air meluncur lagi dari sudut matanya. Tapi dia mengusapnya sambil tersenyum.

"Ah, lupakan perasaanku. Apa kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti, Athaya?" Dia menatapku.

"Ya ... tentu saja," jawabku pelan.

"Benarkah?" Di balik kaca-kaca itu, masih saja kulihat binar bahagia.

"Ya, tapi mungkin aku bukan lagi bernama Athaya ..."

"Lalu ...siapa?"

Aku menarik napas.

"Napoleon ... Bonaparte."

***

Sekarang di sinilah aku. Menyewa sebuah kamar sebuah gedung sederhana, di tengah kota yang sangat ramai. Dengan aktifitas yang begitu padat. Bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah restoran besar, sambil menulis naskah di malam harinya.

Naskah dengan nama pena Napoleon Bonaparte. Tanpa foto, tanpa identitas diri.

Buku pertama dan buku kedua, sudah dicetak. Walaupun lumayan banyak yang menyukai, tapi belum membuatku sekelas dengan penulis-penulis senior lainnya.

Ini yang namanya sebuah proses.

Titik dimana penulis pemula akan mengeluh karena menganggap dia tidak berhasil. Tidak sukses, karena berpikir sudah mengeluarkan segenap kemampuan tapi belum juga terlihat hasil yang bisa dibanggakan. Kadang aku merasakan hal yang sama, tapi kemudian berpikir kenapa harus mengeluh untuk sesuatu yang memang kusukai?

Bukankah dari awal semua penulis terkenal itu membuat tulisan karena dia suka menulis? Bukan karena mereka ingin segera dikenal atau ingin secara singkat mengumpulkan materi dari sana?

Hari ini, Pak Sam datang ke restoran tempatku bekerja. Ingin mengambil naskah ketiga yang kubuat.

Dia membuka dan membaca sekilas di lembar pertama. Lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

"Jiwa Cantik yang Bersembunyi Dalam Raga Tak Sempurna." Dia mengulang judul naskahku.

Aku mengangguk.

"Tidakkah menurutmu judul ini terlalu panjang? Dan membuat pembaca segera tahu bagaimana isi ceritanya."

Aku terdiam.

"Judul yang menarik itu penting. Tapi lebih penting jika tidak membocorkan isi ceritanya."

"Ya, Pak ..."

"Lalu, bagaimana menurutmu?"

Aku terdiam. Mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dimana pada jam makan siang seperti ini restoran begitu ramai oleh mereka para pekerja kantoran.

Bosku sudah memberi izin untukku bicara dengan Pak Sam saat ini. Dia, teman ayah, memang orang yang sangat baik.

"Athaya?" Pak Sam mengembalikan perhatianku.

Aku menarik napas.

" ... Ellea."

 Penulis: Patrick Kellan

8       9       10

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah