Bias - Saifullah | My Everything

Bias

Awalnya hanya tentang dua gadis yang bertengkar karena kesalahpahaman. Salah paham yang terjadi karena hal kecil yang kemudian dibesarkan hanya karena berebut perhatian.

Perhatian dari pemuda yang memang memberi sikap lebih pada keduanya.

Neina dan Hani namanya.

Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Hani. Gadis bertubuh pendek itu memegangi pipinya yang memerah sementara matanya sudah basah oleh kaca-kaca.

Tepat di hadapannya, Neina berdiri dengan sorot mata tajam dibalut sedikit penyesalan.

"Beraninya kamu ...!" Terdengar gemeletuk gigi Hani menahan kemarahan. Tapi rasa takut dan sedikit pemikiran, menahannya untuk membalas tamparan.

"Itu akibatnya!" Dengus Neina, "ambil saja perhatian Kak Aji, aku nggak peduli!"

Setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan Hani yang masih merasakan panasnya hati. Naik turun dadanya karena menahan emosi. Ingin sekali mencabik-cabik wajah Neina, tapi dia tahu itu tidak benar. Lagipula dengan cara seperti itu, belum tentu dia menang.

Karena itu kemudian dia melangkah pulang sambil sesekali mengusap pipi yang sedikit memar.

***

Banyak pertengkaran yang disebabkan oleh hal kecil akhirnya membesar karena tidak ada penyelesaian.

Seperti yang terjadi di hari kemudian. Berita pertengkaran kedua gadis itu sudah menyebar. Seketika suasana yang semula netral kini terbelah menjadi tiga bagian. Pembela Neina, pembela Hani, dan yang tak peduli sama sekali.

"Na! Banyak yang lagi ngomongin kamu!" Intan, sahabat Neina mengadu. Padahal baru saja Neina memasuki kelas mereka.

"Ikutan kesel jadinya. Banyak yang bilang hal nyakitin tentang kamu. Kok rasanya aku yang pengen nangis ..." Merry mengusap sudut mata yang mulai basah.

"Iya, aku tau," jawab Neina cuek, "udahlah, nggak perlu dipikirin. Biar aja mereka mau ngomong apa." Gadis cantik itu memang terkenal pintar, baik, tapi sedikit dingin. Membuat banyak pemuda di sekolah mereka merasa tertarik untuk mendekati. Termasuk Aji, kakak kelas mereka.

Kedua sahabatnya sebenarnya ingin memprotes. Tapi mereka juga tahu bahwa Neina tidak akan mendengar permintaan mereka. Permintaan untuk memberi klarifikasi di depan semua teman tentang peristiwa penamparan itu. Agar tak ada lagi seorang pun yang menilai sikap buruk Neina sesuai yang mereka mau.

"Tapi, Na ..."

"Yang aku butuhin cuma kalian." Neina tersenyum meyakinkan kedua sahabatnya.

Terdiam dua gadis itu. Tak ada gunanya juga memaksa Neina. Sebagai sahabat mereka hanya bisa memberi dukungan.

Sementara Aji yang menjadi penyebab pertengkaran berusaha bisa minta maaf pada keduanya, tapi tentu saja itu tidak membuat masalah kedua gadis itu lalu selesai.

"Neina!" Dia mengejar langkah gadis itu.

Neina menoleh. Dengan sorot mata tak penuh pendar warna seperti biasanya.

"Ya, Kak?"

"Aku ..." Aji menggaruk kepalanya, gugup. "Aku minta maaf. Karena gara-gara aku, kamu dan Hani akhirnya jadi begini."

Neina menarik napas. Tanpa rasa, dengan sikap yang tak lagi hangat.

"Nggak apa-apa." Dia menjawab datar.

"Aku bener-bener minta maaf, Na. Aku rela bikin klarifikasi di depan semua orang kalo memang kamu nggak salah!"

"Aku udah maafin. Dan aku males bahas lagi," sahut Neina, kemudian dia berlalu pergi.

Aji memegang lengannya.

"Tunggu, Na. Tapi memang benar apa kata mereka. Seharusnya kamu nggak menampar Hani."

Neina terdiam.

"Kamu seharusnya minta maaf sama dia ..."

"Minta maaf apa? Aku menamparnya karena dia bilang aku cewek murahan kaya pelacur!"

Mata Aji membesar.

"Kenapa ... kamu nggak bilang kalau itu alasannya?"

Neina melepaskan lengannya dari pegangan Aji. Kemudian berlalu pergi.

Dia tak peduli. Tidak penting adanya sebuah klarifikasi. Karena Neina pikir, sepanas apapun beritanya lama-lama akan menghilang bersama waktu yang berjalan.

***

Tapi ternyata Neina salah. Tak semua berita menyeruak lalu menghilang begitu saja. Tetap ada bekasnya. Tetap tertinggal jejaknya.

Kebencian bagi sebagian orang.

Hani memang gadis yang mudah bergaul dan punya lumayan banyak teman kakak kelas. Mendengar berita yang sedang hangat beredar, para senior yang seharusnya menjadi penengah itu mulai menanyai Hani untuk bertanya lebih jelas. Lalu Hani pun menceritakan peristiwa penamparan itu sesuai dengan versinya.

Banyak yang iba, dan percaya begitu saja secara buta. Lalu banyak penilaian yang disimpulkan atas masalahnya.

"Haha, benar kan? Dari saat ospek aku bisa tau anak itu cuma bisa bikin masalah!" Tawa salah satu kakak kelas terdengar sumbang.

"Seharusnya dia nggak sampai menampar, itu berarti Neina gadis berkelakuan nggak baik!" Dengus salah satu senior.

"Cuma cewek kurang ajar yang sampe berbuat kaya gitu!" Ketus yang satunya.

"Dari awal liat, aku udah duga kalau dia memang bukan cewek baik!"

"Aku tau sikapnya itu karena dia sok kecantikan!"

Setelah mendengar pengakuan Hani mereka mulai menggerutu. Sayangnya mereka bertanya, mendengar, kemudian menyimpulkan cerita yang hanya berasal dari satu pihak saja. Ditambah karena ada sedikit rasa iri yang menyelip. Beberapa karena wajah, sementara lainnya karena prestasi yang akan terancam.

Setelah itu, setiap kali Neina lewat terdengar bisik-bisik hujatan dengan kata-kata menyakitkan.

Bahwa Neina gadis kasar. Bahwa dia tak tahu malu. Bahwa seorang perebut perhatian dari pacar orang seharusnya memang mendapat makian.

Lalu lama kelamaan, dengung kebencian itu semakin membesar.

***

"Kenapa benci sama dia?" tanya seorang anak baru yang baru saja pindah dari sekolah itu. Sedikit heran karena di kelas mereka, seperti ada aroma permusuhan.

"Haha, aku bukannya benci sama dia. Aku cuma nggak suka. Liat saja hidungnya itu mancungnya aneh banget. Kayanya sih hasil operasi!" Jawab gadis yang ditanya olehnya.

"Kalo kamu?"

"Karena tiap ke kantin pasti dia pesan bakso, bukan soto."

"Kalo kamu, apa alasannya?" Semakin berkerut dahinya saat menoleh pada yang satunya lagi.

"Aku pernah liat dia diem-diem ngupil. Jijik!"

Mereka, satu persatu mengungkapkan alasan yang tak masuk akal saat ditanya tentang sebab kebencian. Alasan yang terkesan hanya dibuat-buat, tanpa dasar yang tepat. Tapi membuat mereka merasa yakin bahwa Neina memang pantas untuk dihujat.

Sementara Neina, gadis itu masih saja tak peduli akan kebencian sekelompok orang yang seperti tak ada habis-habisnya. Yang selalu mencari sisi kesalahan Neina untuk dibahas lagi dan lagi.

Karena Neina tahu, percuma menjelaskan versimu jika dari awal mereka sudah menilaimu sesuai dengan apa yang mereka mau.

Lagipula cara paling tepat untuk membalas kebencian adalah dengan mengabaikan.

"Aku benci cara tersenyumnya."

"Aku nggak suka gaya bahasanya."

"Nyebelin banget liat cara jalannya!"

Mereka terus membenci dan semakin membenci. Padahal jika ditelusuri, itu hanya karena mereka mendengar cerita dari satu versi. Cerita satu versi, hanya saja cara penyampaiannya sangat menguliti.

Menciptakan kebencian.

Kebencian tanpa dasar.

Sama seperti tengah memandang seseorang dari balik jendela kaca yang tertutup oleh percikan hujan.

Tak jelas.

Bias.

Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah