Dua Kali Patah Hati - Saifullah | My Everything

Dua Kali Patah Hati

Broken heart
Mereka putus karena sama-sama keras kepala.

"Cewek ngambekan!"

"Cowok egois!"

Sama-sama mendengus dan berlalu pergi. Meninggalkan dua cangkir berisi sisa mocca dan cappucino di meja kafe tempat pertemuan mereka biasanya.

Lagi.

Putus untuk ke sekian ratus kali.

***

Sebulan kemudian.

Petra cuma bisa menatap layar hape. Sejenak menekan keegoisan yang meraja. Lalu setelah menarik napas panjang. Dia menyentuh sebuah nama.

Telepon berdering di sebuah kamar. Dilirik si pemilik yang sedang mencoret-coret wajah seorang pemuda pemilik senyum menawan.

"Ih, ngapain si egois nelepon lagi. Nyebelin banget!" Ketusnya sambil mencoret lebih acak lagi.

Di kamar yang satunya, Petra melempar hape ke atas ranjang. Menyesali kerendahannya sudah menghiba pemilik nomor yang ia tekan.

"Bener-bener tuh cewek!" Seringainya kesal.

Lalu memutuskan untuk mengalihkan perhatian pada hal-hal yang menurutnya akan lebih menyenangkan.

Tapi apa yang terlihat menyenangkan saat hati terbelah patah jadi beberapa bagian?

Komentar-komentar facebook yang ia lontarkan pun hanya berupa kata-kata kekesalan. Luapan atas emosi yang sebenarnya coba ditekan.

Malah akhirnya dikatai sebagai cowok baperan. Lagi pe em es. Kurang sesajen. Dan komentar menyebalkan lain yang membuatnya jengkel setengah mati.

Kalau ada yang coba membantu masalahnya malah berujung kesimpulan bahwa memang Petra pemuda luar biasa. Luar biasa keras kepala. Harga diri terlalu dijunjung tinggi sampai tak bisa melihat perasaan orang lain sama sekali.

Memangnya mereka tahu apa?! Semakin kesal pikiran Petra.

Hingga akhirnya ia mengambil kesimpulan. Bahwa saat ada sepasang kekasih putus. Si cewek cuma punya satu musuh, si mantan. Sedangkan cowok bakal punya banyak musuh. Pertama si mantan, lalu sahabatnya mantan, tetanganya mantan, sampai ke tukang jamunya mantan. Mereka bilang itu namanya sister hood. Lalu kenapa tidak ada brother hood?

'Mesya! Angkat teleponnya kenapa?'

Tulis Petra di media pesan. Hanya dibaca, tanpa ada balasan. Nah, kalau begini siapa yang seharusnya dibilang keras kepala? Pikir Petra geram.

Geram. Karena baru kali ini ada yang membuatnya sampai mengemis perhatian. Membiarkannya menggeliat dalam rindu yang sialan.

Malah akhirnya seorang mediator mendatangi kotak pesan Petra. Sibuk menjelaskan bahwa sekarang Mesya sedang berjuang untuk move on, jadi sebaiknya Petra jangan lagi mengganggu. Mengganggu apa? Petra juga tidak ingin meminta Mesya untuk jadi pacarnya lagi. Dia hanya ingin Mesya jangan langsung menghilang.

Itu saja.

Karena rasa rindunya benar-benar jalang. Sialan. Petra merasa kesakitan.

Sakitnya setengah mati.

Darah di hati mengucur tak mau berhenti.

Cuma Mesya obatnya. Cuma si keras kepala itu. Cuma dia. Karena Petra tahu benar luka apa yang melebar di dalam sana.

"Sya!"

"Syaa!"

"Syaaa!!"

Di sana dia hanya diam. Di balik dinding itu. Gadis berambut sekelam malam itu mendengar, tapi sudah membatu.

"Ya bagus memang! Jadi batu saja sekalian!" Kutuk Petra dalam kacaunya.

Sayangnya tak pernah ada dongeng yang menceritakan kutukan mantan akan dikabulkan Tuhan.

"Sudah, jangan lagi diganggu. Kasihan, Mesya. Dia mati-matian berusaha move on dari kamu!" Si mediator yang berat sebelah itu lagi-lagi menyarankan.

"Kasihan apa? Lalu memangnya cuma dia yang menderita?! Seenaknya saja pergi membawa separuh hati! Lalu hati yang separuh ini harus diapakan? Setidaknya biar utuh lebih dulu baru pergi menghilang!" Ketus Petra.

"Nah, lihat betapa egoisnya kamu!" Si mediator malah ikut-ikutan gaya Mesya. Ikut menyalahkan Petra. Aneh memang!

"Yaelah, cuma mau bicara sebentar masa nggak diizinkan?" Petra sedikit melemah. Agar si mediator ikut membantu keinginanya.

Tapi,

"Lagipula, sekarang dia sudah bahagia ama cowok barunya. Jadi ... jangan pikirin dia lagi!"

"Cowok baru apa!"

"Iya, Tra. Dia lagi deket sama cowok lain!"

"Siapa?"

"Kamu nggak perlu tau."

"Siapa?"

"Udahlah, Tra. Saatnya berhenti menyakiti diri sendiri. Kami yakin kamu bisa. Lagipula Mesya udah bisa menebak kalo kamu bakal dapet pengganti dalam waktu dekat ini. Bahkan dia sudah bisa menebak siapa-siapa calonnya!"

"Siapa?"

"Ana, Yasmin, Ratri ....

"Maksudku siapa yang lagi deket ama dia?"

"Astaga, Petra ..."

"Kamu ngomong muter-muter! Tinggal bilang siapa yang lagi deket sama dia!"

"Udah, nggak usah tau!"

"Siapaaaaa ...?"

"Petra!!"

Si mediator datang bukannya mencari penyelesaian tapi malah menambah rasa penasaran. Tambah runyam pikiran Petra. Semakin jauh dari rasa tenangnya jiwa.

Sama, seperti dalam kegelapan mencari cahaya. Semakin panik, semakin tergesa, semakin kacaulah langkahnya.

Seperti seseorang yang pernah nyaman memegang penopang, lalu tiangnya menghilang.

***

Dua bulan kemudian.

Petra diam. Mematung. Masih dalam kemarahan. Hingga wajahnya tak lagi biasa menunjukkan tawa.

Sementara di balik dinding sana. Mesya juga terdiam. Mencoba mendengar kegaduhan yang beberapa waktu terakhir selalu dia dengar.

Suara Petra yang meneriakkan namanya.

Suara pemuda egois itu sedikit menghiba.

Sempat tersenyum ia merasa menang. Merasa sejenak sakit hatinya terbalaskan. Sakit hati atas apa yang telah dilakukan Petra selama ini.

Pemuda yang selalu memperlakukannya seperti mainan itu memang seharusnya merasakan bagaimana rasanya diabaikan saat rindu sedang menyiksa.

Seperti saat dia menghiba menulis kata 'Kak, aku kangen.' Di media pesan tanpa ada jawaban.

Sementara di sana, Petra sedang tertawa-tawa bersama yang lain. Tengah terlena dalam hingar bingar.

Menyesakkan bukan?

Sebelum Petra merasa rindu yang menggebu, Mesya sudah mengecapnya lebih dahulu.

Sekarang, puas hatinya.

Hanya saja, beberapa hari ini tak terdengar lagi Petra meneriakkan namanya. Hening. Sunyi.

Ditemuinya mediator tempatnya bercerita.

"Bagaimana kabarnya? Apa dia bertanya sesuatu tentangku?"

Ditelannya dalam hati pertanyaan itu.

Sementara, sang mediator yang tidak tahu, menarik napas lega di hadapan Mesya.

"Syukurlah, Sya. Kayanya sekarang Petra udah bener-bener lupa sama kamu."

Mesya tersenyum.

Senyum manis untuk menyembunyikan derak patah hatinya untuk yang kedua kali. Terasa lelehan itu. Lelehan darah di hati yang mengucur lagi.

Menyadari.

Bahwa kali ini, Petra-nya mungkin sudah benar-benar pergi.

Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah