Hujan dan Kebetulan - Saifullah | My Everything

Hujan dan Kebetulan

Malam menjelang larut, saat terdengar suara ketukan di pintu. Malas, aku beranjak dari sofa hangat di depan Tv. Sempat mengira bahwa itu adalah teman atau saudara sepupu yang datang.

Tapi ternyata aku salah.

Gadis itu mendekap tubuh menahan gigil dalam balutan baju seragam basah oleh hujan. Bibir tipisnya terlihat pucat, gemetar. Matanya yang memerah menatap sayu sebelum akhirnya kembali tertunduk menatapi ujung sepatu.

Seragam tipisnya basah melekat di setiap lekuk tubuh yang mulai terbentuk.

Di belakangnya, angin basah dan dingin menampar-nampar. Sementara curahan deras air hujan menutupi pandangan.

Aku menghela napas.

"Ayo masuk!"

.

Namanya Annisa. Duduk di kelas 11 IPS 2. Salah satu muridku, karena aku adalah guru bahasa inggris di SMA itu.

Menjadi guru dengan usia terbilang muda, 24 tahun, membuatku harus sedikit kerepotan menghadapi keisengan murid-murid di kelas. Murid laki-laki mulai bertingkah melawan, sedangkan murid perempuan seringkali memamerkan godaan.

Dengan gaya khas siswi centil yang mentalnya mulai tergeser oleh majunya tekhnologi. Seringkali mereka merayu lewat inbox, telepon dan semacamnya. Merayu dengan berbagai jenis kata. Dari yang kata-katanya hanya berupa pancingan, seperti minta dijelaskan masalah pelajaran. Sampai yang seperti ingin tak sabar menerkam, mengumbar kata-kata seksi penuh terlontar.

Tapi tidak dengan Annisa. Sejauh ini, yang kulihat dia gadis baik-baik. Pendiam, dan tidak banyak tingkah di kelas.

Hanya saja malam ini, kenapa dia sampai tiba-tiba datang ke kamar kontrakanku dalam keadaan basah kuyub. Padahal dia jelas tahu aku tinggal sendirian karena memang belum terikat pernikahan.

Apa dia sedang mendapat masalah?

Terdengar pintu kamar mandi dibuka. Mataku masih fokus menatap ke layar TV. Berusaha bersikap senormal mungkin. Sementara di luar sana masih terdengar keras suara gemuruh hujan.

Tak kulihat tanda-tanda Annisa keluar. Sedang apa dia? Ah, aku lupa! Dia pasti bingung mau keluar karena hanya mengenakan Handuk. Dia kan sama sekali tidak membawa apa-apa tadi!

Sial,

Aku bangkit berdiri. Melangkah ke sudut ruangan, dimana terletak sebuah lemari berukuran sedang. Sejenak berdiri di sana dengan dada yang berdebar. Lalu akhirnya membuka kedua sisi pintu, dan menarik keluar sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru.

Kuulurkan dengan tubuh bersandar di dinding. Membelakanginya.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Dari sudut mata, kulihat Annisa melangkah keluar. Berdiri menghadap dinding kamar sambil masih berusaha mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk. Sesekali ujung kemeja terangkat mengikuti gerakan lengan.

"Duduklah, aku ingin bicara!" Perintahku masih dengan nada tegas, seperti saat mengajar di sekolah.

Pelan, Annisa duduk di sofa ukuran satu orang yang terletak di sebelah kiri.

Kedua pahanya ditutup rapat, ditambah dengan bantal sofa di atas pangkuan. Aman.

"Kenapa malam-malam begini berkeliaran di luar? Apalagi dalam keadaan kehujanan?" Mataku menyorot wajahnya tajam.

Annisa menunduk. Kemudian, mulai menangis. Berkali, tangannya mengusap mata. Membuat semakin penasaran akan apa yang sebenarnya tengah ia hadapi.

"Kenapa, Annisa?" tanyaku tak sabar, kali ini dengan suara yang melunak.

"Sa ... saya terpaksa, Pak."

"Terpaksa?"

"Ibu ... menderita sakit ginjal. Butuh biaya untuk cuci darah setiap bulan. Bulan ini ... ayah tidak punya cukup uang untuk membawa ibu ke Rumah Sakit ... jadi saya berniat mencari pinjaman uang kepada teman-teman, Pak ..." suaranya terisak sedih.

Aku menarik napas, merasa kasihan. Tapi juga menyesali tindakan bodohnya keluar malam sampai kehujanan seperti ini. Bagaimana kalau dia bertemu dengan orang jahat yang bisa membahayakan keselamatannya?

"Tapi ... tak ada yang bisa membantu meminjami uang sebanyak itu ..." Dia mengusap airmata lagi, "kebetulan saat saya berjalan di daerah sekitar sini akan pulang, tiba-tiba saja hujan. Jadi ... saya ingin menumpang berteduh di sini sebentar."

"Jadi ... kamu butuh uang?" tanyaku.

Wajahnya terangkat. Menatapku sayu.

Kami terdiam untuk beberapa saat. Saling memandang, merasakan dada yang berdebar mengencang, dengan pikiran melayang entah ke arah mana. Entah seliar apa.

Mungkin iblis menari di sekitar kami malam itu. Puas, penuh kemenangan. Bersamaan dengan tubuh Annisa yang terangkat pasrah dalam gendongan di kedua lengan. Sedikit menggeliat saat terhempas di atas ranjang.

Detak waktu berlalu.

Aku berdiri menatap derasnya hujan lewat kaca jendela yang berembun. Sambil mengancingkan kancing kemeja satu persatu dalam kebisuan.

Sementara di bagian lain ruangan, kudengar Annisa terisak perlahan.

***

Malam itu, setelah hujan benar-benar reda, kuantar Annisa pulang dengan motor. Dikenakannya kembali seragam yang basah. Hanya saja aku menutupi tubuh itu dengan jaket.

Sedikit terpincang dia saat berjalan.

Gadis belia itu masuk ke dalam rumah yang sepi tanpa ada yang menyambut. Mungkin ayahnya belum pulang mengojek, sementara ibunya memang hanya terbaring di atas ranjang.

Kembali ke kamar kontrakan, aku sedikit merenung. Demi melihat kembali noda merah di atas seprai.

Apa itu uang yang sepadan untuk sebuah keperawanan? Aku meneguk soda. Ah, terserahlah. Bahkan banyak gadis di luar sana yang memberikan keperawanannya dengan cuma-cuma pada kekasihnya.

***

Di sekolah, kami bersikap seolah tak ada yang terjadi. Tidak saling bicara, tidak saling menyapa. Hanya sesekali tanpa sadar saling memandang. Lalu sama-sama mengalihkan arah pandangan.

Canggung, dan sedikit menyesal karena sudah memanfaatkan keadaan. Itu yang kurasakan. Mungkin itu juga yang dirasakannya. Maka yang terjadi adalah kebisuan yang benar-benar mati di antara kami.

Hingga suatu hari, saat sedang lewat berjalan di koridor sekolah. Kudengar tawa cekikikan itu.

Beberapa siswi di depanku sedang asyik bercerita, tanpa menyadari aku ada di belakang mereka.

"Annisa akhirnya dapet Iphone juga! Berhasil juga tuh anak naklukin Pak Ilham!" Salah satu dari mereka bicara.

"Gimana ceritanya?" Yang sebelah kiri menyahut.

"Secara, selama ini Pak Ilham kan dingin banget tiap digodain ama muridnya. Makanya kami tertarik ngadain taruhan. Gue, Annisa, Raisa ama Bella. Nggak tanggung-tanggung, kami iuran beli Iphone buat siapapun yang menang. Malam itu giliran Annisa. Kebetulan pas ujan gue anterin dia di ujung jalan ke kontrakan Pak Ilham. Trus Annisa jalanin rencananya!"

"Daan ... berhasil?"

"Iya! Malah dia dikasih duit ama Pak Ilham! Besoknya kami semua ditraktir ama Annisa makan-makan!"

"Wah, hebat juga tuh anak. Padahal yang gue tau selama ini dia anaknya kalem?"

"Haha, justru yang kalem itu menghanyutkan!"

Mereka terus tertawa-tawa. Aku hanya menggelengkan kepala kemudian berbelok ke arah kantor.

Ternyata, itu bukan kebetulan seperti yang dikarang Annisa. Malam itu dia memang sengaja datang ke kontrakan untuk menawarkan keperawanan. Sebagai taruhan.

***

Aku menarik lengan Annisa saat yakin suasana koridor benar-benar sepi.

Matanya membesar, kaget. Lalu tertunduk dengan semburat merah di kedua pipi.

"Bagaimana kabar ibumu yang harus cuci darah tiap bulan?" Sedikit bergetar suaraku karena menahan emosi.

Annisa menggigit bibirnya, gugup.

"Lihat aku!" Perintahku dengan suara tertahan.

"Su ... sudah membaik, Pak," ucapnya pelan.

"Beruntung sekali saat itu kebetulan hujan. Jadi, kamu tidak perlu lagi berkeliaran mencari pinjaman."

Kulepaskan lengannya. Lalu melangkah pergi dengan dada bergemuruh penuh emosi. Kemarahan, kekecewaan, dan ... entah.

***

Bertahun-tahun setelah itu, aku tidak pernah bertemu dengan Annisa lagi. Tepatnya setelah kelulusannya dari SMA. Mungkin dia meneruskan kuliah, atau langsung bekerja karena tak ada biaya. Yang jelas, tentangnya masih tersimpan sedikit rasa kecewa.

Hujan.

Aku menepikan motor besarku di bawah sebuah pohon rindang. Karena sama sekali tak ada rumah atau warung di sekitar sini. Jadi terpaksa aku berteduh di sana.

Baru saja mengibas-ibaskan tangan yang basah, saat datang seorang wanita dengan baju panjang berwarna merah muda dan jilbab dengan warna yang sama.

Dia mengibaskan tangan lalu mengusap wajahnya yang basah.

Saat itulah dia menyadari aku sedang menatapnya lekat.

"Annisa?" Mataku menyipit.

Mata bulatnya sedikit membesar, kaget.

"Pak Ilham ..." gumamnya pelan.

Kupandangi sekujur tubuhnya. Hampir tidak percaya akan penampilannya yang terasa begitu jauh berbeda.

Dialihkan pandangan ke arah jalan sana. Gugup. Seperti sedang diingatkan akan apa yang pernah diperbuatnya. Dulu, saat kebetulan hujan tercurah lebat yang membuatnya harus terlentang di atas ranjang karena taruhan.

"Dari mana?" Aku bertanya, memecah keheningan yang tercipta.

"Pulang kerja, Pak," jawabnya lalu menunduk.

"Oh ya? Bukan pergi untuk mencari pinjaman?" Sindirku.

Menoleh dia padaku, lalu bola matanya mulai berkaca-kaca. Haruskah kupercaya lagi airmatanya? Dulu saat mengarang ceritapun matanya mengeluarkan air yang sama.

"Maaf, Pak. Dulu ... saya memang tidak berpikir panjang." Diusapnya mata itu dengan tangan yang gemetar.

Aku hanya menghela napas.

Maaf? Memangnya siapa yang menjadi korban? Tak ada. Kami berdua sama-sama pelakunya. Pelaku dosa karena terlena oleh derasnya hujan.

Kami terdiam untuk beberapa lama. Lalu Annisa berlari pergi setelah hujan mulai mereda.

***

Dia tinggal di sebuah kamar kontrakan di pinggiran kota. Bekerja selama beberapa tahun di sebuah tempat percetakan. Dan menjadi satu-satunya karyawati berhijab yang bekerja di sana.

Semua teman sekerjanya hanya mengatakan, Annisa gadis baik hati dan pendiam. Juga sangat taat pada agama.

Dia sudah berubah. Menjadi jauh lebih baik dari yang dulu. 
Karena itu ...

Aku mengetuk pintu bercat marun itu. Terdengar sahutan dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka.

Mata itu terlihat membulat. Menggigit bibir, kebiasaannya saat merasa gugup.

"Pak Ilham?"

Tiupan angin kencang dan udara basah membuat matanya menyipit. Sementara air hujan memercik hingga ke teras kontrakan. Sebagian bajuku basah sudah.

"Annisa? Kupikir ini kontrakan baru Rendy, sepupuku!" Aku mengarang sebuah alasan.

Dia terlihat sedikit gugup. Ragu, antara mempersilahkan masuk atau membiarkanku berdiri di luar. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.

"Bukan, Pak ... ini ... kamar kontrakan saya ..." ucapnya pelan. Suaranya bahkan terdengar seperti desau hujan.

"Ya, aku tau." Aku menatapnya. "Aku memang sengaja datang untuk mengatakan sesuatu."

Annisa balas menatapku.

"Menikahlah denganku!"

Matanya membulat lebih besar. Dengan ekspresi wajah tak percaya. Bahkan kedua telapak tangannya menutup mulut yang sedikit terbuka.

" ... untuk menghapus dosa yang pernah kita lakukan dulu," aku menarik napas.

Airmatanya menitik membasahi pipi.

"Sekarang kamu sudah berubah menjadi jauh lebih baik. Mungkin aku belum melakukan yang sebanyak kamu, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin ... untuk kita."

Annisa terdiam. Tapi airmatanya semakin deras mengalir.

"Mungkin kamu butuh waktu untuk menjawab," aku tersenyum, "aku akan menunggu jawabannya."

Hujan semakin deras tercurah dari langit malam. Seolah ikut menyadari kekeliruan yang dulu pernah kami lakukan. Juga ikut senang karena kini kami mulai berbenah memperbaiki kesalahan.

"Aku cinta kamu, Annisa," kuusap airmata itu dengan ujung jari. Sedikit canggung, karena merasa gadis itu jauh lebih berharga setelah memakai pakaian yang tertutup, bukan kemeja tipis yang dipinjamkan oleh seorang pria.

Lalu aku melangkah pergi menerobos hujan.

.

Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua sudah direncanakan dengan sempurna.

Seperti rencana seorang gadis yang mengatakan terpaksa datang ke rumah gurunya untuk berteduh dari derasnya hujan. Rencana seorang guru yang lebih memilih menarik keluar sebuah kemeja tipis, bukannya menarik baju hangat dengan celana panjang.

Dan rencana Tuhan mempertemukan dua orang yang pernah membuat kesalahan, di bawah sebuah pohon karena derasnya hujan.

Ya, tidak ada peristiwa yang terjadi hanya karena sebuah kebetulan.

Sebagian terjadi karena rencana seseorang untukmu, sebagian terjadi karena rencanamu, dan selebihnya adalah rencana Tuhan, untuk kalian.

 Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah