Istri yang Aneh - Saifullah | My Everything

Istri yang Aneh

"Sampai kapan kamu akan begini terus, Neng? Cerita dong, cerita kalau memang ada masalah!"

Bagas sangat kesal dengan tingkah perempuan yang ada di hadapannya. Untuk pertama kali dalam tiga bulan pernikahannya, ia berani membentak Riri. Bagaimana tidak? Ia sudah kehabisan akal untuk membujuk sang istri agar berhenti menangis dan terus menerus berkata kalau dirinya tidak berguna.

Sudah hampir dua minggu keadaan Riri seperti ini. Selalu murung, merasa tak berguna, benci diri sendiri dan berbagai perasaan kacau lainnya. Bagas tidak mengerti, kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai istrinya itu mendiamkannya.

Inilah puncak kekesalan atas ketidaktahuannya terhadap kondisi Riri.

"Ceraikan aku saja, A! Aku memang gak pantas buat kamu," pinta Riri putus asa. Ia merasa tak layak dicintai.

"Kamu tu ngomong apa sih? Gila apa? Baru tiga bulan nikah udah ngomong yang aneh-aneh," bentak Bagas semakin jengkel.

"Ya, aku memang gila," ucapnya lirih.

Ditariknya selimut tebal bermotif hello kitty itu hingga menutupi seluruh tubuh. Sesak sekali dadanya. Tergambar jelas dalam ingatan, rasa tertekan dan bayangan masa lalu yang kelam. Ia merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia ini.

"Astaghfirullahal'adziim, Riri. Aku tu bener-bener bingung harus bagaimana ngadepin kamu."

Bagas beranjak dari tempat tidur. Ia keluar kamar untuk menenangkan diri. Lalu, mencoba mengirim pesan via whattsapp kepada Dian. Berharap bisa mendapatkan jawaban dari adiknya itu.

[Assalamu'alaikum, Di. Kamu lagi sibuk gak? Ada yang pengen Kakak tanyain, nih.]

[Wa'alaikum salam, Kak. Aku lagi santai. Ngomong aja.]

[Kamu tahu gak Riri, kenapa? Udah dua minggu ini dia kayak stres berat, tapi gak pernah mau ngomong apa masalahnya sama aku. Bingung jadinya. Kamu kan sahabat dia, siapa tahu pernah curhat atau apa gitu.]

Dian berpikir sejenak, bertanya-tanya apa mungkin sahabatnya itu sedang relaps?

[Mungkin dia sedang relaps, Kak. Coba tanya udah minum obat belum?]

[Relaps? Obat? Obat apa?]

[Loh, kok nanya obat apa? Kan dari awal aku udah bilang, dia itu ada gangguan mood, Kak. Sebelum nikah, Kakak kan bilang mau nerima dia apa adanya. Apa jangan-jangan selama ini Kakak gak tau gangguan mood itu apa?] tanya Dian serius.

Bagas mengernyit. Memangnya seperti apa gangguan mood itu? Bukannya itu cuma gangguan biasa?

Segera ia searching di google.

Banyak sekali penjelasan tentang gangguan mood, atau lebih sering dikenal dengan bipolar disorder, di layar handphone yang sedang ia pegang.

Bruuk!!

Telepon genggam itu jatuh begitu saja setelah ia membaca : gejala, ciri-ciri, penyebab dan berbagai macam informasi tentang bipolar.

Bisa menyebabkan bunuh diri? Separah ini?

Bagas lemas dan tak tahu harus berbuat apa. Kenapa adiknya itu tidak memberitahu kalau Riri mengidap gangguan mental?

'Ah, apa yang akan dikatakan teman-teman sekantor nanti, kalau aku mempunyai seorang istri yang ... gila?' Pikirnya.

***

Malam semakin larut. Riri sudah tertidur pulas sejak pukul 20:00 WIB. Dengan susah payah, ia usahakan untuk shalat isya dulu sebelum memutuskan untuk memejamkan mata. Bukan hal yang mudah bagi Riri, melakukan ibadah saat sedang depresi. Ia harus terus meyakinkan diri kalau Allah sangat menyayanginya. Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNYA.

Bagas masuk kamar untuk melihat keadaan Riri. Menatap wajah lelah istrinya dengan berbagai rasa yang berkecamuk dalam dada. Ada perasaan bersalah, kasihan, juga sedikit sesal karena telah menikahinya. Mungkin ia belum siap menerima kenyataan.

Teringat kembali pertemuan pertamanya, beberapa bulan yang lalu dengan Riri.

Selama bertahun-tahun, Bagas memang merantau di Jakarta. Pria berusia 27 tahun itu, jarang pulang ke kampung halamannya di Pandeglang.

Kebetulan Bagas ada di rumah, saat ia bertemu Riri. Gadis cantik dengan hidung mancung dan bermata sipit itu berkunjung untuk menjenguk ibu Dian yang sedang sakit.

Hijab berwarna biru lembut menutupi dada, menambah anggun gadis berdarah sunda itu. Bagas terpesona.

Riri hanya mampir sebentar membawakan buah dan makanan. Ia tidak sempat berkenalan dengan Bagas. Hanya berupa sapaan singkat karena tak lama kemudian, Riri buru-buru pamit ada keperluan mendadak.

"Di, itu temen kamu? Cantik, ya!" tanya Bagas saat Riri sudah meninggalkan rumah.

"Sahabat bukan teman, Kak!"

"Ish, sama aja kali. Ngomong-ngomong, siapa namanya?"

"Riri. Orangnya memang cantik dan gak bisa diem. Kenapa tanya-tanya? Suka, ya?" tanya Dian curiga.

"Wah, pinter banget nih Adek, Kakak. Salamin, ya!" kata Bagas sedikit malu-malu.

"Halalin," canda Dian sambil memajukan bibir. Membuat pipi tembamnya ikut mengembung. Imut.

"Ide bagus, tuh." Bagas tersenyum.

"Eits, pernikahan bukan mainan tau! Kayak mau serius aja."

"Emang serius. Lagian dia sahabat kamu, kan? Kakak percaya Kamu gak mungkin sahabatan sama cewek yang gak bener."

"Ya, iyalah. Aku gitu loh! Eh, sebentar Kak, ada yang mau aku tanyain sama Riri dulu."

"Tanya apa?"

Bukannya menjawab, Dian malah menaruh telunjuknya di atas bibir. Bagas mengerti adiknya itu menyuruh untuk diam.

Dian sedang meminta izin tentang sesuatu.

"Yups, selesai," ia menatap dalam kakaknya, "jadi gini, serius Kakak tertarik sama Riri?"

"Iya." Bagas mengangguk mantap.

"Kak, Riri itu punya gangguan mood loh. Yakin Kakak bisa terima apa adanya?" Mimik wajah Dian berubah menjadi sangat serius.

"Iya dong, Di. Kayak gak kenal Kakak aja. Gampang cuma gangguan mood doang mah. Lagian di dunia ini gak ada yang sempurna, kan?" jawab Bagas yakin.

Sementara itu ia tidak mengerti sama sekali tentang bipolar. Ia pikir hanya sebuah gangguan mood, yang biasa dialami setiap perempuan saat sedang haid.

"Dia hidup sebatang kara. Ayah dan Ibunya meninggal karena kecelakaan. Saudaranya gak ada yang peduli karena Riri hidup dalam lingkaran keluarga yang kacau. Dia jaga toko pakaian muslim sejak SMA demi bisa menyambung hidup," lanjut Dian antusias.

Diam-diam, ia senang juga kakaknya tertarik pada Riri. Ia ingin sahabatnya itu mendapatkan seorang yang bisa mengerti kondisinya. Bagas adalah seorang yang penyayang. Ia yakin Bagas bisa membahagiakan Riri.

"Oh, gitu. Gak apa-apalah. Kan yang bakal nyari nafkah tu Kakak. Gak masalah sama profesinya."

"Wah, ngebet nih si Kakak udah mikir sejauh itu. Ya, udah, segitu aja dulu informasi yang aku kasih. Pikirin baik-baik tuh kalau emang serius sama Riri." Dian memperingatkan kakak satu-satunya itu.

Maka, sejak saat itulah ia mantap berencana untuk membangun sebuah rumah tangga bersama Riri. Segala informasi bisa ia dapatkan dengan mudah dari Dian. Termasuk soal kesediaan Riri untuk dilamar Bagas.

Urusan jodoh memang tidak ada yang tahu. Tak lama dari itu, mereka memutuskan untuk segera menikah secara sederhana. Tidak melewati proses pacaran dulu.

Sang ibu pun ingin segera menimang cucu juga, katanya.

***

Pagi sekali Bagas bangun. Ia menyiapkan sarapan untuk istri tercintanya. Semalaman ia berpikir, tindakan apa yang harus dia ambil ketika mengetahui sang istri mengalami gangguan mental? Dan inilah keputusannya. Bagaimana pun juga, Riri adalah wanita yang telah ia pilih untuk menemani sisa hidup. Ia harus siap dengan segala resiko ke depannya. Apa pun itu.

"Sayang, bangun yuk! Shalat subuh, dulu," ajak Bagas antusias.

Riri mengucek mata perlahan. Diliriknya jam weker di samping tempat tidur. Pukul 05:15 WIB.

Bergegas ia mengambil wudhu dan melaksanakan shalat subuh.

Bagas yang tengah menunggu kehadiarnnya di meja makan, terheran-heran. Kenapa Riri lama sekali?

"Kenapa malah diam di sini? Aku udah buatin sarapan, loh!" Bagas sedikit kecewa saat melihat istrinya hanya melamun tak melakukan apa-apa.

Riri masih terdiam. Matanya berkaca-kaca.

Bagas menghela napas berat. Berusaha mengerti apa yang dirasakan Riri.

Ia menghampiri dan mencium lembut kening sang istri.

"Sarapan dulu, Sayang. Setelah itu minum obat, ya! Di mana kamu taruh mood stabilizernya?"

Riri masih diam.

Akhirnya Bagas mencari obat itu sendiri. Tak lama, ia temukan berbagai jenis obat yang hanya tinggal beberapa butir saja. Di laci meja rias.

"Depakote, thrihexyphenidyl ...," ia mengernyit.

Mencoba mengeja satu persatu obat yang masih asing baginya. Tak ia lanjutkan, karena memang tak mengerti kegunaan obat itu untuk apa saja.

Banyak juga jenis obat yang ia minum. Ada empat.

"Tinggal segini?"

Kali ini Riri berusaha untuk menjawab dengan sebuah anggukan.

"Gak diminum lagi?"

"Ya," jawabnya lemah.

"Kenapa gak bilang kalau obatnya tinggal dikit?"

"Aku cape minum obat. Pengen berhenti." Tangisnya mulai pecah.

"Sayang, kenapa sebelumnya gak jelasin kalau kondisi kamu separah ini? Kalau tahu kan bisa aku antar ke Psikiater. Nanti siang ya, kita ke Dokter. Sekalian pengen tahu riwayat medis kamu selengkapnya seperti apa."

***

Hari ini Bagas meminta izin tidak masuk kerja. Ia ingin mengantar Riri ke rumah sakit. Beruntung Riri mau kontrol rutin lagi setelah susah payah suaminya itu membujuk dan meyakinkan.

Mereka mendapatkan nomor antrean ke-3, setelah bolak-balik mengurus persyaratan. Bagas lega karena ia tak harus menunggu lama.

Namun, saat di ruang tunggu, ia melihat pasien di bangku ke-4 dari tempat duduknya tiba-tiba menangis histeris. Seorang pasien entah dengan diagnosa apa. Sebenarnya perempuan itu pasien dengan nomor urut antre ke-7, tapi karena keadaannya darurat, jadi ia didahulukan.

Kaget sekaligus takut Bagas melihatnya. Baru kali ini ia menyaksikan kejadian seperti itu. Sebelumnya tak pernah terpikirkan pula ia akan duduk di ruang tunggu poli jiwa. Syok.

Setelah menunggu sekitar setengah jam, nama Riri dipanggil. Keduanya langsung masuk. Bagas merasa sangat canggung duduk di depan dokter spesialis kejiwaan yang bernama Ibrahim itu. Seorang lelaki 50 tahunan dengan ekpsresi wajah tak bersahabat. Namun ternyata ia sangatlah ramah.

Berbagai pertanyaan dilontarkan sang dokter. Sesekali Riri menjawab, tapi yang lebih aktif berbicara adalah suaminya.

Bagas pun sesekali bertanya tentang kondisi Riri sebelum menikah. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui kalau Riri pernah berusaha menghilangkan nyawanya sendiri sebanyak tiga kali.

'Kasihan kamu, Sayang,' ucapnya dalam hati.

Selesai konsultasi dan mengambil obat di apotek, pasangan yang baru menikah seumur jagung itu mampir ke food court. Mereka baru sempat mengisi perut setelah berjam-jam di rumah sakit. Setelah makan, Bagas mengajak Riri ke toko peralatan kerajinan tangan. Ia tahu kalau istrinya itu menyukai dunia crafting. Karena itu ia membebaskan Riri memilih barang apa saja yang ia suka. Untuk mengurangi kejenuhan saat tidak ada kegiatan di rumah.

Dan satu hal yang baru ia tahu, kebanyakan ODB (Orang Dengan Bipolar) itu ternyata menyukai dunia seni.

Aneh! Entah apa hubungannya. Kenapa bisa seperti itu, ya? Mungkin nanti akan ia tanyakan pada Riri.

Sedikitnya ia paham sekarang, bagaimana harus menyikapi sang istri ketika depresinya kambuh. Dokter jiwa telah mengedukasi. Bukan bentakan dan cacian yang harus ia keluarkan seperti yang ia lakukan kemarin-kemarin, tetapi pengertian dan sebuah pelukkan agar penderita mengerti kalau ia berharga.

"Kamu harus mempunyai stok kesabaran sebanyak mungkin karena ODB terkadang tak merasa kalau dia sedang kambuh," kata dokter saat itu.

Bagas telah siap, jika itu terjadi.

"Dan ingat, seorang bipolar tidaklah gila! Mereka hanya mengalami gangguan mood ekstrim karena adanya ketidakseimbangan cairan kimia dalam otak. Menyebabkan terjadinya fase depresi dan mania. Jangan berikan stigma negatif. Itu hanya akan memperburuk keadaan," kata dokter lagi.

Bagas mengangguk. Paham.

***

Dua minggu berlalu setelah kontrol ke psikiater, Riri gelisah semalaman. Segala cara telah ia lakukan untuk membuat matanya terpejam, tapi selalu gagal.

Pukul 00:30, ia memutuskan membuat boneka jari dari kain flanel. Menghasilkan beberapa boneka setelah berkutat setengah jam.

"Gak tidur, Neng?" tanya Bagas masih dalam keadaan mengantuk, saat melihat istrinya asyik mengerjakan sesuatu.

"Ini baru mau tidur." Riri segera menaruh boneka jari di samping kasur.

"Hah? Dari tadi ngapain aja emang?"

"Bikin boneka. Nih!" Riri memperlihatkan hasil karyanya dengan bangga.

"Hmm ... cepet bobo ah!" perintah Bagas.

Perempuan cantik itu ambil posisi ternyaman. Berusaha memejamkan mata. Tak lama, ia sudah berada di dunia mimpi.

***

Hari ini Riri tiba-tiba merasa bahagia dan penuh semangat. Pukul 04:30, ia sudah terbangun dan menyiapkan sarapan.

Sepagi ini Riri sudah mandi. Mamakai gaun hitam di atas paha dan tanpa lengan. Bibir pun ia poles dengan warna merah terang. Menyiratkan ia sedang bergairah. Padahal, kemarin-kemarin ia hanya menggunakan daster kumal bau apek karena jarang mandi. Disentuh suaminya pun ia enggan.

Sungguh kontras dengan kejadian hari ini.

Bagas sedikit kaget dengan perubahan sikap Riri. Namun ia mencoba menerka, mungkin ini yang dinamakan fase hypomanic kata dokter kemarin.

Sebuah fase yang lebih rendah tingkatannya dari manic/mania. Ia akan merasakan bahagia, euporia, mudah tersinggung, emosi yang tak terkontrol, impulsif, insomnia dan ada juga yang libidonya jadi tinggi. Entahlah, masih banyak lagi gejala yang ia lupa persisnya apa saja.

Bagas menggaruk kepala yang tidak gatal.

'Aku harus siap dengan semua ini! Hmm ... kamu aneh banget sih, Neng. Baru kemaren-kemaren gini, sekarang beda lagi,' gumamnya sambil memandang Riri. Ia tersenyum.

"Eh, udah bangun, Sayang? Mandi dulu gih! Bau." Riri baru menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan.

"Siap, Cinta!" Bagas beranjak dari tempat tidur, lalu pergi ke arah kamar mandi dengan perasaan berdebar. Ia tergoda dengan pesona istrinya pagi ini.

***

"Sayang, ini kan hari minggu. Jalan-jalan, yuk nanti siang ke mall!" ajak Riri manja setelah suaminya itu selesai mandi dan shalat.

Ia lingkarkan tangan di pinggang ramping suaminya. Aroma parfum seketika menyeruak, memenuhi rongga hidung mancung milik Bagas. Wangi yang menggoda. Sepagi ini Riri sudah membuat jantungnya berdetak tak beraturan.

"Masih pagi, ish." Bagas pura-pura menolak.

Riri tak mau tahu, jemarinya terus menelusuri setiap lekuk tubuh sang suami.
Akhirnya Bagas pasrah. Ia kalah oleh rasa yang menggebu.

Pagi itu, mereka menikmatinya dengan penuh cinta.

***

Bagas pun kini mengerti apa yang harus dilakukan saat Riri sedang dalam fase manic atau pun hypomanic. Ia harus mengatur keuangan sebisa mungkin agar istrinya itu tidak boros dalam berbelanja.

Seperti kemarin, ia biarkan istrinya memilih barang yang disukai saat berada di mall. Barang-barang yang belum begitu diperlukan pun ia beli. Seperti membeli babby walker misalnya.

Namun, ada hikmahnya juga di balik itu. Bagas jadi tahu, ternyata istrinya itu sedang hamil dengan usia kandungan 2 bulan. Sesuatu yang belum sempat Riri ceritakan karena ia juga baru tahu beberapa hari lalu. Sepertinya Riri harus secepatnya kontrol lagi, agar bisa menyesuaikan obat dengan kondisinya yang sedang hamil.

Obat memang membantu penderita agar gejalanya berkurang, Tapi keinginan untuk sembuh dari penyandang gangguan mental juga tak kalah penting.

Pada akhirnya Bagas hanya bisa pasrah dan terus mencoba memahami kepribadian sang istri. Demi keutuhan rumah tangga dan cinta yang baru mereka bangun.

Bagaimana pun, sebagai caregiver, ia harus membuat Riri mau berusaha untuk sembuh, walau harus dengan cara bertahap.

Riri hanya perempuan dengan trauma masa lalu. Dulu, ia sangat tertekan dan sulit menerima kenyataan kalau ke dua orangtuanya sudah tiada. Ia harus berjuang sendiri menghadapi kenyataan pahit. Hanya Dian saat itu, yang mau menemani. Teman-teman SMA-nya yang lain selalu membully, menjauhi dan menganggapnya aneh. Entah kenapa.

Bagas berjanji pada dirinya sendiri, akan selalu membahagiakan perempuan 20 tahun itu, bagaimana pun caranya. Ia tak ingin menorehkan luka semakin dalam pada Riri.

Ia yakin dengan sebuah pelukkan hangat, cinta, kasih sayang dan tak lupa mengajaknya selalu untuk tetap mengingat Allah, maka istri tercintanya itu akan sembuh. Obat pun ia terapkan juga sebagai tambahan terapi medis.

Ia berharap, semoga Allah akan mengabulkan doa tulus itu secepatnya. Semoga!

Penulis: DandelionRindu

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah