Cerita: Jeda - Saifullah | My Everything

Cerita: Jeda

Andai waktu bisa diulang kembali
Waktu, satu-satunya hal yang tak bisa diulang. Setiap detik berdetak mencipta kenangan. Ada yang selamanya diingat, sebagian terlupakan.

Tapi waktuku denganmu, terjeda dalam hening cukup lama. Hingga saat aku kembali, semua tak lagi sama.

***

Mobil berbelok memasuki halaman sebuah rumah sederhana. Selama kurang lebih satu jam aku terus dibuat takjub oleh pemandangan daerah yang baru saja kulalui.

Bangunan-bangunan megah berupa ruko atau rumah-rumah pribadi berjajar di sepanjang jalan. Sangat jauh berbeda dengan pemandangan sebelum aku pergi.

Rumah ini masih sama, hanya saja cat dan beberapa bagiannya sedikit berbeda. Halamannya pun tak lagi luas karena dibuat sebuah kontrakan dua pintu di sana.

Mobil berhenti, lalu suara mesin benar-benar mati. Pandu menoleh, tersenyum padaku.

"Sudah sampai, Mas." Dia membukakan sabuk pengaman yang menyilang di tubuhku.

"Ibu ada kan ya?" Aku bertanya memastikan.

"Ada, Mas. Semua sudah menunggu."

Aku tersenyum, lalu beranjak turun dari mobil warna silver keluaran terbaru. Lama tak bertemu, Pandu adikku kini sudah jadi orang sukses rupanya. Bangga sekali aku. Padahal terakhir kali kami bertemu, dia masih suka menangis minta belikan es krim. Saat itu dia masih SD, sekitar 10 tahun usianya.

Jarak kami memang lumayan jauh, sepuluh tahun lebih sebulan. Karena itu Pandu sangat manja padaku. Tapi itu dulu. Sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa. Ah, tentu saja. Dia sudah mempunyai dua putra.

"Ya Allah, Le!" Ibu menyambutku dengan pelukan erat. Lalu mulai menangis tergugu di telingaku. Basah kemejaku oleh airmatanya.

Lama kami saling memeluk, merasakan kerinduan yang tertumpah.

"Gimana kabarnya, Bu?" Aku melepas pelukan dan menatapnya lekat. Ya Allah, kangen sekali aku. Wajah ibu terlihat jauh ... jauh lebih tua daripada saat terakhir kali kami bertemu dulu.

Terlihat cekungan hitam di bawah mata tua itu, menandakan betapa selama ini dia dirundung kesedihan. Tak tega aku melihatnya.

Dia tak sanggup menjawab, bibirnya terlihat bergetar menahan perasaan. Sementara linangan airmata itu semakin deras mengalir.

"Sudah, Bu. Sekarang Mas Hendri sudah kembali tapi Ibu malah nangis." Pandu menenangkan ibu. Membimbingnya duduk di kursi jati yang tersedia di ruang tamu.

Adikku terlihat bertanggung jawab sekali. Bangga melihatnya.

Kualihkan pandangan setelah sekilas menyeka sudut mata. Ada seorang wanita muda yang tengah menggendong bayi kecil. Dia istri Pandu yang sedang menggendong anak kedua mereka.

"Kenalkan, Mas. Ini Intan, istriku!" Pandu memperkenalkan wanita muda berparas lumayan ayu itu.

Mengangguk dia sambil menyapa namaku. Kubalas dengan senyum simpul lalu sibuk mencolek pipi putra dalam gendongannya.

"Siapa namanya, Intan?" Aku bertanya.

"Yang besar namanya Dani, yang kecil namanya Riko, Mas!"

Bersamaan dengan itu, berlari anak kecil berumur sekitar 5 tahun ke arahku. Mencium tangan, lalu duduk di pangkuan. Ternyata itu Dani. Wajah dua anak itu mirip sekali dengan Pandu. Sikapnya manja dan mudah sekali akrab. Lucu.

Aku menatap berkeliling. Seharusnya ada satu orang lagi yang menyambut. Bapak. Tapi kenapa tak kulihat sosoknya di sini?

"Bapak mana, Bu?" Aku bertanya pada ibu. Wanita yang sejak kedatanganku tak henti mengusap airmata.

Hening.

"Bu ...?" Aku kembali bertanya, curiga.

Sementara Pandu dan istrinya saling pandang. Ada apa?

"Kemana bapak?" Kini, pandanganku bergantian menatap mereka.

Kulihat Pandu menghela napas. Sungguh, aku mulai merasa lemas. Firasatku mengatakan bapak tidak baik-baik saja.

"Bapak ... sudah meninggal, Mas!"

Untuk beberapa menit aku menatap mereka semua dengan pandangan kabur.

"Apa?" tanyaku tak sadar.

Pandu mengangguk lemah, sementara matanya mulai memerah.

"Bapak meninggal karena serangan jantung, Mas ..."

Aku tercekat. Sungguh tak menyangka akan seperti ini keadaannya. Kupikir bapak akan ikut menyambutku pulang. Seperti yang dikatakan Pandu saat aku menanyakan bapak kemarin.

"Bapak di mana, Pan? Kenapa tidak ikut menjemput?" tanyaku saat Pandu datang.

"Bapak ... ndak bisa ikut menjemput, Mas." Hanya itu yang dikatakannya.

Sekarang aku tahu kenapa saat bicara dia tak berani menatap wajahku. Dia menyembunyikan kematian bapak!

"Bapak ..." Akhirnya terdengar suaraku. Lebih mirip erangan. Lalu saat gumpalan kaca itu semakin membanjir, aku menjatuhkan diri di lantai.

Pecah tangisku.

"Bapaak ...!"

"Sudah Le, ikhlaskan ...!" Ibu berusaha menenangkan tapi tangisnya justru lebih terisak-isak.

Kurasakan tangan Pandu meremas bahu. Tak sanggup dia membangunkan aku dari lantai, jadi yang dilakukannya adalah duduk hingga kami sama rendah.

"Sudah, Mas ..."

"Anak macam apa aku, Pak ...? Bapaknya meninggal tapi ndak datang ke pemakaman ... anak macam apa aku ...?" Ratapku dengan dada yang sesak.

Bagaimana tidak sesak? Hal terakhir yang kuingat tentang bapak adalah senyum dan wejangannya.

"Bapak ndak minta apa-apa, Hen. Cuma ingin kamu dan Pandu yang mengangkat kerandaku saat aku tiada nanti ..." ucap bapak saat itu, "Bapak ndak ingin saat kalian sudah dewasa, lupa pulang seperti Prapto ... sampai-sampai saat ayahnya meninggal dia sama sekali ndak datang ke pemakaman."

"Bapak kok ngomongin masalah meninggal to, Pak?" Aku menampik saat itu. Aku tau usia bapak memang semakin tua. Bapak juga punya penyakit komplikasi yang sudah parah. Tapi tidak pernah sanggup aku membayangkan kelak akan ditinggal oleh bapak. Apalagi sebelum aku sempat membahagiakannya.

Seperti sekarang ...

"Kenapa aku ndak diberitahu bapak meninggal, Bu? Pan? Kenapa ...? Apa ndak pantas aku ikut menunggui bapak sebelum waktunya tiba?"

Tak ada jawaban yang kudengar dari mereka. Hanya isak tangis bersahutan di antara kami.

"Ndak papa, Hen ... ndak apa-apa ..." ucap ibu tak henti-henti, "jangan salahkan diri, Le ...ini sudah takdirmu ndak bisa ikut memakamkan bapak."

***

Jalan ini dulu adalah setapak kecil dengan tepian ilalang hijau. Ada beberapa petak tanah kosong di kedua tepi jalan kecil ini yang sering dijadikan tempat bermain bola oleh anak-anak kecil.

Sore hari, aku sering berjalan santai di sini. Duduk di bawah salah satu pohon mangga besar. Kadang menyanyikan lagu dengan gitar, atau cuma sekedar nongkrong bersama teman-teman kecil yang mulai beranjak dewasa.

Kami bicara banyak hal sambil tertawa lepas. Tentang pekerjaan baru, tentang hape Nokia 3110 yang baru keluar, juga tentang kencan dengan wanita.

Masih kuingat dia. Wajah gadis berkulit bersih dengan rambut hitam bergelombang. Jika tak sengaja dia harus melewati kami, akan terlihat jelas rona pipinya. Senyumnya gugup, tapi masih menjawab sapaan kami dengan sopan dan ramah.

Laras namanya. Rumah gadis lulusan SMEA itu di ujung gang sana. Tak seberapa besar, tapi terlihat bersih dan nyaman.

Bisa dibilang, dia bunga desa di sini. Lumayan banyak yang naksir, tapi kebanyakan tidak punya kesempatan untuk mengungkapkan. Kecuali aku.

Laras, gadis ayu itu menyerahkan hatinya padaku setelah selama tujuh bulanan aku terus berusaha menunjukkan perasaan padanya.

Aku diterima.

Tidak bisa kuungkapkan bagaimana bahagianya aku, karena itu yang kukatakan hanya ....

"Kamu mau menikah sama aku, Ras?" Aku menatapnya penuh kesungguhan.

Laras menatapku, kaget. Lalu semburat merah segera menjalar di pipinya.

"Laras?" Lagi, aku bertanya. Karena hampir sepuluh menit dia hanya diam.

"I ... iya ..." Akhirnya dia menjawab.

Hampir saja aku melompat karena bahagia. Tapi karena takut membuat Laras berpikir aku gila, jadi aku berpaling ke arah lain sambil mengulum senyum. Sementara hati berdebar kencang tak karuan.

Sumpah, itu seperti mimpi.

Mimpi, yang memang akhirnya hanyalah jadi sebuah mimpi.

"Mas Hendri!" Kudengar suara Laras setelah beberapa minggu.

Kami bertemu di setapak ini, tapi dalam keadaan tak bahagia.

Aku menggendong ransel hitam besar di punggung. Sedikit terkejut melihatnya berlari dari kejauhan. Seperti seseorang yang sedang berusaha mencegah kekasihnya pergi. Aku.

"Aku ndak mau kamu pergi ... aku ndak mau ...!" Ternyata tangisnya sudah pecah saat ia berlari ke arahku.

Aku menghela napas. Semalam sudah kujelaskan padanya bahwa aku harus merantau untuk masa depan kami nanti. Semalam dia memang mendebat, tapi kemudian berhenti setelah kujelaskan baik-baik dengan kalimat akhir, 'aku janji akan cepat pulang untuk menikahimu!'

Semalam dia tak membalas lagi. Kupikir karena dia akhirnya rela melepasku. Tapi ternyata belum.

"Mas ... cari kerja di sini saja. Atau di Jakarta. Jadi bisa kembali tiap liburan atau lebaran." Binar mata itu memohon.

Aku terdiam.

"Jepang itu jauh, Mas. Bisa saja ... nanti ... hati kita berubah setelah lama berpisah ..." ucapnya pelan, dengan hati teriris.

Irisan yang sama pun menggores di dalam sini. Di hatiku.

"Cuma kontrak 3 tahun saja, Dek!" Akhirnya aku menjawab, "cuma untuk ngumpulin modal nikah."

"Tapi ..."

"Percaya sama aku, Dek. Aku janji untuk jaga hati, dan aku tau kamu pasti juga bakal jaga hati."

"Mas ..."

Aku meraih tangannya, "Nanti aku sering-sering telepon. Asal nomormu jangan gonta-ganti ya!" Kusentuh hidung bangirnya dengan ujung jari.

Matanya masih menyatakan keberatan. Tapi, akhirnya ada senyum yang mengembang paksa di bibir kemerahan itu saat aku mengusap pipi lembutnya.

"Aku pergi ya ..."

Dia menggigit bibir. Lalu kutinggalkan begitu saja. Karena tak sanggup kupandangi wajah sendu itu lebih lama lagi.

Setengah berlari aku menyeberang jalan yang ramai sambil berkali menoleh ke arah Laras yang berdiri termangu.

Terakhir yang kuingat, dia meneriakkan namaku. 
.

Ah, kenangan itu sudah lama sekali. Sekarang tak ada jalan setapak kecil. Semua sudah terganti oleh jalan gang beraspal. Dimana kendaraan bermotor model-model baru sesekali melintas.

Tak ada lagi tanah kosong. Semua sudah penuh terisi oleh bangunan-bangunan megah dan mewah. Ah, kampungku sudah berwajah kota sekarang.

Rasanya seperti baru kembali dari tempat yang sangat jauh, lalu mendapati semua hanya tinggal kenangan.

Jalan setapaknya, riang anak-anak kecil bermain bola, juga ...

"Laras." Aku menggumam.

Kala di depan sana terlihat wanita yang sangat kukenali rupa dan cara berjalannya.

Ada debar yang seketika kembali terasa.

Semalam kutelepon, nomornya telah tak aktif. Lalu kudengar berita menyakitkan dari mulut Pandu.

Langkah Laras melambat, hingga akhirnya berhenti beberapa langkah di hadapanku. Wajah itu ... wajah yang kurindukan dalam malam-malamku. Kini terlihat jauh lebih dewasa.

"Mas Hendri?" Dia membelalak tak percaya.

"Laras." Aku berusaha tersenyum. Ingin sekali memeluknya karena rindu yang begitu menggebu. Tapi ...

"Mas ... kapan pulang?" Suaranya sedikit bergetar.

"Kemarin."

"Ini ... dari makam bapak ya?"

"Iya ..."

Hening sesaat. Tanganku mulai dingin dan gemetar. Entah karena terlalu lelah, atau karena perasaan yang membuncah.

Aku rindu.

Aku sangat rindu.

"Lama sekali ..." lirihnya.

"Maaf."

Seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahunan memeluk pinggangnya.

"Ma, ayo pulang!" Rengek anak itu manja.

Seperti ada pisau yang menancap di dalam sini. Yang tak tercabut lagi. Terbenam semakin dalam sejak semalam. Seiring dengan cerita Pandu bahwa Mbak Laras yang pernah menunggu selama hampir 5 tahun akhirnya menikah dengan laki-laki lain.

Karena usia yang memaksa.

"Ini anakmu, Ras?" tanyaku pelan.

Dia mengangguk dengan mata mulai dipenuhi kaca. Sama, seperti 18 tahun yang lalu saat akan kutinggalkan dia untuk bekerja ke Jepang sebagai TKI.

"Sudah besar ya," ucapku.

"Ini ... anak kedua, Mas. Yang pertama umur 10 tahun."

Aku mencoba tersenyum, entah terlihat seperti apa. Yang aku tahu, semua harapan itu kini telah pergi. Melebur dalam kesedihan bersama kepergian ayah yang tak sempat kutangisi.

Andai saja hari itu aku mendengarkan kata-kata bapak agar tidak pergi. Andai saja aku berbalik arah setelah mendengar permintaan Laras. Mungkin aku tak kan merasa sehancur ini.

Seandainya waktu bisa diputar kembali. Mungkin aku tidak akan merasakan jeda ini.

Terakhir kali sebelum keberangkatan kulihat kalender menuliskan angka 2000, lalu saat aku pulang kemarin angkanya sudah berubah menjadi 2018.

Delapan belas tahun. Selama delapan belas tahun dalam keheningan. Mencoba bertahan karena satu alasan kuat agar tak mati.

Cinta Laras.

"Selama delapan belas tahun koma akibat kecelakaan sialan itu, aku berusaha untuk bangun, Ras. Tapi setelah bangun ... kok rasanya malah ingin mati ..."

Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah