Layak - Saifullah | My Everything

Layak

cinta terpendam
Pernah merasa tidak layak untuk dicintai seseorang? Aku pernah. Sekarang.

Lucu, biasanya aku tidak serendah diri ini.

"Sarapan ya?" Terdengar sapaan, yang membuat hatiku seketika mengecil.

Indah Ayu.

Seperti namanya, rupanya pun cantik, layaknya keindahan alam yang terukir penuh pesona.

"Boleh duduk di sini nggak?" Dia tersenyum lebar. Menyipitkan mata berbulu lentik yang di dalamnya terlihat manik serupa kristal.

Aku tertawa. Tertawa jengah. Lalu menggeser kursi agar dia bisa lebih leluasa berhadapan dengan meja kantin sekolah.

"Udah makan?" Aku bertanya. Pertanyaan yang sempat dia komplain karena bisanya bertanya yang itu-itu saja.

"Udah. Kan kesini cuma mau maen," jawabnya lucu.

Nah kan, salah lagi.

Kami tertawa, sementara aku menggaruk kepala. Mengedarkan pandangan di kantin bersuasana ramai. Dimana beberapa cewek terlihat sedikit berbisik-bisik melihat kami duduk di satu meja yang sama.

Pernah merasa risih, kaku, gugup, dan entah apa namanya saat berdekatan dengan seseorang? Takut salah saat akan bicara sesuatu. Walau selama ini kau tahu dia sudah cukup mengenalmu.

Ini yang kurasakan sekarang.

Kami satu kelas. Bukan untuk setahun dua tahun, tapi tiga tahun. Dia melihat tingkahku. Keseharian dimana aku membolos, berkelahi, dihukum guru, menggoda cewek lain, bahkan melihatku pacaran.

Berkali-kali.

Pesanannya datang. Semangkuk mie ayam dan minuman botol. Sejenak keheningan menyelimuti. Sampai dia menunjukkan sesuatu padaku.

Secarik kertas.

"Apa?" Aku bertanya.

"Aku bikin puisi!" Dia tersenyum, matanya kembali menyipit kali ini dihiasi dengan lesung pipi.

Aku merasa ada yang berdesir di dalam sini. Saat tangan kami hampir saja bersentuhan untuk menerima kertas itu. Karena itu aku berpaling, agar desirannya tak berubah jadi detak yang menyentak.

"Buat aku?" Aku tersenyum miring.

"Iya!" Dia mengangguk.

"Boleh dibaca sekarang?"

"Baca aja."

"Haha, okelah." Lagi, aku menggaruk kepala.

Terlihat tulisan tangan berjajar rapi di dalamnya. Dengan ukiran bunga-bunga berbagai warna. Keren.

Senyummu menghilang bersama mendung
Si kelabu menutupi pijar paras yang biasanya berekspresi bebas
Mengganggu penglihatanku, juga semua yang mengagumimu
Hey, kamu
Coba tumpahkan mendungmu sekali waktu
Agar bisa terlihat lagi cerah yang lalu

Aku terdiam.

"Cuma kata-kata motivasi. Biar kamu semangat lagi." Dia menatapku. Setengah menyindir mungkin.

"Memang selalu semangat!" Aku tertawa. Tawa yang entah.

"Oh ya?"

"Mungkin."

"Apa rasanya begitu sakit?" Kali ini tatapannya menembus jantungku. Dalam. Mencoba bertanya lewat perasaan, tapi sialnya aku terlalu takut dia tahu sesuatu di dalam sini.

Jadi aku berpaling, lagi.

"Enggak," jawabku.

"Sebenernya kamu bisa cerita ke aku tentang apa aja," ucapnya.

Aku menoleh.

"Kita kan temenan udah lama. Ya kan?" Senyumnya mengembang. Berlipat-lipat manisnya.

"Haha, ya. Sejak kelas satu." Aku tertawa. Tertawa bukan karena ada hal yang lucu, tapi karena bingung harus bagaimana. "Indah Ayu ..."

"Ya?"

"Nggak ilfeel?"

"Emmm?"

"Aku tau kamu juga liat keributan kemaren."

Gadis itu memang melihat adegan dimana Vanesha menampar, lalu berteriak minta putus padaku. Bahkan sempat memaki. Buaya darat. Player. Dan yang semacam itu.

Mungkin seharusnya Indah Ayu juga ikut merasa kesal. Atau menganggapku seperti yang Vanesha bilang. Seperti tatapan beberapa cewek padaku.

"Ya ... itu masalah kalian berdua. Aku nggak tau mana yang salah, mana yang benar. Tapi sebagai teman kan memang harus saling menyemangati."

Aku tersenyum.

"Ayo semangat, yeaay!" Dia mengepalkan tangannya, bersikap menyemangati yang malah terlihat lucu. Ingin menepuk kepalanya pelan, seperti biasanya aku memperlakukan gadis-gadis yang lainnya itu.

Tapi, dia Indah Ayu. Bahkan menatap matanya saja aku berubah kaku.

Dia pintar, dia cantik, dia baik, dia menyenangkan. Sampai saat ini aku belum pernah melihat kekurangan gadis itu. Mungkin ada. Tapi tertutup oleh sempurnanya.

***

"Dek!"

Cewek manis anak kelas 10 itu menoleh. Sedikit bertanya lewat tatapannya yang lugu.

"Ya, Kak?" Dia bertanya pelan.

"Jalannya jangan cepet-cepet. Entar jatoh! Yang remuk hati kakak!"

"Eaaaa!" Teman-temannya langsung riuh menggoda.

Aku tertawa. Dan semakin tertawa saat melihat paras anak itu sudah semerah tomat.

Mereka berlalu sambil berbisik-bisik membicarakanku, sesekali tertawa centil khas remaja. Sementara aku tak lagi peduli.

Berjalan sambil bersiul pelan. Menyusuri koridor kelas demi kelas sambil sesekali tersenyum menggoda cewek-cewek lain kelas itu.

"Dari mana, Al?" tanya Oni.

"Biasalah cari adek kelas."

"Dapet?"

"Kagak!"

Tawa mereka berderai.

"Kesian ....!" Cibir beberapa anak cewek penuh kemenangan.

"Yaelah, pantes aja dia sibuk godain cewek-cewek! Entar malem kan malem minggu. Biasa jones akut memang begitu!" Salah seorang teman menertawakan.

"Percuma juga pacaran, entar ujungnya kena tampar lagi!" Sahut Andrian.

"Halah!" Aku melingkarkan lengan di bahu anak itu, lalu menyeret menjauh dari anak-anak lain yang berdiri di depan pintu kelas menunggu bel masuk berbunyi.

"Sakit bego!" Andrian melepaskan tanganku.

"Link mana link?" Aku menarik kerah bahu belakangnya, menahan anak itu kembali berkumpul dengan yang lain.

"Yaelah, dasar jones!"

"Udah buruan!"

"Okelah, tapi di kantin ya!"

"Jah! Cari kesempatan!"

"Mau kaga nih?" Dia mengancam.

Aku menyeret anak itu ke arah kantin, diiringi dengan tawanya yang berderai.

***

Bel pulang berbunyi. Seketika halaman sekolah dipenuhi ratusan murid dengan berbagai macam suara. Sebagian langsung bergerak ke arah gerbang sekolah, dan sebagian lainnya masih tetap tinggal untuk mengikuti kegiatan ekstra.

Sementara satu gadis, berdiri di bawah pohon.

Pohon dimana biasanya aku menghabiskan waktu berjam-jam setelah bel pulang untuk membaca buku. Duduk di dahan terendah sambil menikmati desau angin dan ketenangan.

Dia ... Indah Ayu.

Tadinya aku akan ke sana, tapi langkahku tertahan.

Aku tahu ekspresi itu. Ekspresi menunggu seseorang datang. Dan itu aku.

Detak di dada sedikit mengencang, bersamaan dengan desir-desir halus yang mulai menyerang.

Kuperhatikan paras ayu itu. Cantik. Aku mengenalnya selama bertahun-tahun, sebagai 'bukan siapa-siapa'. Karena itu, sebagai bukan siapa-siapa aku menilai bahwa dia memang cantik luar dalam.

Cantik, manis, lucu, cerdas, baik, taat agama, dan punya banyak bakat. Sempurna.

Di mataku, dia terlalu sempurna.

"Al! Nggak balik lo?" Andrian berseru dari atas motornya.

"Ya baliklah! Ayo!" Aku berjalan ke arahnya. Lalu dengan santai membonceng di belakang.

Motor menderu melewati pintu gerbang. Sosok Indah Ayu hilang di balik pepohonan taman sekolah. Lalu aku menatap lurus ke depan jalan.

Aku tahu dia menyukaiku. Aku bisa melihat dari matanya. Dari cara bicaranya. Dari semua perhatian yang ditunjukannya.

Tapi seharusnya dia tahu.

Bagaimana aku.

Saat ini, rasanya belum pantas untuk gadis sesempurna itu. Mungkin nanti. Nanti saat aku sudah bisa lebih mengendalikan diri.

Karena rasa tertinggi adalah cinta yang ingin menjaga, bukan sekedar ingin memiliki lalu berakhir dengan airmata.

Tapi saat ini, aku belum bisa.

***

"Yaelah, malah bengong! Itu buka linknya!" Andrian melemparkan gumpalan kertas ke kepalaku, "ajib maennya!"

Aku tersenyum miring, seketika penasaran dengan adegan di dalamnya. Sementara Andrian menikmati mie gelas di atas kasur busa berseprai berantakan dalam kamar.

Terlihat angka dan huruf digital berwarna biru. Jemariku menggeser mouse dan menekannya, tapi ...

"Cari lagu aja lah!" Akhirnya aku memutuskan.

Kulihat Andrian menatapku dengan mulut terbuka lebar. Sedikit tersedak, lalu akhirnya meminum gelas mineral yang tergeletak di lantai.

Saat ini aku memang belum bisa. Tapi jika berniat memantaskan diri, suatu hari nanti mungkin aku layak untuk mengajaknya bicara tentang hati.

Penulis: Patrick Kellan

2 Komentar untuk "Layak"

Terima kasih hehe..
Kalau gak sibuk, tiap hari pasti diupdate ceritanya :)

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah