Pacaran Itu Wajar - Saifullah | My Everything

Pacaran Itu Wajar

Pacaran
Meja belajarku penuh dengan coretan namamu, kau tau? Ada yang terukir dengan indah, tapi juga ada yang ditimpa coretan-coretan kasar.

Aku ingin membencimu, tapi tak bisa.

Kau tidak salah. Begitu juga aku. Kita berdua, sama-sama saling cinta. Tapi harus berpisah.

Mereka bilang kita terlalu muda. Masih belum bisa membedakan mana yang harus dan tak seharusnya. Bukankah itu konyol? Kita hanya saling suka. Lalu jatuh cinta. Kita hanya saling berbagi, sebagai ekspresi rasa saling menyayangi.

Masih kuingat hari itu. Hari dimana kulihat kaca-kaca menutupi cahaya matamu. Lalu menitik bersama sedikit isak hidung yang memerah itu.

"Kak, aku ..." Suaramu begitu pelan. Bahkan lebih pelan dari desir angin. Sedangkan telingaku berusaha keras menyisihkan dentam dalam dada.

Aku bisa merasakan firasat dari cara bicaramu.

"Apa?" Aku menatap wajahmu. Antara bertanya dan memohon, entah lebih kuat ke aura yang mana.

"Kak ... aku nggak bisa lagi pacaran sama kamu ..." Menitik lagi air dari sudut mata itu. Hingga membuat bulu mata lentik itu tampak menyatu. Sementara bibirmu yang kemerahan bergetar pelan.

Kau menahan rasa sakit, apalagi aku.

"Kenapa?" Aku bertanya sambil meremas jari di balik saku celana. Karena kalau tidak diremas itu sungguh gemetaran.

" ... Mama bilang ... nggak boleh pacaran dulu," jawabmu pelan.

Aku terdiam.

Ingin rasanya memaki mamamu. Tapi aku tak sanggup melakukannya di depanmu.

"Oke." Akhirnya itu yang kukatakan. Dengan mata memerah dan hati terasa panas.

"Maaf!" Dia menunduk. Menyeka airmata itu dengan ujung jari.

"Oke."

Kau menatap wajahku. Beberapa detik. Lalu bangkit berdiri dari bangku taman. Tanpa bicara apapun lagi, kau berlalu pergi. Setengah berlari.

Meninggalkanku. Sendiri, memunguti serpihan hati.

Apa mereka para orangtua melihat pacaran hanya dari segi negatifnya saja? Tidakkah mereka pernah berpikir positif tentang rasanya?

***

Beberapa waktu ini aku seperti mati, kau tau? Aku berusaha menyibukkan diri dengan pelajaran sekolah, tapi tetap saja bayanganmu menggangguku.

Siang, aku harus tersiksa melihatmu dari kejauhan. Sementara malam hari, aku harus tersiksa karena bayanganmu. Kau ada di meja belajar, kau ada di kamar mandi, kau ada di atas ranjang. Kau ada di mana-mana. Hingga membuatku sesak napas rasanya.

Karena itu, aku ...

'Dek'

Aku mengirim sebuah pesan.

Tak lama, terdengar balasan.

'Kak ...' kulihat kau menyelipkan emoticon airmata di pesan yang kau tuliskan.

Apa itu artinya kau juga merindukanku?

'Aku kangen kamu.' Ungkapku.

Agak lama dia baru membalas.

'Aku juga, Kak ... aku kangen banget ...'

Lalu kami berdua tenggelam dalam isak tangis. Menangisi perasaan yang harus tertahan karena kejamnya sebuah peringatan.

Benar, ini cinta. Ini perasaan tulus. Jadi kenapa harus dihalangi?

***

Kita berjanji untuk tetap berhubungan, tapi saling merahasiakan. Di depan mamamu kau berusaha bersikap biasa saja, begitu juga aku di depan orangtuaku.

Kita terlihat seperti pelajar pada umumnya. Bedanya, kita saling cinta. Dan aku akan mempertahankannya.

"Nay, besok ... bisa nggak kita keluar?" Aku bertanya saat tak sengaja kita berpapasan di koridor kelas.

Wajahmu terlihat berbinar, tapi kemudian menunduk ragu. "Tapi ... pasti nggak boleh sama mama, Kak."

"Ya jangan bilang lah, Nay," ucapku sedikit gemas akan sikapmu yang terlalu penurut. Apa kau tidak sedikitpun menghargai hubungan kita?

"Mmm ..." kau menggigit bibir.

"Please, Nay. Aku cuma mau kita pergi keluar sebentar. Sebentar aja. Aku pengen ngerasain pacaran kaya pasangan lainnya. Mereka makan di luar, nonton, duduk berduaan di taman. Kamu nggak pengen kaya gitu ...?" Aku menatapmu dalam-dalam. Mencoba meyakinkan bahwa kau pun pasti mengingikan hal yang sama.

Dan aku benar.

Terlihat rona kemerahan di wajah polosmu. Lalu akhirnya kau mengangguk.

"Tapi ... jangan jemput ke rumah, Kak ..."

"Iya. Terserah kamu." Aku tersenyum. Lalu sedikit mengusap rambut halusnya pelan.

Seketika debar di dada terasa mengencang. Sepertinya kau pun merasakan hal yang sama. Terlihat dari senyum gugup yang berusaha disembunyikan itu.

Ah, manis sekali kekasihku.

***

Kita janji bertemu di sebuah taman. Terlihat kau di sana. Mengenakan celana jeans dan baju kemeja. Terlihat simpel dan cantik. Aku suka.

Ronamu semakin nyata saat melihat langkah lebarku mendekat. Dan semakin salah tingkah saat aku mengecup dahimu penuh kasih sayang.

"Kak ..." ucapmu malu.

"Aku sayang kamu, Nay. Dan aku nggak akan menyembunyikan itu." Aku memutuskan.

Ya. Ini cinta. Ini rasa yang paling asa. Aku akan mempertahankannya entah seberat apa nantinya.

Kita melebur dalam kerinduan yang paling dalam. Saling bercerita, saling menatap, saling menggenggam tangan. Debarnya begitu indah sampai aku tak tahu bagaimana lagi harus meluapkannya.

"Kak, sudah sore. Pulang yuk!" Kau mengingatkan.

Aku menarik tanganmu. Menahan agar kau tak jadi melangkah pergi.

"Sebentar lagi, Nay. Aku masih kangen ..." pintaku.

"Tapi, Kak. Ini udah sore ..."

"Please ..."

"Kak, aku takut mama marah."

"Kamu bisa minta tolong Lestari untuk bohong sedikit. Demi kita, Nay ..."

Kau terdiam. Menimbang. Lalu akhirnya kembali duduk di sebelahku.

Tapi kali ini aku yang bangkit berdiri.

"Kak, mau kemana?" Mata indahmu bertanya.

"Aku pengen kita berdua aja. Bukan di tempat yang serame ini."

"Kemana?"

"Ayo!"

Cinta itu, butuh tempat dimana kita yang merasakannya hanya berdua saja. Benar kan? Karena tak puas hati hanya dengan bicara denganmu. Ingin menunjukkan yang lebih banyak lagi. Agar kau mengerti betapa rasa sayang ini begitu menggebu.

Aku membawamu ke kamar kost salah satu temanku. Di sana kita bisa berduaan. Karena temanku yang sudah bekerja itu seringkali menitipkan kunci kamarnya padaku.

Dan di sinilah kita. Hening. Sunyi. Hanya berdua saja. Kita sangat bahagia. Kita bisa mengekspresikan segala rasa yang kita punya.

"Kak ..." kau menahan ciumanku.

"Naya ..." Aku menatapmu dalam-dalam. Mencoba meyakinkamu bahwa aku memang mencintaimu setengah mati.

Ini caraku. Caraku menunjukkan cinta padamu.

Aku mengecup lagi, kali ini kau biarkan saja hingga semua berjalan apa adanya.

***

Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Perasaan di hati sudah mulai membiasa. Debarnya mulai memudar. Aku masih sayang kamu, tapi tidak semenggebu dulu.

Apalagi, aku mulai disibukkan oleh ujian kelulusan.

Aku mulai giat belajar. Jangan sampai aku tidak lulus, karena aku punya cita-cita besar. Aku ingin menjadi seorang tentara. Sama seperti keinginan ayah juga. Sekarang, aku berusaha keras mewujudkannya.

Tapi,

'Kak,' Masuk pesan darimu.

Kuabaikan. Karena aku sedang sibuk menghafal pelajaran.

'Kak, tolong balas!' Kau mengirim pesan lagi. Untuk kedua kali.

Masih kuabaikan. Lalu telepon berdering. Kulihat namamu di layar. Setelah menghela napas sedikit kesal, aku menerima telepon.

Baru saja akan memprotes tingkah kekanakanmu yang tak berhenti menghubungi, tapi suaramu menyambar telinga lebih dulu. Suara pecah tangismu.

"Kak, aku hamil!"

Deg!

"Kak ... aku harus gimana? Ya Allah ... aku nggak mau ... aku nggak mau ...!" Tangismu di seberang sana.

Sementara aku hanya terpaku.

Diam. Tak percaya. Terluka.

Kau hamil. Kau hamil. Kau hamil. Anakku.

Aku ...

Tidak mau.

***

"Ampun, Yah!" Aku berseru.

Jatuh terjerembab di lantai dengan sudut bibir pecah. Sementara beberapa langkah di sana ayah menatapku dengan penuh kemarahan. Dadanya naik turun, kedua tangannya terkepal. Tangan yang baru saja melayangkan tinju ke wajahku.

Dia akan memukul lagi, tapi dihalangi oleh ibu.

"Sudah Yah ... ya Allah sudah ...!" Ratap ibu.

"Dasar bajingan kamu! Jadi hal bodoh ini yang kamu lakukan di belakang ayah dan ibumu! Menghamili anak orang!" Bentak ayah geram.

Aku tau arti tatapannya. Bukan kemarahan, tapi kekecewaan dan hancurnya harapan.

"Maaf, Yah ..." Aku terisak sambil mengusap sudut bibir.

Ayah mengusap wajahnya kasar.

Lalu dia pergi. Tak sanggup lagi menasehati. Karena selama ini sudah cukup banyak kata-kata darinya. Tentang bahayanya menjalin hubungan selama masih sekolah. Juga tentang nasib para pemuda yang harus menikah karena kecelakaan.

Hampir setiap hari, saat kami berkumpul membicarakan tentang kegiatan yang kami lakukan, selalu diselipkan wejangan dalam kata-katanya. Memberi banyak contoh, tentang orang-orang yang gagal meraih cita-cita hanya karena tergoda rasa.

Selama ini aku mendengarkan. Aku mengangguk mengerti. Tapi menganggap bahwa apa yang kulakukan bersama Naya masih dalam batas kewajaran.

Kami hanya mencintai. Hanya terbuai oleh rasa saling menyayangi. Itu wajar.

Lalu kini, di detik ini aku menyadari, bahwa setiap kesalahan yang diperbuat oleh sepasang kekasih itu, semuanya berawal dari pemikiran 'Ah, yang kulakukan ini masih dalam batas wajar. Iya kan?'.

***

Perut Naya semakin membesar. Dia berhenti sekolah sekarang. Sementara aku, masih bisa mengikuti ujian kelulusan sekolah.

Akhirnya lulus dengan nilai lumayan.

Di sana, teman-temanku saling berpelukan. Merayakan kelulusan dengan sorak-sorai. Saling bertanya akan meneruskan ke universitas mana. Lalu tertawa gembira saat tahu mereka akan melanjutkan ke kampus yang sama.

Sementara aku, hanya terdiam.

Aku memang akan melanjutkan ke tingkat kuliah. Tapi tidak merasa sebahagia mereka.

Karena ada beban di sini, di bahuku. Beban yang seharusnya belum pantas ditanggung pemuda seusiaku.

.

Malam telah larut. Besok aku harus bekerja, lalu mengikuti kuliah di malam hari. Penat.

Dan semakin bertambah penat saat terdengar suara tangis bayi memecah keheningan malam. Untuk yang kesekian kali.

Aku membenamkan kepala di bantal. Agar suara berisiknya bisa teredam. Tapi guncangan tangan Naya membangunkanku.

"Pa ... Papa ... tolong gantian gantiin popoknya ... aku ngantuk banget ... Pa."

Penulis: Patrick Kellan

2 Komentar untuk "Pacaran Itu Wajar"

Tidak ada kak. Ceritanya selesai sampai disitu aja. Kalau suka cerita yang pakai episode, insya Allah 6 hari lagi akan kami posting. Soalnya untuk 5 hari ini udah di jadwalkan posting cerita untuk sekali duduk.

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah