Cerita: Percaya - Saifullah | My Everything

Cerita: Percaya

Proses persalinanku berjalan cukup lancar. Normal, dan penuh kegembiraan.

Terlihat suami yang memang sangat mendambakan seorang anak setelah hampir sepuluh tahun pernikahan kami, begitu bahagia. Tak hentinya dia menggendong dan menciumi wajah putri kecil kami.

Hingga akhirnya terucap sebuah nama 'Percaya'. Aneh? Mungkin bagi sebagian orang itu nama yang aneh. Tapi menurut kami nama itu terlintas karena cukup alasan.

Beberapa tahun sebelum kehamilan, dokter pernah mengatakan bahwa sangat sulit kemungkinan bagiku untuk hamil. Karena ada masalah yang cukup serius dengan rahimku.

Butuh berbagai macam terapi dengan obat yang sangat mahal bagi pasangan sederhana seperti kami untuk bisa hamil. Kami sempat putus harapan, tapi akhirnya Tuhan berkata lain.

Aku hamil. Menjalani kehamilan tanpa banyak masalah, lalu akhirnya melahirkan dengan cara normal.

Kami berdua sangat bahagia hingga kulihat suamiku menangis dan bersujud berkali-kali di lantai Rumah Sakit.

Karena itu kami memberinya nama Percaya. Karena hanya kepercayaan lah yang membuat kami tidak putus asa mengharapkan kehadiran seorang anak tanpa saling menyalahkan.

Tapi kebahagiaan ini, tak berlangsung lama. Ada yang salah dengan putri pertama kami.

Di usia mulai memasuki satu tahun, aku semakin merasakan sesuatu yang aneh. Putriku, seperti tidak mempedulikan apapun di sekelilingnya. Dia hidup dalam dunianya sendiri. Dan hampir tak pernah mengeluarkan suara meskipun seringkali aku mencoba memancingnya.

"Caya ... sini!" Aku memanggil, agar ia bergerak mendekat, atau setidaknya menoleh. Tapi dia tak peduli. Hanya memukul-mukul kaki dengan tangan mungilnya, lalu berguling di atas kasur lantai.

Rasanya begitu takut. Takut jika memang ada yang salah dengan Percaya. Meski suamiku selalu mengatakan anak kami pasti baik-baik saja, tapi perasaan seorang ibu seringkali terbukti kebenarannya. Dan itu sungguh membuatku takut.

"Mas, besok kita periksakan Caya ke dokter anak ya?" Aku bicara, sesaat setelah kami naik ke tempat tidur.

Di antara kami terlihat Caya. Lelap dalam tidur, menampakkan kepolosan wajah seorang anak tanpa dosa. Kupandangi, dengan hati gamang.

"Kenapa? Caya sakit?" Suamiku bertanya, sedikit khawatir.

Aku menggeleng. Tapi di sini, di dalam dada, ada yang berdenyut sakit. Demi melintas kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Beberapa kali ketika aku berkumpul dengan sesama ibu-ibu komplek, sikap mereka seperti mengecilkan Percaya. Bahkan sesekali kudengar bisik mereka.

"Lihat gerakan tangan dan kakinya. Bukannya itu ..."

"Aku punya beberapa teman yang anaknya menderita kelainan seperti itu. Biasanya memang sudah terlihat dari kecil ..."

"Coba saja lihat reaksinya saat dipanggil. Nggak ada kontak mata."

Seketika terasa kaca-kaca mulai menggenang di pelupuk mata. Ingin marah, tapi yang mereka bilang memang benar. Percaya tidak seperti anak-anak lain seusianya. Dia berbeda. Jadi yang kulakukan hanya berlalu pergi dari sana. Menggendong Percaya yang bahkan seperti tidak sadar bahwa aku ibunya.

Terduduk aku di tepi ranjang, memandangi wajah tanpa dosa itu, dan akhirnya menangis terisak-isak. Mengucapkan doa hingga puluhan kali. Berusaha meyakinkan hati bahwa Percaya hanya mengalami sedikit keterlambatan dan itu masih wajar.

Tapi siang tadi, saat ibu mertua datang dan melihat Percaya. Semula dia menyambut putri kecilku dalam gendongan, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.

"Kok perilakunya agak mirip sama anak tetangga Ibu yang idiot, Na?"

Deg! Seperti sebilah pisau menusuk perlahan. Sakit sekali. Neneknya sendiri mengatakan Percaya idiot. Dengan wajah seperti tidak suka atau jijik, entah lebih cocok menyebutkan yang mana.

Idiot. Ya Allah ... kata yang sungguh ...

"Dek? Kamu nangis?" Suamiku mengguncang pelan.

"Percaya nggak idiot, Mas. Enggak ..." Aku menggeleng kuat-kuat.

Dia menghela napas berat. Lalu mengusap bahuku pelan. "Besok periksakan di Rumah Sakit. Tapi aku nggak bisa antar. Bos pasti marah kalau aku minta izin lagi."

Aku mengangguk pasrah. Lalu kami tidur dalam posisi saling memunggungi. Karena aku menangis, mungkin dia juga. Karena berkali aku mendengar hela napas beratnya.

***

Percaya adalah harapan kami satu-satunya. Setelah melahirkan putri pertama kami, aku harus menjalani pengangkatan rahim.

Kami hanya keluarga sederhana. Karena suamiku tak bisa mengantar, aku membawa Percaya ke Rumah sakit naik angkot.

Di sepanjang jalan, sambil mengusap kepala dan wajah tanpa dosanya aku mengucap doa. Agar Percaya baik-baik saja.

Setelah mendaftar dan mengantri cukup lama, akhirnya aku bisa bertemu dengan dokter spesialis anak di Rumah Sakit itu.

Terjadi percakapan yang cukup lama. Diamatinya Percaya. Lalu melakukan beberapa tes dan menanyaiku dengan berbagai macam pertanyaan.

***

Selama beberapa minggu Percaya harus menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan. Hari ini adalah hari dimana aku mendengar hasilnya. Rasanya sungguh ingin berlari ke tempat yang jauh karena aku sangat sesak.

Angkot berhenti, aku segera naik. Berdesak-desakan dengan penumpang lain sambil tanpa sadar mencengkeram erat bahu Percaya dengan telapak tangan.

Beberapa orang di dalam angkot menatap ke arahku. Ada yang terpaku, tapi kebanyakan mencuri-curi pandang. Dengan tatapan penuh tanya.

Ya, aku menangis. Berkali mengusap airmata yang seolah tak berhenti mengalir. Sambil sesekali terisak hingga dadaku terasa sesak.

Dokter itu, dengan tega mengatakan hal yang sama sekali tak ingin kudengar. Bahwa Percaya menderita Autis. Belum cukup sampai di situ. Percaya juga punya masalah dengan pendengaran dan suaranya.

Ya Allah ... lengkap sekali.

Duniaku runtuh di depan dokter itu.

"Apa bisa sembuh, Dok? Apa bisa sembuh?" tanyaku berkali-kali.

Dokter itu hanya diam. Lalu setelah menghela napas panjang dia menjelaskan. Bahwa Percaya harus menjalani terapi dengan biaya mahal tapi itu pun tak menjamin kesembuhan total. Hanya bisa membuat Percaya sedikit lebih baik. Menatap kedua mata yang sudah banjir ini dengan raut wajah tenang, tapi terlihat mematikan. Ya, dia mematikan seluruh harapanku.

Harapanku tentang Percaya. Tentang putri cantik yang bisa kubanggakan kelak saat dia tumbuh dewasa. Dimana di dalam mimpi aku melihatnya menghadiahiku dengan segala kesuksesan yang diraihnya.

Hancur sudah.

Hancur sudah aku ...

Hancur ...

"Maaf, Mbak. Mbak nggak papa ...?" Wanita dalam angkot yang terlihat lebih muda dariku bertanya.

Aku terisak, sambil memeluk Percaya yang tertidur dalam gendongan.

"Nggak ... papa ..."

"Ini." Dia menyodorkan tissue.

Tapi aku memilih mengusap wajah dengan ujung kain gendongan Percaya. Mengucek mata lama, dengan isak yang sangat menyakitkan karena dipaksa tertahan.

Ya Allah ... sakit sekali.

***

Kududukkan Percaya di lantai. Sementara aku terdiam menatapnya. Pikiran kosong. Melayang, tanpa harap. Seperti hidup di dalam dunia tanpa masa depan.

Entah sampai berapa lama aku hanya terpekur tanpa airmata.

"Dek?"

Pelan, aku menoleh. Ternyata suamiku sudah pulang. Mungkin sudah mengucap salam berkali-kali, tapi aku tak mendengar. Karena itu dia langsung masuk ke dalam.

"Baru pulang dari Rumah Sakit?"

Aku kembali menatap Percaya. Putri kecil kami sedang memukul-mukul kaki sambil mengeluarkan suara 'aneh' dari mulutnya.

"Gimana kata dokter?" tanyanya hati-hati.

Aku menoleh padanya lagi. Nanar.

"Dokter bilang apa?" ulangnya sampai beberapa kali. Tapi akhirnya dia terdiam saat melihatku hanya menggeleng.

"Nanti ..." Aku menggeleng. Tak sanggup menceritakan apa vonis dokter yang mematikan harapan seketika.

"Dek, apa kata dokter?"

"Jangan ... sekarang ..." Kata-kataku tertahan di rongga mulut. Berdesakan mencoba keluar. Hingga yang terdengar hanya berupa erangan.

Seperti suara anak kecil, yang keinginannya tidak dikabulkan.

"Dek?"

Lalu saat kedua tangannya akan merengkuh, akhirnya aku bisa.

Aku bisa menjerit keras. Mencoba mengeluarkan segala kesakitan yang telah menumpuk lama.

"Kenapa harus kaya gini? Kenapa? Aku mau anak yang normal! Aku mau anak yang bisa dibanggakan saat kita tua! Ya Allah, Mas ...! Astagfirullah ...! Aku nggak bisa ... aku nggak bisa!!"

Aku menjerit histeris. Di pelukan suamiku akhirnya aku menangis sejadi-jadinya.

Menumpahkan segala sesak yang selama beberapa bulan berusaha kusembunyikan.

Aku seorang ibu. Aku tahu ada yang salah bahkan sejak dia menginjak usia enam bulan. Tapi sebagai ibu, aku tetap bertahan menepis semua pikiran buruk.

Karena aku berusaha percaya, Percayaku tidak apa-apa. Dia baik-baik saja. Dia normal seperti anak-anak yang lainnya.

Aku mau Percayaku kelak bisa membuatku bangga.

***

Hidup dalam kepedihan karena setiap hari begitu lelah mengurus seorang anak penderita Autis, juga kata-kata orang yang cukup menyakitkan meski terucap tanpa sengaja.

Kadang mereka berusaha menunjukkan perhatian atau simpati, tapi tanpa sadar ucapannya cukup menyakiti.

Ditambah dengan kata-kata ibu mertua yang berkali menggambarkan betapa dia seperti putus harapan kala melihat putri kecil kami. Seolah Percaya hanyalah anak tak berguna.

"Jangan, Nak. Sini! Jangan diacak-acak itu!" Ibu berteriak dari ruang tengah.

Tergopoh aku melihat ada apa di sana. Terlihat Percaya sedang mengacak-acak kue kering yang kutaruh di meja rendah.

Saat ibu memaksa mengambil toples itu dari genggaman Percaya, anak itu histeris. Lalu memukul-mukul kepalanya sendiri.

Aku segera menghambur dan memeluknya. Mencoba menghentikan tindakannya dengan penuh kelembutan.

"Mainan ini aja ya, Sayang. Kita baca buku yuk!" Aku membujuk agar dia berhenti menjerit.

Dia berhenti, tapi kemudian berlari pergi dengan kaki mungilnya. Melompat-lompat di atas sofa sambil mengeluarkan suara tidak jelas.

"Ya Allah, Na. Ibu kok kasihan melihat kamu. Seumur hidup akan repot mengurus Caya. Seumur hidup lho ... dia harus diurusi seperti bayi. Bahkan walau umurnya sudah tua nanti. Lalu siapa yang mengurusmu dan anakku ..."

Mata tuanya berkaca-kaca. Aku tidak menyalahkannya. Dia memang wajar mengatakan itu. Pemikiran yang sama sering terlontar dari mulut ibu-ibu komplek kami.

Percaya sudah berumur enam tahun kini. Belum bisa bicara, tidak begitu jelas mendengar. Seringkali membuat masalah saat diajak keluar. Hingga beberapa kali anak-anak seusia Percaya mulai mengejek kelemahannya.

Aku menangis. Hampir setiap hari.

Lebih baik aku yang dihina, aku yang diejek, aku yang disakiti. Daripada melihat putriku yang menjadi sasaran mereka.

Tapi seorang ibu tetaplah manusia biasa. Tak bisa mengendalikan dunia untuk Percaya, jadi yang kulakukan hanya membuat dunia sejarang mungkin melihatnya.

Ya, dalam depresiku, aku sempat hampir mengurung Percaya selama beberapa waktu di rumah saja.

***

"Nggak keluar lagi hari ini, Dek?" Suamiku bertanya saat kami sudah berada di atas ranjang. Sementara Percaya sudah tidur terpisah kamar.

Aku hanya diam.

"Biasakan Percaya bergaul bebas dengan teman-temannya di luar sana," ucapnya.

"Mereka menghina Percaya, Mas ... aku nggak tega ..." keluhku pelan.

"Mereka menghina karena belum kenal Percaya. Itu karena kamu jarang mengajaknya keluar."

Lagi, aku terdiam.

"Kamu nggak ikut menghadapi mereka, Mas ..."

"Ya, aku nggak ikut menghadapi. Tapi aku berpikir tentang masa depannya."

Aku menoleh.

Raut wajah suamiku begitu tenang, tapi menatap dalam. Di dalam sinar matanya kutemukan sorot kekhawatiran.

"Kita ... nggak selamanya bisa mendampingi Percaya, Dek. Suatu hari nanti, kita akan ninggalin dia sendirian. Setelah kita pergi, mungkin dia harus tinggal dengan salah satu saudara kita. Tapi ... apa kamu yakin saudara kita kelak akan memperlakukan Percaya dengan cara yang sama? Apa mereka setelaten kamu menghadapi dan melayani Percaya? Kamu nggak kasihan sama dia kalau nanti dia mendapat perlakuan berbeda hanya dalam waktu satu malam setelah kita diambil kematian? Ajari Percaya untuk menghadapi dunia, Dek. Itu untuk kebaikan dia, bukan karena tega atau nggak tega." Suaranya tenang, tapi ada sedikit getaran di sana.

Aku hanya bisa menatapnya. Melihat dengan jelas saat setetes air meluncur turun dari sudut matanya.

"Kamu ... ingin putri yang bisa dibanggakan kan? Percaya bisa ... asal kamu mengajarinya. Nggak perlu berpikir terlalu jauh, nggak usah berpikir kebanggaan dirasakan hanya karena kesuksesan. Bangga juga bisa dengan alasan-alasan kecil, tapi dilakukan dengan sepenuh hati. Mari sama-sama berpikir tentang masa depan untuk Percaya. Aku siapkan materi, sementara kamu siapkan mental untuknya."

"Mas ..." kini airmata sudah tak dapat kubendung lagi. Selama ini aku bahkan tidak menyangka dia sudah berpikir sejauh itu untuk Percaya.

"Besok, kita daftarkan Percaya ke Sekolah Luar Biasa. Jadi semakin mudah kamu ngajarin dia ..."

"Tapi ... itu mahal."

"Aku akan berusaha. Dengar, Allah nggak hanya memberikan ujian. Ada hikmah yang bisa dipetik, ada hasil yang bisa dituai. Kita hanya harus ikhlas dan berusaha semaksimal yang kita bisa." Suaranya semakin bergetar. Lalu akhirnya memelukku erat.

Aku memejamkan mata. Merasakan tulus kasih sayang seorang ayah dan seorang suami dalam satu raga.

Dia benar, Allah tidak sekejam itu. Dia Maha Adil, hanya saja kadang kesedihan menutup segala syukur yang harusnya dipanjatkan.

Terbukti semenjak kelahiran Percaya, ekonomi kami semakin membaik. Juga karena Percaya, kami semakin dekat dan semakin mesra karena berkali harus saling menguatkan saat salah satu mulai merasa hilang kesabaran.

***

Percaya semakin besar. Usianya 12 tahun kini. Dia tumbuh menjadi gadis cantik berambut panjang dan penuh kasih sayang. Selain karena ajaran di sekolah, juga karena kami orangtuanya selalu memberinya banyak pelukan dan kata-kata cinta.

Dia juga mengikuti terapi wicara, jadi walaupun suaranya tidak cukup jelas, tapi setidaknya sebagian besar masih bisa dimengerti.

Mendidik dan mengajari seorang anak dengan kelemahan seperti Percaya, tidaklah mudah. Aku harus melakukannya dengan penuh kesabaran. Harus mengajari berulang-ulang, kadang harus menghadapi sikap kekanakan yang berlebihan.

"Nanti lagi makannya ya?" Aku tersenyum sambil mengambil semangkuk es krim yang diambilnya sendiri dari freezer.

"Maaa ..." Suaranya seperti mengerang, sambil menggoyangkan kaki kuat-kuat.

"Peluk Mama!" Aku membuka pelukan.

Percaya tersenyum lebar. Lalu masuk ke dalam pelukan. Sebentar kemudian dia mengusap-usap rambutku dengan penuh kasih sayang.

Dia akan tumbuh menjadi seorang gadis. Mungkin kelak akan jatuh cinta entah pada pemuda yang mana. Karena itu aku mempersiapkannya dari sekarang. Dia tidak boleh punya berat badan berlebihan.

Anak yang menderita Autis cenderung memiliki nafsu makan cukup besar. Jika tidak dijaga dengan baik, tubuh mereka akan melebar. Karena itu aku menjaga pola makannya dengan baik.

Percaya memainkan rambut sambil menggumamkan kata-kata. Semakin lama, terdengar semakin samar. Sementara pandanganku tampak menggelap.

Aku mencengkeram lengan Percaya kuat-kuat.

"Maaa ...!" Percaya memanggil, lalu mengguncang tubuhku pelan.

Aku akan menjawab, tapi kemudian semuanya tampak gelap.

***

"Kamu kecapekan, Na!" Suara ibu terdengar sesaat setelah aku membuka mata.

Ternyata aku sudah berada di ruangan serba putih dengan bau obat yang cukup menyengat.

"Iya, Bu. Akhir-akhir ini usaha kateringku memang semakin ramai ... jadi banyak yang harus diurusi ..." Aku menjawab lemah.

Ibu tersenyum. Tapi aku melihat ada yang berbeda dari pandangannya. Bahkan ... dia tidak menyinggung kerepotanku ini berasal dari Percaya, seperti yang selalu dia bilang setiap kali aku jatuh sakit.

Beberapa saat berpandangan, kulihat senyum ibu perlahan menghilang, berganti dengan kaca-kaca di bola mata tuanya.

"Ada apa, Bu?" Aku bertanya heran.

"Percaya ..." Setetes air menetes dari sudut mata ibu.

Deg! Percaya? Ada apa dengan Percaya?

"Percaya di mana, Bu?" Seketika aku mencoba bangun.

"Percaya sudah tidur, Na. Baru saja diantar pulang sama Haryo!"

Ada desah lega yang keluar dari bibirku. Jadi ... kenapa ibu menangis sambil menyebut nama Percaya?

"Selama ini ... Ibu selalu takut bahwa kalian akan selalu direpotkan Caya sampai dia tua nanti. Tapi ..." Dia mengusap sudut matanya. "Ibu salah. Tadi ... Ibu melihat sendiri bagaimana dia menggantikan bajumu ... ya Allah, Na. Luwes sekali caranya. Penuh kasih sayang dia merawatmu yang sedang pingsan."

Aku tersenyum. Senyum penuh rasa bangga. Menyadari usahaku selama ini tidak sia-sia. Bagaimana hampir setiap hari aku mengajarkan Percaya untuk mengganti baju sendiri. Lalu beberapa waktu ini, aku mulai mengajarinya cara menggantikan bajuku.

Ya, aku mengajarinya bagaimana jika kelak dia harus merawatku di tempat tidur.

Mulanya begitu sulit. Tapi karena aku mengajarinya setiap hari, akhirnya dia bisa. Dan sekarang, dia membuktikannya langsung di depan ibu.

Tak ada seorang anak pun yang dilahirkan tak berguna. Itu hanya bagaimana cara kita mendidiknya sebagai orangtua. Anak yang dididik dengan benar, pasti akan membawa kebanggaan. Meski bukan kebanggaan karena melakukan hal-hal besar di luar sana.

Aku tau kelak Percaya akan melakukan hal-hal lain yang bisa dibanggakan, selama aku mengajarinya dengan penuh kesabaran.

Selama aku tetap percaya.

Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah