Cerita: Sandra 4 - Saifullah | My Everything

Cerita: Sandra 4

Bayi isap jari jempol
Pria itu bernama Akasa. Nama yang bisa diartikan sebagai langit, bisa juga diartikan sebagai udara terbuka. Nama yang diberikan oleh orang yang seharusnya tak punya hak memberikan nama untuknya.

"Kau kan ibunya, susui saja dia!" Akasa menatap wanita muda berparas lembut di hadapannya, kesal.

"Dia ... tidak minum Asi."

"Jadi dia minum kopi?"

"Bukan begitu! Dari awal dia memang tidak minum Asi ..."

"Aarggh, merepotkan!"

Raven mulai melengking.

Dari ruang tv terdengar teriakan-teriakan mulai menyalahkannya. Membuat wajah terlihat itu semakin gusar.

"A ... apa ... ada ... sesuatu yang bisa dimasak di sini ..? Biar aku masakan untuknya ..." Sandra menawarkan. Walaupun dia tidak tahu bagaimana nanti hasilnya. Bahkan dia tidak bisa menggoreng telur dengan benar.

"Lihat saja sendiri, aku mau tidur! Tapi awas kalau kau mencoba kabur, Nyawa bayimu taruhannya!"

"Iya!"

Sandra buru-buru keluar dari kamar sambil menggendong Raven, bahkan tanpa bertanya di mana letak dapurnya.

Di ruang tv yang ukurannya cukup luas, terlihat 2 orang itu sudah tertidur lelap di sofa.

Beberapa kali Sandra harus tersesat karena rumah ini ternyata mempunyai banyak ruangan. Gugup, dengan Raven yang terus menangis dalam gendongan juga menjadikan alasan Sandra susah berkonsentrasi. Ah, seumur hidupnya dia belum pernah merasa yang selelah ini.

Untunglah beberapa saat kemudian dia masuk ke sebuah ruangan tertata rapi dengan peralatan dapur serba mewah di dalamnya. Tentu saja mewah, mereka pasti membelinya dari uang hasil rampokan.

Sandra membuka lemari pendingin. Terlihat berbagai macam bahan masakan di sana. Tapi sayangnya ... dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara memasak sayur. Jadi ... telur saja.

Prakk! Suara telur menghantam lantai dapur.

Diiringi suara pekikan kecil dari bibir Sandra. Menyadari ada seseorang tepat di belakangnya.

Ternyata Akasa menyusulnya. Laki-laki itu sedang menatap Sandra dengan tatapan aneh.

"A ... ada apa?" tanya Sandra gugup sambil melangkah mundur.

"Sini bayimu!" Dia mengulurkan tangan, akan meraih Raven dari gendongan Sandra. Tapi wanita muda itu segera menepisnya. Takut.

"Mau apa?"

"Bagaimana kau bisa masak sambil menggendong bayi seperti itu?" Mata tajamnya menyipit.

Sandra menatap wajah Raven. Anak itu sedang mengisap ibu jarinya sendiri karena haus dan kelaparan.

"Dia kelaparan," ucap Sandra pelan. Mengasihani bayinya.

"Aku juga."

Mereka bertatapan. Disadari oleh Sandra, sorot mata pria di hadapannya itu tidak setajam sebelumnya.

"Kau ... apa?"

"Aku juga lapar."

"Ohh ..."

"Cuma oh?"

"A ... aku juga akan masakan sesuatu untukmu."

"Baguslah!" Lalu tangan besar itu terulur ke arah Raven, "kugendong dia, biar lebih cepat."

Sandra menatap Akasa ragu. Merasa seperti akan menaruh separuh hatinya pada ujung pedang.

"Dia akan baik-baik saja, tenanglah!" Dalam hitungan detik, Raven sudah berada dalam gendongan Akasa. "Sekarang masak yang enak. Kalau tidak enak, kupotong satu jarinya!" 
"Apa?!"

Dia menyeringai, "Bercanda!"

Sandra menarik napas. Sama sekali tidak lucu. Bahkan dia sempat merasa jantungnya melorot hingga ke dasar perut tadi.

Akasa menggeser keluar salah satu kursi meja makan. Lalu mengempaskan pantatnya di sana. Lalu matanya memberi isyarat pada Sandra untuk meneruskan pekerjaannya.

Dari tempat duduknya dia terus mengamati wanita muda itu sibuk menyiapkan masakan. Entah apa yang disiapkan tapi terlihat sibuk sekali. Punggungnya terus bergoyang-goyang di depan penggorengan.

Berkali-kali wanita berparas ayu itu menoleh ke arahnya. Seolah memastikan dia tidak pergi kemana-mana membawa bayinya.

Sejenak, mata tajam itu meredup saat melihat mata bulat anak kecil yang duduk dalam pangkuannya. Sesekali merengek, mungkin karena sangat lapar. Tapi kemudian terdiam saat tangan besarnya menyodorkan minuman kotak dari dalam kulkas.

Ingatannya kembali ke peristiwa semalam. Saat ia mengacungkan senjata ke arah bayi wanita itu. Hanya untuk menakuti. Karena dari awal saat wanita itu pingsan, mereka berniat membebaskan wanita itu beserta bayinya setelah yakin keadaannya cukup aman.

Seperti saat mereka melakukan perampokan-perampokan sebelumnya.

Tapi melihat bagaimana wanita itu tersungkur di depan kakinya untuk menutupi kepala sang bayi dari moncong senjata. Membuat hatinya bergetar ...

Sosok ibu ... tidak sama seperti apa yang selama ini ada dalam persepsinya.

Wanita yang sekarang memasak untuknya ini, rela menyerahkan nyawa demi bayi dalam gendongannya.

Sungguh kontras.

Begitu berbeda dengan yang terjadi padanya puluhan tahun lalu.

***

Laki-laki tua itu, yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung yang mengais tumpukan sampah tak jauh dari gubuk kecil tempat mereka tinggal. Pernah bercerita padanya.

Tentang peristiwa yang hampir menjadi sebuah tradisi di lingkungan kumuh yang mereka diami. Bahwa sesekali dalam keheningan malam dan siraman sang hujan, terdengar lengking serak bayi mungil yang ditinggalkan oleh mereka yang seharusnya berbahagia menyambut kehadirannya.

Bukan sekali dua kali, terlalu sering malah. Hanya saja tidak semua kresek hitam berisi bayi yang ditinggalkan, dalam keadaan masih bernapas. Kebanyakan sudah ditemukan tanpa nyawa keesokan harinya. Entah karena saat dibuang memang sudah mati, atau mungkin jiwa tanpa dosa itu melayang karena dingin malam.

Bahkan ada juga bayi-bayi mungil yang saat ditemukan tinggal berupa onggokan daging. Setelah malam tadi tercabik oleh gigitan anjing-anjing liar yang kelaparan. Miris? Bahkan kehidupan anak-anak yang masih bisa terselamatkan pun jauh lebih miris dari yang tinggal seonggok daging.

Tak jarang, sebenarnya mereka berasal dari rahim mereka yang disebut kaya. Hanya saja, kaya harta belum tentu kaya juga moralnya. Karena mereka yang bermoral tak kan tega melemparkan bayi tak berdaya di atas tumpukan sampah begitu saja. Lalu melenggang pulang seolah baru saja membuang beban.

Seumur hidup, Akasa menganggap ibu hanyalah tumpukan sampah yang menebarkan bau busuk. Tempat dimana sang kakek menemukannya.

Sementara sosok ayah, hanyalah serupa anjing liar. Karena saat ditemukan, dia tengah dijilati oleh seekor anjing kelaparan.

.

Hingga suatu kali, sepasang manusia berpakaian serba mewah mendatanginya.

Mengatakan hal yang seharusnya tak pernah mereka ucapkan jika mereka punya rasa malu dalam hidupnya.

Oh, dia lupa, bahwa dosa memang mengikis rasa malu dari jiwa.

"Nak, aku lah ayahmu!" Ucap pria itu sambil membuka kacamatanya. Terlihat jelas bagaimana kaca-kaca bening tampak menggumpal di sudut mata.

Sejenak Akasa terdiam. Lalu, dengan wajah polos dia bertanya.

"Jadi kau anjingnya?"
3       4       5

Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah