Dalil Tentang Larangan Marah dan Berkata Kotor - Saifullah | My Everything

Dalil Tentang Larangan Marah dan Berkata Kotor

Melaknat
Salah satu kebiasaan buruk yang harus dihindari oleh seorang Muslim adalah mencela, melaknat, berbuat keji, berkata kotor, mengumpat, dan berkata jorok. Larangan ini tentu saja terdapat dalam pedoman hidup kita yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Ada banyak sekali firman Allah maupun sabda Rasulullah yang menjelaskan larangan berkata kotor. Tidak hanya sekedar larangan, namun bagi pelakunya diberikan ancaman yang sangatlah berat, yaitu mendapat kedudukan yang paling buruk di neraka.

Berkata kotor, melaknat, mencela, atau mengumpat sama sekali tidak memberi manfaat kepada orang yang melakukannya. Kebanyakan orang melakukan hal tersebut disebabkan emosi dan amarah yang meluap-luap serta tidak tahu cara untuk melampiaskannya sehingga mereka mengucapkan kata-kata kotor yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang yang mengaku beragama Islam.

Hal seperti ini tidak dibenarkan dalam Islam. Suri teladan terbaik kita, Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk senantiasa lemah lembut dan sopan santun dalam bersikap maupun berucap kepada orang lain. Bahkan ketika Rasulullah di dzalami oleh orang Yahudi, beliau tetap mengedepankan sikap lemah lembut dalam menghadapi mereka. Bukannya membalas kejahatan dengan kejahatan, justru beliau membalas kejahatan dengan kebaikan.

Namun sayang, di zaman sekarang ini banyak sekali kita temukan baik itu di sosial media maupun dikehidupan nyata, dari kalangan anak-anak sampai dewasa mudah sekali mengucapkan kata-kata kotor hanya karena hal spele.

Emosi dan amarah mereka seringkali mudah terpancing dan tak terkontrol, sehingga akal sehat hilang akibat sakit hati. Kesabaran dalam diri sangat tipis layaknya bensin yang tersulut api. Hal yang paling mengherankan lagi, mereka seringkali marah dan berkata kotor dengan alasan membela agama. Padahal sudah jelas, agama sendiri melarang sikap yang demikian. Bagaimana mungkin membela agama tapi dengan sesuatu yang dilarang agama? Bukankah itu cuma omong kosong dan kebohongan yang nyata?

Oleh sebab itu, berikut ini saya akan jelaskan beberapa dalil yang melarang berkata kotor. Tapi sebelumnya akan saya bahas tentang dalil larangan marah, karena antara marah dan berkata kotor memiliki keterkaitan erat yang tak terpisahkan.

Marah
1. Dalil Tentang Larangan Marah
a. Menahan marah adalah wasiat Nabi
    Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR. al-Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan penekanan kepada kita bahwa kita harus menjauhi sifat marah sejauh-jauhnya. Bahkan Nabi sampai berulang-ulang mengatakan "Engkau jangan marah!" saat sahabat meminta wasiat kepadanya.


b. Menahan marah dicintai Allah
    Dalam Al-Qur'an Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (Ali ‘Imran/3 : 134)

c. Cara Menghilangkan Marah
Tidak hanya terdapat larangan marah dan janji kebaikan bagi yang menahan marah. Nabi salallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan cara menghilangkan amarah.
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad Radhiyallahu anhu, ia berkata:
Kami sedang duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ada dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang dari keduanya mencaci temannya sambil marah, wajahnya memerah, dan urat lehernya menegang, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, aku mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya niscaya hilanglah darinya apa yang ada padanya (amarah). Seandainya ia mengucapkan, أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)”. Para sahabat berkata, “Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?” Laki-laki itu menjawab, “Aku bukan orang gila” [HR. al-Bukhari (no. 3282, 6048, 6115), Muslim (no. 2610)]

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
"Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring." [HR. Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688)]

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
"Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam." [HR. Ahmad (I/239, 283, 365), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), al-Bazzar (no. 152- Kasyful Astar)]

d. Menahan Marah = Kuat
Menurut agama Islam, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri dari rasa marah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah." [HR al-Bukhari (no. 6114) dan Muslim (no. 2609)]

e. Keutamaan Menahan Marah
Terdapat keutamaan dari menahan amarah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ
"Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai." [HR. Ahmad (III/440), Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286)]
Bully
2. Dalil Larangan Berkata Kotor
a. Ancaman Ghibah dan Berkata Kotor
    Allah Subhana wa Ta'ala berfirman:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
 "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela." (QS. Al-Humazah: 1)
Penjelasan ayat:
هُمَزَةٍ: Mencela dan mengumpat dengan perbuatan.
Dalam kitab tafsir karangan Syaikh As-Sa'di dijelaskan bahwa kata "هُمَزَةٍ" bisa berarti mengumpat atau menjelekkan orang lain dengan cara ghibah atau merendahkan orang lain dengan candaan ataupun sejenisnya

لُمَزَةٍ: Mencela dan mengumpat dengan ucapan.
Kata tersebut juga bisa diartikan mencela orang lain dihadapannya langsung dengan perkataan buruk yang dapat menyakiti hatinya.

وَيْلٌ: Sebuah ancaman di lembah neraka

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, mencela, mengumpat, atau berkata kotor sangat dilarang, baik tanpa sepengetahuan, maupun terang-terangan didepan orangnya. Pelakunya diancam dengan neraka.


b. Allah Membenci Kata-kata Kotor
    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الله عزّ وجلّ لاَ يُحِبُ الفُحْشَ وَلَا التَفَحُش
"Sesungguhnya Allah 'azza wa jalla tidak suka dengan perbuatan keji dan kata-kata yang kotor (kasar)." (HR. Ahmad no. 24735)

    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ
"Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu'min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar." (HR. At Tirmidzi no. 2002, hadits ini hasan shahih, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahadits Ash Shahihah no 876).
Seseorang tidak dikatakan berakhlaq mulia jika dia masih membiasakan diri berkata kotor dan kasar. Sebab lisan merupakan salah satu tolok ukur terhadap ahklaq seseorang. Lisan yang baik biasanya berasal dari hati yang baik, begitu pula sebaliknya.


c. Jangan Berdebat Dengan Kata Kotor
    Allah Subhana wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ 
"Janganlah kalian mendebat ahlul kitab, kecuali dengan cara yang terbaik." (QS. Al 'Ankabut: 46)
Bayangkan, ketika berdebat dengan ahul kitab saja kita di suruh dengan cara yang baik (sikap dan ucapan yang baik). Apalagi berbicara dengan saudara kita seiman. Harusnya dengan kata yang lebih baik lagi, tidak dengan kata-kata kotor.


d. Tidak Dianggap Seorang Mukmin
    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ لَا اْلبَذِيِّ
“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencaci, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/ berkata-kata keji dan orang yang berkata-kata kotor/ jorok”. (HR at-Tirmidzi: 1977, al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad: 312, Ahmad: I/ 404-405 dan al-Hakim).

e. Berkata yang Baik adalah Ciri Orang Beriman
    Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. (HR al-Bukhoriy: 6018, 6019, 6136, 6138, 6476, Muslim: 47, Ibnu Majah: 3971 dan Ahmad: II/ 267, 433, 463, VI/ 31, VI/ 384, 385).
Artinya, diam itu lebih baik daripada berkata kotor. Selain itu berkata yang baik dan menghindari berkata kotor merupakan salah satu ciri orang yang beriman.


f. Jaminan Surga Bagi Penjaga Lisan
   Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada antara dua kakinya (kema-luannya) maka aku menjamin Surga untuknya." (HR. Al-Bukhari).
Bagi mereka yang mampu menjaga lisannya untuk tidak berkata buruk/kotor dan kemaluannya dari berbuat zina, maka dijamin surga untuknya. Sedangkan sebaliknya, bagi mereka yang menggunakan lisannya untuk mencela, mengumpat, menghibah, dan berkata keji/kotor, serta menggunakan kemaluannya untuk berzina maka ancamannya adalah neraka.


g. Menghina = Berbuat Jahat
    Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” (H.R. Muslim 2564).
Menghina saudara sesama muslim adalah perbuatan jahat, apalagi lebih dari menghina.


h. Meremehkan Orang Lain = Sombong
    Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91).
Meremehkan orang lain itu banyak bentuknya, mulai dari mencemooh, mengejek, menghina, berkata keji dan kotor, mengumpat, mencela dan banyak lagi yang lainnya. Perbuatan tersebut dianggap sebuah kesombongan. Sebab orang yang melakukan hal tersebut seringkali merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Apalagi kalau yang dihina adalah bentuk fisik seseorang, sama saja dia menghina ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala. Bukankah kita tidak bisa memilih terlahir seperti apa? Jika boleh memilih, tentu semua orang terlahir dengan bentuh yang sempurna dan dari keluarga yang kaya raya.


i. Paling Buruk Kedudukannya Dihari Kiamat
   Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ
"Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya pada hari kiamat disisi Allāh adalah orang yang ditinggalkan oleh masyarakat." (HR. Muslim no. 2591)
Orang yang ditinggalkan masyarakat biasanya memiliki sifat suka mencela, berkata kotor, dan orang lain tidak lepas dari kata buruk dari mulutnya. Orang seperti ini mendapat kedudukan terburuk di hari kiamat kelak.

KISAH
Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa ada sekelompok orang Yahudi datang ingin menemui Nabi salallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian mereka mengejek Nabi dengan perkataan yang buruk:
 السَّامُ عَلَيك
(Kebinasaan atasmu Wahai Abu Qassim)

Sekilas kalimat tersebut terdengar orang mengucap salam, namun jika diperhatikan lagi ternyata huruf lam dalam kalimat tersebut dihilangkan sehingga artinya berubah menjadi "Semoga engkau cepat mati"

Lalu Nabi menjawab:
وَعَلَيك
(Kalian juga)

Aisyah yang mendengar Nabi dicaci maki seperti itu tidak kuat. Sehingga beliau membalas perkataan orang Yahudi tersebut dengan berkata:
وعليكم السام، لعنة الله عليكم وغضب الله عليكم إخوة القراد والخنازير
(Semoga kalian yang cepat mati, laknat Allah bagi kalian, Allah murka bagi kalian, wahai saudara-saudara babi-babi dan monyet-monyet)

Aisyah kemudian ditegur oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:
يَا عَائِشَةَ لَا تَكُوْنِيْ فَاحِشَةَ
"Wahai 'Aisyah, jangan engkau menjadi orang yang mulutnya kotor." (HR. Muslim no.2165)

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:
ما كان الرفق في شيء إلا زانه، ولا نُزع الرفق من شيء إلا شانه
"Tidaklah kelembutan diletakkan pada suatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah diangkat kelembutan tersebut kecuali akan merusaknya." (HR. Muslim no.2594 dengan lafazh yang berbeda)

Jika kita perhatikan, ucapan Aisyah memang terlihat kasar. Namun tidak ada yang salah dengan perkataannya, sebab dalam Al-Qur'an Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ 78
79 كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
"Telah terlaknat orang-orang kafir dari Bani Israil (Yahudi) dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu."(QS. Al Maidah: 78-79)
 Laknat tentang orang yahudi juga terdapat dalam ayat lain.
 كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
"Jadilah kalian kera-kera yang hina." (QS. Al Baqarah: 65)
 قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِير
"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang kedudukannya lebih buruk disisi Allah? Mereka adalah orang yang dilaknat oleh Allah dan dimurkai oleh Allah, dan diantara mereka ada yang berubah menjadi babi-babi dan monyet-monyet." (QS. Al Maidah: 60)
Jadi, apa yang diucapkan Aisyah tidaklah bertentangan dengan fakta. Namun, karena akhlak Nabi yang begitu luhur, Nabi melarang Aisyah mengatakan hal demikian karena mengedepankan besikap lemah lembut dengan berkata yang baik-baik. Nabi mengajarkan kepada kita untuk tidak berkata kotor meskipun untuk membantah hinaan orang non-muslim. Hal ini dimaksudkan agar mereka sadar bahwa Islam tidak mengajarkan berkata kotor, menghina, membully, mengumpat, mencemooh, mencela, dan melakukan kekerasan meskipun kita berada dipihak yang benar.

Demikianlah dalil-dalil yang berhubungan dengan Marah dan Berkata Kotor. Mudah-mudahan kita dan keluarga kita terhindar dari sifat tercela tersebut. Semoga kita ditempatkan di tempat yang terbaik (surga) di hari kiamat kelak. Aamiin.
Wallahu'alam bisawab.

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah