Cerita: Kartinah - Saifullah | My Everything

Cerita: Kartinah

Anton, laki-laki berusia 35 tahunan itu membuka mata. Cahaya matahari membuat mata kecoklatan miliknya menyipit silau.

Dia mengusap wajah, mengumpulkan segenap kesadaran. Lalu beranjak bangun dari pembaringan.

Jam di dinding menunjukkan angka delapan pagi. Suasana rumah tampak lengang. Hanya saja kondisinya masih berantakan. Seperti belum disapu. Juga beberapa mainan anak-anak yang bertebaran.

Lagi. Kartinah, istrinya, keluar tanpa berpamitan. Bahkan tanpa membereskan rumah terlebih dahulu. Sekali dua kali, dia masih bisa memaklumi. Tapi sekarang hampir setiap hari istrinya itu bertingkah semakin berani.

Parahnya lagi, tiap kali ditegur wanita itu malah marah lebih dulu. Lalu menggali-gali kesalahan lama yang seharusnya sudah dilupakan.

Pernah dia menyusul, terlihat istrinya sedang asyik mengobrol dengan kumpulan ibu-ibu sambil cekikikan layaknya tukang rumpi. Mau menegur tapi malu karena di depan keramaian. Akhirnya dia hanya mampu menghela napas menahan kekesalan.

Anton membuka pintu rumah lebar-lebar.

Di luar rumah terlihat Misha, anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun. Anak itu berdiri di antara teman-teman lain sebayanya. Terlihat paling kucel, karena satu-satunya anak yang belum mandi hingga sesiang ini. Seperti biasa, jika tidak berangkat ke sekolah anak itu seperti meliburkan juga mandi pagi.

"Misha!" Anton memanggil dari pintu.

Gadis kecil itu menoleh.

"Mandi dulu!" Setengah membentak suaranya.

Terlihat sedikit rasa takut di wajah polos itu. Misha melangkah masuk melewatinya. Sementara dia menghela napas semakin kesal. Diambilnya segelas kopi kental yang sudah mulai dingin. Lalu mengempaskan diri di kursi kayu teras rumahnya.

Di teras sebelah rumah bedengnya, terlihat pria separuh baya yang juga sedang menikmati secangkir kopi dan gorengan.

"Libur, Mas Aji?" sapanya berbasa-basi.

"Iya, nggak enak badan jadi minta izin tidak kerja hari ini!" sahut yang disapa, "gorengan nih!" Sekalian Aji menawarkan sepiring gorengan padanya.

Dia melangkah ke teras bedengan tetangganya. Bukan ingin gorengan karena di rumahnya pun ada, dia hanya ingin mendapat solusi dari apa yang membebaninya akhir-akhir ini.

"Mbak Dea kemana, Mas?" tanyanya memancing tema pembicaraan.

"Kartinian lho. Biasalah ibu-ibu kalau kartinian ya sibuk dandan dandan di kelurahan, sekolah-sekolahan, sampai ke mall-mall an."

Anton berdecak tak suka. "Emansipasi katanya ..."

"Ho oh!"

"Kalau jaman dulu alasannya jelas, Mas. Penyetaraan antara pria dan wanita dalam mengenyam pendidikan. Tapi semakin ke sini kok emansipasinya malah jadi kebablasan!" Keluhnya, sambil meraih gorengan dan memasukkan ke mulutnya.

Aji tertawa kecil, lalu menyeruput kopi yang masih terlihat mengepul uapnya.

"Kebablasan bagaimana, Ton?" tanya Aji santai.

"Ya banyak, Mas. Coba saja lihat, banyak wanita yang berambisi jadi pemimpin. Termasuk di rumahnya sendiri ..." Anton menahan napas.

Demi mengingat sikap istrinya yang mulai terbilang membangkang. Keras kepala. Ngeyel. Tidak bisa diomongi.

"Kadang, malah rasanya sebagai suami aku tidak lagi dihargai."

"Ya diajak ngobrol dari hati ke hati, Ton!" sahut Aji mulai memahami ke mana arah pembicaraan tetangga bedengnya.

"Sudah, Mas. Nggak ketemu solusi, malah akhirnya ribut sendiri. Ujungnya membanding-bandingkan dari lulusan mana kami berdua. Aku memang cuma lulusan SMA, sementara dia lulusan S1, tapi kan nggak harus menjadikan itu sebagai alasan untuk merendahkan suami. Bagaimana pun tetap aku kepala rumah tangganya. Ya kan, Mas?" Anton meminta pendapat dengan wajah muram.

Aji menyalakan sebatang rokok.

"Rokok, Ton!" Dia menawari.

Anton ikut meraih bungkus rokok dan mengeluarkannya, lalu santai mengisap setelah ujungnya dinyalakan.

"Ajak ngobrolnya sambil santai, Ton. Aku sering dengar kamu membentak Kartinah. Mungkin itu yang membuat akhirnya istrimu merasa panas."

"Iya ... tapi aku membentak dia karena ada alasannya, Mas. Karena sikapnya itu. Sama sekali tidak menghargai aku sebagai suami. Asal saja main suruh."

"Ya mungkin karena istrimu lagi capek ngurus anak. Kan nggak ada salahnya membantu pekerjaan rumah ... nggak ngurangi harga diri."

"Aku juga membantu Kartinah beres-beres rumah lho, Mas. Sering malah."

Aji terdiam. Tidak bisa memberikan jawaban karena semua sudah disanggah oleh Anton. Hingga menjadikan keheningan menyelimuti mereka sebentar.

"Menurutmu bagaimana, Mas?" Akhirnya Anton mengucapkan pertanyaan terakhirnya, "aku sudah pusing dengan tingkah Kartinah. Cerminan Kartini masa kini. Emansipasi kebablasan, malah membuat wanita jadi membangkang pada suami sendiri. Kesetaraan pendidikan malah akhirnya berimbas pada kesetaraan dalam berumah tangga. Padahal harusnya mereka mengerti, setinggi apapun pendidikan seorang istri, suami tetaplah kepala keluarga, layak dihormati ..."

Baru saja Aji akan membuka mulut saat terdengar suara nyaring seorang wanita dari ujung gang.

"Gorengan, gorengan! Pisang, tahu, tempe, oncom goreng anget!!"

Anton mematikan puntung rokok yang tinggal setengah, lalu bangkit berdiri.

"Pulang dulu, Mas," pamit laki-laki itu sambil meraih gelas kopi miliknya.

Seiring dengan kedatangan seorang wanita yang menggendong dagangan di pinggang. Wanita yang sebenarnya masih muda hanya saja sudah terlihat tua karena beban hidup yang ditanggungnya.

Wanita berdaster sedikit kumal itu melangkah menaiki teras rumah bedeng, disambut dengan Misha.

"Yeeey Ibu datang!" Gadis kecil itu berteriak girang.

"Ya Allah, Misha! Kok rambutnya masih penuh shampo begitu?" Wanita itu bertanya heran dan sedikit kesal.

Lalu menoleh pada Anton, suaminya yang baru saja pulang dari bedeng tetangganya.

"Anaknya kok dibiarkan mandi sendiri tho, Mas? Kenapa ndak ditunggui? Kalau nyemplung ke bak mandi bagaimana?" Dia mulai mengomel.

Anton tak menjawab, masuk ke rumah begitu saja. Siap berperang dengan istrinya karena merasa tak terima harga dirinya sekali lagi telah dilukai.

Sementara di luar rumah, Aji hanya menggelengkan kepala. Sudah seringkali dia memberi nasihat pada tetangga bedeng yang usianya tak jauh lebih muda darinya. Punya tubuh tinggi tegap dan sehat. Tapi sebagai lelaki dia kebanyakan mengeluh kesana sini.

Masalah suami yang tidak dihargai itu bukan salah Kartini, Ton, tapi salah diri sendiri. Karena yang namanya kepala keluarga itu seharusnya menafkahi istri, bukan minta dinafkahi.

Masih mending istrimu itu bukan wanita bergengsi tinggi, tidak malu menjual gorengan walau dulu sekolah lulusan S1 demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Kamu itu, Ton, yang menumpang enak dari emansipasi wanita tapi tidak merasa.

Karena kalau memang ingin dihargai sebagai suami, yang paling utama itu ya ... kerja, dul!

Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah