Cerita: Terbiasa - Saifullah | My Everything

Cerita: Terbiasa

Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat aku membuka layar hape. Rumah terlihat sepi. Mungkin Mia sudah tidur.

Aku membuka pintu dengan kunci cadangan, pelan. Agar suara deritnya tak mengganggu. Lalu dengan hati-hati memasukkan motor ke dalam rumah.

Hening. Tak ada tanda-tanda Mia keluar dari kamar. Tidurnya pasti lelap sekali.

Dingin, ditambah perut berkeriut lapar, aku melangkah menuju dapur. Mencuci muka yang terasa tebal oleh debu jalanan, sambil melucuti perlengkapan bermotor seperti sarung tangan dan jaket tebal.

Aku mengenal Mia sejak kami duduk di bangku SD. Rumah kami hanya berbeda gang. Hampir setiap hari melihatnya sampai kami beranjak dewasa. Lalu meneruskan pendidikan di kampus yang sama.

Dia gadis yang baik dan sangat berbakti pada orang tuanya. Karena itu aku mulai memperhatikannya.

Saat itu dia sedang dekat dengan seorang teman kampus. Arman namanya. Pemuda yang cukup dikenal karena kaya dan bertampang lumayan. Mungkin karena alasan itu juga yang membuat Mia jatuh cinta padanya.

Hampir setiap minggu aku melihat Arman bertemu Mia di luar. Tadinya aku berusaha mengikhlaskan, sampai akhirnya kutemukan kecurangan yang dilakukan Arman.

"Ah!" Aku meringis. Lalu mengibaskan tangan karena terkena gelas berisi kopi panas.

Sebentar menoleh ke arah pintu, takut jika Mia terbangun karena terganggu suaraku. Tapi sampai beberapa menit pintu kamar masih tertutup rapat.

Dengan langkah pelan aku berjalan ke ruang tengah. Duduk di sofa sederhana setelah meletakkan kopi panas di meja.

Masih kuingat itu, saat aku menemui Arman di belakang Mia.

"Lu siapa?" Tanya pemuda itu dengan tampang tak suka.

"Thoriq. Teman Mia."

Terdengar tawa sumbangnya, "Teman biasa, atau teman yang memendam rasa?" Suaranya seperti tengah mengejek.

"Gua pikir itu nggak penting. Cuma mau sekadar ngingetin. Jangan sekali-kali nyakitin Mia."

"Memang apa urusannya ama lu?"

Aku menatap matanya. Memang apa urusannya? Karena ini urusan hati. Entah bagaimana menjelaskannya. Bahkan mungkin Mia pun tidak tahu aku menyukainya.

"Karena gua teman kecilnya!"

"Karena lu sayang sama dia, tapi sayangnya dia enggak!" Arman tertawa. Tawa yang membuat darah memanas.

Beberapa saat kemudian dia diam dan menatapku tajam.

"Denger, gua mau nyakitin Mia atau enggak, itu bukan urusan lu!"

Rahangku mengeras.

"Yang penting dia jangan sampe tau kalo lagi diduain!" Arman tertawa. Tapi kemudian suara tawanya lenyap saat wajahnya terdongak ke atas dengan suara hantaman keras.

**

"Thoriq!" Mia memanggil saat kami berpapasan.

Aku berhenti.

Plak!

Aku memejamkan mata. Dia menamparku di depan umum. Karena kami ada di halaman kampus saat ini. Panas. Tapi lebih sakit rasa di dalam hati.

"Jangan sekali-kali ganggu hubunganku sama Kak Arman, ngerti?!" Dia menahan geram.

Aku masih diam. Sementara kulihat di ujung sana Arman mengawasi.

"Kak Arman udah cerita semuanya!" Lagi, Mia bicara, "itu hak kamu untuk sayang sama seseorang! Tapi jangan pernah berniat merusak hubungan yang udah dijalin lama! Aku minta, mulai sekarang kamu nggak usah peduliin aku lagi!"

Aku menatapnya, lekat. "Kamu berhak tidak membalas cinta seseorang, tapi tidak punya hak untuk menghentikan perasaannya."

Kami bertatapan. Sekilas kulihat kilat bersalah di manik matanya. Tapi segera berganti dengan hela napas kasar. Kemudian aku ditinggalkan.

Dalam kepedihan, dalam amarah tertahan.

Bukan hanya Mia, kadang begitu banyak wanita yang tidak sadar telah dibutakan oleh cinta. Hingga mereka tak peduli bagaimana rupa asli sang kekasih di belakangnya. Lucunya, mereka lebih memilih memusuhi orang yang berniat memberitahu.

Arman terlalu sering jalan bersama wanita yang berbeda. Sialnya aku yang selalu memergoki, sedang Mia tidak.

Hingga akhirnya suatu hari aku membuat keputusan.

Menikahi Mia.

Keluarga Mia menyambut kedatangan keluargaku dengan baik dan hangat. Mungkin karena mereka tahu bagaimana keluarga kami di tengah masyarakat.

"Kami datang kemari berniat untuk melamar Nak Mia untuk anak kami, Thoriq," ucap ayah setelah beberapa saat kami saling berbasa-basi.

Terdengar suara sesuatu jatuh dari ruang dalam. Berbeda sekali dengan binar-binar yang terlihat di wajah sepasang orang tua itu.

"Kami menyambut baik niat Nak Thoriq. Tapi sebentar, kami harus menanyakan pada Mia dulu ya."

"Silahkan, Bu!"

Terdengar gumam percakapan di balik tirai sana. Kudengar protes tertahan Mia. Aku tahu. Sedikit berdebar saat menunggu apa keputusan mereka. Hingga akhirnya wanita separuh baya itu keluar untuk menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Mia.

"Mia ... bersedia."

"Alhamdulillah!"

Semua mengucap bahagia. Tapi aku tahu Mia tidak sebahagia keluarganya.

**

Kami bertemu lagi di hari pernikahan. Terlihat wajah Mia waktu pertama melihatku sebagai suaminya. Hampir menangis.

Tapi tangisnya tertahan, karena tidak ingin menyakiti hati kedua orang tua Mia yang terlihat begitu bahagia.

Dia menatapku dari atas sampai bawah. Mata kami sempat bertemu, tapi lalu dia melengos dengan penuh kekesalan.

Setelah itu dia hanya diam. Melakukan segala prosesi pernikahan dengan baik walau tanpa senyum sama sekali.

Malam pertama berlalu begitu saja. Dia tidak mengizinkan aku tidur di ranjang yang sama. Aku juga tidak berniat memaksa, jadi malam itu aku tidur di sofa.

Mia memang sudah menjadi istriku. Tapi sikap dan wajahnya begitu dingin. Seringkali saat pulang dari kantor, dia tak menyambutku sama sekali. Selama berbulan-bulan dia hanya melakukan apa yang dilakukan asisten rumah tangga. Tanpa ranjang.

Aku tahu dia tidak mencintaiku. Tapi aku percaya bahwa cinta datang karena terbiasa.

Apalagi, saat akhirnya dia terbiasa bergantung padaku.

"Maaa!" Mia berteriak dari dalam kamar. Masih saja terbiasa memanggil mamanya tiap kali merasa ketakutan.

Aku segera masuk. Melihatnya sedang berdiri di sudut ranjang sambil menunjuk ke bawah lemari.

"A ... ada kecoa!"

Mulai hal-hal kecil, tapi akhirnya mulai jadi kebiasaan.

Klik!

Aku merasakan dekapan seseorang setelah listrik padam. Dengan remasan tangan kuat di lengan sebagai tanda dia sangat ketakutan.

"Aku takut gelap ... aku takut gelap ...!"

Sampai ke hal-hal yang sebenarnya sangat memalukan ... tapi juga lucu.

"Maa ...!" Kudengar teriakannya dari dalam kamar mandi.

Bingung, aku hanya berdiri di luar.

"Kenapa?" Tanyaku.

"A ... aku ..." suaranya tercekat.

"Ada kecoa?"

"Bukan!"

"Ada tikus?"

"Bukan!"

"Lalu ...?"

"Lupa bawa handuk ..."

Aku menelan ludah. Lalu tanganku bersentuhan dengan jemarinya yang basah. Setelah itu, aku berpikir masihkah kami harus tidur di ranjang yang berbeda?

Ah, lapar. Ternyata kopi tidak begitu membantu.

Aku berjalan ke meja. Lalu membuka tudung saji dan mendapati lauk-lauk dingin dari sore tadi. Akhirnya mengambil piring dan segera menyendok makanan.

Masakan pertama yang dibuatkan Mia untukku adalah sayur asam. Maksudku, sayur asam yang benar-benar asam.

Dia menatapku lekat, seperti menunggu sebuah kesimpulan akan hasil masakannya.

"Gimana?" tanyanya pelan.

"Enak."

"Oh ya? Padahal baru pertama kali aku bikin sayur asem!" Dia langaung menyendok kuah dan mencicipi.

Lalu cemberut. Karena tahu aku berbohong. Tapi kemudian kami sama-sama tertawa, dan mulai merasakan detaknya.

Kadang kulihat dia memperhatikanku dari atas ranjang. Pura-pura tertidur saat aku menoleh, lalu kembali mengintip dari balik selimut.

Begitu juga aku, yang kadang mati-matian harus menahan hasrat tertahan. Tapi aku tetap percaya, cinta memang datang karena terbiasa bukan karena terpaksa.

"Apa ini?" Suatu kali aku bertanya, setelah memergoki Mia baru saja chat dengan Arman mantan pacarnya.

"Dia ..." Mia menggigit bibir, "dia bukan urusanmu!"

"Mia! Kamu itu istriku!"

"Itu karena kamu memaksa!" Suaranya meninggi.

Aku menatap maniknya. Jadi belum ada cinta di sana? Jadi yang kulakukan selama beberapa bulan ini hanya sia-sia karena dia masih saja berhubungan dengan mantan pacarnya?

"Apa hal terbaik yang pernah dia lakukan buat kamu?" Aku bertanya.

Dia terdiam, lumayan lama. Dari situ bisa kutebak bahwa jawabannya tidak ada. Hanya sekadar jalan bareng, nonton, makan, chat, nelpon. Tanpa pernah menyatakan akan berakhir di mana, karena aku tahu di belakang Mia dia pun melakukan hal sama dengan gadis-gadis lainnya.

"Cinta itu chemistry ... " Akhirnya dia mengatakan pendapatnya. Pendapat yang diucapkan dalam nada keraguan.

"Tapi setidaknya pakai logika juga."

Aku berbalik. Lalu meninggalkannya sendiri di kamar. Entah dia meneruskan chat dengan Arman, atau memikirkan kata-kataku barusan.

Cinta itu memang berawal dari chemistry, tapi itu bertahan hanya beberapa bulan. Lalu pacaran selama bertahun-tahun dengan rutinitas pertemuan dan pembicaraan yang sama, dengan satu pihak tidak bisa menjaga komitmen bersama, akan berakhir ke arah mana?

Setelah itu, kami saling diam. Lama. Seperti dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap yang sama.

Aku menuang minuman ke dalam gelas. Lalu meneguk isinya hingga tenggorokan terasa lega. Berjalan menuju dapur dimana piring-piring kotor masih berantakan.

Sebentar menghela napas, lalu mulai menyalakan keran air di wastafel dan menyabuni piring satu persatu.

"Aku mau pulang!" ucap Mia waktu itu. Terlihat koper kecil di belakang kakinya. Menandakan dia ingin pulang dalam waktu yang cukup lama.

"Berapa lama?"

"Nggak tau!"

"Mia!"

"Aku mau nenangin pikiran aku!" Dia menatapku dengan kaca-kaca di matanya, "tolong ..."

Aku menarik napas.

"Oke," ucapku akhirnya.

Mia menyeret koper itu menjauh. Lalu menyetop taxi di luar sana.

Aku mengambil motor dan segera mengikutinya. Karena entah kenapa aku merasa curiga. Ini pasti ada hubungannya dengan chat mereka semalam.

Dia berhenti di depan sebuah kafe. Lalu berjalan masuk ke dalam. Seperti dugaanku, kulihat Arman di sana.

Baru saja Mia akan melangkah ke arahnya saat dilihatnya ada seorang wanita mendekat lebih dulu.

"Kak Arman!" Wanita itu berucap dengan kemarahan. Perutnya sedikit membuncit, tanda ada janin di dalamnya.

Terlihat bajingan itu begitu gugup. Dia menoleh ke arah Mia dengan pandangan seolah ingin menjelaskan bahwa dia tidak tahu apa-apa.

Kupikir Mia akan shock atau menangis. Tapi tidak. Dia berdiri dengan tenang. Lalu membuka tas kecil yang ia pakai dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

Sebuah cincin.

"Maaf, aku nggak bisa terima ini. Aku udah menikah!"

Aku terdiam. Kaget. Kaget karena Arman berniat merebut istriku, juga karena ternyata Mia lebih mempertahankanku.

"Tapi kamu bilang kamu nggak cinta sama suamimu kan?"

"Sekarang aku sadar suamiku memang jauh lebih baik daripada kamu! Tahu kenapa? Karena dia nggak sibuk ngajak pacaran tapi lebih memilih langsung ke pernikahan. Hal yang aku sesali adalah karena aku nggak lebih awal membuka hati."

Dia berbalik. Matanya sedikit membesar saat menyadari aku tepat berada di belakangnya.

"Kak, maaf ..." Dia berucap.

Aku tak menjawab. Hanya membantu membawakan koper yang dipegangnya.

Kadang pembuktian cinta memang tak langsung diterima oleh hati yang dituju, tapi ketulusan yang terus dilakukan pasti akan mencairkan hati yang tadinya beku.

Piring terakhir masuk ke dalam rak. Baru saja akan mendesah lega saat terdengar lengking tangis itu.

Bergegas aku masuk ke kamar.

Terlihat Mia terbangun.

"Kak? Ah, udah pulang ya?" Sapanya dengan mata yang masih mengantuk.

"Iya, barusan!" Aku menjawab, akan membantu menggantikan popok si kecil tapi tangan Mia segera menepis pelan

"Udah, Kak, biar aku aja. Capek kan baru pulang?" Kulihat senyumnya. Senyum di tengah rasa lelah karena seharian mengurus bayi dan rumah, tapi terlihat begitu tulus.

Aku tersenyum, lalu mengamatinya mengurus anak pertama kami.

Penulis: Patrick Kellan

1 Komentar untuk "Cerita: Terbiasa"

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah