Cerita: Kacang Lupa Tanahnya - Saifullah | My Everything

Cerita: Kacang Lupa Tanahnya

kacang lupa tanahnya
"Ya sudah, Bapak pulang dulu, terimakasih banyak ya, Ko!" Laki-laki tua berpakaian seadanya itu pamit sambil tersenyum lebar.

Masih sempat menyalami tangan pria berusia 30 tahunan yang berdiri gagah di hadapannya. Namanya Joko, pengusaha muda yang sukses dengan usaha meubelnya.

Kemudian berlalu keluar laki-laki itu setelah mengucap banyak terimakasih lagi, dengan wajah cerah khas orang yang harapannya baru saja dikabulkan.

Di tengah pintu ruang tengah, berdiri sosok cantik seorang wanita berusia 25 tahunan. Istri Joko. Tampangnya masam. Menyadari baru saja ada uang melayang dari genggaman.

"Siapa lagi kali ini, Mas?" Tanyanya dengan nada tidak suka.

Joko menghela napas. Masih diikutinya kepergian laki-laki bermotor bebek tua itu hingga menghilang dari halaman. Lalu mengempaskan diri di kursi jati berukir megah di ruang tamu mereka.

"Salah satu orang yang pernah berbuat baik padaku, Dek." Dia menjawab sambil menyesap teh yang mulai dingin.

Dewi, istrinya, melangkah mendekat. Lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Merengut. Ingin mengeluh, tapi wanita itu tahu hati suaminya terlalu lembut.

Jadi ditelannya lagi segala protes yang tadinya sudah siap meluncur dari bibirnya yang kemerahan.

"Hidupmu dulu sesusah apa sih, Mas?" Akhirnya itu yang terucap. Penasaran. Sangat ingin tahu kenapa semenjak usaha mereka berkembang pesat mulai banyak orang-orang dari masa lalu suaminya yang berdatangan.

Hampir semuanya ingin meminjam uang atau meminta bantuan. Sebenarnya Dewi tidak berkeberatan, tapi yang dia tidak setuju adalah embel-embel pembicaraan mereka sebelum meminta uang.

"Aku sudah menyangka kamu bakal sesukses ini, Ko. Karena itu dulu aku tak segan memberi pinjaman ibumu saat kamu tak punya biaya untuk masuk sekolah ..." ucap lelaki berperawakan tinggi tegap dagu terangkat. Menandakan bahwa dulu dia pernah menjadi orang sukses, tapi entah sekarang.

Lalu ucapan seorang perempuan berwajah khas kampung. Bersikap seperti telah mengenal suaminya luar dalam, bahkan menepuk-nepuk bahu sang suami sambil berkata.

"Owalah, Le. Dulu ya, Mbak Minah itu selalu larinya ke aku setiap ada masalah keuangan. Karena itu aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Termasuk memberimu baju untuk sekolah ... masih inget tho?"

Saat itu suaminya tersenyum dan mengangguk. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi kemudian segera meluluskan permintaan sang wanita separuh baya.

Beberapa waktu kemudian muncul lagi lelaki paruh baya. Menyanjung-nyanjung kesuksesan suaminya. Lalu di akhir pujian menyelipkan kata.

"Mbakmu, yang dulu sering memberimu makanan itu sedang kesusahan sekarang, Ko. Kasihan sekali nasibnya. Hidup mengontrak kesana kemari, susah cari pekerjaan." Lelaki itu membicarakan anaknya. Berharap Joko mau memberi pekerjaan.

Bahkan pernah ada yang datang hingga membuat suaminya merasa kesulitan untuk mengingat siapa namanya.

"Aku Kang Diman, Ko!" Laki-laki berpakaian semrawut itu berusaha keras mengingatkan.

"Maaf, aku belum mengingat jelas, Kang. Ayo masuk dan duduk dulu!" Suaminya tetap ramah menanggapi.

Hingga akhirnya terungkaplah siapa pria yang datang padanya.

"Aku yang sering membeli gorengan ibumu ..."

Masih diingatnya kata demi kata dengan begitu jelasnya. Banyak. Banyak sekali orang yang datang dengan tujuan meminta bantuan. Kalau hanya saudara saja jelas Dewi tidak keberatan, tapi sebagian besar dari mereka sama sekali bukan siapa-siapa. Tapi selalu mengungkit jasa.

Hingga benaknya dipenuhi pertanyaan, sebenarnya semiskin apa suaminya dulu hingga merepotkan orang sebanyak itu?

***

"Gorengan!" Lengkingan serak anak kecil berpakaian lusuh dengan kulit dan rambut terbakar sinar matahari itu terdengar hingga ujung gang.

Di tangannya dia membawa tampah berisi berbagai macam gorengan yang ditutupi oleh plastik bening.

Namanya Joko. Anak yatim yang rumahnya nyaris seperti kandang sapi warga desa lainnya. Ibunya hanya seorang wanita penyakitan yang setiap hari memaksakan diri membuat satu tampah gorengan untuk memenuhi kebutuhan. Lalu Joko yang menjajakan.

Joko usianya sudah delapan tahun waktu itu. Teman-teman semuran atau lebih muda darinya sudah berbondong-bondong pergi ke sekolah setiap pagi. Berpapasan dengan Joko yang membawa tampah di atas kepala.

"Ndak sekolah tho, Ko?" Kadang satu dua temannya bertanya heran.

"Ndak, Man!" Joko menjawab sambil satu kaki telanjangnya menggesek kaki yang satu lagi. Gatal. Setelah beberapa kali tercelup lumpur di jalanan.

Paiman menatapnya dengan tatapan iri. Enak sekali Joko di jam sekolah bisa keliaran ke sana kemari. Tidak perlu memikirkan PR dari guru yang luar biasa galaknya. Tapi aneh sekali, ibunya bilang semua anak kecil harus sekolah. Berarti ibunya bohong. Itu si Joko bebas tidak sekolah?

"Ya sudah, nanti siang kita main lagi ya!" Paiman berpamitan sambil melambaikan tangan.

Joko hanya mengangguk. Sambil menatap langkah Paiman yang setengah berlari.

Kalau ada yang bertanya apa dia mau sekolah, pasti dia akan menjawab, mau. Tapi sayangnya tidak ada yang bertanya, termasuk ibunya.

Ibunya hanya sibuk membuat gorengan. Sambil sesekali mengusap mata tiap kali melihat Joko berdiri di pintu melihat teman-temannya berjalan beriringan menuju cerahnya masa depan.

"Sekolah yok, Ko!"

"Ko, kamu ndak sekolah Ko?"

Selalu ada pertanyaan seperti itu. Pertanyaan polos tapi rasanya begitu menusuk jantung sang ibu.

"Ndak punya seragam aku!" Joko menjawab apa adanya. Dia pikir sekolah cuma bermodalkan baju seragam saja.

Karena jawabannya itu, ada salah satu ibu temannya yang datang ke rumah sambil membawa plastik hitam. Isinya baju seragam bekas anak sulungnya yang sudah tak lagi terpakai.

"Mbak yu!" Dia datang sambil memanggil keras sekali. Membuat para tetangga yang berkumpul di teras rumah megah di samping rumah Joko menoleh penuh rasa ingin tahu.

Keluar ibu Joko yang tangannya penuh adonan tepung terigu. Heran, karena tak biasanya wanita yang emas-emasannya seperti toko berjalan itu mendatangi rumah geribiknya.

"Ada apa Mbak Dinah?" tanya ibu Joko hati-hati.

"Ini lho, Mbak! Aku mau memberi baju seragam baru untuk Joko. Anakku bilang dia ndak sekolah karena ndak punya baju seragam. Ya tho? Ya tho?" Bicaranya memang dengan Ibu Joko, tapi lirikannya ke arah ibu-ibu yang sedang menggosip itu.

"Alhamdulillah ya Allah ...!" Ucap ibu Joko sambil menerima plastik hitam di tangan. "Terimakasih, Mbak!"

"Iya sama-sama. Aku memang suka membantu orang yang ndak punya!"

"Sekali lagi terimakasih!"

Setelah puas memamerkan sikap dermawan, wanita itu melenggang pergi.

Ibu Joko membuka isi plastik. Didapatinya seragam merah putih dan seragam pramuka, yang sudah jelas warnanya telah memudar dan salah satunya masih ada nama 'Fajar Laksmana', nama anak sulung Mbak Dinah, di salah satu bagian dadanya.

Oh, mungkin maksud Mbak Dinah baru dicuci, bukan baru dibeli, pikirnya menghibur diri sendiri.

Beberapa waktu kemudian, Joko bisa bersekolah setelah beberapa tangan bantu menyumbang. Ada yang membantu membelikan buku, ada yang membantu memberi tas bekas dan sepatu. Setelah itu Joko didaftarkan ke sekolah yang tidak harus mengeluarkan biaya.

***

Ibu Joko walaupun miskin dan sakit-sakitan tapi masih terlihat sisa kecantikannya. Tubuhnya langsing, rambutnya terurai panjang dan kulitnya bersih kekuningan. Hanya sayang nasibnya kurang beruntung sebagai wanita.

Ada beberapa duda tua yang mencoba mendekatinya. Termasuk Pak Surya. Pemilik usaha kelapa yang istrinya baru meninggal sekitar tiga bulan lalu. Terlihat sibuk mondar-mandir lewat rumah Joko setiap hari. Hanya demi melihat senyum ibu Joko saat menyapa.

Suatu hari, nekatlah dia datangke rumah.

"Maaf lho, Pak. Saya sedang sibuk membuat gorengan!" Ibu Joko berusaha menolak kedatangannya secara halus, tapi tak dianggap oleh laki-laki yang rambutnya sudah hampir seluruhnya memutih itu.

"Ndak apa-apa, Dek! Aku duduk di sini saja!"

Laki-laki memang kadang tak tahu diri. Diusir halus tidak mengerti, saat dikasari nanti malah sakit hati. Sampai pusing ibu Joko menghadapi.

"Bu! Gorengannya ndak habis!" Joko yang baru pulang menjajakan memberitahu. "Oh ya, tadi Joko dicegat Bu de Lasmi. Katanya ibu harus bayar hutang di warungnya hari ini ..."

Ibu Joko mengusap wajah. Terlihat lelah.

Langsung saja keadaan ini ditanggapi oleh Pak Surya dengan senang hati. Langsung dikeluarkannya dompet tebal yang terbuat dari kulit itu. Dikeluarkannya beberapa lembar dan diulurkannya pada Joko.

"Nih, Ko. Untuk membantu ibumu!"

"Sudah, ndak usah, Pak!" Tolak ibu Joko merasa tidak enak. Tapi percuma, karena Pak Surya memaksa. Saat lembar-lembar itu disodorkan kembali malah akhirnya disumpalkan ke kantong si Joko.

"Sudah, terima saja! Anggap aku sedang membantu anak yatim!"

Kemudian setelah menepuk bahu Joko, dia tersenyum mesum pada ibunya. Untung segera berlalu pergi dengan motor keluaran terbaru miliknya.

Ibu Joko mengusap dada. Ada rasa lega karena bisa membayar hutang, tapi ada rasa tak terima juga mengingat harga diri seorang wanita.

.

Melihat keadaan Joko yang serba kekurangan, memang beberapa warga sering membantu. Ada yang membantu memberi uang sekolah Joko seikhlasnya, ada yang membantu memberi pakaian dan perlengkapan sekolah bekas. Dan lainnya membantu membeli gorengan-gorengan yang dijajakan.

***

Dewi menghela napas. Setelah mendengar cerita dari mulut suaminya.

"Memang ada yang membiayai Mas sepenuhnya saat duduk di bangku SD, SMP, atau SMA?" tanyanya.

"Semua biaya dari hasil jualan ibu, dan aku juga bekerja serabutan dari kecil. Kerja apa saja yang penting bisa membantu biaya sekolah dan makan ..."

"Jadi mereka cuma membantu sekadarnya saja?"

"Ya ... mungkin karena mereka pikir cukup sering Dek."

"Tapi bukannya membantu orang yang sedang dalam keadaan susah, terutama anak yatim itu memang kewajiban kita, Mas? Apalagi kalau kita adalah tetangganya."

"Ya ..."

"Lalu kenapa mereka perhitungan? Seharusnya jika memang berniat membantu seorang anak itu yang ikhlas. Tanpa harus mengungkit-ngungkit kebaikan mereka saat si anak sudah dianggap sukses."

"Mungkin mereka memang sedang dalam keadaan butuh bantuan, Dek."

"Minta bantuan kan tidak harus dengan embel-embel mengingatkan jasa kan Mas? Seolah-olah kalau Mas tidak membantu lalu layak diibaratkan seperti kacang lupa kulitnya. Padahal belum tentu mereka adalah kulit, mereka cuma ibarat tanah menempel yang ikut mempertebal kulit untuk melindungi kacangnya."

Joko tersenyum tipis sambil mengedarkan pandangannya ke luar. Tepat di saat itu terlihat ibunya sedang asyik menimang sang cucu. Dengan pakaian masih sederhana, tanpa perhiasan karena memang sang ibu tidak menginginkan.

Ya, kadang orang tak bisa membedakan mana yang layak dianggap kulit dan mana yang hanya sekadar tanah ikut menempel saja. Lalu saat keinginannya tak dipenuhi, dengan geramnya berkoar ke seluruh dunia.

Bahwa seseorang sudah berperilaku layaknya kacang lupa kulitnya.

Sementara sang kulit, bahkan tidak menuntut apa-apa.

Penulis: Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah