3 Alasan Mengapa Dollar Naik Tapi Harga Tetap Terkendali - Saifullah | My Everything

3 Alasan Mengapa Dollar Naik Tapi Harga Tetap Terkendali

Ada pertanyaan menarik, Dolar Amerika memang merangkak naik, tapi kenapa harga-harga terkendali? Padahal tahun 1998 saat dolar menggila, ekonomi ambruk.

1. Titik Kenaikan Tidak Terlalu Jauh
Tahun 1997-1998, kurs Dolar Amerika berangkat dari titik 2.500 rupiah menjadi 16.800 rupiah. Naiknya 600%. Negara paling kuat sekalipun akan ambruk jika kena pukulan sekeras itu.

Tahun 2014 dolar sudah bertengger di posisi 12.200. Tahun 2018 (Juli), posisi dolar 14.400. Dolar merangkak pelan selama empat tahun. Pendapatan dan inflasi bisa menyesuaikan. Jadi pengaruhnya hanya terasa di kelas menengah ke atas.

Kenapa dolar melejit demikian tinggi tahun 1998? Karena Soeharto menekan dolar secara tidak wajar. Dolar diintervensi terus secara jor-joran. Akibatnya, ketika kantongnya sudah tipis, dolar kembali ke harga aslinya. Yang mampus ya rakyat kecil.


2. Kemampuan Daya Beli
Tahun 1998, UMR Jakarta hanya 192.000 sebulan. Atau setara kurs saat itu, 11,4 Dolar Amerika. Beli beras dengan harga waktu itu 2.800 dapat 69 kilo. Jadi dalam rentang setahun, ada ketidak-seimbangan daya beli yang telak. Ekonomi jelas kolaps.

Tahun 2018 UMR Jakarta 3,6 juta. Atau sekitar 253 dengan kurs dolar saat ini. Beli beras dengan harga sekarang Rp. 10.000 dapat 364 kilo. Jika dibandingkan dengan tahun 1998 atau tahun sebelumnya, kemampuan daya beli masyarakat sekarang jauh lebih kuat.

3. Inflasi Benar-Benar Dijaga.
Sekarang dolar naik, tapi inflasi dapat ditekan di kisaran 3%. Kalau ada kenaikan sedikit ya wajar, jika melihat pergerakan dolar yang liar di luar sana. Namun kenapa harga-harga cenderung stabil?

Karena keseriusan mengendalikan harga di lapangan. Ramadan kemarin adalah sejarah harga paling stabil dari biasanya. Dolar memang mempengaruhi impor. Namun dengan pengendalian yang baik, harga bisa ditekan wajar. Yang berfungsi kemudian mekanisme pasar, supply dan demand (penawaran dan permintaan).

Pedagang yang mau jual mahal silakan saja kalau mau gak laku. Yang nimbun barang diobrak-abrik. Mafianya ditangkapi di mana-mana. Apalagi Kabulognya sekarang Buwas. Silakan saja kalau mau main-main.

Dari tiga poin di atas itulah yang membedakan kondisi sekarang dengan tahun 1998. Orang-orang yang ribut itu karena dua hal, pertama karena mereka bodoh. Tahunya dolar naik. Hitungan lain gak paham. Kedua, karena sengaja ingin bikin gaduh. Kalau gak gaduh mereka gak makan.

Lantas apakah kondisi ini tidak berisiko? Risiko tetap ada. Tapi sebenarnya bukan pada kurs dolarnya, melainkan kondisi neraca berjalan yang defisit. Pemerintah sudah mengambil langkah antisipasi. Ini kaitannya dengan ekonomi global. Rumit dan bertele-tele. Kalau kata kelompok sebelah sih, semuanya tetap salah Jokowi.

Ya sudah, sana cuci muka dulu. Itu ilernya ke mana-mana.

Sumber: Facebook Turbuang Putra Pamungkas

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah