Cerita: Diam-Diam Menghanyutkan - Saifullah | My Everything

Cerita: Diam-Diam Menghanyutkan

Namanya Indah, kami saling mengenal sejak hari pertama kami bekerja di sebuah pabrik laundry di Cileungsi. 

Karena kami mempunyai kecocokan akhirnya kami memutuskan untuk ngontrak bersama di salah satu kontrakan yang memang menjamur di area dekat pabrik tempat kami bekerja.

Kami mendapatkan kontrakan dengan dua kamar dan dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi. Kontrakan itu pun berdampingan dengan petak-petak kamar lainnya. Ada berbagai jenis orang yang bertetangga dengan kami. Satpam dan pekerja-pekerja pabrik selain dari pabrik tempatku bekerja. Bahkan ada beberapa pekerja yang membwa serta anak istrinya untuk tinggal bersama ataupun pasangan suami istri yang sama-sama bekerja. Karena di sini boleh di bilang kawasan industri. Kami semua hidup bertetangga dan bergaul sebagai mana mestinya.

Jika aku terkenal sebagai cewek cuek dan sedikit petakilan maka Indah dikenal sebagai pribadi yang kalem, baik hati dan lemah lembut.

Memang aku akui Indah type seperti itu. Dia selalu menunjukkan sisi baik di hadapan orang lain.

"Ndah sakit apa?" tanyaku panik saat melihat dia tiba-tiba muntah-muntah dalam toilet pagi ini.

"Ga apa-apa, Jen. Masuk angin biasa kok," jawabnya dengan wajah pias.

Kucoba memijit tengkuknya untuk meringankan rasa sakit tapi entah kenapa Indah menepis tanganku.

"Ga usah Jen, nanti juga sembuh sendiri," kemudian dia berlalu menghapiri dispenser dan mulai membuat teh. Aku coba menawarkan diri untuk membantu tapi lagi-lagi Indah menolak tawaranku.

Setelah meminum teh, bukannya Indah tambah bertenaga tapi dia kelihatan semakin parah. Wajahnya makin pucat.

"Aku kerokin ya Ndah, mungkin kamu masuk angin," kataku karena sudah tidak tahan melihat keadaannya.

"Ga usah Jen, nanti aku minum antangin saja," jawabnya. "Aku ga mau merepotkan kamu," lanjutnya.

Ishhh dasar orang baik, di saat begini pun dia masih memikirkan untuk tidak merepotkan orang lain. Sungguh aku terharu. Kulihat Indah sekarang sedang sibuk mengetik di layar gawainya sambil sesekali mengusap sudut mata.

Nangis?

Ah, aku maklum. Saat sakit seperti ini pasti dia merindukan keluarganya di kampung. Untung ini hari Minggu jadi aku bisa menjaganya.

Beberapa kali Indah memuntahkan isi perutnya. Aku semakin khawatir melihat keadaannya. Sedikit memaksa kucoba membujuknya untuk ke Dokter. Bahkan aku berencana meminjam motor ibu kontrakan untuk mengantarnya seandainya dia tak sanggup kubawa naik angkot. Indah tetap kekeuh dengan pendiriannya. Dia yakin dia akan sembuh setelah perutnya kosong dan diganti dengan makanan baru.

Jam sepuluh pagi cacing di perutku sudah berdemo. Kulihat keadaan Indah sudah stabil sekarang, hanya terlihat sangat lemas. Saatnya bagiku untuk membelikannya bubur ayam sekaligus aku membeli nasi padang untuk diriku sendiri. Akupun berpamitan padanya. Dia pun meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja.

Lima menit berjalan kaki aku sudah sampai di rumah makan padang langgananku. Ada beberapa pembeli di sana dan aku harus mengantri. Baru sepuluh menit kemudian nasi padang favoritku kudapatkan. Tak lupa kubelikan bubur ayam untuk Indah. Tanpa membuang waktu aku kembali ke kontrakan.Takut kalau Indah membutuhkanku.

Seketika hatiku mencelos melihat pintu kontrakan terbuka lebar padahal aku ingat betul aku menutupnya sebelum pergi. Nafasku memburu, jantungku berdetak tak terkendali saat kulihat beberapa orang tetangga berada di dalam kontakanku. Belum sempat ku membuka mulut saat kulihat teh Lisa keluar dari kamar dalam menuntun Indah yang kini telah berganti pakaian.

"Ayo Mbak," katanya kepada Indah. Terlihat tak sedikitpun dia berminat bicara padaku. Sekilas dia menatapku dan kemudian membuang muka tak suka.

Selain teh Lisa ada juga Mbak Ana dan pasangan suami istri asal cianjur, teh Yuni dan a' Asep. Mereka semua memandangku dengan tatapan mata yang tak mampu kumengerti. Aku masih terpaku kaku di atas tempatku berdiri di depan pintu kontrakan. Mencoba mencerna apa yang terjadi di hadapanku.

"Boga batur kos kitu mah susah, teu boga perasaan," kata-kata teh Yuni mengembalikan kesadaranku.(Punya teman kayak gitu sih susah, ga punya perasaan)

"Iya, geleuh pisan aing nempokna," sahut a' Asep (iya, aku kesel banget lihatnya)

Wait

Sepertinya mereka menunjukkan kata-kata itu untukku.

Tapi apa salahku?

Teh Lisa menuntun Indah ke rumahnya. Diikuti Yuni dan Asep. Hanya tersisa Mbak Ana yang dia pun akan beranjak pergi.

"Mbak." Kutarik tangannya sebelum dia benar-benar melangkah menyusul yang lain. Wanita berkulit putih itu menatapku nanar.

"Kamu itu gimana sih Jen, teman sakit malah kamu tinggal kelayapan. Untung tadi kami dengar saat Indah nangis meminta tolong."

"Ta_tapi Mbak," bantahku tertahan.

"Sesama anak perantauan mbok yang pengertian. Teman sakit mbok ya dikerokin atau diajak ke Dokter. Ini malah bikinin teh aja kamu ga mau. Iya kan? tadi Indah harus bikin teh sendiri kan? Bahkan kamu pergi gitu aja tanpa bilang mau kemana," lanjutannya menuntaskan omelan.

Kemudian Mbak Ana meninggalkanku dengan tanpa menutupi kekesalannya kepadaku. Aku tercekat. Ingin sekali berteriak menjelaskan semuanya kepada mereka. Akan tetapi semua hanya tersangkut pada pangkal kerongkonganku yang kini terasa sangat pahit.

Brummm brummm

Teh Lisa sudah membawa Indah bersamanya. Pergi ke Dokter.

Tak terasa setitik air meluncur dari sudut mata. Di tengah semua kegelisahan atas penilain orang terhadapku setidaknya aku tau pasti bahwa aku tidak akan menjual teman sendiri hanya demi mendulang simpati.

Based on true story
By : Alena

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah