Cerita Hidup: Anakku Bodoh? - Saifullah | My Everything

Cerita Hidup: Anakku Bodoh?

Anakku Bodoh
"Tolong...tolong...tolong..." Jeritan anakku melengking memecah kesunyian pagi.

"Maa syaa Allah sayang, jangan teriak-teriak dong." Aku tergopoh-gopoh menenangkannya.

Inilah rutinitas pagi yang harus kulalui. Teriakan, isak tangis memekakkan telinga. Padahal aku nggak ngapa-ngapain. Cuman memandikan anakku. Dia selalu rewel tiap pagi. Meronta-ronta tidak mau bersekolah. Lebih konyolnya lagi dia akan berteriak meminta tolong. Dan teriakannya itu membahana sampai di rumah tetangga. Memalukan. Pasti para tetangga mengira yang tidak-tidak.

Aku memang harus melewati perjuangan yang panjang agar dia mau sekolah. Segala macam rayuan harus kukeluarkan.

"Dek, kalau mau sekolah, nanti dibelikan mainan di Ramayana deh. Adek mau milih apa saja boleh."

"Beneran mi? Boleh milih sembarang?"

"Iya, ummi janji."

"Oke. Aku berangkat tapi jangan lupa nanti pulang sekolah langsung ke Ramayana."

"Iya, tapi nanti di sekolah gak boleh rewel. Terus jangan lupa nulisnya yang cepet ya. Jangan sampai ketinggalan lagi. Malu dek, temennya uda selesai, adek belum." Ucapku sambil mengelus kepalanya.

Anakku yang satu ini memang sangat spesial. Kalau disuruh sekolah seperti ketemu musuh bebuyutan. Dan setiap pagi aku harus menyediakan stok sabar yang banyak agar tidak tersulut dengan tingkahnya yang menjengkelkan. Kadang pas dimandikan, dia marah balik mengguyur tubuhku. Alhasil bajuku basah kuyup. Gimana gak keki coba? Mau marah? Ah sia-sia saja buang energi. Lebih baik sabar sambil senyum manis kayak chibi-chibi.

Sampai di sekolah, aku juga harus menanggung malu karena dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan guru padahal pertanyaannya gampang banget.

"Siapa nama ayahmu?" jawabannya kosong.

"Siapa nama ibumu?" kosong juga.

"Siapa namamu?" hiks dikosongin juga.

Alhasil dia pulang terakhir karena harus menyelesaikan jawabannya padahal semua temannya uda pulang semua. Tinggallah aku berdua doang dengan anakku sambil tersenyum getir menahan malu. Pokoknya muka tembok deh. Apalagi tatapan emak bangsa yang sinis dan senyum menghina benar -benar menohok ke jantung. Semua sepakat anakku yang paling bodoh di kelas.

Tidak, aku tidak terima anakku dianggap paling bodoh. Lihat saja pembalasanku nanti, siapa yang tertawa paling akhir, aku atau mereka.

"Dek, kalau kamu rajin belajar, ummi kasih hadiah deh. Mau ya sayang? Kalau adek rajin belajar, nanti jadi pinter terus gak pulang terakhir terus."

"Iya mau mi."

"Bagus deh sayangnya ummi. Anak pinter Maa syaa Allah. Sini ummi peluk."

Bulan demi bulan aku senantiasa duduk di dalam kelas mendampingi anakku karena dia gak mau ditinggal. Mungkin dia belum percaya diri karena belum menemukan teman yang cocok ditambah lagi dia selalu ketinggalan, ditertawakan dan diejek. Aku juga harus menguatkan hati menghadapi tatapan sinis emak bangsa yang menohok jantung. Kadang tak terasa wajahku menghangat dan butiran air mata jatuh dari kedua netraku. Hatiku terluka.

Rutinitas pagi yang berat aku lalui dengan sabar dan terus berdoa agar dia berubah menyenangi sekolah dan belajar. Suasana belajar kubuat menyenangkan. Reward kuberikan setiap dia berhasil menyelesaikan tugas. Aku lupakan rasa lelah yang mendera tubuhku. Aku terus melatih ketangkasannya dalam menulis dan membaca. Awalnya dia memang enggan belajar. Selalu lari pergi menjauh setiap melihat buku. Tapi kugunakan seribu satu macam cara agar dia mau membaca dan menulis.

Setiap malam sebelum tidur, aku memberikan kata-kata motivasi. Menceritakan kisah teladan dan membacakan ayat Al-Qur'an sampai dia terlelap dalam mimpi. Setelah enam bulan melewati masa yang melelahkan jiwa dan raga, mulai tampak hasil kerja kerasnya. Anakku sudah bisa mengejar ketinggalannya. Yang semula pulang paling akhir, nilai nol, menjadi nilai seratus. Bisa menjawab semua pertanyaan dengan tangkas dan benar.

Gurunya terheran-heran tidak percaya dengan peningkatan prestasinya. Dia dianggap mencontek. Secara anak paling bodoh di kelas mana bisa dalam hitungan bulan langsung melejit. Sakit hati dong anakku digituin. Aku langsung mencak-mencak. Gurunya gak tahu gimana perjuanganku agar anakku bisa meraih prestasi eh, malah dipandang sebelah mata tidak dianggap. Sialan. Aku semakin terpacu untuk membuktikan bahwa anakku tidak bodoh dan tidak pernah mencontek. Aku semangati dia. Jangan menyerah, terus belajar, tunjukkan pada dunia siapa kamu.

Perlihatkan pada orang yang meremehkanmu bahwa kamu tidak seperti yang mereka pikirkan. Saat pembagian raport semester pertama, anakku mendapat rangking 12 padahal nilainya dominan 100 tapi dimasukkan 80 karena dia dianggap mencontek. Aku terus memompa semangatnya dan semester 2, dia sudah menduduki peringkat 2. Gurunya mulai percaya dengan kecerdasannya. Dia lahap habis semua buku. Dia jawab semua pertanyaan dengan benar. Nilai 100 untuk semua mata pelajaran.

Dan saat kelas 2, dia menduduki peringkat 1 sampai lulus kelas 6 dengan nilai sempurna. Dia berhasil mematahkan semua ejekan yg diterimanya dulu dan aku bangga dengan prestasi yang didapatkan karena kerja keras tidak pernah menghianati hasil. Dan yang lebih membanggakan dia juga berprestasi dalam bidang non akademik. Semua mata tertuju padanya. Semua kagum dan bertanya, bagaimana bisa anak yang paling bodoh berubah menjadi anak yang paling pandai.

Dan sekarang telingaku tak perlu lagi mendengar teriakan minta tolong, rengekan minta hadiah, aku juga tak perlu lagi duduk di kelas dengan muka tembok, dan tak perlu merayu untuk belajar karena dia sudah tahu kapan waktunya belajar dan kapan harus bermain. Sujud syukur kepada Allah.

Semuanya karena izin Allah. Hati emak yang terluka dan doanya didengar sampai ke langit. Jika Allah berkehendak pasti semua jadi mudah. Jangan pernah meremehkan anakku karena hinaan akan kami jadikan bahan bakar yang terus memompa semangat kami. Jadi jangan sebut anakku bodoh maka engkau akan menyesal dan menangisi ucapanmu.

By : Ninik Wahyuni
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top