Mak Wiji, Orang Tua Sumber Malapetaka - Saifullah | My Everything

Mak Wiji, Orang Tua Sumber Malapetaka

Mak Wiji, Orang Tua Sumber Malapetaka
"Mak ...." Dari benda pipih yang sekarang digenggamnya terdengar isak Nur, sang putri.

Tangan gemetaran Mak Wiji terangkat. Jemari keriputnya menyeka sudut mata yang telah basah. Terenyuh hati wanita tua itu mendengar suara sang putri yang begitu pilu. Layaknya seorang bocah mengharap pelukan dari sang ibu.

"Yang sabar tho, Nduk ...." Mak Wiji mencoba menasihati. Bahkan sebelum putrinya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Mak ... pulanglah," balas sang putri semakin mengiris hati.

Terdengar isak lirih di seberang sana. Semakin menyudutkan kekuatan yang coba diberikan Mak Wiji sedari tadi. Koyak sudah hatinya kini.

Tak ada sahutan apapun yang terdengar sebagai jawaban. Menghela napas, Mak Wiji akhirnya mengakhiri.

"Ya sudah, jangan menangis. Besok Emak pulang." Akhirnya terucap sudah keputusan itu. Padahal Mak Wiji tahu, semuanya tidak akan semudah itu.

"Benar yo, Mak ...." Dari nada suara yang terdengar, jelas sekali ada kelegaan. Terbukti dengan kata-kata selanjutnya. "Tak tunggu lho ya ... jangan pedulikan apa kata Mbak Lastri. Dia cuma mau memanfaatkanmu, Mak. Sakit hatiku kalau mengingat bagaimana dia memperlakukanmu."

Mak Wiji menarik napas.

Ya, Nur benar, Mak Wiji tahu itu. Lastri, putri pertamanya memang memperlakukannya sedikit kasar.

Bangun pagi, menyiapkan segala pekerjaan rumah, memasak, lalu meladeni Tori dan Nana, cucu-cucu yang aktifnya luar biasa. Sementara Lastri sebagai ibu hanya duduk dan bermain gawai saja. Sesekali meminta Mak Wiji diam di kamar daripada mengeluh sakit pinggang di depan sang mertua.

Mak Wiji hanya mengelus dada melihat tingkah putri sulungnya. Tapi tak enak hati jika harus menegur karena Lastri sekarang sudah dewasa. Bahkan makan Mak Wiji pun ia yang menanggungnya.

Berkali-kali Nur menelepon dan meminta Mak Wiji kembali ke kampung agar kembali tinggal bersama dengan Nur dan keluarganya. Wanita tua sederhana itu sudah berusaha menolak dengan berbagai alasan.

Tanpa disadari seringkali meluncur tetes itu dari sudut mata tuanya. Mengucap kerinduan pada sang suami yang lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa. Hanya itu, selebihnya dia bersyukur karena bagaimana pun putrinya dilimpahi rezeki yang cukup melimpah meski masih mengontrak rumah.

"Mbak Lastri itu, Mak, sekarang sudah bukan seperti Mbak Lastri yang dulu. Sombong. Merasa paling kaya. Karena itu dia bersikap semena-mena padamu." Nur bicara dengan raut kecewa dan kesal jadi satu kala itu.

Sambil kedua mata berurai airmata yang menetes deras di atas bantal. Sementara Mak Wiji hanya bisa mengelus punggung wanita beranak satu itu dengan penuh kelembutan, berusaha menenangkan.

Hari itu, Lastri menghardik Nur di depan Mak Wiji. Pertengkaran kedua wanita berbeda usia sekitar dua tahun itu sungguh melukai hati sang ibu. Merasa seolah menjadi puncak masalah di masa tuanya.

Lastri ingin Mak Wiji ikut bersamanya ke kota. Alasannya kasihan kalau tidak terurus di kampung mereka. Ucapannya bernada tinggi saat itu, tentu saja melukai hati Nur, sang adik yang selama ini tinggal bersama sang ibu.

Orangtua mana yang tidak merasa sedih saat menjadi sumber malapetaka? Nur mungkin terluka, tapi Mak Wiji jauh lebih tersiksa.

Hingga akhirnya terucap keputusan itu dari bibirnya.

"Ya sudah, Nduk. Biar Emak turuti saja kemauan Mbakmu untuk beberapa waktu. Setelah itu, Emak akan kembali ke sini, tinggal bersamamu."

Nur hanya mengangguk pasrah. Hanya mengamati saat Mak Wiji mulai memasukan baju-baju ke dalam tas. Lalu mengantar sampai ke pintu.

Tak ada senyum di antara kedua putrinya. Membuat Mak Wiji menghela napas berat. Apa yang salah dari didikannya selama ini?

Akhirnya wanita senja itu masuk ke dalam mobil beraroma wangi yang joknya ada sabuk pengaman. Seumur-umur baru kali ini ia naik mobil seperti ini. Biasanya ia berjalan kaki, paling mewah saat naik bus AC jurusan kampung suaminya. Dulu, saat Mak Wiji dan sang suami masih muda waktu itu.

***

Dua bulan sudah Mak Wiji tinggal seatap dengan Lastri dan keluarga kecilnya. Beberapa kali bertemu sang besan yang tampaknya jauh lebih mapan.

Mereka jarang mengajaknya bicara. Hanya sesekali dan itu pun seperti terpaksa. Kadang malah Lastri menyuruh Mak Wiji berdiam di kamar daripada melakukan hal yang menurutnya memalukan di depan sang mertua.

Pedih.

Sungguh sakit saat putri yang dulu dibangga-banggakan akhirnya bersikap seolah Mak Wiji adalah hal yang tak layak dihargai. Sementara sikap putrinya pada sang ibu mertua terlihat sangat jauh berbeda.

Karena derajat kah?

"Mak, kok malah ngepel di sini toh?" Terdengar suara Lastri penuh penekanan saat masuk ke ruang makan.

Mak Wiji menoleh.

"Ini tadi jejak sendal Tori dan Nana banyak tanahnya, Nduk. Sepertinya dari main di kolam belakang," ucap Mak Wiji pelan.

"Ya jangan dipel semuanya. Sebentar lagi kan jam makan siang. Kalo di sini basah, bisa ngomel mertuaku nanti, Mak." Lastri berdecak kesal. "Udahlah, Emak duduk nonton TV di kamar saja. Pusing aku!"

"Maaf, Nduk. Emak ndak ..."

"Udahlah, Mak!" Lastri sedikit menyentak.

Ada yang berdenyut di dalam dada Mak Wiji. Kata-kata yang terlontar itu memang cukup sederhana, tapi sungguh menyakiti karena tatapan matanya.

Tatapan seolah ingin mengusir Mak Wiji pergi.

Wanita tua itu mengembalikan kain pel dari bekas baju miliknya ke dalam ember berisi air dan pewangi lantai. Tertatih membawa semua peralatan itu menuju kamar mandi.

Bersamaan dengan terdengarnya suara obrolan sang putri dengan sang ibu mertua yang bersiap untuk makan siang yang semuanya telah disiapkan Mak Wiji.

Lagi, wanita itu mengelus dada di mana masih terasa denyutnya.

***

Seluruh pakaiannya sudah terkemas di dalam tas. Mak Wiji sesaat hanya duduk di tepian ranjang. Mengait jari jemari yang terasa semakin keriput dari hari ke hari.

Ragu. Bukan saja meragukan jawaban Lastri saat ia berpamitan nanti. Juga ... ragu bila di kampung nanti dia tak bisa makan enak seperti di sini.

Terdengar helaan napas beratnya. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk kembali ke kampung.

Diraihnya tas kusam berisi beberapa potong pakaian itu. Lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu.

"Lastri," panggilnya saat ia berada di luar pintu kamar sang putri.

"Lastri!" Suaranya sedikit meninggi.

Pintu kamar terbuka. Terlihat sosok Lastri lengkap dengan gawai di tangan. Matanya menatap Mak Wiji dan tas yang dicangkingnya dengan pandangan bertanya.

"Mak? Mau ke mana?" tanyanya cepat.

"Begini lho, Nduk ... setelah Emak pikir, kok rasanya ndak enak kalau terus-terusan tinggal di sini."

"Gak enak gimana maksudnya, Mak?" Mata itu kini memicing, menyelidik.

Mak Wiji terdiam, berusaha mencari kata yang tepat.

"Atau jangan-jangan si Nur terus-terusan merengek biar Emak pulang?" tuduh wanita muda itu dengan nada tak suka.

Melihat sang ibu yang hanya diam, semakin Lastri merasa kesal.

"Ya sudah, Mak. Kalau memang Emak lebih membela dia daripada aku!"

"Bukan begitu, Nduk ...."

"Aku ndak bisa mengantar sampai ke terminal." Lastri memotong cepat. Tanpa banyak bicara, dia kembali ke kamar lalu keluar setelah mengambil beberapa lembar uang ratusan.

"Ini ongkosnya. Emak tau mobil jurusannya kan?"

Mak Wiji akhirnya hanya mengangguk. Tahu diri.

Perasaannya bercampur aduk saat melangkah keluar gerbang tanpa lambaian perpisahan. Sama seperti pembantu yang diusir dari rumah majikan. Pandangannya semakin berkaca-kaca saat menoleh ke rumah yang kini tertutup pintunya.

Menitik tetes bening itu melewati pipi keriputnya. Diusap pelan. Hingga akhirnya malah mengalir deras dan semakin menyesakkan.

.

Nur menyambut kedatangan Mak Wiji dengan penuh sukacita. Dibawakannya tas lumayan berisi itu menuju kamar. Kamar sempit yang sudah dua bulan ini ditinggalkan Mak Wiji.

"Akhirnya dia mengusirmu juga tho, Mak? Kan aku sudah bilang, Mbak Lastri itu sekarang sombong mentang-mentang suaminya punya gaji lumayan besar!" Nur berucap miris saat melihat raut wajah ibunya.

"Ndak diusir, Nduk. Kan Emak yang memang sudah pamitan." Mak Wiji masih saja membela.

"Ndak mengantar pulang ya berarti mengusir secara halus Mak!" Sungut Nur tetap pada pendapatnya.

Mak Wiji menarik napas. Lalu mulai mengeluarkan pakaian-pakaiannya.

"Ya sudah istirahat dulu Mak." Nur berucap sambil melangkah keluar kamar.

***

Pagi ini mendung tebal menyelimuti langit. Tetes gerimis sudah berhamburan turun semakin menambah dingin udara.

Di sumur, Mak Wiji sibuk menggilas pakaian sebanyak dua bak besar. Wanita tua itu hanya mengenakan tutup plastik hitam agar air tak membasahi kepalanya. Karena jika sakit, repotlah Nur dan suaminya.

"Mak!" Dari pintu dapur Nur berseru.

"Apa, Nduk?"

"Kopinya habis ya? Mas Rafi minta dibuatkan kopi!"

"Di toples itu habis?"

"Habis, Mak!" sahut Nur. Lalu wanita muda itu berlari kecil menuju sumur sambil menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangan takut terkena hujan.

"Mana duitnya? Aku mau beli kopi!" Tangan itu terulur tepat di wajah Mak Wiji.

Wanita tua itu menaruh sikat cuci yang dipegangnya. Lalu merogoh kantong daster panjang yang dikenakannya. Dikeluarkannya uang kumal sepuluh ribuan, lalu diulurkan pada Nur yang masih menunggu.

"Oh ya, sekalian uang masaknya, Mak. Biar sekalian aku belanja!"

Mak Wiji lagi-lagi menaruh sikat cucinya. Kembali merogoh kantong dan mengeluarkan sepuluh ribuan dari sana.

"Lah kok cuma segini? Apa cukup?" Mata Nur bertanya.

"Adanya segitu, Nduk. Sayuran hari ini ndak habis terjual."

"Oh ...." Nur mengangguk-angguk. Lalu melesat kembali ke dalam rumah papan mereka.

Sementara Mak Wiji kembali sibuk mencuci pakaian miliknya ditambah milik Nur sekeluarga.

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah