Mertuaku Selalu Keluar Tanpa Pamitan Hingga Larut Malam - Saifullah | My Everything

Mertuaku Selalu Keluar Tanpa Pamitan Hingga Larut Malam

"Mas, Bapak pergi lagi!" Istriku mengadu.

Aku menghela napas. Baru saja pulang kerja sudah ada masalah lagi. Jujur, ini menjengkelkan.

"Ya sudah lah, nanti disusul." Aku menyahut sekenanya sambil membuka seragam, menggantung di belakang pintu, lalu mengganti dengan kaos rumahan.

Di meja ruang tamu sudah tersedia kopi untukku, tapi belum bisa dinikmati karena harus segera mencari bapak terlebih dahulu.

"Bapak kok gak ngerti juga, sih?" Terdengar keluhan dari Fatma yang sedang menyiapkan makanan di dapur.

Aku hanya diam. Malas berdebat. Memperdebatkan ayah mertua yang semakin tua memang cukup memusingkan tingkahnya. Setiap sore pergi tanpa pamitan. Kalau tidak disusul bahkan sampai larut malam.

Entah apa yang diharapkannya.

Mesin motor menyala, lalu segera meluncur keluar dari halaman rumah petak sempit kami. Di kejauhan mendung hitam seperti tak sabar menumpahkan hujan, sama sepertiku yang sedang menahan kemarahan.

Motor berbelok ke gang yang sangat kuhafal lika-likunya. Beberapa orang yang kulewati menganggukkan kepala atau hanya tersenyum menandakan sapa.

Lalu terlihatlah sosoknya. Di depan sebuah rumah bergaya klasik yang bangunannya lumayan luas. Hanya saja tampak seperti tak terurus bagian kaca-kaca dan catnya.

Laki-laki tua berambut tipis dengan warna seluruhnya putih. Mengenakan baju koko dengan bawahan kain sarung kesayangan.

Sedang berjongkok mencabuti rumput-rumput liar di tepi halamannya. Sesekali membalas sapa warga yang lewat dengan anggukan kepala dan senyum ramah. Lalu kembali mencabuti rerumputan dengan tenaga seadanya.

Sementara pintu rumah terlihat tertutup rapat.

Motor kuparkir tak jauh dari punggungnya.

Aku tahu bapak mendengar suara motor dan sadar akan kedatanganku. Tapi dia sengaja tidak menoleh dan membiarkanku termangu.

"Sudah sore, Pak. Sebaiknya pulang dulu." Aku berucap tanpa berniat turun dari motor.

Tangan keriput yang tengah menggenggam rumput itu berhenti bergerak. Lalu terlihat jelas kedua bahu itu turun ke bawah.

Ia menoleh.

"Gus," sapanya datar.

Mata teduhnya beralih menatapku. Sesaat hanya diam, lalu tersenyum tipis. Tapi sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

"Fatma sudah menyiapkan makan sore untuk Bapak." Aku berucap lagi.

Akhirnya dilepaskannya genggaman rumput itu. Menepuk kedua telapak tangan, lalu malah melangkah santai ke teras rumah.

"Bapak jadi ingat saat pertama kali melihatmu datang memperkenalkan diri sebagai pacar Fatma," ucapnya.

Kekesalan yang tadi terasa menumpuk, perlahan mulai memudar. Berganti dengan rasa ... entah apa namanya. Saat melihat orang tua tengah sibuk membicarakan kenangan.

Laki-laki itu mengempaskan tubuhnya di atas kursi setelah menyingkirkan dedaunan kering dari sana.

"Kamu Bapak kerasi, karena Fatma satu-satunya anak perempuan Bapak." Laki-laki itu terkekeh pelan. "Tapi nyatanya kamu memang pemuda yang bertanggung jawab."

Aku menghela napas. Mencabut kunci kontak, lalu turun dari motor dan melangkah ke arah teras. Detik kemudian ikut mengempaskan diri di kursi besi yang catnya mulai terkelupas.

"Pertama pondasi rumah ini dibangun sekitar tahun 1980. Belum banyak rumah di sini. Masih alas. Ibu mertuamu kadang ketakutan kalau sampai malam bapak belum pulang," ceritanya. Mata tua itu, kini mulai dipenuhi bayang-bayang.

"Lahir anak pertama kami, Angga. Lalu anak kedua, Dika. Dan yang ketiga, Fatma. Masih tercium aroma bayi mereka seperti saat pertama kali aku mengadzani tepat di telinga." Bapak tersenyum rindu.

"Masih terlihat Angga, Dika, dan Fatma berlarian di depan situ saat mereka masih kecil dulu. Ramai sekali suaranya, Gus." Bapak menarik napas lagi. Sementara mata tuanya menatap halaman di mana rumput-rumput liar mulai tumbuh tak beraturan.

Aku ikut menatap lurus ke depan sana. Mencoba ikut melihat dari sudut pandangnya.

Hanya tinggal selama hampir tiga tahun di rumah ini, aku pun sudah merasa adanya sebuah keterikatan. Ibu mertua orang yang lembut hati, menemani bapak duduk di teras sambil ngopi. Sementara aku dan Fatma kadang ikut duduk, kadang bercengkerama di kamar saja.

Tadinya semua berjalan apa adanya. Hingga kemudian ibu meninggal setelah terkena serangan jantung. Suasana mulai tidak biasa.

Bang Dika yang tadinya tinggal di kota lain, pulang ke sini. Bersama dengan keluarga kecilnya. Tau sendiri lah bagaimana keadaan rumah saat ditinggali banyak kepala keluarga.

Terucap wejangan dari bapak, meskipun seringkali mengalami masalah kecil, tetap kami adalah keluarga. Mestinya selalu satu.

Tapi ternyata memang tak semudah itu.

Sampai kemudian bapak mengalami struk dan harus dirawat di Rumah Sakit sampai beberapa waktu. Biayanya cukup besar, kami mulai kehabisan uang.

Anak-anaknya mulai berpikir menjual rumah agar bisa membiayai pengobatan bapak sementara sisanya dibagi sesuai hak masing-masing, dengan berbagai alasan yang memang masuk akal. Fatma dan Dika merasa tak enak jika harus berbagi rumah yang harusnya jadi tempat privacy setiap keluarga, sementara Bang Angga walaupun sudah punya rumah sendiri sudah pasti merasa iri karena merasa punya hak juga.

Akhirnya disetujuilah keputusan untuk menjual rumah yang biasanya setiap tahun dijadikan tempat berkumpul saat lebaran itu.

Bapak sembuh dari sakit badannya, tapi berganti mengalami sakit di hatinya. Karena dia harus pulang ke alamat yang berbeda.

Masih kuingat tetesan air di sudut matanya saat ia mengangguk, berusaha mengerti keputusan anak-anaknya. Lalu menjalani hari di rumah sempit kami dengan senyum seperti biasa.

Tapi ternyata lukanya menganga.

Hingga akhir-akhir ini seringkali mulai datang ke rumah yang belum juga ditinggali pemilik barunya ini.

"Mereka pikir, Bapak seperti orang tua yang mulai pikun. Sudah pindah rumah tapi tetap saja duduk di sini. Padahal tidak, Gus."

Aku menoleh.

"Bapak cuma ingin menikmati kenangan kebersamaan kami dulu." Senyum pahit terukir di bibir itu.

Aku terenyuh. Melihat wajah tua yang kini sedang bicara dengan begitu polosnya.

"Padahal sudah Bapak bilang ... rumah ini jangan dijual ..." Suara itu terdengar semakin menghilang. "Tapi ternyata keputusan Bapak tidak adil bagi kalian ... karena memang tak punya lagi harta warisan."

Kami terdiam cukup lama. Mengamati tetes demi tetes air yang mulai berjatuhan dari langit. Diam dalam pikiran masing-masing.

"Kadang ... seorang anak tak sadar, saat menjual rumah orangtuanya, itu sama seperti memaksa orangtua yang masih ada untuk melepas sebuah kenangan yang paling lama menancap kuat dalam ingatan ..." Bapak berpaling ke arah lain saat satu tangannya terangkat ke arah sudut mata.

"Bapak ... kangen masuk rumah ini lagi, Gus ... " Suaranya semakin menghilang, "kangen sekali ...."

By : Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah