Teman Curhat Yang Di Untungkan - Saifullah | My Everything

Teman Curhat Yang Di Untungkan

Hari ini kudengar mereka bertengkar lagi. Diakhiri suara bantingan pintu oleh sang suami yang melangkah pergi.

Beberapa kepala menyambul keluar dari balik pintu bedeng kontrakan masing-masing. Tapi segera menghilang setelah saling bertemu pandang. Sudahlah, bukan urusan mereka. Mungkin itu yang mereka pikirkan.

Aku menggelengkan kepala. Karena kontrakan kami hanya dibatasi oleh dinding. Hampir tiap hari mendengar mereka bertengkar untuk masalah yang sama. Perselingkuhan sang suami!

Sore menjelang malam kontrakan mulai sepi. Beberapa penghuni pergi bekerja karena, sementara yang lain memilih di dalam kontrakan bersama keluarga.

Kulihat mbak Ayu duduk bersandar diteras. Wajahnya terlihat kuyu. Mata sembab, dan rambut digelung acak. Sebenarnya dia masih terbilang muda. Mungkin hanya tiga atau empat tahun di atas usiaku. Badannya langsing dengan ukuran dada di atas rata-rata. Mungkin akan terlihat seksi jika saja mau sedikit merawat penampilan. Hanya saja ...

"Bertengkar lagi, Mbak?" tebakku tenang sambil bersandar di pintu kamar kontrakanku. Sementara di sela jari terselip rokok yang tinggal setengah.

"Iya, Vid," suaranya setengah mengeluh. "Pulang pagi hampir tiap hari. Mana di bajunya bau parfum wanita. Eh, pas aku cek hapenya ada foto-foto cewek lagi selfie ama dia di atas ranjang! Siapa yang nggak marah coba?" Mata mbak Ayu berair lagi. Sakit hati terlihat jelas dari raut wajahnya.

Aku menghela napas. Bingung mau menanggapi apa. Seringkali setiap mbak Ayu habis bertengkar dia bicara padaku. Menumpahkan segala unek-unek di kepalanya hingga menangis sesenggukan. Padahal aku bukanlah orang yang pintar memberi masukan. Hanya sering terdiam mendengarkan.

Tapi mungkin justru karena itu mbak Ayu jadi suka curhat padaku. Karena tidak banyak menimpali yang ujungnya malah terasa menyudutkan. Berbeda saat dia curhat ke sesama wanita atau ibu rumah tangga.

Ya, aku seorang pemuda yang belum jelas juga mau kerja apa. Seminggu di perusahaan ini, dua minggu di perusahaan itu. Lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kontrakan. Kebetulan mengontrak tepat di samping kamar kontrakannya.

Di sini, berjajar puluhan kamar kontrakan. Ada berbagai tipe manusia. Dari yang baik sampai yang sampah. Aku? Aku manusia tipe abu-abu.

Setelah menjentikkan rokok ke halaman luar, aku beranjak.

"Mandi dulu lah, Mbak. Gerah!" Pamitku padanya, "itu ada gorengan, makan aja kalau mau."

Tak terdengar jawaban mbak Ayu. Jadi aku langsung masuk.

Beberapa saat aku keluar lagi, ternyata mbak Ayu masih di depan teras rumahnya. Terbengong sendirian dengan pikiran jauh menerawang. Kasihan sekali.

"Udah mandi, Mbak?" Aku bertanya hanya dengan memakai celana jeans dan bertelanjang dada. Sambil menggosok rambut yang masih basah dengan handuk.

"Be ... belum," sahut mbak Ayu sedikit gagap saat menoleh padaku.

Mengamati penampilannya, dia memang jelas belum mandi. Kumal.

"Mandi dulu sana, biar segar!" Aku menyarankan.

Mbak Ayu terlihat ragu. Sepertinya dia memang sedang malas beranjak. Mungkin masih merasa jengkel pada suaminya.

"Nggak ada aer, baknya kosong!" Sahut mbak Ayu akhirnya. 
Bulan-bulan kemarau ini kontrakan kami memang sedang mengalami kekeringan. Hanya sedikit air yang keluar dari keran. Itupun didapat dengan saling berebut.

"Ya sudah, mandi di sini saja. Aer banyak." Aku menawarkan.

Mbak Ayu masih sedikit ragu, tapi melihat kesungguhan di wajahku akhirnya dia beranjak.

Sejenak merasa canggung saat berdiri di depan pintu kamar kontrakanku. Walaupun kami sering bicara, tapi hanya sekedar di depan teras kontrakan masing-masing. Belum pernah dia masuk ke kamarku.

"Masuk aja, Mbak. Aku di luar." Aku mengerti keraguannya.

Akhirnya mbak Ayu masuk. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi sampai beberapa saat. Sementara aku duduk di teras depan.

Sekitar 10 menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Terlihat rambut mbak Ayu tergerai wangi, memakai kembali daster leceknya yang sudah separuh basah.

"Kenapa basah, Mbak?" Aku bertanya.

"Jatuh tadi, Vid," jawabnya sedikit risih.

Lalu dia melangkah keluar, menyisakan wangi sabun yang sempat tercium.

***

Sejak itu, kami semakin dekat. Bahkan lama kelamaan dia sudah tak merasa canggung masuk ke dalam kontrakanku.

Hampir setiap malam suaminya memang pergi keluar dan pulang pagi. Menyisakan baju kotor dengan wangi parfum perempuan. Kadang malah terlihat goresan lipstik. Mbak Ayu menunjukkan padaku sambil menangis tersedu. Mungkin sakit sekali perasaannya. Lalu dia mengusap airmata dengan ujung daster kumal sambil membenahi rambut yang asal tergelung.

Malam ini hujan turun. Pertama kali sejak musim kemarau. Suaminya pergi sedari sore. Mbak Ayu duduk sendiri di depan teras. Menangis dan kedinginan.

Aku menemani dari sini. Tidak banyak bicara, hanya mengisap rokok sambil mendengar kegelisahannya.

Hujan semakin besar disertai angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Kemudian listrik padam. Mungkin ada tiang yang roboh atau tersambar.

Mbak Ayu semakin gelisah. Tahu suaminya tak mungkin pulang, tapi dia takut beranjak masuk ke dalam. Aku? Mana tega membiarkan seorang wanita sendirian di teras yang mulai basah oleh pias hujan.

Aku menawarkan padanya untuk masuk ke kontrakannya, atau masuk ke kontrakanku.

Sejenak dia terlihat ragu. Tapi saat petir besar menyambar lagi, dia terlonjak lalu memutuskan masuk ke kamar kontrakanku.

Kami berdua hanya diterangi lilin yang berpendar temaram. Meliuk-liuk diterpa angin yang nekat mengembus lewat ventilasi udara. Menyangatkan rasa dingin.

Kami merasa dingin, disertai rasa panas saat mata mulai berpandangan.

Malam itu, mbak Ayu terhempas di atas ranjang kamarku. Kulihat senyum kepuasan tersungging di bibirnya. Puas bercinta, juga puas membalaskan sakit hati akan perselingkuhan suaminya.

***

Lalu hampir setiap hari mbak Ayu datang ke kamarku. Aku mengajarinya banyak hal. Kesenangan, mengusir kesepian dan yang paling penting adalah cara merawat penampilan.

Beberapa minggu kemudian, mbak Ayu mulai banyak berubah. Ia lebih ceria, dan sering memakai baju yang enak dilihat. Bukan lagi daster kumal seperti yang biasa ia kenakan.

Sekarang, jarang terdengar pertengkaran terjadi. Beberapa waktu yang lalu suaminya memang masih sering pulang pagi. Tapi mbak Ayu memilih bersikap tak peduli. Karena saat malam hari dia malah bisa lebih bebas bersamaku. Kami bicara, kami bercanda, lalu kami bercinta.

Bahkan aku yakin, sebenarnya mbak Ayu merubah penampilannya untukku. Tapi toh, itu berimbas pada cara pandang suaminya. Hingga kemudian suaminya mulai jarang keluar pagi.

Kadang terdengar olehku suaminya bertanya heran.

"Kok sekarang kamu terlihat cantikan, Yu?"

Dari balik dinding, aku tersenyum.

Yah, begitulah kehidupan berumah tangga. Keduanya saling minta diperhatikan, dipuaskan, dibahagiakan, tapi jarang berkomunikasi. Lucu. Seolah pasangan adalah dukun atau manusia yang punya indra ke-enam.

Saat suami berselingkuh, tidak semua istri bereaksi sama. Ada yang depresi berat karena terluka, susah memaafkan lalu memilih untuk bercerai. Ada yang memilih pasrah dengan keadaan dengan diam dan menerima, mencoba sekuat tenaga untuk mempertahankan rumah tangga dengan segala cara. Sementara yang ketiga, memilih membalas perselingkuhan dengan perselingkuhan.

Bukankah itu sakit saat mengetahui istri yang seharusnya dinikmati sendiri tapi ada yang ikut mencicipi?

Harusnya mereka yang sudah memutuskan untuk menikah itu sadar. Pernikahan itu berarti hidup bersama untuk selamanya. Harus saling menggenggam erat, jangan sampai tangan yang memeluk sempat terlepas.

Karena saat hubungan suami istri merenggang, biasanya ada pihak ketiga yang merasa diuntungkan.

Ya, pihak ketiga, sepertiku.

By : Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah