Cerita Hidup: Ayah Pulang, Jagoan! - Saifullah

Cerita Hidup: Ayah Pulang, Jagoan!

Kulihat seorang ayah dan putranya duduk tak jauh di bangku seberang. Anak berumur 4 tahunan itu terus berkata-kata, sementara ayahnya mulai terlihat terganggu oleh suara anaknya. Dibentaknya pelan agar si anak terdiam. Lalu memaksa bocah itu tidur di pangkuan.

Kadang mereka tak mengerti berharganya arti kebersamaan.

Aku menghela napas, memejamkan mata sebentar. Lalu menyunggingkan senyum yang terasa berat saat menyadari wanita tua di sebelah menatapku dengan pandangan penuh tanya.

"Ndak apa-apa, Nak?" Dia bertanya hati-hati.

Aku menggeleng.

"Tidak apa-apa, Bu. Cuma ingat jagoanku," jawabku, tanpa bisa menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Ini mau pulang?"

"Iya."

"Dari merantau ya?" tebaknya sambil menyodorkan air mineral.

"Iya, Bu. Susah cari kerjaan di kampung. Jadi ... merantau demi melihat anak dan istri bisa hidup berkecukupan." Aku menolak air mineral yang ia sodorkan secara halus.

Wanita setengah baya itu mengangguk-angguk. Seolah mengerti apa yang kurasakan saat ini.

"Sudah berapa lama kerja di kota?" tanyanya lagi.

"Sekitar setahun, Bu."

"Pasti rindu sekali pada keluarganya ya, terlihat jelas dari wajahmu."

"Iya, rindu sekali ..." Kembali kurasakan kaca-kaca di pelupuk mata. Cepat, dan diam-diam kuseka dengan ujung jari.

Lalu segera memalingkan wajah ke luar jendela kereta yang kutumpangi. Di luar sana, terlihat hamparan sawah dan jalanan khas pedesaan. Sementara di sisi-sisi rel kereta terlihat jajaran rumah-rumah dalam berbagai tipe dan keadaan berbaris rapi.

Anak-anak kecil bermain hampir di depan halaman setiap rumah yang terlewati. Bahagia, ceria, dan ... mengingatkanku pada wajah putra pertama kami.

Gibran Putra Pratama.

Nama yang diputuskan setelah memilih beberapa nama sodoran orang tua dan mereka yang dituakan dalam keluarga.

Kelahirannya tidak disambut dengan pesta besar. Cuma sekadar selamatan kecil-kecilan. Tapi diliputi binar kebahagiaan yang terpancar di mata kami, dengan doa mengiring tulus sebagai orangtua.

Berharap besar nanti putra pertama kami akan tumbuh menjadi sang kebanggaan. Bagi kami, agama, dan bangsanya. Tak putus mendoakan agar dia akan jauh lebih beruntung dan lebih sukses dari kami, orangtuanya.

Ingin sekali bisa membimbing dan mengajarinya dari hal kecil hingga hal besar di tahun-tahun pertama dia mulai bertumbuh. Mengajari berjalan, mengajari merangkai kata, mengajari naik sepeda. Rasanya iri, melihat mereka yang bisa berbincang mesra dengan putra mereka setiap hari. Tanpa terbatas waktu, tanpa terbatas jarak.

Tapi sayangnya, aku harus memilih. Antara menemaninya bertumbuh, atau memberinya hidup berkecukupan selama ia tumbuh.

Berawal dari hari itu, saat aku semakin kesulitan mendapatkan uang biaya kehidupan kami sehari-hari.

"Cuma segini, A'?" Istriku bertanya sambil menatap uang lecek yang kusodorkan padanya di atas meja.

Aku terdiam. Tahu itu sama sekali tak cukup bahkan untuk membeli kebutuhan dapur hari ini. Tapi mau bagaimana lagi? Pekerjaan sebagai buruh serabutan memang tak bisa diandalkan.

"Kurang ini mah, A' ." Wajah Nilam mulai merengut. Wajar. Aku tak menyalahkan. Uang sebesar itu memang jauh dari cukup untuk menutup kebutuhan.

"Bisa tidak Neng hutang dulu di warung? Nanti Aa' carikan gantinya," tanyaku.

"Hutang yang kemarin saja belum dibayar, A'. Eneng malu ke warung lagi. Takut ditagih di depan orang banyak ..." Raut wajah Nilam tenggelam dalam kesedihan.

Tidak tega melihatnya.

Lagi-lagi aku terdiam. Merasa kering tenggorokan karena pagi ini belum minum kopi ataupun sarapan.

Tiba-tiba terdengar suara tangis Gibran. Dia bangun! Aku mendahului Nilam ke kamar. Mengangkat bocah kecil berusia setahun lewat 2 hari itu ke dalam gendongan.

"Anak Ayah udah bangun ya?" Aku mencium pipinya. Tercium wangi khas anak kecil. Dia tidak lagi menangis, menyandarkan kepalanya di bahuku dengan pasrah. Hal yang membuatku benar-benar merasa menjadi seorang ayah.

Kubawa Gibran keluar rumah geribik kecil kami. Menikmati cahaya matahari pagi, sementara Nilam terlihat memetik daun bayam liar yang tumbuh di halaman. Dia sering memasak itu sebagai sayur untuk Gibran.

Kutunjukan pada Gibran ayam dan kucing yang lewat, juga burung-burung di atas sana. Mata bulat itu berbinar saat mencoba mengucap nama-nama hewan itu. Lucu sekali. Membuatku tertawa dan tak henti menciumi wajah dan bahunya. Sejenak melupakan kepedihan kami pagi ini. Sesaat melupakan rasa lapar dan tenggorokan yang belum tersiram kopi.

Hingga akhirnya datang seseorang memanggilku.

"Tama! Lah belum berangkat? Nanti Pak Daud mengomel lagi!" Seru Ali, salah satu pekerja di ladang yang sama.

"Iya, Li! Sebentar!" sahutku sambil masuk ke dalam rumah. Menyerahkan Gibran pada Nilam yang sedang menyiapkan sayur bayam dan bubur untuk Gibran.

"Neng, Aa' berangkat dulu ya!" pamitku sambil menatapnya sejenak lebih lama. Menyadari mata itu sedang berkaca-kaca.

Terenyuh hati ini. Menciut. Sibuk bertanya suami macam apa yang tega meninggalkan rumah tanpa memberi jawaban 'Makan apa kita hari ini?' yang istri pertanyakan.

Nilam tidak menjawab, berat mungkin. Hanya diraihnya Gibran dari gendongan. Bahkan tanpa manatap mataku.

Keluar setelah meraih cangkul dengan lidah terasa kelu. Berjalan mengikuti langkah Ali yang sudah berlalu lebih dulu. Kadang sibuk terpikir, hidup kenapa seberat ini. Padahal hanya ingin mencukupi kebutuhan anak istri yang dicintai.

***

Aku membuka mata. Kepala masih berdenyut karena rasa pusing. Badan terasa lemas dan dingin.

"Alhamdulillah ... Pratama sudah bangun, Pak!" seru Yamin yang duduk di sebelahku.

Pak Daud mendekat. Wajah yang biasanya selalu terlihat tegas dan tak ramah itu menatapku. Kali ini ada rasa khawatir yang terlihat dari mata tuanya.

"Kata Pak Mantri kamu masuk angin. Belum sarapan kamu tadi pagi?" tanya Pak Daud sambil memicingkan mata.

Aku hanya mengangguk. "Maaf, Pak. Sudah merepotkan ..."

"Ya memang merepotkan! Seharusnya hari ini garapan ladang bagian ini sudah selesai, tapi harus terhenti karena kamu tiba-tiba pingsan!" Mulai mengomel Pak Daud.

Aku menunduk, merasa bersalah. Memang tadi aku tak kuat lagi menahan rasa lelah ditambah sengatan terik matahari.

"Lebih baik kamu pulang saja sekarang. Besok tidak usah berangkat bekerja dari pada nanti bertambah parah. Istirahat dulu. Aku tidak suka dianggap memaksa pekerja."

Aku menatap Pak Daud, memohon. "Saya masih kuat bekerja, Pak! Tolong diizinkan kembali meneruskan pekerjaan hari ini!"

"Jangan keras kepala, Tam! Pulang sekarang, istirahat beberapa hari sampai kamu sembuh benar. Baru nanti kuizinkan kembali bekerja!" Setengah membentak ucapan Pak Daud.

Berat. Aku tidak punya pilihan sama sekali. Bisa kupahami larangan Pak Daud. Dia tidak ingin pekerjaannya terganggu. Tapi ... aku benar-benar membutuhkan pekerjaan. Kalau hari ini terpaksa pulang tanpa uang, entah bagaimana bisa kutatap mata itu.

Mata sedih istriku.

Tapi ternyata aku memang harus menerima keputusan Pak Daud. Gontai, aku melangkah pulang. Dengan selipan uang hasil kerja setengah hari, yang tentu saja jauh dari kata cukup.

Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang. Jauh. Berusaha memahami keadaan ini. Berusaha mendamaikan diri dari semua yang terasa seperti ketidak adilan. Aku tahu, roda kehidupan pasti berputar. Saat ini kita berada di bawah, keesokan hari bisa jadi kita berada di atas. Hanya tentang bagaimana kita berusaha, juga bersabar menjalaninya.

Ya aku bisa mengerti, tapi bagaimana dengan anak dan istri? Mereka butuh makan dan berbagai keperluan setiap hari.

Melangkah memasuki halaman rumah kecil kami, kulihat binar mata Gibran menyambutku. Dia berteriak entah apa, seperti berusaha memanggil. Sambil tangan kecilnya terangkat melambai.

Seketika rasa lelah, lemas, pusing dan kepedihan menguap dari dari kepalaku begitu saja.

"Sini anak Ayah!"

***

"A', Eneng nggak kuat lagi ... Eneng nggak bisa terus-terusan hidup seperti ini ..." Istriku terisak malam ini.

Malam telah beranjak larut diiringi suara gerimis dan desau angin dingin yang menerobos masuk lewat celah lubang geribik. Di ranjang, terlihat Gibran terbaring nyaman. Tubuh mungilnya berselimut kain kusam dengan beberapa tambalan.

"Biar Eneng bekerja di luar negeri untuk beberapa tahun. Aa' kumpulin uangnya buat modal kita saat Eneng kembali." Dia menatapku penuh harap, "ya A'?"

Aku menatap wajah Gibran. Diam, dalam keadaan hati entah bagaimana harus menjelaskan.

Seperti tengah dipaksa berjalan ke dalam kegelapan, sendirian. Tapi tak punya pilihan.

"Jangan, Neng. Gibran lebih butuh kasih sayang kamu dari pada Aa'," tolakku setelah menarik napas.

"Tapi A' ..."

"Biar Aa' yang pergi merantau di kota. Beberapa waktu lalu memang ada yang menawarkan. Di sana ada pekerjaan sebagai tukang bangunan."

"Beberapa waktu yang lalu ...? Kenapa Aa' nggak bilang?" Mata Nilam mengernyit, seperti menyayangkan.

"Aa' ... nggak kuat pisah sama kalian ..." gumamku sambil berpaling ke arah lain, menahan sesak di dada, "maunya Aa' kita tetap sama-sama. Cuma pergi kerja saja Aa' nggak sabar pulang buat gendong Gibran ... saat kerja Aa' kadang senyum sendiri membayangkan Gibran ... maunya Aa' tiap saat bisa sama-sama kalian ... tapi ... berat ya, Neng ..." tanpa sadar aku terisak, mengusap airmata yang keluar, menyadari bahwa aku memang tidak boleh seegois itu.

Mereka harus makan, mereka harus hidup lebih layak. Walau entah bagaimana rasanya nanti berpisah dalam waktu lama dengan mereka.

Nilam memelukku. Berusaha menguatkan, tapi tak bisa menahan tangisnya sendiri.

Malam itu, kami lalui dengan airmata tertumpah. Sambil kupandangi wajah damai Gibran.

Berat, Nak. Hidup ini berat ...

***

Kereta api berhenti di stasiun. Aku membenahi letak ransel di bahu kiri. Mengucapkan basa-basi perpisahan sebentar pada wanita itu. Lalu menyelinap ke tengah para penumpang yang berdesak-desakan menuju pintu keluar.

Kuhirup lagi udara kampung setelah setahun lebih pergi merantau. Setelah hanya sesekali mengirim kabar lewat sms atau kadang menumpang bicara pada telepon teman. Demi mengirimkan uang tak seberapa besar setiap bulan, sambil di sini bekerja keras. Bekerja keras menahan diri dari godaan wanita-wanita penjaja makanan, juga menahan rindu pada binar mata Gibran.

Kadang tanpa sadar air menitik di sudut mata, jika rasa rindunya sudah tak tertahankan. Terutama saat kudengar suaranya lewat telepon. Sudah bisa memanggil Ibu ... tapi jarang sekali memanggil ayah. Tentu saja, itu karena dia tidak terbiasa. Dalam keseharian dia cuma bersama ibunya.

Cemburu, kadang terbersit rasa itu. Iri pada mereka yang punya banyak waktu bersama putranya. Sementara aku, seperti tak diberi kesempatan.

Kulihat penjaja mainan anak-anak di stasiun. Pelan, aku melangkah mendekat.

Melihat mobilan, robot-robotan, dan mainan khas anak kecil yang lucu. Lalu kupilih satu. Topeng spiderman. Warnanya menarik untuk anak seusia Gibran.

Setelah membayar, aku berlalu. Kupegang saja topeng spiderman di tangan, sambil sesekali mengusap airmata yang keluar tak tertahan.

Naik ojek karena ingin cepat sampai, aku rela membayar lebih mahal. Lalu membiarkan sang pengendara melesat membawa kami menyusuri jalanan kampung yang masih sama dengan saat aku pergi meninggalkannya. Kampung ini memang kadang seperti mati. Tak terlihat perubahannya, karena para pemudanya memilih merantau ke luar kota atau bahkan keluar negeri demi mendapat kehidupan yang lebih layak.

Terpaksa berpisah dengan mereka yang dicintai, seperti yang kulakukan kini.

Sampai.

Rumahku sudah ramai. Tak sempat kusalami semua. Karena ingin langsung menemui Gibran.

Gibran Putra Pratama, putraku. Terlihat baru saja dimandikan. Terlihat pucat terbaring di atas meja.

"Aa ..." kudengar Nilam menatapku dengan wajah berurai airmata. Ingin memelukku, tapi aku menahannya. Bukan karena tak merindukannya, atau tak memahami perasaannya. Tapi ...

Kuangkat tubuh dingin Gibran. Lebih berat dari terakhir kali aku menggendongnya. Tubuhnya juga sudah lebih besar sekarang.

Kusandarkan kepalanya di bahuku. Lalu menimang tubuh pucat telanjang itu. Menepuk pantatnya pelan, karena aku tahu dia paling suka itu.

Satu persatu mereka mulai pergi menyingkir sambil mengusap airmata dan menahan isak tangis melihat apa yang kulakukan. Begitu juga dengan Nilam yang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bersimpuh, beberapa langkah di sudut ruang sana.

Aku mencium bahu dingin Gibran.

"Kangen Ayah, Nak ..." bisikku di telinganya.

Hening. Tak kudengar suara kecil itu, tak kurasakan tangannya melingkar di bahu. Bahkan berkali harus kubenahi posisi kepalanya yang akan jatuh.

Aku memejamkan mata, berusaha menikmati harum tubuhnya.

"Ayah pulang, Jagoan. Bawa mainan buat Gibran. Tapi Ayah belum bisa ... bawakan mainan lebih mahal ... nggak apa-apa ya, Nak ..." Aku meremas topeng Spiderman digenggamanku.

Terngiang kembali pagi tadi. Saat telepon Wisman, teman sesama tukang bangunan, berdering oleh nomor tanpa nama. Mulanya ia enggan mengangkat. Tapi setelah berkali-kali telepon itu terus menghubungi disertai sms memohon untuk diangkat, akhirnya Wisman luluh juga.

Penelepon itu mencariku. Setelah kuangkat, ternyata suara Nilam yang gemetar.

"Gibran kena demam berdarah, A ... belum sempat dibawa ke Rumah Sakit ..." Lalu tangisnya pecah. Seiring dengan otot-ototku yang seketika lemas.

Menangis aku sambil bersujud di dalam kamar berisi beberapa orang itu. Berusaha dikuatkan mereka dengan tepukan di bahu dan kata-kata turut prihatin. Berakhir dengan nasehat, bahwa bagi orang-orang kecil seperti kami hidup memang berat.

Apa yang lebih menyakitkan dari pada terpisah dari dia yang selama ini setengah mati ingin kau bahagiakan?

Apa yang lebih menyakitkan dari pada menyadari apa yang tengah diperjuangkan akhirnya memang harus kau relakan?

Apa yang lebih menyakitkan ... dari pada melihat putra yang seharusnya memakamkanmu, malah membuatmu terpaksa datang ke pemakamannya?

Aku mendekap tubuh dingin putraku erat. Sedang memaksa hati untuk kuat melepaskan, tapi ... rasanya sangat berat.

Keberatan Ayah, Nak ... keberatan Ayah.

Bersamaan dengan semakin deras airmata mengalir, dengan rasa dada yang kian sesak. Aku menghela napas.

"Maaf, Nak. Sayang Ayah ... nggak sebesar sayangnya Allah ... "

Lalu kubiarkan para pelayat mengambil alih putraku. Agar bisa dikafaninya tubuh mungil yang belum sempat kubahagiakan itu.

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll