Cerita Hidup: Seragam By Patrick Kellan - Saifullah

Cerita Hidup: Seragam By Patrick Kellan

Terik matahari menyengat kulit. Di dekat sumur kami berdua masih sibuk menggosok sepatu sekolah milik Mas Danu. Aku yang kanan, dia yang kiri.

Sesekali terdengar kecipak air dari bak yang beradu dengan tangan. Kadang cipratannya terkena muka, lalu kami berdua tertawa.

Sejenak aku berhenti menggosok sepatu yang kini terlihat lebih bersih dari biasanya. Dalam hati mulai berbunga. Karena sebentar lagi itu menjadi punyaku.

Tahun ajaran baru akan datang. Minggu ini hari-hari terakhir Mas Danu memakai sepatu yang sekarang kami cuci. Sepatunya masih terlihat bagus. Wajar. Karena kakak memakainya berhati-hati sekali.

Dia cuma tidak ingin mengulang kesalahan tahun-tahun sebelumnya. Saat aku terpaksa harus mengenakan sepatu yang mulai robek bagian depan karena caranya berjalan membuat sepatu sering terantuk dengan batu.

"Masih keliatan baru ya, Nang!" Mas Danu berdecak kagum sambil mengangkat sepatu hasil cuciannya.

Aku mengangguk setuju, lalu kembali menggosok bagian punyaku.

Sementara di dekat bak sana, teronggok sepatuku. Bagaimana menyebutnya? Sepatuku atau sepatu bekas Mas Danu? Karena nyatanya memang setiap tahun aku harus memakai sepatu bekas Mas Danu karena ibu hanya mampu membeli satu.

Jadi seringkali aku harus memakai sepatu yang warna hitamnya sudah tidak hitam lagi, sementara warna putihnya sudah jadi abu-abu. Robek pula.

Iri pada kakak? Tidak. Aku lebih iri pada Pinu yang setiap semester sepatunya pasti baru. Kadang aku ingin bertanya kemana sepatu lamanya. Karena seingatku sepatu-sepatunya belum terlihat sobek atau bahkan lecet. Tapi entah kenapa tidak pernah dipakai lagi.

Aku ingin bertanya, tapi ah sudahlah, malu.

Pinu itu tetangga tak jauh dari rumah. Rumahnya besar bertingkat. Halamannya luas. Pagar rumahnya yang samping ada yang retak besar dan bisa dilewati anak-anak seusia kami.

Setiap habis semesteran, aku dan kakak sering diam-diam ke halaman belakang rumahnya. Memungut sampah-sampah yang dibuang. Karena sampahnya berupa buku-buku tulis tebal yang masih banyak sisanya.

Ada yang sisa separuh, tapi banyak juga yang hanya dipakai beberapa lembar saja. Seperti rezeki bagi kami jika ketemu buku-buku yang masih belum banyak dipakai. Nama Pinu kami coret sampai warnanya hitam dan tidak kelihatan lagi, lalu diganti dengan namaku, atau nama Mas Danu.

Seringnya Mas Danu yang pakai. Sementara aku lebih sering ambil lembar-lembar kosong dari buku bekas Mas Danu lalu dibawa ke foto kopi. Minta dijilidkan. Bayarnya murah. Kadang digratiskan oleh Om yang jaga di situ. Kasihan katanya.

Memang baik dia.

Mas Danu bilang seringkali dia ditegur bu guru karena tulisannya kecil dan rapat sekali.

"Ini tidak bisa dibaca, Nu!" Mas Danu menirukan suara bu guru saat bercerita. Lucu. Aku mendengarkan sambil menahan tawa.

"Lalu kamu jawab apa, Mas?"

"Kalau tulisannya besar nanti makan lembar baru, Bu!" Mas Danu menjawab.

Mas Danu bilang, bu guru cuma menghela napas sambil menggelengkan kepala. Saking marahnya mata bu guru sampai merah dan berkaca-kaca.

"Kecil tidak papa, Nu. Tapi tetap harus bisa dibaca ...."

"Iya, Bu!"

Selalu seperti itu. Makanya sisa lembar kosong buku Mas Danu masih bisa diambil.

Mas Danu bilang sebenarnya ada bantuan pemerintah untuk anak-anak kurang mampu. Tapi karena syarat ibu tidak lengkap, jadi kami tidak dapat. Aneh memang. Seharusnya kan bu guru tahu yang mana anak yang lebih membutuhkan bantuan. Tapi ya sudahlah. Kata ibu tak baik memohon-mohon pertolongan kecuali kalau sudah mau mati.

"Besok senin hari terakhir aku pakai sepatu ini, Nang!" Mas Danu mencelupkan sepatu ke bak. Lalu menggoyangkan sebentar dan diangkatnya ke atas. Bersih. Lebih bersih dari hasil cucianku.

Aku memasukkan kaki ke dalam sepatu.

"Masih kegedean, Mas." Aku bergumam, "kalau copot pas lari malu juga ya."

"Bisa disumpal kertas itu, Nang," sahut Mas Danu.

"Oh iya."

"Huu!"

"SMP sepatunya masih yang kaya gini, Mas?"

"Masih, Nang."

"Jadi aku masih harus pakai sepatu bekasmu!" Aku menahan tawa.

Mas Danu ikut tertawa. Sampai akhirnya kulihat ibu berdiri di pintu dapur. Memandangi kami dengan tatapan sayu. Senyumnya itu ... sepertinya terpaksa sekali.

Aku kembali mengobrol seru dengan Mas Danu.

***

Hari terakhir masuk sekolah sebelum libur kenaikan kelas. Dari pagi memang sudah mendung.

"Kami berangkat, Bu! Assalamualaikum!" Mas Danu berseru saat kami keluar rumah.

Ibu yang sedang sibuk mencuci baju menjawab dengan seruan juga. Lalu kami berdua berjalan beriringan.

Sekolah kami 2 km jauhnya dari rumah. Melewati satu-satunya jalan yang kondisinya berbatu-batu. Ada yang penuh lumpur setelah diguyur hujan.

Sesekali rombongan anak-anak bersepeda melewati. Ada yang menyapa. Tapi banyak juga yang tak peduli. Sesekali juga teman-teman yang diantar naik motor oleh ayah atau ibunya melintas. Enak betul mereka.

Dulu Mas Danu pernah punya sepeda, tapi rusak dan ibu tidak punya uang untuk memperbaiki. Ya sudah, akhirnya kami berjalan. Memang bukan kami saja. Ada beberapa anak ke sekolah berjalan kaki juga.

"Aduh!" Mas Danu berseru keras saat terantuk batu. Limbung dia. Hampir saja terjatuh kalau tidak buru-buru menyeimbangkan diri.

Aku segera berjongkok.

"Nggak papa, Mas, nggak papa!" ucapku setelah mengamati ujung sepatu. Lega.

Mas Danu juga terlihat lega. Lalu kami kembali meneruskan langkah lebih cepat menuju sekolah.

***

Hari ini kami tidak belajar. Bagi raport. Seharusnya ibu datang untuk mengambilkan punyaku. Tapi karena belum membayar tunggakan uang LKS jadi raportnya belum akan diberikan khusus punyaku. Harus bayar dulu. Sementara ibu tidak punya uang.

Ya sudahlah, apa pentingnya melihat nilai. Ibuku bilang begitu, sambil mengusap matanya yang kelilipan.

Ya memang benar juga. Apa pentingnya? Bu guru selalu memuji namaku setiap kali kami selesai mengoreksi lembar-lembar semester. Lalu aku bilang pada ibu. Mungkin karena itu ibu bilang tak penting lagi. Karena ibu sudah tahu.

Kelas enam datang hanya untuk mendengar pengumuman entah apa. Kata Mas Danu ini hari terakhirnya mengenakan baju seragam merah putih. Karena saat mengambil ijazah nanti mereka boleh pakai baju bebas.

Seragam Mas Danu pun masih kelihatan bagus. Beruntung, naik kelas 5 ini baju seragam dan sepatuku terlihat masih bagus-bagus.

"Nang! Danang! Nang!" Terdengar panggilan Yatno. Salah satu teman. Anak itu yang tadinya jalan-jalan ke arah kelas enam tiba-tiba masuk ke kelas sambil memanggil namaku panik.

"Apa, Yat?" Aku menyahut.

"Mamasmu, Nang!" Dia melapor, "Mamasmu berkelahi!"

"Mas Danu berkelahi?" Dahiku berkerut.

Setengah percaya aku. Karena Mas Danu itu paling anti berkelahi dengan teman sendiri. Bahkan selalu menasehati agar aku selalu bisa menahan diri meski ada anak yang nakal.

"Yang bener kamu, Yat?" Aku menatap anak itu.

"Halah, serius aku!" Yatno menunjuk-nunjuk keluar kelas.

Tanpa bertanya lagi, aku segera berlari keluar menuju kelas enam. Tak peduli hampir bertabrakan dengan bu guru yang mendekap tumpukan raport di dadanya.

Toh tak ada gunanya aku di kelas, raportnya tidak akan diberikan.

Aku berlari sekuat tenaga menyeberang lapangan. Kelas enam memang kelas paling jauh. Benar. Kulihat keramaian di sana.

Aku menyelinap masuk di tengah kerumunan. Terkesiap. Demi melihat Mas Danu sedang bergulat dengan anak lain di atas rerumputan. Sementara anak-anak lain malah bersorak-sorai.

"Mas Danu!" Aku berteriak.

Tak terdengar olehnya. Baru kali ini kulihat wajah Mas Danu begitu mengerikan. Penuh kemarahan dan rasa dendam. Berkali tangannya meninju wajah anak yang sekarang berada di bawah himpitan kakinya.

Anak itu mulai menangis. Kesakitan.

Aku mencoba menahan tinjunya yang akan kembali melayang.

Untung pada saat bersamaan, seorang guru segera datang melerai. Lengan kekar itu menarik kerah belakang baju Mas Danu berdiri. Lalu menyuruh anak yang ditindih itu segera bangun.

Kasihan aku. Mas Danu terlihat kesakitan saat pak guru menjewer telinganya. Lalu menarik mereka berdua ke kantor guru.

Perlahan anak-anak yang tadi ramai berkumpul membubarkan diri. Sementara aku tak tahu harus ke mana. Kembali ke kelas atau ikut ke kantor guru?

***

Perutku berkeriut lapar. Kuusap, sambil membenamkan kepala di antara kedua lutut.

"Nang!" Kudengar suara Mas Danu.

Aku mengangkat kepala. Benar. Mas Danu berdiri di sampingku. Hukumannya berdiri di kantor sambil memegangi telinga sudah selesai.

"Ayo pulang!" Mas Danu berjalan gontai.

Aku mengekor di belakangnya. Untuk beberapa saat, kami hanya saling diam. Melewati jalan berbatu dalam kebisuan.

"Mas ...!" Akhirnya aku tak tahan juga.

Mas Danu menoleh. Wajahnya lesu dan kemerahan. Entah karena bekas pukulan, atau memerah karena rasa marah.

"Kenapa berkelahi?"

Mas Danu berpaling lagi. Tapi kulihat sekilas matanya berkaca-kaca.

"Dia itu Aan, sahabatmu kan?" Mataku menyipit.

"Iya."

"Lalu kenapa berkelahi?"

"Kurang ajar anak itu, Nang ..." Suara Mas Danu mulai serak.

Aku terus mengamatinya dari samping. Sampai akhirnya Mas Danu berhenti dan menoleh padaku.

"Dia nyoret bajuku ..." Mas Danu menunjukkan bagian lengan bajunya.

Lemas. Terlihat tulisan Aan dalam huruf terburu-buru hingga menyisakan coretan panjang di sana.

"Ada teman yang mengusulkan coret-coret baju tadi ... aku sudah bilang nggak mau ... tapi Aan malah menulis di sini ...." Setetes air meluncur dari mata Mas Danu. Lalu tetes-tetes berikutnya diiringi dengan usapan tangan menyeka sudut mata. "Bajumu kecoret, Nang ..."

Mataku ikut panas. Melihat tangis Mas Danu, juga karena mulai membayangkan. Tahun depan aku memakai tas masih bagus, sepatu masih bagus, tapi baju seragam ada tulisan nama Aan.

Ah, bisa diejek habis-habisan. Jika tahun-tahun sebelumnya hanya diejek masalah warna baju yang sudah kusam kecoklatan, sekarang ditambah dengan tulisan nama dengan coretan panjang.

"Maaf, Nang ...!" Semakin serak suara Mas Danu.

Aku menyentuh lengan bajunya. Lalu mulai menggosok-gosok perlahan.

Angin basah bertiup menandakan hujan akan segera turun. Di tepi jalan berbatu, kami berdua menahan tangis sambil berusaha menghapus tulisan nama Aan di lengan baju. - By Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll