Comblang Itu Hanya Caraku Mendekatimu - Saifullah | My Everything

Comblang Itu Hanya Caraku Mendekatimu

Aku ingin mendekati gadis itu tapi tidak punya cara. Bukan, bukan tidak pernah berusaha. Aku pernah mencoba berkali-kali, tapi dia jenis gadis yang susah didekati. Tidak seperti gadis kebanyakan, dia sepertinya memang terlalu curiga pada setiap pria.

Jadi, aku memutuskan untuk ... pakai cara comblang.

"Derra, gua mau minta tolong!" Aku duduk tepat di hadapannya.

Gadis itu hanya mendongak sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya.

"Yaelah, nih anak!" Aku menahan tangannya yang siap menyuap entah untuk yang ke berapa kali.

"Paan sih, lepasin!" Dia melotot karena merasa terganggu.

"Gua ngomong nggak didenger!"

"Iya gue denger kok, cuma lagi laper!" sewotnya.

"Comblangin gua, Der!"

"Ogah!"

Aku menatapnya. Derra teman satu kelas sejak kelas 10 dulu. Tidak terlalu akrab, hanya sesekali dekat saat ada dalam kelompok belajar yang sama. Selebihnya ... hanya teman biasa.

Wajahnya manis. Rambut panjang berponi dengan ikat ekor kuda. Tubuh tidak terlalu tinggi berkulit putih. Paling suka olahraga lari karena lari memang keahliannya. Yah, dia memang suka bolos dan seringkali kena hukuman untuk itu. Dia lari saat membolos, lalu dapat hukuman lari saat ketahuan guru. Makanya dia paling jago lari.

"Nggak mau bantu?" Aku mengangkat alis.

Dia meletakkan sendok di sisi mangkok. Lalu mengangkat wajah dan menatapku lekat.

"Memang mau dicomblangin ama siapa?"

Aku terdiam sebentar. "Anya."

Matanya menyipit. "Anya anak kelas 11 IPA 2 itu?"

"Iya."

"Kenapa minta comblangin?"

"Gua bingung cara deketinnya."

Dia mengelap bibir dengan tissue. Lalu menyedot teh botol santai.

"Masa cowok kaya lo bingung cara ngedeketin cewek. Kok gue nggak percaya ya?"

Aku tertawa kecil. "Gua cowok kaya mana memang?"

"Tukang PHP!"

"Jah ... fitnah!"

"Cewek lo aja bejibun! Tiap kelas ada!"

"Gosip itu mah!"

"Heleh ..."

"Serius, gua nggak punya cewek."

Sesaat kami hening. Mata beningnya mengamati anak-anak lain yang berlalu lalang di kantin. Lalu menyedot lagi teh botol yang kini tinggal botolnya saja.

Dia akan merogoh saku baju untuk mengambil uang tapi aku buru-buru mencegah.

"Biar gua aja yang bayarin. Tapi mau ya?"

Dia mengangkat alis.

"Entar gua kasih apapun permintaan lo lah!'

"Hmm ... okelah. Tapi nggak janji berhasil ya?"

"Sip!"

***

Aku menyimpan kontak WA Derra. Setelah aku meyakinkan tidak akan memberitahu siapapun terutama ke cowok-cowok yang sibuk menggodanya, yang rata-rata memang adalah teman-temanku.

'Ini gua, Krida'

Aku mengirimkan pesan. Terlihat dua centang itu berubah biru. Sudah dibaca, tapi tidak dibalas.

'Der, gimana?'

Tidak ada balasan. Besoknya,

'Der, gimana si Anya?'

Lagi-lagi nggak ada balasan. Ya Tuhan, Comblang macam apa yang kaya Derra?

Sehari, dua hari, seminggu kemudian masuk pesan darinya.

'Krid, gue berhasil dapetin no WA nya!'

'Yaelah, kelamaan!'

'Gimana nggak lama, orang lo aja kaya mau kaya nggak gitu!' Dia mengirim emot ngambek.

Aku melihat sebuah pesan masuk, dari no tak dikenal. Terbaca tulisan, 'Hai.' Belum sempat kuperiksa karena kemudian kembali mengetik balasan untuk Derra.

'Kaya mau kaya enggak gimana?'

'Ya gimana gue ngeyakinin Anya kalo lo suka? Lo nya aja cuek gitu!'

'Malu.'

'Halah, bullshit cowok kaya lo punya malu!'

'Jah! Gua takutnya kalo keliatan ngejar entar dia malah menghindar ...'

'Gue heran ama jalan pikiran lo.'

'Hmm ...'

'Ya udah, itu no WA nya. Sekarang ngobrol sendiri ya'

'Ya jangan lepas tanggung jawab gitu aja, Der. Sampe jadian kek!'

'Manja banget!'

'Namanya comblang ya nggak boleh setengah jalan. Ojek aja nganterin sampe ke tempat tujuan.'

'Ya kali gue disamain sama ojek. Rese' lo!'

'Mirip sih.'

'Syalan!'

Aku tertawa. Ternyata enak juga ngobrol ama Derra. Bahkan tanpa sadar kami akhirnya chat sampai lewat jam 12 malam.

'Btw lo udah WA si Anya belum sih?'

'Belum.'

'Yailah, pantesan dia bilang nggak ada pesan dari lo!'

Aku mengirim emot tertawa. Lalu membuka pesan dari no tak dikenal tadi. Sudah ada tiga pesan yang menumpuk di sana.

'Hai.'

'Ini Anya.'

'Ini no Krida?'

Dadaku sedikit berdebar. Lalu mulai mengetik balasan.

'Hai, An. Gimana kabarnya?'

'Baik. Kamu sendiri?'

'Baik. Derra bilang ... kamu mau ngomong?

'Ah iya ...'

'Ngomong apa?'

'Ehm, soal PR.'

Aku menggaruk kepala. Bingung.

'PR? Kita kan ... beda kelas?'

Mati ...! Aku menutup wajah dengan bantal.

***

"Gue nggak nyangka ya, ternyata di depan Anya lo beneran nggak berkutik!" Derra mengerutkan hidung bangirnya.

Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Pasti Anya langsung cerita ke Derra tentang Wa aneh semalem. Malu-maluin.

"Lo lagi sok polos apa gimana sih? Heran gue?" Derra menatapku.

"Sok polos gimana, ada-ada aja!"

"Karena yang gue tau lo tuh biasanya gampang banget deketin cewek, kenapa ke Anya jadi kaya ... baru pertama mau nembak cewek? Lo pura-pura ya?" Tuduhnya sengit.

"Ngapain pura-pura? Kaya kurang kerjaan!"

"Ya harusnya lo bisa lebih dari sekadar tanya PR yang absurd banget kaya semalem lah!"

"Hmm ...."

"Tanya tanya apa yang dia suka kek, ajak jalan kek ..." Derra cemberut.

Aku tak menjawab. Melambaikan tangan ke arah penjual es krim yang melintas. Lelaki tua itu bergerak mendekat dengan sepeda khas penjaja es krim berwarna merah. Lalu berhanti tepat di depan bangku panjang yang kami duduki.

"Mau rasa apa?" Aku bertanya.

Derra menoleh menatapku, ragu. "Hmm ... vanila aja deh!"

Aku memesan dua buah es krim.

Minggu pagi yang lumayan cerah. Taman kota diramaikan oleh anak-anak dan para remaja berpasangan. Sementara penjual es krim dan berbagai makanan sibuk menawarkan dagangan. 
.

Aku ingin mendekati gadis itu tapi tidak punya cara. Bukan, bukan tidak pernah berusaha. Aku pernah mencoba berkali-kali, tapi dia jenis gadis yang susah didekati. Tidak seperti gadis kebanyakan, dia sepertinya memang terlalu curiga pada setiap pria yang menggodanya.

Jadi, aku memutuskan untuk menyewanya sebagai comblang, agar kami bisa selalu bicara. Agar kami bisa chat hingga larut malam. Agar kami punya alasan untuk jalan berdua ... dan duduk sedekat ini.

Gadis itu namanya ... Derra.

By : Patrick Kellan

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah