Patrick Kellan: Pacar Online Part 1 - Saifullah

Patrick Kellan: Pacar Online Part 1

Aku membuka gawai dengan perasaan semringah. Paket internetku baru diperpanjang setelah dua hari sepi notif. Kugenggam benda pipih itu dan menatap layarnya penuh antusias.

Dengan jempol yang sedikit gemetar, media sosial yang pertama kali aku buka adalah Facebook. Benar saja. Notif numpuk. Mataku langsung tertuju pada satu pesan. Yang baru saja masuk beberapa detik yang lalu.

"Hai ... kemana saja? Kenapa tidak online?"

Senangnya. Ternyata ia memantau media sosialku.

Dengan lincah dua jempolku menari di layar ponsel. Membalas chat dengan perasaan membuncah. Senyum tipis terukir dari sudut bibir.

"Agak sedikit sibuk. Kenapa?"

Ya kali aku sibuk. Yang ada uang jajan bulanan baru juga sampai beberapa jam yang lalu ke rekeningku. Papa terbiasa memberi uang jajan sebulan sekaligus. Alasannya biar aku belajar me-'manage' keuangan sendiri. Tentu saja hal itu tidak akan aku katakan. Bagaimanapun gengsiku masih di atas segalanya.

"Ooh gitu, berarti aku hanya pelarian ya, saat kamu kesepian?"

"Lho, kok gitu?"

"Lha iya, buktinya kamu sibuk aja malah lupa aku."

Senyumku melebar. Ada desir aneh yang menyusup membayangkan ia gusar saat diabaikan.

"Wkwkwk. Yang bilang lupa siapa? Yang ada sengaja memberi ruang agar rindu ini kian membuncah. Eeaaa."

Ya salam. Ada apa dengan jempolku? Pengen kembali menghapus tulisan yang baru saja disentuh tombol kirim. Sayangnya pesan itu langsung dibaca olehnya. Buktinya titik-titik biru berjejer bergelombang tanda ia sedang mengetik balasan.

"Benarkah?"😍😍😍

"Gak."

"Gak salah lagi?"

"Ge-er."

Wajahku menghangat. Malu. Seperti maling yang ketangkap basah.

"Akuilah, Sayang. Kamu gak sendiri kok."

Aku melambung. Debar ini terasa kian nyata. Ada apa ini? Sesuatu yang tak biasa terjadi padaku.

"Maksudnya ...?"

Aku pura-pura tidak tahu. Padahal jangan tanya wajah sudah seperti apa? Yang pasti malam ini aku bisa tidur nyenyak dengan mimpi indah.

Sepi.

Aku menunggu beberapa saat, tak ada jawaban. Sudahlah! Mungkin ia tengah bercengkrama di FB bareng fans nya. Kenapa rasa panas ya? Ada apa denganku.

Aku bela-belain memangkas biaya bulanan buat beli paket data hanya demi dia, seseakun. Biarlah di ujung bulan aku tidak jajan kalau seandainya uangku habis sebelum tanggal muda. Toh bukankah ada mama yang bisa kurayu? Mana mungkin ia tega melihat anak kesayangan tak memiliki uang saku.

Lagian beberapa temanku juga melakukannya.

***

Nama penanya Mahesa. Dia salah seorang penulis di grup kepenulisan yang karyanya selalu dinantikan. Fans nya? Jangan ditanya! Setiap hari ratusan akun baru yang minta dikonfirmasi.

Pasti pada nanya, kenapa aku bisa tau. Ya apalagi kalau bukan setiap hari kerjaan rutinku stalking akunnya dia.

Rasa bangga mulai terselip saat menyadari diantara ribuan orang pemuja, ia memilihku untuk menjadi teman dekatnya. Walau kadang timbul keraguan, bahwa ia melakukan hal yang sama dengan akun lain. Selain diriku.

Secara ia seorang yang humble. Berusaha bersikap baik pada siapapun. Mungkin karena itu jugalah kenapa ia begitu disayangi. Terutama oleh mak-mak pecinta literasi. Sampai-sampai di grup kesayangan itu ia punya keluarga sendiri. Emak-emak an, kakak-kakak an, dan bahkan calon mertua. Heleeeh!

... dan aku?

Dedek-dedek an tersayangnya. Eeeaaa. Jangan ada yang cemburu.

Perkenalan kami berawal sejak aku baru bergabung di grup yang sama. Itu juga karena temanku yang membagikan tulisannya. Aku baca. Dan langsung jatuh cinta. Setiap kalimat yang ia tulis terasa sangat mengena. Hingga tanpa disadari terkadang aku merasa menjadi tokoh itu sendiri. Aku jadi baper dan mupeng. Menjadi penggemar yang mendapat perhatian lebih darinya pasti diimpikan banyak orang.

Aku mulai memikirkan bagaimana cara menjadi seseakun juga baginya. Hal yang pertama aku lakukan adalah bergabung di grup yang sama. Kemudian dengan perasaan antusias add akunnya dia. Tidak sampai lima menit permintaan pertemananku dikonfirmasi.

We ow we!

Emejing kan? Seseakun sekelasnya gitu lho. Ternyata ia lebih, lebih, lebih dan lebih ramah dari yang aku bayangkan. Mulailah kami berbalas chat. Kadang di postingan aku, kadang di postingan dia.

'Baru juga merem, eh udah azan subuh aja. Bakal kena setrap dah nih'. Statusku pagi ini di dinding FB.

Baru juga terkirim, titik-titik biru menari di layar androidku. Pasti dia. Sebuah komentar muncul, tak salah lagi. Emang dia.

"Kenapa baru merem?"

Kebiasaannya komen itu gak pernah panjang apalagi lebar. Bahkan kadang terkesan jutek. Untung aja di komen ia tambahin emot senyum, kalau gak pasti aku udah salah mengerti.

"Kepooo,"' balasku.

"Pasti mikirin Abang, kan?"

Tuh, liat kan. Ge-er nya kumat.

Aku membalasnya dengan emot melet. Lalu ia balas dengan emot menangis. Aku jawab lagi pakai emoticon ketawa ngakak. Lantas melemparkan ponselku ke atas ranjang. Buru-buru menyambar handuk dan lari ke kamar mandi.

Gak mau telat tentunya. Jam pertama pelajaran si killer Fitto. Guru kimia jebolan salah satu universitas ternama di Indonesia. Orangnya muda, tampan dan berkharisma. Sayangnya ia terlalu jutek. Padahal sedikit saja ia bersikap ramah, dijamin banyak yang akan klepek-klepek sama dia, termasuk aku.

Baru menjadi salah satu staf tenaga pengajar di sekolahku pas awal semester ini. Konon masih tenaga honorer.

Ah, sudahlah! Kenapa malah jadi bahas dia.

Mandi kilat dan dandanku selesai. Dengan setengah berlari aku menuruni anak tangga. Di ruang tengah papa, mama dan adikku telah menunggu di meja makan.

"Pagi Ma, Pa, Adit," sapaku.

Lantas menarik kursi di samping Adit. Bersiap menikmati sarapan pagi yang telah tersedia.

"Pagi ...," sahut mereka serentak. Kayak paduan suara aja.

"Papa ada meeting pagi ini, jadi buru-buru. Kalian berangkat berdua aja. Kamu bawa motor, Dit!" Papa memberikan instruksi disela sarapannya.

"Serius, Pa? Assyik ...." Adit bersorak girang.

"Jangan macam-macam kamu! Pulang sekolah langsung pulang." Mama mendelik.

"Eelaah, Ma."

"Adit!"

"Ya deh, Pa. Iya. Lagian mau kemana juga. Ada si rese ini yang selalu ngekor." Adit menyikutku.

"Jan kurang ajar lo. Gini-gini gue kakak lo tau." Aku mendengkus.

"Eelaah, cuma beda setahun doang."

"Setahun lama, kacrut. Coba aja lo itung berapa hari."

"Emang gue kurang kerjaan."

"Emang kerja lo apa? Kok gak terima dikategorikan kurang kerjaan?" cibirku.

"Sudah, sudah! Kalian ini ... sana berangkat! Telat aja ...." Mama menengahi.

Papa hanya geleng-geleng kepala. Heran mungkin dengan kelakuan anaknya sendiri. Padahal saban hari menonton hal yang sama. Kenapa mesti heran coba. Dasar orang tua sok tua. Eh ... emang tua ya?

Setelah berpamitan, aku dan Adit langsung meluncur ke garasi. Mengenakan helm masing-masing. Dan adik semata wayangku itu langsung tancap gas.

"Pegangan yang kuat ya, Kak! Gue langsung ngebut nih!"

"Lo ngebut gue jitak!"

"Kak, lo mau kita telat?"

"Jangan mencari alasan! Atau ini hari terakhir lo bawa motor."

"Ah ...lo Kak, gak assyik."

"Vomat! Ayo jalan!"

"Penakut," cibirnya.

Aku hanya diam. Memang benar, sejak melihat lakalantas yang terjadi di depan mataku beberapa bulan yang lalu membuat nyaliku langsung ciut jika sudah berurusan dengan kendaraan yang berlalu lalang. Adit tau itu dan ia malah sengaja menggodanya. Kacrut emang!

Tepat motor Adit memasuki area parkir, bel bergema. Setelah memberikan helmku pada Adit, aku langsung berlari ke kelas. Sudah lantai atas paling ujung lagi. Gimana gak makin kurus saja aku dari hari ke hari.

"Haaahhh."

Aku menarik napas lega sesampai di atas. Ternyata si killer yang super duper rajin belum terlihat batang hidungnya. Syukurlah! Semoga aja ia gak masuk sekalian.

Dasar doa gak benar, mana mungkin diijabah. Baru juga pantatku menyentuh kursi ....

"Ehem ... selamat pagi semua. Serangan lima menit di awal pelajaran."

"Whatt!" Satu kelas berkoar.

"Cepat ... cepat!"

"Yah ... Pak, jangan sekarang ya?" Aku memberanikan diri.

Dia hanya menatap tajam tanpa berniat menggubris. Ditatap sedemikian rupa, nyaliku ciut juga.

Dasar kulkas! Aku membatin. Lalu dengan ogah-ogahan menerima selembar kertas HVS berupa lembaran soal. Lalu mulai mengerjakan dua soal ulangan dadakan itu.

Eelaah! Semalam kan aku gak belajar. Sibuk chating dengan seseakun hingga hampir larut malam. Setelah chat juga gak bisa langsung tidur, kantuknya langsung ngayap entah kemana. Alhasil aku baru tertidur menjelang pagi.

"Tinggal sepuluh detik!"

Waduhhh! Tuh ultimatum bikin panas dingin. Aku mengerjakan cepat semampuku. Untung aja pintar, jadi soal yang ia berikan kali ini 'kacangan' bagiku. Ini gak sombong lho ya. Gini-gini aku salah satu murid yang diperhitungkan di kelas. Bahkan di sekolah.

Persis di kata 'stop' yang ia ucapkan aku selesai. Lega! Entah bagaimana hasilnya itu urusan belakangan.

Aku melenggang bangkit mengumpulkan semua lembar jawaban. Dasar sok ngatur. Seenaknya aja main perintah, mentang aku yang duduk paling depan.

Ada perasaan risih saat aku merasa dengan sudut mata, ia berulang kali melirik padaku yang tengah berkeliling dari bangku ke bangku.

'Jangan-jangan ia naksir'. Eeaaa ...!

By : Patrick Kellan & Yanti Anandya

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll