Patrick Kellan: Pacar Online Part 3 - Saifullah

Patrick Kellan: Pacar Online Part 3

'Dek, ketemuan yuk!'

Ketemuan? Pengen sih. Tapi gimana ya? Secara kan aku belum pernah liat mukanya kayak apa. Beberapa kali minta foto gak pernah dikasih. PP nya kalau gak foto artis ya gambar buku. Yaa elaaah, masa mau kencan ama buku kalau ama artisnya sih mau banget.

'Gimana ya, Bang? Aku ada ekskul, pulangnya bisa menjelang Magrib'.

Akhirnya aku punya alasan untuk menolak. Ingat lho, cuma alasan!

'Oh ... gitu, ya udah. Mungkin lain kali ya?'

Kok rasanya gak tega ya? Dia kecewa gak sih? Ah, bomat lah! Siapa suruh misterius. Aku kan gak mau ambil resiko. Ya kalau orangnya cakep, kalau cuma pas-pasan. Atau mungkin juga jelek ... eh, kan gak banget.

'Maaf' ya, Abang. Lope lope deh buat Abang'.

Lalu tambahin emot cium, mayanlah agar ia gak terlalu kecewa. Haks ... berasa jadi cewek ganjen banget aku.

Tapi mau bagaimana lagi, rasanya hati ini memang gak pernah rela membuat ia kecewa. Padahal dengan Angga sendiri aku gak pernah seberani itu. Aneh memang. Mungkinkah aku jatuh cinta atau mungkin hanya sekedar nyaman saat chatting dengannya?

Entahlah!

***

Hari ini jam pulang sekolah lebih awal, karena siangnya ada rapat komite sekolah. Dengan diantar Adit aku mampir ke Gramedia. Ada beberapa buku pelajaran yang ingin aku beli. Sekalian pengen nyari buku Abang Online tersayang. Katanya buku terbarunya sudah dipajang di sana.

Assyik! Untuk saat ini aku lebih memilih kencan dengan bukunya saja. Miris ya?

"Gue tinggal ya, Kak."

"Mau kemana lo?"

"Ada janji ama temen."

"Terus ntar gue pulang ama siapa?"

"Gampang lah! Lo kan bisa telpon, ntar gue samperin."

"Oh ya udah. Ati-ati."

"Ye."

Adit ngacir dengan motor besarnya. Aku melangkah dengan santai. Beberapa remaja seusiaku atau mungkin lebih yang sedang nongkrong di kafe depan Gramedia bersuit-suit menggoda.

"Sendirian cantik, boleh dong Abang temenin?" Salah satu dari mereka nyeletuk.

Aku menoleh dan menatap tajam.

"Wuistt, galak ternyata." Lalu mereka tertawa ngakak.

Dasar!

Tanpa memedulikan mereka aku langsung masuk. Menyusuri rak demi rak untuk mencari buku yang dibutuhkan. Saat ingin meraih buku yang aku mau, di balik rak aku melihat Pak Fitto. Ngapain si killer itu di sini?

"Eheem ...."

Sengaja cari perhatian. Eelaah, kenapa jadi alay gini. Mana capernya ama guru lagi. Dia langsung mengangkat kepala, di saat yang sama aku pura-pura fokus ke rak buku. Seolah tidak tau ia ada di sana.

Menunggu beberapa waktu. Kenapa gak ada yang menyapa? Aku kembali melihat ke balik rak. Tidak ada sesiapapun. Kemana menghilangnya si killer itu.

Saat aku celingak-celinguk, tau-tau ia sudah ada di samping.

"Hmmm ... nyari siapa?" Ia menatap datar.

Waduhhh! Mukaku mungkin sudah seperti tomat. Orang panasnya aja berasa sampai ke kuping. Kacrut banget kan? Sempat-sempatnya ia berpikir untuk mengerjaiku.

"Bapak ngapain di sini?"

Bukan Vanessa namaku jika tidak bisa langsung menguasai keadaan.

"Biasanya orang ke Gramedia ngapain?"

Yaaah, ia malah nanya balik. Aku melirik buku yang ia pegang. 10 Cara Menaklukan Gebetan.

"Ciee ... Bapak lagi jatuh cinta ya?" ujarku menggodanya.

Aku mati-matian menahan untuk tidak tertawa. Wajahnya terlihat lucu sekali saat kepergok seperti itu. Buku yang ia pegang buru-buru ditaruh lagi di rak. Gantian, sekarang wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.

"Apaan sih kamu." Ia langsung berbalik.

"Eh Pak, tunggu!"

"Apa!"

Dih, galak amat nih orang.

"Bapak sendirian?"

"Emang kamu liat berapa orang?"

'Ya Tuhan, sabarkan Hayati'.

Aku diam, sengaja tak menggubris. Namun berusaha mensejajarkan langkahnya yang panjang keluar toko. Gapapa deh belanjaku dipending asal bisa pepetin si killer.

Entah kenapa senang aja melihat si killer itu salting.

'Andai si killer ini Mahesa'.

Entah karena lelah dengan sikapku atau mungkin pada akhirnya ia merasa nyaman, Pak Fitto mulai sedikit ramah. Perlahan obrolan yang tadinya kaku pun mencair. Hingga tak terasa kami telah menghabiskan waktu bersama selama beberapa jam.

Kencan tak terencana.

"Yuk, pulang!"

"Bapak duluan, saya nunggu adik saya jemput."

"Yakin?"

"Hu'um." Aku mengangguk.

"Sayangnya saya yang tidak yakin."

"Maksud Bapak?"

Ia tidak menjawab. Entah ia sengaja atau tidak, tangannya meraih pergelangan tanganku dan menariknya menuju parkiran.

Lagi-lagi aku terpaksa mengekor. Ia menyodorkan helm untuk kupakai. Agak heran juga sebenarnya, kenapa ia bawa helm lebih. Padahal kemarin hanya satu, untuknya sendiri.

Motor menyelip dengan lincah diantara banyaknya kendaraan yang saling berdesakan. Memang menjelang sore hingga Maghrib itu jam nya macet dimana-mana.

45 menit kemudian motor Fitto berhenti tepat di depan pagar rumah. Aku turun dari boncengan dan memberikan helm yang baru saja aku lepas padanya.

"Masuk dulu, Pak."

Ia mengangguk sambil menerima helm yang aku sodorkan. Tumben amat. Padahal aku cuma basa-basi.

Aku melenggang masuk rumah diikuti Fitto. Sepi. Seperti biasa hanya ada si Mbak yang tengah menyetrika di ruang belakang. Papa mamaku jangan harap bisa melihat mukanya pada siang hari. Hampir setiap hari mereka pulangnya menjelang Magrib.

"Duduk dulu, Pak!"

"Gak usah. Terima kasih, sepertinya gak ada siapa-siapa di rumah," sahutnya. Mungkin risih juga.

"Yah ... memang beginilah, Pak."

"Ya sudah, saya balik ya."

"Terima kasih, Pak."

Setelah Pak Fitto pulang, aku langsung masuk kamar. Menghempaskan tubuh di ranjang. Masih lengkap dengan seragam kebanggaan. Kerena kecapean aku tertidur.

Bunyi bel bergema beberapa kali. Kenapa tak ada yang bukain pintu? Dengan malas-malasan aku bangkit, mengucek mata berkali-kali. Pandangan mataku tertuju ke jam dinding gambar Minnie mouse di sisi ruangan sebelah kanan.

7.00

"Ya Tuhan! Aku kesiangan."

Dengan tergesa-gesa aku berlari ke luar kamar menuju kamar Adit. Kosong. Kurang asem tuh anak. Masa aku gak dibangunin. Ia malah berangkat sendirian ke sekolah. Papa mama juga. Gak sadar apa anaknya masih tidur satu orang.

Sementara bell kembali berbunyi nyaring. Siapa juga yang bertamu pagi-pagi. Sambil ngomel panjang pendek aku melangkah menuju pintu keluar.

"Lo, Dit?"

Mataku membulat sempurna. Kenapa tuh anak balik lagi? Jemput aku? Gak mungkinlah! Ia gak sebaik itu. Eit tunggu, ia bawa teman baru lagi? Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan wajah lumayan manis. Kebiasaan nih anak. Bawa teman ke rumah gak kenal waktu. Mana teman-temannya pada rese. Gak afdhol kalau gak gangguin kakak tersayangnya ini.

Resiko orang cantik.

"Nape lo, Kak? Kok bengong gitu?" ujarnya sambil melangkah masuk diikuti tuh cowok.

"Gimana gak bengong? Lo kaga bangunin gue, kan gue jadi ga sekolah hari ini," sahutku sewot.

Adit berbalik, menatapku bingung. Lalu saling pandang dengan temannya.

"Gak sekolah? Bukannya lo baru pulang, Kak? Ntu seragamnya aja belum dilepas," sahut Adit dengan bibir dimonyongkan.

Aku menunduk, menatap tubuh sendiri. Benar. Aku masih berseragam. Jadi ...? Adit dan temannya tertawa ngakak. Aku mendelik malas.

Ya Tuhan! Ternyata ... ini masih hari yang sama.

Duh ... malunya.

By : Patrick Kellan & Yanti Anandya

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll