Patrick Kellan: Pacar Online Part 5 - Saifullah

Patrick Kellan: Pacar Online Part 5

'Bang ....'

'Hmmm ....'

'Kita ... di dunia nyata, pernah ketemu gak sih?'

Aku terdiam. Pernah ketemu? Pernah. Deket banget malah. Bahkan aku pernah liat muka berantakan Nessa pas bangun tidur. Dengan rambut acak-acakan dan mulut masih ileran.

'Abaaaang ... ih!'

Aku tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Lalu menaruh gawai di atas nakas dan melangkah keluar.

Laper. Makan dulu lah.

***

"Gimana kata dokter? Kapan bisa pulang?" tanyaku setelah mengupaskan apel untuk Alya.

"Hari ini udah boleh pulang kok," jawab gadis bertampang ceria meski masih tampak pucat itu.

"Abis ini rencananya kapan masuk lagi?"

Matanya mendelik, tahu sedang disindir.

"Nggak mau."

"Kok nggak mau? Kan enak bisa tidur seharian." Aku masih meneruskan.

"Iya, maaf deh." Matanya meredup. Merasa salah mungkin.

Sesaat hening di antara kami.

"Makasih ya," ucap Alya pelan.

"Atas?"

"Perhatian kamu."

"Yaelah, Al. Kita kan temen lama," sahutku cuek.

Alya menarik napas, lalu menghembuskannya sambil berpaling keluar lewat jendela ruangan.

"Tapi ... kadang memang enakan sakit begini sih."

Aku menoleh, lalu menyipit tak setuju dengan pemikiran bodohnya.

"Kenapa? Karena cuma dengan begini ... kamu benar-benar ada."

Kami saling bertatapan.

Aku tahu perasaan Alya. Bahkan sejak pertama mulai tumbuh binar di mata itu. Tapi yang namanya rasa cinta jelas tak bisa dipaksa tumbuh di hati yang mana.

Kami teman dekat, dan hanya sebatas itu. Menurutku.

"Cepet sembuh. Anak-anak nunggu kamu." Akhirnya aku tersenyum. Lalu menyodorkan potongan apel ke arahnya.

Alya tersenyum. "Udah dua hari ini gurunya malah bolos di sini."

"Haha. Karena mata pelajaranku kan nggak wajib."

"Tapi nyatanya banyak yang suka." Alya menahan tawa, "atau jangan-jangan kelas penuh karena siapa gurunya?"

Aku tertawa sambil menggelengkan kepala.

.

'B-O-S-A-N'

Terbaca status Nessa siang ini. Anak itu kebiasaan memang, masih di sekolah tapi bawa-bawa hape. Ah iya lupa, ini kan hari sabtu! Libur dia.

'Kenapa?' Akhirnya aku mengirim pesan. Sambil menumpangkan kaki di atas sofa, sementara pembawa acara berita siang di tv mencuri pandang berkali-kali. Emang enak kaga diliat? Kesian!

'Gak.' Pesan balasan datang darinya.

'Kenapa?'

'Dih, maksa.'

'Jawab Abang. Kenapa?'

'Kangen Abang.'

Yaelah ... ternyata. Aku mengulum senyum.

'Nes.'

'Ya, Bang?'

'Beneran kangen ama Abang?'

'Hu'um.'

'Apanya yang dikangenin? Emang pernah ketemu?'

'Itu pertanyaanku kemaren, Bang.'

'Hahaha.'

Sesaat chat tak lagi berbalas.

'Mmm ... Bang!'

'Ya.'

'Tapi ... pengennya sih udah.'

Memang udah, Nes. Kamu aja yang kurang peka. Aku berhenti sebentar. Berpikir. Menimbang tentang seberapa besar risiko bila nanti akhirnya semua terbongkar. Tapi ... coba aja lah.

Akhirnya aku mengetik sebuah pesan.

'Hari minggu kita ketemuan, mau?'

Lama, tak datang jawaban darinya. Mau nolak lagi mungkin?

"Mau deh, Bang. Di mana?"

Aku tersenyum.

'Mau nonton nggak?'

'Mmm ... nonton?'

'Jangan nonton deh. Di tempat terang aja ketemunya.'

'Hahaha!'

'Dih, kok ketawa?'

'Kenapa? Kamu takut ya?'

'Bukan takut. Cuma waspada. Abang kan omes banget jadi orang!'

'Hmm ... ya udah lah. Gimana kalau di Gramedia?'

Gramedia? Ide bagus tuh.

'Oke. Gimana aku bisa tau kalo itu Abang?'

Hening untuk beberapa saat.

'Kita sama-sama bawa buku terbaru Abang, gimana?' Aku mengusulkan.

'Setuju.'

***

Hari minggu.

Sengaja datang lebih cepat ke tempat janjian biar bisa mengawasi kedatangan Nessa dari tempat tersembunyi.

Melangkah melewati rak demi rak yang berjajar rapi di gedung beraroma buku baru itu. Lalu mulai memilih beberapa buku yang penulisnya adalah teman-teman sendiri.

"Pak?" Tiba-tiba ada seseorang menyapa.

Aku menoleh.

"Nes?"

"Hehe ... Bapak hari minggu kok kencannya sama buku?" Seperti biasa, gadis berambut panjang itu langsung menggoda khas abg alay.

"Ya sama kan?" Aku menaikkan alis.

"Eh, iya ..." Dia menggaruk kepala.

Gadis itu pura-pura menunduk memilih beberapa buku. Jelas aja keliatan beud pura-puranya, kan yang dipilih-pilih buku nama bayi. Ada-ada aja!

"Oh ya, Pak. Mau nanya masalah PR kemaren ..." Gadis itu mendongak, menatapku.

"Ya?"

"Masalah dialog tag itu ... kurang paham."

"Gimana mau paham, tiap dijelasin yang dibaca bukan buku tapi muka gurunya."

Matanya mengerjap, malu dan kaget jadi satu. Lalu tertawa kecil sambil menutupi wajahnya yang merona merah.

"Duluan, Nes."

Dia masih menutup wajah.

"Agnes!"

"Eh, ya Pak?"

"Duluan!"

"Ya Pak!"

Aku menggeleng pelan, lalu melangkah mendahului. Sempat menatap jam yang tertera di layar gawai. Ternyata Nessa udah telat setengah jam. Cewek, kebiasan.

Aku melangkah santai menuju parkiran menuju motor besar di ujung sana. Tapi mataku seketika menangkap sosok yang memang sudah sangat familiar dalam angan dan ingatan.

Nessa.

Anak itu terlihat baru saja turun dari motor ojol yang ditumpanginya. Lalu berjalan tergesa ke arah Gramedia.

Aku menahan langkah sambil terus memperhatikan bagaimana gadis itu berjalan mengendap-endap sesaat setelah tahu ada aku di situ.

"Nes!"

Dia berhenti. Kkemudian berbalik pelan khas pencuri yang baru saja tertangkap basah.

Gadis itu mengenakan celana jeans dan baju lengan panjang yang membuatnya terlihat cantik dan dewasa. Sesaat, aku ingin memberitahu bahwa kami memang seharusnya di sini. Tapi ....

"Ya?"

"Ngapain di situ. Kek maling aja."

"Kamu sendiri ngapain di sini?"

"Jaga parkir!" Aku menyahut sekenanya. "Kamu sendiri ngapain?"

Dia mengulum lidah, lalu melirik sekitar menandakan bingung mencari jawaban. "Ini, eh ... anu."

"Kok gugup? Hayo ... janjian ya?" Aku menggoda. Mungkin bilangnya nanti saja setelah kami lebih banyak bicara.

"Dih ... enggak kok!" elaknya, "etapi ... jangan bilang-bilang Adit ya aku dari sini!" Akhirnya dia mengungkap kegelisahan.

Tawaku tersembur keluar. Setakut itu dia ketahuan ama adiknya, Aditya Piyan.

Nessa melirik jam tangan. Wajahnya terlihat gelisah, gugup atau sedang penasaran? Entah. Sedangkah aku mulai bingung harus mulai memberitahunya dari mana.

"Kenapa, Nes? Kok keknya gelisah gitu?" pancingku.

"Gak."

"Kamu ada janji kan?"

"Gak sih. Cuma ...."

"Cuma ...?"

"Ak ... aku."

"Ya ...?"

Tepat pada saat aku membuka mulut untuk bicara, saat muncul sosok itu. Sosok seorang pemuda yang mungkin seusia denganku.

Tatapan mereka bertemu. Tepat di hadapanku.

Dia menatap Nessa tajam. Tanpa senyum, dan aku tahu apa artinya. Detik berikutnya pemuda itu berlalu dengan tangan mengepal.

Ada rasa panas yang mulai menusuk dalam dada. Apalagi saat melihat kaca-kaca yang mulai menggumpal di mata Nessa.

"Kamu kenapa, Nes?"

Gadis itu menggeleng. Cepat, salah satu jarinya mengusap sudut mata. Lalu dengan langkah panjang meninggalkanku tanpa pamit.

"Nes ... tunggu!"

"Apalagi sih?!"

"Lho, kok jadi ngambek gitu? Memang ada yang salah?"

"Gak ada. Cuma lagi bad mood aja."

"Kok bisa ya?"

"Ya bisalah!"

"Tiba-tiba gitu?"

"Udah ah! Mau pulang."

"Diantar ya?"

"Gak usah!"

"Nes, kamu mau pulang bahkan sebelum ketemu sama Mahesa? Jadi sebenernya kamu janjian sama siapa?!"

Aku berseru. Sayangnya suaraku jelas kalah dengan suara deru mesin kendaraan yang melintas di jalan raya.

Langkahnya makin cepat. Lalu menghilang di balik mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan.

Sialan memang!

Aku menendang tepi trotoar dengan kesal.

Nessa pulang gara-gara liat si tolol itu. Memangnya siapa dia?

Aku mengusap wajah.

Siapa dia?

***

Aku membuka timeline. Entah kenapa melihat setiap status yang lewat seperti sedang menertawakan.

'Semanis apapun si maya, tetap saja si nyata lebih membuat bahagia.'

Melintas salah satu status yang bener-bener kurang ajar. Entah dari akun yang mana, tapi memang harus dikasih pelajaran!

'Eh ketemuan yok!' Aku menulis komentar.

'Bang Mahes? Ngajak ketemuan? Yakin?' Akun itu membalas diakhiri dengan emot tertawa yang tambah bikin sakit mata.

Ngeledek banget!

'Jadi lu tau di maya dan di nyata itu ane sama manisnya!'

'Eaaa!'

'Eaaa ... mau dong!'

'Swiwit swiwit!'

'Bang, gak perlu sampe ketemuan. Pajang aja foto aslinya. Biar kita liat manisnya dari mana.'

'Iya, Bang ... pajang foto gih!'

Elah malah tambah panjang godaan menyakitkan.

Merasa kalah, akhirnya aku memilih posting status bernada sindiran.

'LADA.'

Detik kemudian muncul banyak komentar.

'Merica.'

'Bubuk!'

'Bumbu dapur.'

'Masak yok, Bang!'

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll