Patrick Kellan: Pacar Online Part 6 - Saifullah

Patrick Kellan: Pacar Online Part 6

Setelah status LADA yang ia posting membuat mata dan hatiku perih. Bahkan magg ku pun ikut-ikutan kambuh, Mahesa menghilang. Aku bolak-balik nge-cek gawai cuma buat memastikan lampu hijau di sudut kanan bawah PP nya menyala.

Nihil.

Sejak akunku berteman dengan akunnya, baru kali ini ia offline begitu lama. Sepertinya ia benar-benar marah.

"Abaaaang ... ayo dong, buka FB nya!" Aku gregetan sendiri.

Panik. Pen guling-guling, koprol bahkan salto. Gak ngerti apa hatiku remuk bagai sambalado yang baru saja diulekin emak-emak penuh greget. Tatapannya itu saat bertemu di parkiran Gramedia kemarin benar-benar membuat galau.

"Ih ... Abaaaang." Aku kembali mewek.

Aku terbiasa denganmu
Meski maya, rasaku ini nyata
Senyata dirimu yang kemarin nyaris kutemui

Kau tahu Mahesa?
Bukan cuma rasaku, kewarasanku pun telah kau rampas
Jangan abaikan aku seperti ini
Aku bisa mati!

Hei. Barusan yang aku ketik apa? Rangkaian puisi? Aku menatap layar ponsel tak percaya. Ternyata jatuh cinta dan patah hati bisa membuat seseorang menjadi penyair dadakan. Padahal biasanya nulis satu kalimat puitis saja aku tak bisa. Nilai bahasa Indonesiaku payah.

Kirim, gak, kirim, gak. Gak deh! Bisa geger sejagat komunitas kalau aku kirim puisi seperti ini. Apalagi nama Mahesa ada di sana. Dia kan kek emak bebek. Bedanya bebek sungguhan diikuti anak-anaknya. Sementara Mahesa diikuti emak-emak yang kepo maksimal dengan segala hal yang berkaitan dengannya.

Akhirnya coretan berharga itu aku biarkan begitu saja. Malah melemparkan gawai ke ranjang. Kembali melanjutkan mewek yang tertunda. Eet ... dah!

***

"Si Mbak bilang kamu seharian kemarin nangis di kamar, ada apa?" Mama menyapa saat aku baru saja menginjakkan kaki di ruang makan.

Matanya menyipit menyelidik. Diikuti lirikan sang papa. Eelaah! Mereka memang dua sejoli yang tak terpisahkan. Bahkan mau ngomelin anaknya pun mereka kompakan.

"Hmmm ... kenapa, Nes?" tukas papa.

Nah, apa kubilang.

"Siapa yang nangis?"

"Itu matamu, kenapa jadi sembab begitu?"

"Mungkin karena kebanyakan tidur kali, Ma."

"Tapi, Non, Kemarin itu ...." Ucapan Mbak Arum langsung terhenti saat mendapat tatapan tajam dariku.

"Si Mbak salah dengar kali. Kak Nessa nangis ama nyanyi kan kaga ada bedanya. Sama-sama cempreng." Adit nyeletuk. Lalu ngakak sendiri.

"Gak lucu!" Aku mendelik.

"Tapi tampang lo lucu. Sumpah!" Dia kembali tertawa ngakak.

"Diam lo, bebek kepret!"

"Lo sambal cobek!"

Mendengar kata 'sambal' aku kembali teringat status LADA. Nafsu makanku langsung raib. Aku segera bangkit, meninggalkan piring yang nyaris belum tersentuh isinya.

"Aku selesai."

"Nessa ... sarapannya belum habis," ujar mama.

"Udah kenyang, Ma. Nessa berangkat ya, Ma. Pa."

Setelah mencium tangan kedua orang tua itu aku melenggang menuju garasi.

"Tiga menit lo kaga nongol juga, nih motor gue bawa sendiri," teriakku pada Adit.

"Sabar napa, Kak!" sahutnya dengan mulut penuh.

Lalu buru-buru meraih tas ransel dan berpamitan pada papa dan mama. "Emang enak gue kerjain." Aku menggumam. Gondokku ama dia belum hilang. Kalau saja ia tidak pernah mengajak Rian ke rumah ini, tentu janji kencanku dengan Mahesa sukses. Menyebalkan!

Turun dari motor di parkiran sekolah di ujung sana aku melihat Mahesa eh ... maksudku Fitto yang juga baru datang. Sadar akan kehadiranku ia melirik sekilas, lalu buang muka. Dan berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi.

Hatiku teriris. Perih. Lukaku kembali dilukai. Kalau saja ini bukan lingkungan sekolah.

"Eh, Kak. Lo kenapa sih? Perasaan dari tadi bengong mulu!" Adit menyikutku.

"Gue banyak ulangan hari ini."

"Eelaah, Kak. Lo pan bintang sekolah, masa gitu doang galau."

"Tumben nih adik cakep bikin hati kakaknya senang."

"Lebay lo. Dah ah, gua ke kelas."

Aku terkekeh menatap punggung Adit yang berlalu. Lalu menarik napas panjang. Untung hari ini tidak ada mata pelajaran Pak Fitto. Rasanya belum sanggup melihat tatapan matanya yang setajam pedang.

Seharian ini aku benar-benar tidak bisa konsentrasi. Rasanya duduk di kelas juga percuma. Tak satu mata pelajaran pun yang singgah di kepala. Yang ada di otakku cuma satu kata. Mahesa.

Bagaimana caraku menjelaskan pada si killer itu bahwa apa yang kemarin ia lihat tidak seperti apa yang ia pikirkan?

'Lha, emang lo tau apa yang ia pikirkan?'

***

Sore ini aku selonjoran santai di teras rumah dengan headset yang terpasang di telinga. Memejamkan mata menikmati lagu-lagu Korea populer favoritku. Mayan buat mengusir gundah yang berkepanjangan. Setidaknya untuk beberapa waktu. Hingga suara deru motor yang memasuki pekarangan memaksaku membuka mata.

Rian.

Laki-laki itu turun dari motor besarnya. Membuka helm power ranger yang menutupi seluruh wajah. Seperti biasa rambutnya yang agak gondrong diikat rapi ke belakang hingga wajahnya terlihat jelas dan 'laki-laki' sekali. Gayanya cukup memikat dengan celana training dan jaket kaos yang dikenakan. Kakinya dibungkus dengan sepatu futsal.

Dilirik dari raut wajah, jelas ia lebih dewasa dari Adit. Bahkan dariku. Ya iya lah, aku dan Adit kan cuma beda satu tahun. Tapi kok mereka bisa begitu akrab ya? Dengan sifat yang jauh berbeda pula. Adit pecicilan, sesuai dengan usia yang masih mencari jati diri. Sementara dia lebih kalem dan sedikit pendiam.

Saat tanpa sengaja menatapku ia menyunggingkan senyum. Manis. Hmm ... lumayan juga buat pelarian dari Pak Fitto yang lagi ngambek, eh!

'Hei, ada apa denganku? Jangan bilang patah hati bisa membuat seseorang jadi mata keranjang.'

"Hei." Ia menyapa sambil mendekat.

"Hai." Aku bangkit dan menurunkan kedua kaki dari bangku.

"Adit masih tidur." Aku memberi tahu tanpa diminta.

"Ya udah biarin! Nanti main futsalnya habis Maghrib kok."

"Oh ...." Aku hanya mengangguk. Agak kikuk juga berduaan dengannya setelah peristiwa kemarin. Sesaat kami saling diam hingga ...

"Pacarmu ya?"

"Hah ... siapa?" Aku menatapnya sedikit bingung.

"Yang kemarin."

"Eh ... oh ... anu."

Pertanyaannya lumayan membuatku gugup. Terlebih sorot matanya yang tajam seolah menguliti. Seakan mencoba membaca apa yang tersirat.

"Lo gak bilang apa-apa ke Adit kan?" Aku malah bertanya khawatir. Takut ia sama embernya dengan adik semata wayangku itu.

"Berarti benar?" Dia memastikan.

Yaah! Malah balik nanya.

"Apanya?"

Bukannya menjawab, ia malah menatap lama. Aku membuang muka jengah.

"Gak lah." Akhirnya aku menjawab sendiri pertanyaanku.

"Ooh," sahutnya. Tapi terkesan tak percaya.

"Dia gebetan gue." Aku menjelaskan. Lagian buat apa juga aku bohong. Dia telah terlanjur banyak tahu tentang itu.

Ia menatapku sekilas, kemudian mengarahkan pandangannya ke jalan raya dengan ekspresi yang aku nggak ngerti apa maksudnya.

"Dan gara-gara lo dia marah besar sama gue. Ia salah paham melihat kebersamaan kita waktu itu. Ngeliat muka gue aja sekarang dia males," lanjutku.

Lalu bias itu kembali menghampiri. Ah, seorang Vanessa kenapa bisa jadi cengeng begini sih. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, agar bias itu tidak berubah menjadi embun.

"Bahkan Facebook-nya pun nggak aktif," bisikku nyaris untuk diri sendiri. Sedih.

Tapi aku yakin Rian mendengarnya karena ia melirikku sekilas dan kembali buang muka.

Cowok itu diam tanpa menanggapi apapun. Hanya sesekali terdengar menarik napas panjang. Mungkin prihatin denganku. Atau malah merasa bosan dengan curhatanku yang gak penting baginya.

"Rian, lo sendiri punya pacar gak?"

What?!

Ini mulut kenapa jadi enteng banget. Melihat pandangan matanya yang sulit diartikan, aku buru-buru meralat.

"Ga usah dijawab. Kaga penting juga. Oh ya, gue percaya sama lo. Jadi kalo sampai Adit tau tentang ini berarti lo yang bocorin."

"Maksudnya apa?" Matanya menyipit. Tersinggung dengan caraku sepertinya.

Aku hanya mengangkat pundak, lalu bangkit dari duduk.

"Gue panggilkan Adit ya?"

Dia nggak jawab. Tapi saat aku akan beranjak, terdengar ucapannya pelan.

"Biar ini jadi rahasia kita berdua."

Aku menoleh dan tersenyum lebar. "Bagus. Jangan sampai Adit tau kalo selama ini gue naksir guru sendiri."

Rian menatapku, lama. Kemudian berkedip pelan. Mengiyakan.
Ayo Donasi
Jika artikel ini bermanfaat, berikan donasi Anda melalui atau • Donasi tersebut akan digunakan untuk memperpanjang domain www.saifullah.id

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah