Cerita Hidup: Bias Rindu - Karya Naya R - Saifullah

Cerita Hidup: Bias Rindu - Karya Naya R

Cerita Hidup: Bias Rindu - Karya Naya R
Hanafi menatap Datuak Sutan Bandaro dengan dada bergemuruh. Ucapan mamaknya barusan bahwa Hanafi harus menikahi Arini benar-benar seperti petir di siang bolong. Sementara Halimah, Umi Hanafi hanya bisa menundukkan wajahnya semakin dalam. Tidak jauh berbeda dengan Arini, gadis cantik itu hanya bisa meremas jari tangannya dengan resah.

“Mak, Hanafi telah punya pilihan sendiri. Hanafi sudah berencana untuk menikahinya tahun depan.” Hanafi berkata dengan suara selunak mungkin.

“Selagi ijab Kabul belum dilangsungkan, maka tidak tertutup kemungkinan untuk mengalihkan pilihan Hanafi.” Datuak Sutan Bandaro menjawab dengan suara tegas.

“Tetapi, Mak, Hanafi mencintainya. Kami saling mencintai. Sementara pada Arini, Hanafi tidak punya perasaan apa-apa.”

“Kelak dengan selalu bersama kau dan Arini juga akan saling mencintai.”

“Hanafi tidak bisa, Mak. Hanafi tidak bisa menikah dengan perempuan yang tidak Hanafi cintai.” Kali ini suara hanafi terdengar menghiba.

“Untuk kau ketahui Hanafi, Mamak kau ini mengeluarkan biaya sampai ratusan juta untuk membiayai kuliah kau di kedokteran sampai kau mengambil spesialis, tidak lain adalah untuk masa depan kau berdua dengan Arini.” Suara Datuak Rajo Baso terdengar mulai meninggi. Hanafi hampir terlonjak mendengar ucapan adik kandung uminya itu.

“Umi, tolong katakan jika yang diucapkan oleh Mamak barusan itu tidak benar.” Hanafi menatap uminya dengan tatapan tak percaya. Umi Halimah mengangkat wajahnya dan Hanafi tertegun melihat wajah paruh baya uminya telah basah oleh air mata.

“Maafkan Umi, Nak. Beberapa tahun terakhir, panen selalu gagal. Ditambah lagi Harun adikmu juga masuk universitas. Umi benar-benar kewalahan, dan Mamakmu dengan iklas telah menawarkan bantuan, mengambil alih tugas Umi untuk membiayai kuliahmu.”

“Umi…” Hanafi mengepalkan tinjunya menahan gejolak amarah dan kekecewaan yang berkecamuk di dalam dadanya.

“Maafkan Umi, Nak.” Umi Hanifah terisak.

“Kenapa Umi tidak jujur pada Hanafi kalau Umi sudah tidak punya biaya lagi untuk kuliah Hanafi? Hanafi lebih baik berhenti kuliah Umi daripada harus menjual harga diri Hanafi.” Suara Hanafi terdengar lemah.

“Kau tidak menganggap aku ini Mamakmu? Sehingga kau merasa tidak terima kalau Mamakmu ini yang membantu biaya kuliahmu?” Datuak Sutan Bandaro memandang Hanafi dengan tatapan kecewa.

“Mamak? Mamak kah namanya yang membiayai kuliah kemenakannya dengan pamrih pernikahan?” Hanafi membalas tatapan mamaknya dengan tatapan dingin.

“Mamak iklas melakukannya, kau harus percaya itu Hanafi.”

“Iklas? Lalu kenapa Mamak harus memaksa aku menikahi Arini? Mamak ingin menjual anak Mamak atau ingin membeli aku dengan uang Mamak yang banyak itu kan?”

“Hanafi! Jaga bicaramu!” Datuak Sutan Bandaro berteriak marah. Dada laki-laki berusia 50 tahun itu terlihat sesak. Wajahnya merah padam menahan amarah.

“Kenapa, Mak? Apa ucapanku salah?” Hanafi menatap Mamaknya dengan tatapan menantang.

“Yah, ayo kita pulang.” Arini bangkit dan mendekati kursi ayahnya. Diraihnya tangan laki-laki yang teramat menyayanginya itu dengan pelan. Umi Halimah ikutan bangkit dan menjatuhkan dirinya di hadapan kursi Hanafi.

“Hanafi, Umi tidak pernah minta apa-apa selama ini kepadamu, Nak. Tapi untuk kali ini, tolonglah jangan mempersulit keadaan, Nak.” Suara Umi Halimah bergetar. Hanafi bangkit dan memeluk tubuh Uminya. Ia tidak pernah bisa melihat wanita mulianya ini bersedih seperti ini.

“Bangun Umi.” Hanafi mengangkat tubuh Uminya untuk bangkit.

“Baiklah, aku akan menikahi Arini. Tetapi jangan pernah berharap aku akan mencintainya.” Hanafi berkata pada Datuak Sutan Bandaro dengan sinis. Datuak Sutan Bandaro merasa dadanya semakin sesak, darah di tubuhnya serasa bergulung-gulung naik ke puncak kepalanya. Laki-laki paruh baya itu bangkit dan memeluk pundak anak gadisnya dengan lembut. Tetapi mendadak, Datuak Sutan Bandaro merasa tubuhnya limbung. Matanya berkunang-kunang. Sekuat tenaga laki-laki itu menguatkan dirinya. Ia harus terlihat kuat demi anak gadis tersayangnya. Satu-satunya harta paling berharga yang masih dimilikinya.

“Untuk kamu ketahui, dengan atau tanpa membiayai kuliahmu pun, Mamak akan tetap menikahkan kau dengan Arini. Karena kau tahu, Arini tidak punya siapa-siapa lagi selain aku. Jika aku pergi, hanya kau dan ibumu lah yang aku percaya untuk menjaga Arini.” Suara Datuak Sutan Bandaro bergetar. Berdua dengan anaknya, laki-laki itu berbalik dan berjalan menuju pintu depan rumah gadang. Mata Arini terlihat basah, hatinya begitu sakit mendengar kata-kata anak eteknya itu. Jika tidak karena rasa cinta dan hormatnya pada sang ayah, niscaya Arini juga akan menolak perjodohan ini sekuat tenaga. Penolakan Hanafi merupakan penghinaan buat Arini.

Sesampai di mobil, Arini mendudukkan ayahnya di kursi depan. Baru saja duduk, Datuak Sutan Bandaro mulai merasakan tubuhnya melayang. Lalu, laki-laki itu sudah tak ingat apa-apa lagi. Arini menyusul masuk ke mobil, duduk di belakang kemudi. Setelah menghidupkan mobil, Arini menoleh pada ayahnya. Kening Arini mengernyit melihat wajah pucat ayahnya, mata laki-laki itu terpejam rapat.

“Ayah …” Arini menepuk lembut pundak ayahnya. Tetapi sang ayah tetap diam, tak bergerak sama sekali.

“Ayah …” kali ini Arini mengguncang tangan ayahnya dengan cukup kuat. Sang ayah masih diam. Arini mulai terisak, dengan tangan gemetar, Arini memakaikan sabuk pengaman untuk ayahnya. Lalu dengan menguatkan hati, gadis itu mulai menjalankan mobilnya ke luar dari rumah gadang eteknya itu. Dengan pipi basah dan mata yang mengabur oleh air mata, Arini melarikan mobilnya menuju jalan raya kota Padang. Tujuannya hanya satu, rumah sakit terdekat.

*******

Hanafi duduk dengan gelisah. Di depannya, pintu ruang praktik Bella masih tertutup rapat. Jika sesuai jadwal dan yang berada di dalam adalah pasien terakhir, maka sebentar lagi dokter cantik kekasih hatinya itu pasti akan ke luar. Dan benar saja, hanya sepuluh menit menunggu, pintu di depannya terbuka. Seorang perawat dan seorang pasien ke luar dari dalam ruangan secara bersamaan. Hanafi segera bangkit dan berjalan menuju ruang praktik Bella.

“Siang, Dok.” Perawat berseragam biru toska itu mengangguk hormat pada Hanafi.

“Siang, Riris.” Hanafi membalas sapaan perawat tersebut dengan ramah.

“Assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam. Wah, tumben nih disamperin dokter ganteng.” Bella menyambut kedatangan Hanafi dengan wajah berbinar.

“Sudah selesai?” Hanafi duduk di hadapan Bella.

“Sudah dok, itu tadi pasien terakhir.” Bella tersenyum manis pada laki-laki di depannya. Hanafi membalas senyum Bella dengan tatapan mata penuh cinta. Bella bangkit dan membuka jas putihnya, lalu meletakkannya di sandaran kursi. Dokter muda itu berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya. Hanafi memperhatikan setiap gerakan Bella dengan hati resah.

Bella bagi Hanafi adalah sosok perempuan sempurna. Cantik, pintar, ceria, baik hati, dan mencintai Hanafi apa adanya. Meski mereka berasal dari latar belakang keluarga yang sangat jauh berbeda, tetapi Bella tidak pernah mempermasalahkan semua itu. Sikapnya pada Hanafi tetap hormat dan penuh penghargaan.

“Kenapa? Sepertinya hati Uda Dokter sedang tidak baik.” Bella ternyata telah duduk kembali di hadapan Hanafi tanpa disadari oleh laki-laki itu.

“Mana mungkin bertemu dengan gadis secantik kamu hatiku tidak menjadi baik.” Hanafi membalas ucapan Bella dengan tatapan mata menggoda. Bella tersipu malu dan pipinya merona merah. Wajahnya makin terlihat cantik sekaligus menggemaskan. Meski pada dasarnya Bella bukanlah gadis pemalu, namun jika laki-laki setampan Hanafi telah merayu dan menggodanya, tak ayal hatinya akan bersemu dan merona. Dan itu akan langsung terlihat di mata dan wajahnya. Hanafi tersenyum geli melihat rona wajah gadis tercintanya itu.

“Ayo, kita berangkat.” Hanafi bangkit dan mengambil tas sandang Bella. Bella ikutan bangkit dan berjalan di belakang Hanafi.

“Memangnya kita mau pergi ke mana?” Bella bertanya seraya menutup pintu ruang praktiknya.

“Ikut saja, nanti kamu akan tahu sendiri.” Hanafi mengacak puncak kepala Bella yang tertutup pashmina berwarna orange muda. Berdua mereka berjalan menuju parkiran. Sesampai di parkiran, Hanafi menyelempangkan tas Bella ke pundak gadis itu. Lalu mengambil helm dan dengan lembut memakaikannya pada Bella. Bella menerima semua perlakuan romantis Hanafi itu dengan dada berdesir halus. Selalu saja begitu. Padahal kebersamaan mereka bukan lagi hitungan bulan.

Tidak berapa lama, motor besar berwarna hitam itu pun melesat membelah keramaian kota. Bella duduk di belakang Hanafi seperti biasa, dengan punggung tegak dan tangan bersidekap ke dada. Hanafi selalu tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu. Sekian lama bersama, tidak melunturkan sikap hati-hati Bella terhadapnya.

Gadis itu terlalu kokoh membentengi dirinya. Sebisa mungkin Bella menghindari sentuhan fisik dengan Hanafi. Hal itulah yang membuat perasaan cinta Hanafi semakin besar pada Bella. Di zaman seperti sekarang ini, masih ada gadis yang seperti Bella. Menjaga diri dan kehormatannya seapik mungkin. Dan Hanafi selalu mencoba menghargai dan menghormati sikap Bella tersebut. Toh jika saatnya tiba nanti, ia juga yang akan mendapatkan semua yang ada pada gadis itu.

Hampir setengah jam Hanafi dan Bella menikmati jalanan kota Padang yang cukup ramai. Motor Hanafi memasuki halaman parkir sebuah kafe di pinggiran pantai.

“Kafe baru?” Bella menyerahkan helmnya pada Hanafi begitu motor berhenti di samping pintu masuk kafe.

“Belum pernah ke sini, ya?”

“Memang kamu pernah ajak aku ke sini?”

“Ups, iya, aku lupa. Dokter Bella kan nggak pernah ke mana-mana kalau nggak sama dokter Hanafi.” Hanafi mengedipkan matanya pada Bella.

“Jadi Uda dokter sudah pernah ke sini tanpa mengajak dokter Bella?” Bella merungut manja pada Hanafi. Hanafi terkekeh.

“Jangan suuzon, aku juga baru pertama kali ke sini. Kemarin dr. Adrian cerita kalau ada kafe baru di pantai Padang. Makanya aku ajak kamu ke sini.”

“Oh, kirain.” Bella berkata dengan lega.

“Ayo masuk.”

Beriringan mereka memasuki kafe yang lumayan ramai itu. Hanafi memilih tempat duduk yang masih kosong yang kebetulan menghadap ke pantai. Mereka duduk bersisian. Seorang pelayan berseragam kuning datang menghampiri Hanafi dan Bella.

“Silakan, Da, Uni.” Pelayan menyerahkan daftar menu pada Hanafi dan Bella. Hanafi dan Bella menerimanya dan mulai sibuk memperhatikan menu-menu yang tertera di buku tebal itu. Gurami bakar, tomyam, sambel terasi, udang goreng tepung menjadi pilihan mereka siang ini. Untuk minuman mereka selalu kompak, jus belimbing dan air mineral.

Tidak berapa lama, pesanan mereka pun datang. Bella terlihat begitu berselera dengan hidangan di depannya. Sementara Hanafi, tidak seperti biasanya, terlihat tidak berselera sama sekali.

Setelah menyelesaikan makannya, Bella memutar duduknya menghadap pada Hanafi. Angin laut terasa sejuk meniup wajah mereka.

“Ada apa, Da? Kenapa seperti nggak bernafsu begitu?” Mata indah Bella memperhatikan laki-laki di hadapannya dengan seksama. Hanafi mengaduk minuman di depannya. Hanafi tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan masalah pelik yang tengah menimpa dirinya.

“Bella, jika sesuatu yang buruk terjadi pada hubungan kita, apakah kamu akan membenci Uda?” Hanafi bertanya hati-hati pada Bella. Kening Bella berkerut.

“Ya, tergantung. Tergantung ceritanya seperti apa dan latar belakangnya apa.” Bella menjawab dengan ragu.

“Bella, apa kamu percaya kalau aku benar-benar mencintaimu dengan tulus?” Hanafi menatap Bella lekat.

“Sampai detik ini, insyaAllah percaya.” Bella menjawab dengan perasaan bingung. Gadis itu masih belum tahu kemana sebenarnya arah pembicaraan laki-laki yang telah menjadi teman dekatnya hampir tiga tahun terakhir ini.

“Uda dijodohkan Bella. Uda harus menikahi anak Mamak Uda.” Suara parau Hanafi terasa seperti hantaman godam besar di dada Bella. Beberapa detik Bella hanya bisa termangu dan menatap laki-laki di depannya dengan nanar.

“Dijodohkan?” pelan suara Bella menyayat hati Hanafi. Setetes cairan bening jatuh dari kelopak mata gadis itu. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes. Dan dalam hitungan detik, wajah cantik di hadapan Hanafi telah basah oleh air mata. Hanafi menduduk, cairan bening itu juga mengambang di pelupuk matanya. Perlahan cairan bening itu jatuh dan menetes. Dia bukan lelaki lemah, tetapi kali ini sungguh hatinya tak dapat menahan perih.

Laki-laki itu telah membayangkan hidup berumah tangga dengan gadis di depannya ini. laki-laki itu telah mengimpikan gadis cantik ini menjadi ibu dari anak anaknya kelak. Lalu kini, ia merasa hatinya direnggut begitu saja, impiannya dihancurkan seremuk-remuknya.

“Kenapa?” Bella bertanya lirih dengan wajah bersimbah air mata.

“Ternyata biaya kuliah Uda selama ini berasal dari Mamak Sutan Bandaro. Sebagai balasannya Uda harus menikahi anak gadis semata wayangnya.”

“Apa tidak ada jalan lain?” tatapan mata Bella luruh dalam kepedihan. Hanafi menggeleng lemah.

“Umi memohon dan bersimpuh di hadapan Uda, Bella. Uda tidak sanggup menorehkan luka di hati Umi.”

“Kalau begitu, pergilah.” Bella memalingkan wajahnya dan menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya dengan kasar.

“Tapi, Sayang. Ini hanya sementara. Uda memang akan menikahinya, tetapi Uda janji tidak akan selamanya dengan dia.” Hanafi berkata dengan secercah harapan baru.

“Tidak, Da. Tidak ada pernikahan kedua, ketiga dalam kamus kita. Bukan kah ini sudah pernah kita bicarakan?” Tiba-tiba suara Bella terdengar tegas.

“Dengar dulu, Sayang. Uda tidak akan pernah menyentuhnya. Uda akan buat perempuan itu akhirnya menyerah dengan pernikahan kami, karena Uda tidak akan pernah memperlakukan dia sebagai seorang istri.” Hanafi berkata dengan mantap.

“Lalu?” Bella bertanya sinis seraya menatap lurus ke depan. Laut Padang terlihat tenang tak berombak. Tidak seperti hatinya yang sedang bergemuruh penuh amarah, luka, kecewa, dan kepedihan.

“Setelah dia merasa tidak bahagia dan tidak mendapatkan apa-apa dalam pernikahan itu, tentu ia akan meminta cerai. Setelah itu, kita akan segera menikah.” Kali ini harapan di dada Hanafi membuncah. Impian akan hidup bersama dengan Bella akan tetap terwujud.

“Berapa lama? Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, atau sepuluh tahun?”

“Beri Uda waktu satu tahun saja.”

“Satu tahun?”

“Paling lama dua tahun.”

“Baiklah, kita lihat saja nanti. Cuma aku belum bisa berjanji apakah bisa tetap setia dalam waktu dua tahun tersebut.”

“Bella, jangan begini. Uda nggak bisa hidup tanpamu. Uda mohon, tunggulah sampai waktu itu tiba. Waktu untuk menyatukan cinta kita berdua.” Hanafi menatap Bella dengan tatapan menghiba. Bella mencoba mengacuhkannya meski hatinya tidak bisa dipungkiri, ia juga tidak akan bisa hidup tanpa lelaki ini. Bella bangkit dan mengambil tas nya dari atas meja.

“Ayo, aku ada janji dengan Mama mau ke butik teman Mama.” Bella berjalan tanpa menunggu Hanafi. Dengan riasan wajah yang entah sudah seperti apa, gadis itu melenggang ke luar menuju parkiran. Tinggallah Hanafi yang tergopoh bangkit dan berjalan tergesa menuju meja kasir. Setelah membayar makanan mereka, Hanafi segera menyusul Bella yang telah menunggu di parkiran. Sejenak mereka bertatapan dengan hati yang sama-sama sakit dan perih. Dalam diam, mereka meninggalkan parkiran kafe. Hanafi mengendarai motornya menuju rumah Bella.

Bersambung ….

Keterangan : Mamak/mak : om/paman dalam bahasa Minang.

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll