Kami Juga Anakmu, Ayah - Sierra Mikain Rama

Kami Juga Anakmu, Ayah - Sierra Mikain Rama
Emak berpisah dengan bapak saat adik bungsuku berusia 6 tahun, emak membawa kami ke kota tempat beliau dan bapak tiri kami tinggal. Sejak saat itu, kasih sayang yang kami terima dari bapak kandung berkurang.

Meski bapak sering menemui kami, tapi tidak sama lagi seperti saat kita masih bersama. Seminggu sekali bapak menemui kami. Padahal jauhnya jarak yang  ditempuh hanya untuk bertemu, harus di tempuh menggunakan kapal laut. 6jam lamanya baru tiba di kota kami. Bapak memang sayang sekali dengan kami, anak-anaknya. Pernah bapak menangis sejadi-jadinya, setelah nonton film keluarga berjudul "tragedi bintaro", bapak menangis mengingat jika itu terjadi dengan anak-anaknya.

Saat masih dengan emak, kami sangat dimanjakan bapak. Apapun permintaan kami, jika beliau mampu saat itu juga bapak belikan. Sering bapak bertengkar dengan emak, jika emak memukul kami. Bapak tidak suka kami dikasari, tapi anehnya jika kami dikasari orang lain bapak cuma diam, malah emak yang maju.

Pernah kakakku dipukul anak tetangga, bahkan bapaknya dari anak itu ikut membantu anaknya. Kakak pulang menangis di rumah, melapor dan berharap bapak yang akan turun tangan. Tapi bukannya marah, seperti yang sering dilakukan pada emak jika emak memarahi kami, bapak malah menyuruh kami untuk diam saja. Akhirnya, emaklah yang turun tangan menegur anak dan tetangga kami.

Walau begitu, bapak memang menyayangi kami. Apalagi kepada adik bungsuku, bapak begitu memanjakkannya. Setelah pisah dengan emak, bapak pernah berjanji pada kami untuk tidak menikah selama kami belum selesai sekolah. Tapi cuma beberapa bulan saja, bapak mengingkari janjinya. Bahkan tanpa sepengatahuan kami, bapak menikah dengan wanita muda. Bapak pindah tugas, tinggal di rumah keluarga wanita yang kini jadi istrinya. Entah bagaimana cerita panjangnya, cuma itu saja yang kami tau.

Pantas saja bapak tidak lagi menemui kami, nanti setelah kakak datang di kota bapak berada. Kakak tau bapak menikah. Sudah punya anak pula saat kakak datang. Kami tidak begitu dekat dengan bapak tiri, juga tidak punya sodara lelaki. Kehilangan perhatian dari laki-laki satu-satunya yang kami punya membuat kami sedih. Jangankan bertemu, menghubungi kami saja bahkan bapak sudah tidak pernah lagi sejak menikah.

Dua orang anak perempuan dari pernikahan barunya, membuat bapak lupa kami bertiga. Anak-anaknya dari istri barunya benar-benar telah mengambil hak kami. Kasih sayang juga kewajiban setiap bulan yang seharusnya kami terima dari bapak, diambil semua oleh dua orang itu. Pernah saya dan adik bungsuku ketempat bapak, tinggal lama untuk sekolah. Bapak selalu berkantor dari pagi sampai sore, jika malam beliau bersama kami, si ibu tiri selalu mengganggu. Ada-ada saja alasannya biar kami tidak dekat dengan bapak. Sampai akhirnya hanya hitungan bulan, saya dan adikku pulang kembali bersama emak. Kami tidak tahan, ibu tiri dan anak-anaknya selalu merampas paksa perhatian bapak dari kami.

Bertahun-tahun hidup tanpa biaya dari bapak. Kami selalu meminta dulunya, tapi selalu ada saja alasan bapak untuk menolak. Jelang kami semua dewasa, anak dari istri barunya dewasa. Bapak pindah tugas, kembali 1 kota dengan kami. Cuma beda daerah, bapak di kabupaten sedang kami di kota. 1jam jarak tempuh antara tempat kami dan bapak. Bapak naik jabatan di tempat barunya, gajinya naik, rumahnya pun bagus. 

Sedang kami, sejak bapak tiri meninggal, emak membawa kami di kota yang dulu. Hidup serba pas-pasan dengan biaya penuh cuma dari hasil kerja keras emak. Jika ibu tiri kami dan ibu-ibu yang lain sedang asyik nonton sinetron pagi, menikmati tidur siang, dan tidur cantik dimalam hari. Emak malah dari pagi, hingga tengah malam mencari rejeki. Ada-ada saja, yang penting hasilnya halal.

Tinggal numpang di rumah orang, di usir oleh keluarga sendiri. Sampai pinjam tanah orang, lalu bangun rumah gubuk. Rumah bapak sedang di renovasi saat kami datang minta uang untuk beli atap yang sudah bocor, jika hujan kami tak bisa tidur. Air masuk lewat atap yang bocor. Kami selalu bingung tidur di mana saat hujan, tempat tidur penuh dengan baskom untuk menampung air hujan.

" ndada nak, habis uang bapak. Ini saja pekerjaan rumah tertunda karena uang habis," alasan bapak saat itu.

Bapak punya ipar yang tinggal sekota dengan kami, tapi lewati lorong kami dulu barulah tempat tinggal iparnya. Bapak selalu datang menemui iparnya, tapi tak pernah singgah di rumah kami. Bahkan jika bapak datang hanya untuk urusan kantor, bapak lebih memilih istrahat di rumah iparnya, ketimbang sama kami. Di rumah ada emak, mungkin alasan bapak tidak mau datang kerumah. Tapi bertemu dengan kami di luar kan bisa.

"Bapakku lagi di masjid," ucap adikku setiap kali menelpon bapak.

"Bapakku" seakan akan mereka saja yang anaknya bapak. Ponakan dari ibu tiriku pun selalu memanggil "bapakku". Bukan tanpa alasan, bapak memanjakkan mereka, bapak memperlakukan mereka seperti anak kandungnya. Di kantor bapak saja, jika kami datang pasti ketemu mereka di ruangan bapak. Berliburpun mereka selalu ikut. Sedang kami cuma penonton, dibikin seperti bukan anaknya. Tidak dikasari, tidak di katai, tapi di perlakukan tidak adil.

Adik pernah masuk rumah sakit, kecelakaan usai pulang sehabis minta uang di kantor bapak tapi tidak juga dikasih bapak. Sampai adik keluar, tanpa biaya, hanya pakai kartu "Jamkesmas". Bapak sama sekali tidak datang, mengirim uangpun tidak.Hanya bertanya lewat telepon kabarnya adik. Kami terbiasa diperlakukan begitu, tapi tetap saja sakit. Apalagi saat berapa bulan setelahnya, bapak izin kantor hanya untuk menengok keluarga iparnya yang melahirkan di rumah sakit. Itupun kami tahu setelah saya datang kekantor bapak, mengandalkan uang pas-pasan, tak ada ongkos untuk pulang. Saya menangis, karena berharap ongkos sewa angkot nanti ditanggung bapak. Terpaksa pulang tangan kosong, emak pinjam uang untuk ongkos angkotku dan menunggu saya di terminal. Bukannya untung malah buntung.

Kami punya bapak seorang ASN, dengan jabatan tingg di kantornya. Kami masih masuk daftar gaji, karena kami belum menikah. Tapi kami seperti anak yatim, cuma dengan hasil keringat emak dan bantuan pemerintah kami hidup. Kami selalu dapat raskin, selalu ikut ngantri saat pembagian kupon daging ketika hari raya kurban, tapi kami berzakat. Kami juga dapat BLT, program bantuan dari pak Sby, pertiga bulan. Tapi setiap kami dihina, kami selalu sebut bapak kami ASN, hanya saja keadaan kami yang tinggal di rumah gubuk, dan hidup sudah membuat mereka tak percaya.

Jika lebaran, kami pasti datang minta jatah THR sama bapak. 100-200 selalu kami bawa pulang, yang penting makan enak dihari raya, meski tanpa baju lebaran. Padahal kami tau betul, uang bapak banyak saat lebaran. Tapi ongkos pulang kampung istrinya, dan bagi THR ke semua ponakannya membuat kami cuma dapat jatah hanya sedikit, dan selalu seperti itu setiap tahunnya. (Sierra Mikain Rama)
Tulis Komentar