Bodoh atau Baik? Ku Paksa Suamiku Berpoligami Dengan Kakak Ku

Bodoh atau Baik? Ku Paksa Suamiku Berpoligami
Kisah ini diangkat dari kisah nyata, teman dekat saya yang memaksa suaminya berpoligami.

Namaku Rani. Aku ibu dari 2 anak. Aku sudah menikah selama 9tahun. Alhamdulillah rumah tanggaku baik-baik saja walau ada saja bumbu penyedap, hehehe.
Kami, saya dan suami, Rendi, saat ini sedang mencicil rumah dan mobil. Cicilan rumah sudah berjalan 8 tahun dan berakhir 2 tahun lagi. Sedangkan mobil baru berjalan 2 tahun, masih kurang 3 tahun lagi.

Keadaan baik - baik saja sampai tiba2 Rendi di PHK karena perusahaannya kolaps, bangkrut. Dia terlihat sangat terpukul, bahkan tidak pulang selama 2 hari. Aku hanya bisa mendoakan supaya dia baik - baik saja.

Akhirnya Rendi pulang, dia menangis sesenggukan. Dia bingung bagaimana caranya membayar cicilan dan tetap menghidupi anak istri. Sebagai istri, aku pun  tak tinggal diam. Bergegas aku mencari lowongan kerja untuk Rendi, dan juga untukku. Ya aku ingin bekerja. Aku ingin "berguna", dengan gelar Sarjana Bahasa Asing yang selama ini "nganggur" karena Rendi memintaku menjadi ibu Rumah Tangga.

Singkat cerita, Rendi belum dapat panggilan kerja, namun aku mendapat tawaran kerja yang menggiurkan. Menjadi Konsultan Publik di Amsterdam, Belanda. Jangan tanya soal gaji, sangat besar. Bahkan mereka bersedia membayar gajiku selama satu tahun, di depan, sebelum aku berangkat. Aku sangat bahagia, uang tersebut lebih dari cukup untuk menutup sisa cicilan kami.

Walau berat, Rendi mengizinkanku bekerja. Dia sebenarnya juga bingung bagaimana merawat kedua anak kami, namun kami tak punya pilihan karena cicilan sudah jatuh tempo. Aku pun bingung, bukan hanya anak2, tapi aku memikirkan suamiku. Bagaiman jika dia sedang "labil"? Karena aku tahu, libido laki2, apalagi yang sudah menikah.

Sementara itu, kakak perempuanku Indri, menawarkan bantuan untuk merawat kedua putriku. Kakakku Indri adalah seorang janda beranak 1, laki2 usia 6 tahun. Dia diselingkuhi dan ditinggal begitu saja oleh suaminya sejak anaknya berusia 2 tahun. Aku tau dia membutuhkan pekerjaan jadi aku setuju dan menemukan 1 ide brilian (atau gila).

Aku meminta suami dan kakakku untuk menikah.

Tentu saja mereka berdua menolak. Namun kujelaskan alasanku. Dengan mereka menikah, maka akulah yang paling "lega". Aku tak perlu risau memikirkan siapa yang merawat kedua anakku, dan aku tak perlu cemas suamiku berselingkuh dan terjerumus zina. Aku paham kebutuhan biologis laki2 yang sudah menikah. Setelah berdebat beberapa hari, akhirnya mengalah dan menikah. Walau terjadi perang di dalam keluarga kami berdua, namun  sungguh hatiku lebih tenang.

Kini 3 tahun sudah aku bekerja di Belanda. Aku pulang 6 bulan sekali dan selama aku pulang, kakakku memilih keluar sementara dari rumah, untuk memberi kami privasi.

Jadi, aku ini bodoh apa baik?
(Lily Badri Azwa Arafah)
Tulis Komentar