Kurus Tanda Rumah Tangga Tak Bahagia?

Kurus Tanda Rumah Tangga Tak Bahagia?
Hai, saya hamidah, sudah menikah di tanggal cantik 12-12-12 dengan lelaki yang saya cintai dan juga mencintai saya.

Umur saya masih sangat muda ketika kami menikah, sewaktu masih anak-anak hingga gadis remaja, berat badan saya selalu mentok di angka 44-47kg. Ets, jangan dibilang kurang makan ya, karena porsi makan saya melebihi porsi makan ibu saya loh😁, oke abaikan.

Dari berat badan 45kg, tinggi saya juga 165cm, badan saya dibilang langsing atau bahasa gaulnya "kerempeng, cungkring ,kayak papan penggilesan!". Setiap bertemu orang atau kerabat, pasti selalu ngomong "badanmu kurus amat kayak lidi." why? Kenapa lidi? Serem amat, Dipeletekin aja patah dong body gue!

Ketika saya menikah, berat badan saya masih 45kg, saat hamil anak pertama dan saat sebelum melahirkan, berat saya hanya 55kg, kebayang kan ibu hamil beratnya hanya segitu! Saya lahiran di usia kandungan 32 weeks loh. Itupun bidan yang menangani was was dan takut karena lingkar perut yang kecil, yaap! Karena saya kurus, kehamilan saya yang baru menginjak 7 bulan itu dilihat seperti hamil 5 bulan wanita normal. Kebayang kan betapa kurusnya saya saat itu? Bahkan saat hamil sekalipun! Padahal tiap saat mama mertua, suami bahkan kakak kakak ipar memberikanku makanan yang cukup, bahkan ngidamku yang aneh-aneh pun mereka berikan.

Saat anakku beranjak balita, beratku mentok di 47kg. Gak pernah se ons pun naik walau makanku kayak buto ijo (katanya.)

Saat itulah terdengar celetukan sesemakhluk pada diriku yang malang ini.. "Ngebatin terus sih, jadi kurus!"

Whatttt??
Ngebatin? Kok bisa tahu? Haha
Benar 😭 karena tahu lah hidup serumah dengan mertua dan berdampingan dengan kakak-kakak ipar nan cantik dan tampan kayak gimana yaa ibu ibu mbak mbak teteh teteh, heheh

Saat itu, aku benarkan ucapan-ucapan pahit mereka tentang badanku yang katanya terlalu kurus untuk ukuran ibu-ibu ber-KB. Karena memang, tidak mudah menjadi menantu yang baik di mata keluarga suami. Usahanya harus super kerasss dan keren cuuy!

Ketika hamil anak kedua , anak pertamaku baru berusia 3,5tahun saat itu, berat tubuhku mulai berangsur-angsur naik, saat itu memang aku sudah mulai hidup terpisah dari mertua, bahkan saat anak pertamaku berusia 7 bulan aku sudah hidup mandiri di kontrakan supeeer kecil dengan suamiku, hingga akhirnya membangun sebuah rumah sederhana untuk kami tinggali.

Karena banyak ucapan pahit tentang badan kurus, aku rajin sekali mencatat kiloan berat badanku di setiap cek up kehamilan ke klinik, aku ingat, hamil usia 2 bulan berat badanku 55kg dari sebelumnya 49kg, hamil usia 5bulan berat badanku 64kg, hamil usia 7bulan berat badanku 73kg, hingga saat aku kontraksi berat badanku 78kg itupun sudah ikutin pola makan sehat dan diet ibu hamil.

Saat teman-teman, tetangga, kerabat, saudara bahkan ipar-ipar berdatangan menengok aku dan bayiku, banyak yang berkata "ih, kamu gemuk banget! Berapa kilo sih?" "ih, kamu bisa kurus lagi ga entar?" "jangan gemuk-gemuk ih, jelek kamu tuh kalo gemuk." "ya ampun, badanmu gede banget, berapa kilo sih? Diet ya abis nifas."

Kalian tahu rasanya jadi aku yang kala itu masih nyutnyutan area berhargaku bekas sibungsu keluar? ditambah ucapan-ucapan menohok tentang berat badanku yang katanya ber kali-kali lipat lebih gede dari sebelum hamil.

Sakit! Sakittnya hulalaaaah syekaleeeh pemirsaaaah!

Waktu kurus di suruh gemuk biar dikira bahagia rumah tangganya, biar dikira engga ngebatin, giliran dikasih gemuk, mulaaai mulut-mulut jahatnya itu berasa menyolek area kewanitaanku yang masih basah jahitannya.

Karena ucapan itulah, baru 2 bulan melahirkan, aku sudah mati-matian diet ketat, olahraga tiap saat, makan hanya telur rebus dan sedikit nasi. Sampai akhirnya dalam 3 bulan berat badanku yang sebelumnya 80kg turun menjadi 65kg.

Dan puncaknya saat berat badanku 60kg, aku berhenti diet dan olahraga, aku berfikir "segini ajalah " . Tapi ternyata berat tubuhku malah semakin kurus saja.

Hingga akhirnya cibiran, sindiran, cemoohan kembali terdengar di telingaku ,yap! Beratku kini hanya 50kg saja.
Namun yang aku tidak suka adalah, kenapa berat badan selalu dikaitkan dengan kebahagiaan dalam berumah tangga? Padahal banyak orang yang tidak bahagia rumah tangganya tapi badannya gemuk, bisa jadi itu pengaruh KB kan?

Jelaskan, kenapa berat tubuh jadi tolak ukur kebahagiaan rumah tangga?
Kondisi berat tubuh orang itu kebanyakan akibat pengaruh KB, sisanya karena menurun dari ayah, ibu, nenek, kakek bahkan buyutnya. Dan aku? Aku mewarisi tubuh ayah dan paman pamanku yang kurus padahal rumah tangga mereka aman aman saja.

Saya bahagia, rumah tangga saya benar-benar bahagia, suami yang baik dan pengertian, yang walau baru pulang kerja dia bisa bantu-bantu saya menyapu, mengepel bahkan membereskan mainan-mainan anak yang berserakan.

Saya bahagia, suami saya tidak pernah sekalipun mengkhianati saya, atau membuat batin saya menjerit kesakitan karena dirinya.

Saya bahagia, diberikan anugerah terindah oleh tuhan, yaitu 2 jagoan yang sama-sama gampang di atur dan begitu lincah dan ceria.

Saya bahagia, mertua saya begitu menyayangi saya, yang mau menganggap saya anak gadisnya, bukan menantu perempuannya.

Saya bahagia, ketika sakit dan tidak bisa mengasuh anak-anak, suami rela pulang sebentar untuk menemani berobat, lalu dibawanya saya kerumah ibunya, saya yang tengah sakit di urus oleh ibunya, dimasakin makanan, di siapin makanannya ,anak-anak mertua yang jagain, suami saya beliau yang urusin, hingga akhirnya saya kembali sehat dan kembali pulang kerumah.

Lalu dimana letak "ngebatin" nya diri saya?
Karena saya kurus lantas predikat "NGEBATIN" itu mutlak di anugerahkan pada saya atau wanita bersuami yang kurus lainnya?

Thinks smart jenk, badan kurus bukan berarti hidup tidak bahagia 😉

Hamidah, Senin, 8 juli 2019
Tulis Komentar