Cerita Masa kecilku - Saifullah | My Everything

Cerita Masa kecilku


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kemarin aku telah bercerita tentang bagaimana kisah kelahiran ku, dan sekarang aku ingin bercerita tentang masa-masa kecilku. Sebetulnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan untuk menyambung kisah-kisah kemarin, namun dikarenakan waktu dan kesempatan terbatas untuk menulis, jadi aku hanya bisa menceritakan garis besar dari setiap judul yang aku cantumkan.

Berbicara tentang masa kecil artinya berbicara tentang masa dimana kita menghabiskan waktu lebih banyak bermain daripada berpikir dan juga menceritakan tentang pengalaman-pengalaman baru ketika kita mencoba hal yang baru. Sebenarnya aku bingung mau memulai tulisanku dari mana, tapi mungkin alangkah baiknya aku mulai dari desa tempat aku dibesarkan. Mengapa dengan desa? ya karena aku menghabiskan masa kecilku di dua desa yang berbeda. 

Desa yang pertama yaitu desa tempat dimana sebelum aku lahir sampai aku berumur 6 tahun dan desa yang kedua yaitu desa ketika aku berumur 6 tahun sampai sekarang. Di desa pertama aku tinggal di sebuah rumah yang didirikan khusus untuk guru-guru yang mengajar di sana. Disana hanya ada sekolah SD sedangkan SMP dan SMA masih belum didirikan oleh pemerintah, untungnya bapakku adalah seorang guru sehingga kami ditempatkan di sebuah rumah yang memang khusus dekat dengan sekolah dan layak untuk tempat tinggal karena lumayan besar dibanding rumah dinas tentara. Sedangkan pekerjaan ibuku adalah sebagai ibu rumah tangga sekaligus berjualan di kantin di depan rumahku yang dibuat oleh bapakku. Ibuku setiap senin sampai sabtu menjual bubur kacang, bubur nasi, sup, gorengan, dan makanan ringan. Disaat aku masih berumur dibawah 5 tahun kami masih tinggal di rumah yang disediakan untuk guru itu, jadi hari-hariku kulalui bersama ibu di kantin sambil aku ikut bermain bersama anak-anak yang datang ke kantin kami. Hal yang paling aku suka ketika ibu berjualan adalah aku bisa makan sepuasnya. Aku mau makan bubur, mau makan gorengan, mau makan kue itu terserah dan yang aku tunggu-tunggu adalah saat bapakku pulang berbelanja membeli kebutuhan kantin seperti makanan ringan (snack), biasanya ada hadiah-hadiah yang bisa temukan di dalamnya. Setiap ada jenis snack yang baru, bapakku suka mengajakku membuka semua barang belanjaan dan mencobanya satu persatu. Rasanya senang sekali menjadi orang pertama yang mencoba makanan itu :)

Setelah umurku 4 tahun,  kedua orang tuaku memutuskan untuk membuat rumah baru yang kira-kira tidak jauh dari rumah sebelumnya.  Alhamdulillah begitu rumah itu jadi rumah itu lebih besar dan luas dibanding rumah sebelumnya. Selain itu rumahnya juga dekat sekali dengan warung dan masjid. Bahkan masjidnya ada disamping rumah di tambah lagi di belakang rumah ada aliran air dari bukit seperti air terjun kecil yang biasa kami sebut air mancur. Airnya sangat jernih dan biasanya aku bermain di sana bersama teman-teman ku. Di rumah baru ini kami memelihara ayam dan bebek. Aku suka sekali dengan bebek, karena mereka pandai pulang sendiri kalau udah sore.  Mereka pasti berbaris saat ingin masuk pintu kandang. Lebih rapi dari barisan para manusia saat antri di trmpat umum. haha..Ibuku sering mengajakku ke belakang rumah untuk membuka pintu bebek dan mengambil telurnya. Hampir setiap hari bebeknya bertelur, bahkan saking banyaknya, biasanya Ibu mengolah telurnya menjadi telur asin untuk makanan keluarga. 

Ketika umurku menginjak 5 tahun, kedua orang tuaku memutuskan untuk menyekolahkanku. Katanya sih sekolah numpang, atau sekedar sekolah percobaan saja. Pada zaman itu sekolah PAUD dan TK masih belum ada, jadi hitung-hitung sebagai perkenalan buatku bagaimana suasana sekolah. Sebenarnya kedua orang tuaku tidak masalah kalau misalnya nanti aku bakalan naik kelas atau tidak, sebab mengingat umurku yang terbilang masih muda untuk sekolah. Tapi ketika melihat nilai-nilai ku yang cukup tinggi akhirnya sekalian di sekolahkan sampai kenaikan kelas, ya meskipun terkadang aku suka mengeluh sih ketika ada PR, aku sering bilang kepada kedua orang tuaku pr-nya sulit sambil merenung di jendela di belakang rumah, kebetulan jendelanya sangat rendah jadi biasa tempat aku nongkrong. Sebagai orang tua mereka berusaha dengan sabar dalam mengajarkanku cara berhitung, membaca, dan lain-lain sampai aku bisa lancar semua. Bisa dibilang kedua orang tuaku memberikan pengaruh besar terhadap pendidikanku, karena saat aku masuk sekolah. Aku sudah mendapatkan ilmu pertama dalam membaca, menulis, dan berhitung dari orang tua di rumah. Hal ini terjadi juga ketika aku punya adik 5 tahun kemudian. Tidak seperti anak-anak yang lain yang saat masuk sekolah mereka baru belajar itu semua. Sehingga guru-guru kesulitan dalam mengajar.

Setelah sekolah biasanya aku bermain bersama sepupu dan teman-temanku. Di sana banyak sekali keluargaku, karena semua saudara ibuku tinggal dan bekeluarga di sana. Aku biasa bermain di dekat rumah karena halamannya yang cukup luas, kadang aku bermain bersama teman-teman di lingkungan sekolah, kadang kami bermain di area kolam bekas pertambangan emas karena orang di sana itu pekerjaannya kebanyakan mencari emas ataupun biasa kami sebut mendulang emas. Ibu dan abangku juga pernah ikut mencari emas sebagai sampingan. Aku sendiri yang tidak pernah merasakannya sebab aku yang masih kecil. Suatu ketika pernah aku ingin ikut bersama abangku, tapi tidak dibolehkan oleh Ibuku. Aku sampai nangis-nangis mau ikut. Begitu juga ketika Ibuku yg mau pergi, bapak dan abangku yang memegangku dan menenangkanku agar tidak ikut.

Pekerjaan mencari emas bukanlah satu-satunya pekerjaa orang di sana. Mereka juga berkebun dan bertani. Ngomong-ngomong soal berkebun, aku jadi ingat pas bulan Ramadhan, bulan Ramadhan dulu pasti banyak buah-buahan yang matang apalagi buah durian. Aku paling suka makan buah durian dari hasil kebun milik orang tuaku sebab durian yang kami tanam ternyata berbeda dengan durian yang dimiliki warga lain.  Durian kami sangat lunak dan manis. Oang-orang yang pernah merasakan durian kami kebanyakan mereka bilang rasanya sangat enak, dagingnya sangat banyak, dan bijinya sangat kecil. Bisa kebayang kan enaknya gimana? Kalau di kota aku beli durian mahal, udah gitu lebih besar biji dari pada dagingnya, rasanya juga kurang sedap. O, ya Kalau durian lagi banyak berbuah biasanya pamanku yang menunggu buah-buahnya jatuh dengan membuat sebuah pondok yang tidak jauh dari pohonnya, setelah terkumpul lalu dibawa ke rumah kami. Saking banyaknya buahnya itu sampai-sampai kami buat tempuyak. Tidak jarang ibuku menyuruh paman dan abangku menjual buahnya ke tetangga-tetangga. Tidak hanya durian yang ada di sana ada buah langsat, buah duku, buah rambutan, buah cempedak, buah asam, dan banyaklah pokoknya.

Abangku dulu sukanya mencari burung pakai ketapel. Saat aku masih kecil, kebersamaan ku dengan abang yang pertama itu sangat sebentar karena setelah dia tamat dari kelas enam dia disekolahkan oleh bapakku ke pemangkat yang notabennya jauh dari rumah kami, sehingga disana dia tinggal bersama gurunya. Namun, sebelum dia lulus kelas 6 banyak sekali waktu yang kami lalui, mulai dari belajar sepeda abangku yang mengajarkan ku belajar naik sepeda, mulai dari jatuh dan jatuh lagi sampai tersungkur dan berhasil naik sepeda sendiri. Tapi ada satu kejadian yang sampai saat ini masih meninggalkan bekas ketika aku bersepeda sendirian. Entah kenapa tiba-tiba aku terjatuh ke dalam parit sehingga bibirku pecah dan berdarah sampai saat ini masih ada bekas luka yang ada diujung bibirku. Setelah aku belajar bersepeda aku bermain bersama teman-teman ku ke kolam bekas pertambangan emas yang sudah menjadi kolam yg jernih dan banyak bunga teratainya. Di sana kami mandi bersama. Walaupun saat itu aku belum tahu berenang jadi aku cuma mandi di pinggir-pinggir kolam, tapi sayangnya ada hal yang tidak aku duga ketika bermain di kolam tersebut. Aku pikir di pinggir kolam itu kering semua ternyata begitu aku menginjakkan kaki sedikit saja ke tengah tiba-tiba aku langsung tidak menginjak apa-apa seperti terperosok ke lubang, aku panik dan berusaha untuk kepinggir, teman-temanku ikut membantu meraih tanganku sampai akhirnya aku naik ke permukaan. Pagi ku lalui dengan bersekolah, setelah pulang sekolah biasanya aku bermain, kalau sudah sore aku mandi lalu pergi ke masjid di samping rumahku.  Kehidupan keluargaku terasa begitu harmonis banyak canda tawa yang tercipta di dalam rumahku bersama suasana kampung yang damai.

Suatu hari saat mendekati kenaikan kelas, kedua orang tuaku berdiskusi untuk pindah dari desa tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan kedua orang tuaku ingin pindah, yang pertama di desa ini listrik dari PLN belum ada, jadi sebagai penerangan kami numpang ke tetangga yang memiliki mesin, itupun mesinnya dihidupkan ketika menjelang maghrib, jadi ketika siang hari tidak ada listrik sama sekali. Biasanya kalau ingin menonton televisi kami menggunakan aki yang biasa kalau habis bisa diisi ulang di tempat pengisiannya. Channel yang bisa aku tonton juga hanya channel dari TV Malaysia karena antena nya pun pakai antena biasa. Tontonanku kalau minggu pagi pasti DragonBall, Power Ranger, dan sejenisnya. Tv nya pun kalau tidak salah masih hitam putih karena masih tahun 1999-2000. Bisa kebayang lah tidak ada listrik kebanyakan pekerjaan dilakukan secara manual. Selain itu alasan kami ingin pindah karena sekolah di sana kan hanya ada SD sementara abangku yang kedua sebentar lagi naik ke kelas 5 dan yang nantinya pasti akan lulus dari SD. Kedua orang tuaku merasa berat ketika harus menitipkan anaknya ke rumah orang lain untuk sekolah SMP seperti yang dilakukan ke abang ku yang pertama. Dia tinggal di rumah gurunya yang mengajar di sekolahnya. Ya mau bagaimana lagi, kalau tidak seperti itu dia tidak bisa melanjutkan sekolah. Alasan lain yang menyebabkan kami ingin pindah karena akses untuk kepasar itu sulit. Biasanya kan orang tuaku belanja kebutuhan kantin dan kebutuhan rumah tangga setiap gajian harus keluar dari desa menggunakan perahu yang bermesin. Hal itu sangat menyulitkan ditambah lagi kalau air kering atau air terlalu dalam seperti yang telah ku ceritakan sebelumnya pada postingan yang berjudul Kelahiranku itu. Oleh sebab itu kedua orang tuaku bertekad bulat untuk pindah secepatnya meskipun guru di sana menginginkan bapakku untuk menjadi kepala sekolah menggantikan kepala sekolah yang lama yang jarang sekali muncul di sekolah. Bapak ku menolak tawaran itu karena ingin sekali pindah dari sana.


Begitu kenaikan kelas usai, kami pindah dari desa tersebut ke desa tempat bapakku dilahirkan. Untuk sementara waktu kami tinggal di rumah kakek dan nenekku. Liburan kenaikan kelas kami gunakan untuk mengangkut barang-barang yang bisa diangkut. Sementara rumah di sana dijual ke pamanku. Tadinya sih ada rencana untuk membongkar rumah itu dan menjadikan bahan-bahan yang bisa dipakai untuk membangun rumah di desa yang baru. Namun Ibuku menyarankan untuk dijual saja ke keluarga supaya nanti kalau kami sudah besar dan pergi ke desa tersebut kami bisa mengingat kenangan-kenangan masa kecil karena banyak sekali yang menyenangkan di sana. Apalagi kenangan ketika semuanya masih pada lugu itu beda sekali dengan saat anak-anak yang sudah tumbuh dewasa. Bahkan namaku di sana masih terukir di pintu dapur yang ditulis oleh abangku. Selain itu rasanya sayang jika rumah itu dibongkar karena udah sangat kokoh dan bagus. Lagi pula kalaupun bahan-bahan bangunan yang bisa diambil setelah dibongkar mungkin tidak seberapa dibanding kerusakan yang ditimbulkan, jadi hanya melakukan pemborosan. Lagipula kebetulan juga pamanku itu baru menikah dan ingin punya rumah mereka sudah menyiapkan bahan bahan untuk membangun rumah cuma belum didirikan. Bapakku menawarkan ke pamanku tersebut untuk membeli rumah kami dan bahan-bahan bangunan yang pamanku punya diberikan ke kami untuk membangun rumah di desa tempat nenekku.  Akhirnya kesepakatan pun terjadi. Bapakku membeli tanah di desa yang aku tinggali dan membangun rumah dari bahan bangunan punya pamanku, sedangkan aku dan abangku yang kedua, ditanya untuk melanjutkan sekolah dimana. Abangku memilih untuk sekolah di Parit Lintang, karena aku masih kecil, aku juga ikut memilih sekolah yang sama dengan abangku. Ada sekolah yang dekat dengan rumah tapi aku tetap memilih sekolah yang agak jauh yang penting bisa bersama dengan abangku.

Saat pindah bapakku juga telah mengurus surat pindah mengajar di sekolah yang lama dan pindahnya itu ke sekolah yang dekat dengan rumah. Sebelumnya Bapak ku berpikir tidak bisa untuk pindah dikarenakan di sekolah dekat rumah itu sekolah madrasah bukan SD. Namun ketika ditanyakan ke dinas pendidikan ternyata malah bagus katanya. Yaudah kebetulan di sekolah tersebut Kepala sekolahnya adik dari bapakku jadi pengurusan surat menyurat menjadi lebih mudah.

Di desa yang baru ini aku masih belum mempunyai teman, jadi kebiasaan ku sehari-hari setelah pulang sekolah hanya di rumah nenek sambil menunggu rumah baru selesai dibangun. Jadi kami numpang di rumah nenek itu sampai bagian belakang rumah kami jadi. Sebagai informasi saja kalau di desa, biasanya bagian dekat dapur dan WC dibuat terlebih dahulu baru kemudian bagian depan. Sehingga rumah bisa di pakai meskipun bagian depan baru ada tiang tiang dan atap. Kami memutuskan untuk tinggal di sana meskipun bagian depan masih belum jadi sepenuhnya. Pada saat aku pindah ke rumah yang baru itulah baru aku mempunyai teman baru karena pada saat pembangunan rumah ada anak-anak yang main di dekat rumahku sampai akhirnya aku kenal dan akrab dengan mereka. Hampir setiap hari mereka main ke rumahku dan aku mulai ada teman untuk jalan-jalan di desa.

Bagiku pindah dari rumah satu ke rumah yang lain itu gampang, yang tidak gampang adalah ketika pindah dari sebuah desa ke desa yang lain. Dimana suasana dan teman-teman itu akan berbeda, lingkungan yang dulu dengan yang sekarang tentunya juga berbeda. Terkadang aku merasakan sedikit kecanggungan ketika ada di desa yang sekarang. Aku tidak banyak mengenal orang desa jadi kehidupan pun rasanya berubah. Namun ada kelebihan di desa yang sekarang ini. Segalanya serba mudah, listrik ada, mau ke pasar dekat, dan kehidupan perekonomian pun tumbuh cepat. Dulu yang hanya nonton channel dari TV negara tetangga (Malaysia) sekarang sudah bisa nonton TV dari channel milik Indonesia melalui parabola. Bahasanyapun jadi berubah seratus persen. Biasanya dengar bahasa melayu malaysia sekarang dengar bahasa Indonesia. Serasa baru hidup di Indonesia haha.. Di samping itu sekarang sudah bisa menggunakan listrik sepuasnya 24 jam, sudah punya televisi baru yang tentunya bukan hitam putih haha..punya kipas, kulkas, mesin cuci, punya mixer, blender, dan banyak barang elektronik yang lain yang tidak mungkin kami miliki ketika masih di desa yang dulu. Alhamdulillah. Cuma kendalanya sekarang adalah airnya. Dulunya kami mandi menggunakan air dari gunung yang tidak diragukan lagi sangat jernih dan segar, tapi  disini kami harus mandi menggunakan air telaga yang warnanya kekuning-kuningan. Saat pertama kali aku pindah ke desa ini aku merasa sangat kotor saat mandi rasanya itu bukan mandi karena sudah terbiasa dengan air jernih di desa sebelumnya. Ternyata hal ini juga dirasakan ibuku. Ya tapi mau bagaimana lagi kalau tidak mandi malah makin kotor kan?

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu lama-kelamaan aku juga terbiasa dengan air yang ada di sini, yang awalnya merasa heran dan sedikit jijik sekarang sudah mulai tidak menghiraukan airnya. Masa kecil ku kulalui dengan bermain, mulai dari bermain petak umpet, kelereng, mobil-mobilan, gambar, gasing dan banyak lah pokoknya. Wah aku sudah mulai ngantuk ni. Mungkin sampai disini dulu cerita tentang masa kecil ku, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan cuma sedikit bingung ketika ingin menulisnya. Mengingat sekarang juga sudah jam 3 dini hari jadi aku akhiri dulu tulisan ini. Mungkin selanjutnya aku sambung dengan kisahku di sekolah baru. Selamat tidur kawan. Terima kasih sudah membaca cerita tentangku yang tidak penting ini. Hehe.. Good night.
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top