Tentang Kamu - Saifullah | My Everything

Tentang Kamu

Gadis kecil ini meringkuk di pojok rumah berdinding kardus dengan kedua tangan memegangi perut. Perih. Tidak ada rintihan yang keluar dari bibir mungilnya.
"Eli," panggil anak laki-laki yang masih berumur enam tahun.
Dengan perlahan dia bangkit dari tidurnya. Menatap tajam ke arah kakaknya yang masih berdiri di ambang pintu dengan sebungkus roti hampir basi di tangannya.
Sang kakak duduk di samping adiknya, membelai rambut pajang Eli yang berantakan.
"Kakak bawa ini, kamu pasti sudah lapar, kan?" Edo langsung menyuapi roti yang dia bawa ke mulut adiknya.
Gadis kecil ini hanya tersenyum tipis menerima suapan dari Edo. Tangan mungilnya mencuil roti yang masih berada di tangan kakaknya, mengarahkannya ke mulut sang kakak dengan sedikit mengangguk.
Edo menggeleng. "Kakak sudah makan tadi, ini hanya untukmu."
Eli hanya tersenyum, namun mata sayunya mulai mengembun. Dia tahu bahwa kakaknya tengah berbohong saat ini. Bulir bening jatuh dari sudut matanya, membasahi pipi lalu mengalir hingga ke ujung dagu.

Bulir bening itu jatuh di telapak tangan Edo yang tiba-tiba sudah ada di bawah dagu sang adik.
"Jangan menangis lagi, ya? Nanti kakak akan bawakan nasi bungkus untuk makan malammu."
Dahi Eli berkerut, ada sedikit binar di mata jernihnya.
Matahari mulai tenggelam, semburat warna merah mulai terlihat di ufuk barat. Gadis kecil ini duduk di ambang pintu menantikan kakaknya. Sekilas senyum tipis itu terlihat saat membayangkan apa yang akan Edo bawa untuknya. Selama ini kakaknya sering berbohong kepadanya. Tentang tangan terluka karena jatuh, tentang rasa kenyang yang selalu kakanya katakan, atau tentang jalan yang tertatih akibat terpeleset. Eli tahu itu semua bohong dan malam ini dia berharap bahwa kakaknya tidak lagi berbohong.
Satu, dua, sampai tiga jam Eli menunggu, namun kakanya tidak kunjung terlihat. Perasaan gadis kecil ini mulai tidak enak. Saat akan beranjak dari duduknya terlihat siluet sang kakak. Senyumnya mengembang saat Edo membawa nasi bungkus di tangannya.
"Kakak tidak bohong lagi padamu. Ini untukmu." Edo menyerahkan kantung plastik berisi nasi bungkus pada Eli.
Eli makan dengan lahap malam ini, Edo tersenyum melihat adiknya makan dengan lahap. Walau hanya nasi dan seiris tempe goreng, itu sudah lebih dari cukup untuk Eli.
Edo memeluk adiknya erat malam ini. Eli sudah terlelap dari tadi. Dia mengelus puncak kepala sang adik, mengecup keningnya sebelum matanya terlelap.
Mata jernihnya mengerjap beberapa kali. Ini sudah pagi. Kakaknya masih memeluknya. Eli mencoba membangunkan Edo tapi usahanya gagal. Kakanya masih diam tak berkutik dengan bibir yang telah membiru.
By: Adzkia

Dari kisah ini tergambar sebuah pengorbanan seorang kakak kepada adiknya. Dia rela menahan lapar dan mau melakukan apapun agar adiknya selalu bahagia. Kita bisa membayangkan apa yang telah dilakukan oleh sang kakak hingga terluka, pincang, membiru hingga meninggalkan sang adik untuk selamanya. Mudah-mudahan kisah ini mengingatkan kita akan arti kasih sayang terhadap keluarga. Di samping itu kita harus sadar bahwa diluar sana masih banyak orang yang berjuang melawan kemiskinan dan kekurangan. Mari kita bantu mereka, sisihkan rezeki yang kita punya khusus untuk orang yang membutuhkan. Sebab apa yang kita miliki sekarang bukan sepenuhnya hak kita, tapi terdapat hak orang lain yang dititipkan Allah kepada kita agar kita menyebarkan kebahagiaan terhadap sesama dan hubungan kita semakin erat satu sama lain. Semoga kita menjadi orang yang pandai bersyukur.
SHARE:

4 Komentar untuk "Tentang Kamu"

Iya gan. Semoga kisah ini tidak terjadi pada keluarga kita gan.

Sangat menyedihkan membaca ceritanya
Dan mengajarkan kita bagaimana caranya bersyukur,karena masih banyak diluar sana orang yang lebih memprihatinkan dari pada kita...

Benar banget gan. Selain bersyukur sebisa mungkin kita juga harus membantu mereka yang membutuhkan semampu kita.

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top