Gara-Gara Tanda Nama - Saifullah | My Everything

Gara-Gara Tanda Nama

Apa yang salah dengan tanda nama bertuliskan Fani Fadilah? Tidak ada. Siapa yang perlu disalahkan ketika tanda nama itu di dada seorang laki-laki? Tidak ada juga. Tidak ada yang salah. Hanya orang-orang saja yang menanggapnya aneh. Padahal, sangat aneh, "Cowok kok namanya Fani?" begitulah kira-kira.
Itulah aku, yang semasa sekolah selalu menggunakan tanda nama atau nametag di pojok dada sebelah kanan. Di samping pom bensin. Eh, tidak.

Aku sebenarnya malu menggunakannya. Tapi, apalah daya bila diperlukan. Agar orang-orang mampu membedakan antara aku dengan Oppa-oppa Korea, menurutku. Kisah ini terjadi pas aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, SMP. Aku adalah seorang yang pendiam juga pemalu. Sering pula malu-maluin. Tapi, tidak apa-apa, toh sudah hobi.

Tinggal di Kabupaten Bogor, aku bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang terletak masih satu kecamatan dengan desaku. Tapi jaraknya cukup jauh. Melewati beberapa kampung, berpuluh-puluh warung, dan beratus-ratus rumah cabe-cabean. Berangkat sekolah selalu menaiki angkot. Mau naik ikan Indosiar, sudah tidak ada. Mengendarai sepeda motor, tidak punya. Hanya memiliki sepeda roda tiga itupun milik adikku.

Saat di dalam angkot berwarna biru itu, aku selalu was-was. Takut berbarengan dengan ibu-ibu rempong, bermulut blong juga ompong. Tahu sendiri, kan? Ibu-ibu kalau sudah bicara, sadisnya tak terkira. Apa adanya, namun menusuk lara.

Kamis siang, 31 Oktober 2013 aku berangkat sekolah. Seperti biasa, menggunakan jasa angkutan umum. Awalnya aku lega, karna di dalamnya hanya ada penumpang beberapa anak muda. Tapi, lama kelamaan penumpang itu turun satu persatu, digantikan ibu-ibu. Duduklah dua orang itu di hadapanku. Kuperhatikan, yang satu bibirnya tebal sekali, pasti kalau bicara menggores ulu hati. Dan yang satunya lagi bibirnya tipis, pasti ucapannya sinis, menurutku.

Aku berprasangka buruk, pasti dua orang ini akan ngeselin dan terjadi kampret momment untuk yang kesekian kali.
"Kamu gak dianter?" tanya ibu yang duduk di kanan.
"Nggak." jawabku singkat. Kuamati, mata kedua ibu-ibu itu melirik ke tanda nama yang kugunakan. Sorot matanya tajam, bak pemburu gas tiga kilo yang frustasi.
"Kamu cewek tomboy, ya?" ucap ibu yang di sebelah kiri. 
Aku diam saja. Menenangkan diri, menahan menstruasi. Eh, emosi.
"Iya, Bu. Kayanya dia cewek tomboy, deh. Tuh liat aja, dadanya rata!" timpal ibu di sebelahnya, sembari meremas dadaku.
Aku marah! Emosi tak terkendali! Bagaimana tidak? Di saat gerah, mikirin tugas di sekolah, juga catatan hutang yang bertambah, eh ... ada orang bicara begitu.
"Bang, kiri, Bang. Stop! Turunin di sini!" teriakku murka.
"Yaudah. Turun, dah." kata sopir angkot bermuka kolot.
"Bukan saya yang turun! Tapi ibu-ibu ngeselin ini! Turunin dia di sini, Bang!" kataku makin emosi.
Dua ibu-ibu itu malah merekam amarahku. Aku makin kesal. Akhirnya malah sopir angkot yang turun. Aku jadi bingung.

Kemudian muncul beberapa temanku, "Surprise! Kejutan, haha, selamat ulang tahun, Mbak. Eh, Tante. Eh, Neng. Eh Sist! Selamat ulang tahun, Bro." kata Steven temanku sambil membawa kue dengan lilin berangka 14, menunjukkan umur baruku.
*****

Lucu ya ceritanya :D
Cerita ini dibuat oleh Fani Fadilah a.k.a @Oongggggg
Bagi kalian yang suka menulis cerita, bisa kirimkan ceritanya ke kontak kami. Jangan lupa cantumkan akun sosial media kalian agar bisa kami tuliskan di akhir karya. Semoga ceritanya menghibur :)
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top