Kisah Tertulis 3 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 3

Saat aku memasuki sekolah menengah pertama, Ellea tidak lagi menyukai dongeng. Ia memintaku membacakan kisah-kisah yang ... ehm, bagaimana aku menjelaskan? 

Dia akan termenung saat aku mulai bercerita tentang seorang gadis tengah merindukan pemuda yang disukainya, lalu tersenyum saat mendengar bahwa pemuda itu menyatakan perasaan, lalu wajahnya tersipu saat aku membaca kalimat bahwa mereka berciuman.

Bahkan dia memintaku membaca hingga berkali-kali untuk kisah percintaan yang disukainya.

Saat aku duduk di sekolah menengah atas, bentuk tubuh Ellea terlihat jauh berbeda. Tadinya dia sedikit lebih tinggi dariku, tapi sekarang aku yang lebih tinggi. Rambutnya sudah sepanjang pinggang, hitam bergelombang dan halus sekali. Kadang diam-diam aku menyentuhnya dengan ujung jari.

Dadanya membesar, begitu juga bokongnya. 

Dia sudah terlihat seperti gadis kuliahan di luar sana. Tapi sikapnya masih sepolos dulu. Mungkin itu karena dia memang hampir tidak pernah ke mana-mana sepanjang hidupnya.

"Kau sudah pulang?" Terdengar suara Ellea dari balik tembok pagar.

Ya, ayah Ellea sudah selesai membangun pagar setinggi satu setengah meter yang mengelilingi rumahnya. Jadi, kadang kami hanya bisa saling mendengar.

Atau aku terpaksa harus melompat pagar.

Aku menjejak ke tanah berumput di depan jendela kamarnya.

"Ya." Aku menjawab. Lalu bersandar di dinding dekat tepi jendela, sedangkan Ellea menyandarkan tubuh di tepinya.

"Ini hari kelulusanmu, kan?" Dia bertanya, setengah menebak.

"Ya, aku lulus dengan nilai terbaik di kelas. Cuma di kelas, bukan di sekolah." Aku sedikit pamer.

Dia tertawa, "Ya, aku tau kau sepintar itu."

Apa itu pujian, atau sindiran? Entah, aku merasa sedikit malu mendengarnya. Malu, tapi menyenangkan.

"Jadi, kau akan melanjutkan kuliah?" tanya Ellea sambil menopang dagunya dengan satu tangan. 

Dari samping aku memandanginya. 

"Entah," jawabku.

"Tapi kau ingin?"

"Ya, aku ingin."

"Lalu kenapa entah?"

Aku terdiam.

Karena ayahku sudah tidak bekerja sebagai agen koran, dan aku yang harus menggantikannya menjadi tulang punggung keluarga.

Tadi di sekolah, mereka sibuk berdiri berkelompok. Saling bertanya akan kuliah di universitas mana. Kapan mendaftar dan yang semacam itu.

Sementara aku berdiri di sudut.

Tempatku memang selalu di sudut. Tempat yang tak disukai kebanyakan orang, karena biasanya orang ingin menampakkan diri secemerlang mungkin.

"Kau akan bekerja ... ?" tanya Ellea pelan. 

Aku memandangi jemari tangan. 

"Apa ... masih sempat membacakan cerita untukku?" Suara Ellea semakin menghilang.

Kupandangi lagi wajahnya dari samping. Hidung yang membuat bibir atasnya sedikit tertarik ke atas. Itu yang paling kusukai. Bibir kemerahan yang setiap beberapa menit selalu ia basahi dengan kuluman lidah. 

"Ya, sempat." Aku berkedip saat mulai merasa detakan jantung sedikit mengencang, "tapi mungkin aku bacakan di malam hari ..."

"Ohh."

"Sekarang, aku ingin membacakan sesuatu untukmu ..."

"Cerita?"

"Bukan."

"Apa ..?"

Aku menggaruk kepala. "Umm ... mereka bilang ini puisi ..."

"Ohh ..."

Aku merogoh secarik kertas dari dalam saku celana jeans. Lalu membuka lipatannya. Sedikit berdehem untuk mempersiapkan diri. Lalu mulai membacakannya untuk Ellea.
.

Kucabut segenggam merah
Dari rongga dada
Masih berdetak
Kadang menyentak
Kuberi padamu
Kau bertanya, kenapa?
Aku mengeluh
Itu punyaku
Tapi mengkhianatiku
Karena tak bekerja untuk pemiliknya
Tapi untukmu

Hei, Nona
Kini kau punya dua
Sementara kosong di dalamku
Takkan kuminta itu
Hanya jagakan sebisamu
Karena denyutnya,
Tergantung kamu

.
Kulihat senyum di bibir Ellea, "Itu manis ..."

"Kau suka?"

"Ya." Dia sedikit tersipu.

Begitu juga aku.

"Athaya .."

"Ya?"

"Apa langitnya cerah?" Dia menengadah ke atas. Tapi aku tahu dia tak bisa menangkap apa-apa. Bahkan sedikit cahaya.

Ellea bilang begitu gelap. Dunianya begitu gelap. Kadang rasanya gelap dan sepi, seperti kematian. Lalu merasa hidup saat aku datang dan bercerita untuknya.

Kadang, aku ingin menemukan jawaban. Jawaban atas pertanyaan yang sering dilontarkan Ellea padaku. Kenapa Tuhan membiarkan seseorang hidup dalam kegelapan seumur hidupnya? Apa Tuhan tidak tahu rasanya berada dalam gelap itu sesesak apa?

"Ada banyak bintang," jawabku.

Kini kami berdiri begitu dekat. Sangat dekat. Hingga aku bisa mencium harum tubuhnya.

"Athaya ..."

"Ya?"

"Jadi ... aku punya dua jantung sekarang?"

Aku terdiam. Merasa wajahku memanas seiring dengan dada yang semakin berdebar.

Beberapa saat, kami saling hening.

Lalu saat Ellea menoleh. Aku mencium bibirnya, lembut.

***

Terdengar suara barang-barang terbanting ke lantai. Keras. Hingga Aluryn yang kini berusia 10 tahun mendekap ibu.

Ayah berdiri di dekat pintu rumah. Berkali mengusap wajah, sementara ibu hanya diam dengan wajah penuh beban.

Terdengar suara bantingan lagi. Pecah. Lagi-lagi ibu dan Aluryn tersentak kaget.

Aku duduk terpekur di kursi usang ruang tamu kecil kami. Sesekali menoleh ke arah rumah Ellea. Dari situlah suara-suara benda terbanting itu berasal.

Ayah Ellea marah. Dia memergoki saat kami berciuman tadi. Bahkan aku hampir saja dipukulnya jika Ellea tidak berteriak.

Tak tahu diri, katanya.

Kami keluarga tak tahu diri. 

Lalu serangkaian kata menjijikkan keluar dari mulutnya. Aku merasa mual. Ingin sekali meninju wajahnya, tapi ... dia ayah Ellea.

"Kenapa dia benci sekali pada keluarga kita, Ayah? Apa karena kita miskin?" tanyaku dengan suara sedikit bergetar. Menahan kemarahan karena masih mendengar caci maki pria temperamental itu.

"Tidur sana!" 

Aku sedikit tersentak. Tidak pernah menyangka ayah bisa semarah ini. Lalu dengan pikiran kacau, aku pergi ke kamar.

Masih terdengar makian ayah Ellea. Sesekali masih terdengar suara benda terbanting ke lantai. Lalu aku membenamkan wajah ke bantal dalam-dalam.

.

       Gelap!

Aku membuka mata. Gelap. Tetap gelap!

Tanganku bergerak ke depan wajah. Tepat di depan wajah, tapi sama sekali tak terlihat. 

Jantungku berdetak kencang. Ketakutan, aku meraba-raba seprai ranjang. Napasku mulai tersengal. Sesak.

Apa aku buta? Ya Tuhan, apa aku buta? 

"Athaya ...!" Terdengar suara ketukan di pintu kamar.

"Ibu!" Suaraku tercekat.

"Athaya, buka pintunya! Kau pasti ketakutan!" 

Aku beringsut turun dari ranjang. Lalu menghambur ke pintu dan membukanya. 

Ibu berdiri di depan pintu kamar dengan satu lilin di tangannya. Dipandanginya wajahku, mungkin mengamati betapa pucat warnanya.

"Mati listrik. Ibu tau kau ketakutan. Ambil ini." Dia menyodorkan piring lilin padaku. Lalu berbalik kembali ke kamar mereka.

Aku mendesah lega. Lalu berbalik masuk dan menutup pintu kamar.

Di tepi ranjang aku duduk, mengamati nyala lilin yang berpendar pelan tertiup angin malam. Masih kuingat pertanyaan Ellea beberapa tahun lalu. Lalu menertawakan diri sendiri. 

Aku, orang yang sangat takut kegelapan. Walaupun selama beberapa tahun ini sudah berusaha, tetap saat terbangun dalam kegelapan aku merasa akan mati. Lalu bagaimana aku bisa menggantikan kebutaan Ellea? 

***

Aku terdiam. Begitupun Ellea. Gadis itu menggigit bibirnya.

"Kau tahu akan pergi ke kota mana? Ayahmu benar-benar tak memberitahu?" tanyaku, untuk yang kesekian kali.

Ellea menggeleng pelan. Kini terlihat kaca-kaca di mata biru pucatnya. 

"Bertanyalah pada ayahmu," pintaku.

"Aku sudah bertanya berkali-kali, tapi ayah tidak mau memberitahuku ..." suaranya terdengar parau.

"Kemana dia sekarang?" 

"Dia pergi menyewa mobil untuk mengangkut barang-barang kami," jawabnya.

Aku memandangi wajah Ellea. Sementara pikiranku melayang-layang entah kemana. Kacau.

"Apa ... ini karena ciuman kita beberapa minggu yang lalu?" Aku bertanya.

"Aku tidak tahu. Tapi kudengar ayah sempat membicarakan sesuatu dengan seseorang beberapa hari ini."

Aku menarik napas.

"Athaya ... apa kita tidak akan bertemu lagi?"

Aku tidak tahu.

"Aku akan mencarimu," ucapku.

"Bagaimana aku tahu kalau yang datang kamu?"

Aku terdiam.

"Aku akan memberitahu bahwa aku yang datang."

"Bagaimana jika ayah menyuruh orang lain untuk berpura-pura jadi kamu?"

Lama, kami saling diam.

"Beritahu aku bagaimana wajahmu ..."

"Kau sering meraba wajahku."

"Apa kau ingin aku harus meraba wajah setiap pria nanti?"

"Jangan!"

"Beritahu aku ..."

Aku menatap bayangan wajahku di kaca jendela kamar Ellea. Bagaimana harus menjelaskan padanya? Aku punya alis, aku punya mata, aku punya hidung. Sama seperti yang lain.

"Beritahu aku satu ciri khusus punyamu. Yang orang lain tak punya ..."

Aku terdiam. Lama. 

Lama.

Hingga berkali-kali kudengar Ellea memanggil namaku.

"Athaya?"

"Athaya?"

"Athaya?"

"Ya."

"Kenapa lama sekali?"

Aku mendesis.

"Athaya?"

"Punggung telapak tanganku ... punya bekas luka. Lukanya sedikit memanjang ..." 

Ellea mengangguk-angguk.

"Boleh kuraba sekarang? Agar aku mengenalinya.."

"Ahmm ... jangan. Kau ingat saja itu ..."

Ellea akan memprotes. Tapi aku segera berpamitan. Sekilas mencium keningnya, lalu melompati pagar.

Dan meninggalkan noda darah di sana.

Penulis: Patrick Kellan

2       3       4
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top