Kisah Tertulis 4 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 4

"Athaya?" Mata ibu menyipit saat aku melewatinya.

Sementara Aluryn menutup mulutnya dengan mata membeliak. Ngeri.

"Ini tidak apa-apa. Aku hanya sedikit tersangkut pagar!" Aku menepis pemikiran mereka.

Bergerak kesana-kamari mengambil betadine, sayangnya tak kutemukan kain kasa. Jadi aku menyambar apa saja untuk menutupi lukanya. 

Kemudian berlalu keluar rumah.

"Athaya!" Ibu berteriak memanggil.

Tapi tidak kupedulikan, karena saat ini aku sedang bersaing dengan waktu.

.

       Dari kejauhan aku berlari pulang.

Terlambat. 

Perlahan, sebuah truk pengangkut barang meluncur keluar dari halaman rumah Ellea. Lalu menyusul mobil sedan kecil di belakangnya. Mobil keluarga Ellea. 

Aku berhenti.

Truk pengangkut barang sudah melewatiku. 

"Paman!" Aku melangkah sedikit ke tengah jalan saat mobil sedan itu bersiap menambah kecepatan, berusaha menghalangi lajunya.

Suara klakson terdengar nyaring. Sebagai tanda agar aku segera menyingkir.

Aku melangkah maju, lebih dekat ke arah mobilnya.

"Paman, tunggu sebentar!" 

Suara klakson mobil terdengar lebih panjang. Menyiratkan kemarahan. Kulihat samar bayangan Ellea di dalam sana. Gadis itu menempelkan wajah di balik kaca jendela. 

"Ellea!" Aku memanggil. Sambil berusaha mengimbangi laju mobil. Sempat memegang kaca mobil, hingga meninggalkan bercak kemerahan di sana.

"Ellea!" Kali ini aku harus berlari semakin cepat. Tapi tetap saja mulai tertinggal.

"Ellea ...!!" Aku berteriak. 

"Ellea ..!!

"Ellea ..!"

"Ellea ..."

Akhirnya mobil itu benar-benar tak terkejar. Aku berdiri ragu. Antara harus terus mengejar mobil yang semakin cepat, atau menyerah?

Kedua tanganku gemetar saat melangkah lagi, antara pasrah dan ingin berlari. Hingga yang kulakukan hanya mengusap sudut mata dengan punggung tangan yang masih menggenggam kamera. 

"Ellea!"

Ellea, perpisahan macam apa yang seburuk ini?

Di ujung gang, terlihat Edward. Pemuda berwajah tirus itu sekilas menoleh ke arah dua mobil yang baru saja berlalu. Lalu berpaling padaku.

"Aku ... baru saja akan memberitahu bagaimana cara menggunakannya." Dia terlihat ... iba.

Aku mengamati kamera yang kupegang. Lama. Lalu mengulurkan itu padanya karena sudah tak berguna.

Tanpa kata.

.

Baru sore pertama kulihat jendela itu tanpa Ellea. Rasanya sangat sesak. Seolah mati dalam keadaan jantung masih berdetak.

Sangat sesak.

Sungguh, ini sangat sesak.

Lalu aku menangis.

Di dalam kamar, meletakkan kepala di atas lusinan buku tulis dengan nama Napoleon Bonaparte. 

Untuk pertama kali aku menangis karena seorang gadis.

***

Tak ada foto, tak ada surat, tak ada benda apapun yang bisa kusentuh saat merindukan Ellea. 

Hingga tiap kali harus masuk ke dalam kamar, yang kurasakan hanya sunyi yang menyengat.

Sepi.

Tanpa makna.

Lalu akhirnya aku menyadari. Ketakutan terbesarku bukanlah kegelapan, tapi lupa bagaimana garis wajah Ellea.

Itu ketakutan yang paling nyata.

"Kau menggambar apa?" Aluryn bertanya tiap kali masuk kamar.

Lalu kepalanya berputar, mengedarkan pandangan ke setiap inci dinding kamar. Di mana terlihat kertas-kertas putih dengan sketsa wajah seorang gadis tanpa warna.

Kecuali matanya. Mata berwarna biru pucat yang tak bisa melihat dunia, jadi kuberi duniaku padanya.

Lusinan kisah itu, adalah cerita yang kutulis untuknya. 

Kadang Ellea berkata kisahnya kurang menarik, kadang dia sedikit mengkritik. Tapi kadang dia sangat berbunga-bunga mendengarnya. Lalu memuji nama Napoleon Bonaparte.

Aku tersenyum.

Dia sedang memujiku, tapi dia tidak tahu. 

Sekali dia pernah berkata mengagumi Napoleon Bonaparte. Karena kisah cinta yang dia tuliskan begitu menarik. Dan saat senyumnya tersipu, aku terpaku. Senyumnya sungguh manis sekali.

Ah, sial. Ada tetes menitik lagi di atas sketsa. 

"Kenapa kau menggambar begitu banyak wajah Kak Ellea? Ini sungguh jadi seperti pameran di galeri museum!" Aluryn berkata heran. Sedikit takjub.

"Aku takut lupa."

"Bagaimana kau akan lupa jika kau selalu mengingatnya?" Aluryn menyindir.

Karena saat mencintai begitu dalam, yang teringat adalah kata-kata mereka dan apa yang kau rasakan saat itu. Bukan wajahnya.

Sesuatu menetes. 

Lalu, tetes-tetes yang lain berebut menyusul.

Tanpa bisa kucegah. Hanya bisa mengeluh, karena untuk kesekian kali airmataku merusak sketsanya.

 Penulis: Patrick Kellan

3       4       5
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top