Kisah Tertulis 6 - Saifullah | My Everything

Kisah Tertulis 6

Aku tidak punya pengalaman untuk mengajari seseorang. Jadi kulakukan semampuku. Pertama, aku menyuruhnya memperbaiki tanda baca. 

Tapi, astaga ...

"Ini salah. Ini salah. Ini salah!" Jariku menunjuk beberapa tempat di atas kertas yang baru saja ditulisnya.

"Ah ..." Mulutnya sedikit terbuka.

Kesalahan yang sama berulang kali. Bahkan aku pikir gadis ini sama sekali tidak berniat untuk belajar. Aku menarik napas, lalu membuangnya sambil mengalihkan pandangan keluar jendela. 

Dari sini aku bisa melihat taman hijau yang tertata rapi di halaman. Sepi. Sejak tadi tak kulihat ayah dan ibunya. Hanya beberapa asisten rumah tangga yang seperti tak acuh dengan kedatanganku. Aimee bilang ayah dan ibunya memang tak pernah di rumah karena bisnis yang dijalankannya.

Klise. 

Rumah Aimee dua kali lebih besar dari rumahku. Dan berkali lipat lebih bagus tentu. Lantainya berupa keramik mengkilap yang sangat keren hingga kakiku berdecit setiap kali melangkah. Dipenuhi dengan perabotan yang menurutku tidak terlalu perlu untuk dibeli. Hanya untuk menambah kesan elegan. Ah, lupakan masalah rumah. Aku harus fokus mengajari gadis ini.

"Kemarin saat aku mendaftar, mereka menyukai karyaku. Mereka sempat bertanya apa itu benar-benar ideku? Aku menjawab ya. Aku tidak bohong kan, itu memang ideku. Hanya saja ... kau sudah memolesnya jadi jauh lebih bagus." Dia bercerita. 

Aku mendengarkan.

"Karena itu mereka tidak memberiku banyak pertanyaan lain, langsung menerimaku begitu saja. Hei, Athaya! Kurasa aku harus mempromosikan hasil tulisanmu di sana."

"Ohh ..."

"Atau .. kau ikut masuk saja. Agar kita bisa lebih banyak belajar. Tapi kau harus tetap mengajariku."

Banyak bicara. Dia sama sekali tidak fokus ke apa yang kuajarkan tapi terus menerus bercerita tentang apa yang melintas di kepalanya. Tentang orangtua, tentang sekolah, tentang komunitas menulis dan sesekali tentang hal-hal konyol yang sama sekali tidak penting.

"Sekarang tulis sebuah suasana, lalu masukan dialog di dalamnya. Dialog yang tidak seperti drama. Juga narasi yang tidak terlalu berlebihan seperti puisi." Aku memberi perintah, setelah waktu belajar terbuang untuk ceritanya.

Dia menghembuskan napas, lalu mulai menulis. Setelah beberapa saat, dia memberikannya padaku. 

Lumayan. Tapi tanda baca lagi-lagi kurang tepat.

"Perbaiki tanda bacanya!"

Dia menulis lagi. Lalu,

"Masih salah!"

Dia memperbaikinya.

Tetap salah.

Tuk! Aku mengetuk kepalanya dengan pena di tanganku. Pelan. Tapi dia tahu maksudnya.

"Kenapa mengetuk kepalaku?" Kesalnya sambil mengusap dahi.

"Hanya memastikan apa di dalam situ ada isinya."

Matanya membesar.

"Athaya!"

"Apa?"

"Benar-benar guru yang kasar!"

Dan dia adalah murid yang tak berhenti bermain-main.

"Coba ulang sekali lagi."

Dia sempat mendengus, kesal. Tapi kemudian menuruti perintahku. 

Beberapa menit kemudian dia menunjukkannya padaku. Bukan. Bukan tulisan seperti yang aku mau. Tapi gambar kepala dengan wajah bertuliskan nama Athaya. Dengan taring panjang di mulutnya.

Dia menatapku. Aku membalas tatapannya.

"Kau seperti ini!" Dia menyeringai.

Mataku membesar. Apa itu lucu?

Aku meraih buku-buku yang kubawa dari rumah. Mengumpulkannya jadi satu dan memasukkannya ke dalam tas.

"Umm ... aku mau belajar! Oke, aku akan menulis lagi!" Dia buru-buru membuka bukunya. 

Beres. Aku bangkit berdiri.

"Athaya?" Dia mendongak.

Aku melangkah pergi dari ruangan itu.

"Athaya! Aku tadi cuma bercanda!" Kudengar seruannya.

Aku tetap berjalan dengan langkah lebar menuju pintu keluar.

"Baik, pulang saja sana! Aku tak peduli! Kau memang tidak berbakat jadi guru! Kau lebih pantas jadi tukang marah-marah! Kau dengar? Kau hanya pemuda pemarah! Menyebalkan!"

Dia meracau entah apa. Dan aku tak peduli.

***

       Pagi.

Aku membuka mata. Lalu mengusap wajah. Kemarin sempat kulihat senyum ibu karena aku bilang sudah mendapat pekerjaan. Tapi hari ini ... aku harus bilang apa?

Mata biru Ellea menatapku. Dengan ekspresi wajah yang sama. Karena dia terkurung di dalam sketsa.

Bangkit dari ranjang aku berlalu keluar. Lalu mendapati Aluryn yang sedang merengek di meja makan. Meminta ibu segera melunasi uang sekolahnya.

"Sudah bangun, Athaya?" 

Terlihat harapan di matanya saat melihatku. Seolah ingin mengatakan pada Aluryn bahwa nanti akulah yang akan membayar uang sekolahnya.

Itu ... beban.

Aku duduk di salah satu kursi meja makan. Dari sini bisa kulihat ayah yang terbaring lemah di atas ranjang kamar mereka. Apa aku sudah bilang? Bahwa dia berhenti bekerja sebagai agen koran karena punya penyakit. Penyakit yang tidak bisa mengizinkannya bekerja terlalu berat. Lalu akhir-akhir ini ... dia semakin payah.

"Ayah sudah sarapan?" Aku menoleh pada ibu yang sedang membuat secangkir teh hangat untukku.

"Ibu baru membuatkan bubur untuknya ..." jawab ibu, "hari ini ... kita hanya bisa makan bubur," tambahnya pelan.

Aku terdiam. Memandangi kuku-kuku tangan dengan pikiran melayang.

Lalu tersenyum.

Kadang, ada kalanya harga diri harus di singkirkan terlebih dahulu untuk melindungi mereka yang disayangi. Melindungi dari rasa lapar hari ini.

Aku menarik napas, lalu memutuskan untuk mandi.

.

Setelah menyiapkan buku-buku, aku menggendong tas hitam itu di bahu sebelah kiri.

"Aku pergi!" Pamitku.

Kudengar sahutan dari dalam kamar sana. Ibu sedang menyuapkan sarapan pada ayah, jadi tidak sempat keluar.

Baru akan melangkah keluar halaman, saat kulihat sosok seorang gadis di luar pagar. Berdiri menatapku dari kejauhan.

"Aimee?"

***

Aku akan datang ke rumahnya tadi, tapi ternyata Aimee sudah menyusul di depan pagar. Aku tidak tahu darimana dia mendapatkan alamatku, tapi kemudian menyadari bahwa waktu itu surat-surat lamaran pekerjaan diambil olehnya.

Tapi hal bagus dari kejadian kamarin bahwa Aimee jadi sedikit lebih serius sekarang.

"Sudah bagus?" Matanya mengerjap meminta pendapatku sesaat setelah aku selesai membaca paragraf terakhir tulisannya.

"Lumayan," sahutku sambil meletakkan kertas itu di meja.

Kulihat gadis itu tersenyum lebar.

"Athaya .." 

"Ya?"

"Di setiap tulisanmu kau menuliskan nama Napoleon Bonaparte. Apa itu nama penamu?" 

Aku terdiam sesaat, "Mungkin."

"Dan tentang cerita jiwa cantik yang bersembunyi di dalam raga tak sempurna ... aku menyukainya."

"Oke."

Dia menatapku lewat sepasang mata jernih itu. Sambil memainkan jemari lentiknya, mengetuk-ngetuk meja kaca di hadapannya. 

"Kau tahu ... caramu menulis manis sekali."

"Oh ya?"

Dia menganggukan kepala.

"Bahkan tulisanmu .. bisa membuat pembaca jatuh cinta ... padamu."

Aku tertawa pelan, "Itu konyol."

"Tidak, aku serius. Aku sebagai pembaca .. umm ... maksudku, aku merasa seperti itu saat membaca tulisanmu." Wajahnya sedikit merona.

Menciptakan rasa gugup di antara kami. Sesaat hanya terdengar suara detak jam dinding. 

"Aku bisa membayangkan para gadis akan meleleh saat membaca kisah romantis yang kau tulis. Lalu akan semakin histeris ... saat melihat wajahmu."

Aku terdiam.

"Athaya ..."

"Hmm?"

"Kau tahu apa yang paling menarik di wajahmu?"

"Apa?"

"Mata." Dia menatap kedua mataku dalam-dalam, "matamu terlihat teduh sekali... itu romantis."

Aku berpaling ke arah lain.

"Ini bukan mataku."

"Apa?"

"Ini ... mata Ellea."

Penulis: Patrick Kellan

5       6       7
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top