Istri Pak Rupawan Kurang Menawan - Saifullah | My Everything

Istri Pak Rupawan Kurang Menawan

Namanya Rupawan, pria berusia sekitar 40 tahunan. Dandanannya perlente, dengan jeans biru dan sepatu. Selalu mengenakan kemeja merk terkenal dengan warna yang berbeda-beda. Kantong tebal karena diselipi dompet penuh terisi.

"Pagi, Pak!"

"Wah, keren sekali hari ini, Pak!"

Pak Rupawan memang tak muda lagi. Sudah punya 3 putra dari seorang istri yang sederhana. Tapi gayanya yang gagah dengan mudah memikat gadis, janda, atau istri orang yang melihatnya. Terutama karena Pak Rupawan terkenal royal pada setiap wanita yang tak malu meminta.

"Om, beliin pulsa!"

"Mas, boleh dong ditraktir makan!"

"Wah, coba suami saya seperti Abang. Kepengen minta beliin apa aja keturutan. Makasih ya Bang!"

Selingkuh? Tidak. Pak Rupawan punya hati yang menawan. Ia hanya bersikap ramah dan suka memberi bantuan. Tak peduli seberapa banyak pun wanita yang mengejar. Untuknya, hanya ada satu orang sebagai tempat peristirahatan.

"Ma, lihat Papa bawa apa?"

"Hmm, bawa apa?"

"Nih!"

"Papa ... bagus banget kalungnya."

"Cocok dipake di leher Mama."

"Tapi ... apa ini nggak kemahalan, Pa?"

"Buat Mama, nggak ada yang namanya kemahalan."

Dulu, di awal-awal pernikahan, Pak Rupawan hanyalah seorang bawahan. Tidak banyak yang mengenal. Tidak banyak yang menyapa. Bahkan berkali-kali sempat berhenti kerja.

"Kenapa lesu, Pa?"

"Papa berhenti kerja, Ma."

"Kenapa?"

"Bosnya kelewatan. Tenaga Papa sama sekali tak dihargai dengan sepadan!"

Pernah suatu kali, Pak Rupawan pulang dalam keadaan menyedihkan. Setelah dipecat karena beberapa kali melakukan kesalahan. Berdiri termangu dia di depan pintu. Demi melihat sang istri yang menunggunya hanya makan dengan sepiring nasi.

Hatinya teriris sakit sekali.

"Ma ... makan pake apa?"

"Tadi cuma bisa beli seliter beras, Pa. Jadi makan pakai nasi saja."

Sedih, Pak Rupawan merasa tak berguna sebagai seorang suami. Menangis ia di pelukan sang istri. Meracau, meratap, mencaci diri sendiri.

"Tidak beruntung sekali kamu punya suami sepertiku, Wi! Suami yang bisanya cuma membawamu sengsara saja. Malu aku sebagai laki-laki ..."

Tapi sang istri dengan begitu sabar mengusap kepalanya. Membisikkan kata-kata sanjungan mesra di telinga.

"Papa bukannya membawa sengsara, hanya belum ditunjukkan jalan yang pas untuk mulai bangkit dari kekurangan ini ... apapun keadaannya, Mama tetap bersyukur punya suami bertanggung jawab seperti Papa."

Tertatih mereka berdua melewati waktu. Hamil, melahirkan lalu kemudian muncul wajah-wajah baru. Pak Rupawan semakin giat bekerja. Jika mulanya hanya gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan, perlahan telah menjadi timbunan kekayaan.

"Ma, hari ini Papa dapat proyek besar!"

"Alhamdulillah, Pa! Akhirnya doa kita dikabulkan Allah!"

Semuanya membaik seiring hari yang berlalu.

Hingga akhirnya Pak Rupawan menjadi salah satu orang terpandang. Yang di setiap diadakan acara, disediakan kursi khusus baginya. Memperlihatkan betapa keberadaannya merupakan tamu teristimewa.

"Silahkan duduk di sini, Pak! Ini khusus untuk Pak Rupawan!"

"Terimakasih!"

"Kami yang banyak berterimakasih, karena Bapak sudah meluangkan waktu untuk datang!"

Hanya saja kemudian terdengar desas-desus itu. Tentang Pak Rupawan yang gagah dengan gaya berkelas, kemana-mana membawa sang istri yang berdandan ringkas. Baju panjang yang tak sesuai mode, aksesoris ringan yang tak tampak seperti perhiasan, dan wajah biasa saja tanpa dipoles bedak mahalan.

Tidak pantas.

Terlihat tak seimbang.

"Kalau aku jadi istri Pak Rupawan, aku mau menghabiskan uang ke salon kecantikan. Percuma punya suami banyak uang tapi tidak dimanfaatkan!"

"Iya benar, mata lelaki itu seperti kucing. Selalu jelalatan di luar walaupun di rumah terlihat seperti hewan peliharaan. Bagaimanapun mereka suka liat yang kencang-kencang."

"Lagipula apa salahnya sih membahagiakan suami dengan bergaya sedikit seksi? Kalau istri banyak yang memuji kan suami berpikir dua kali untuk kawin lagi!"

"Kasihan Pak Rupawan, wajah tampan, harta bergelimpangan, tapi istri sama sekali tak bisa dibanggakan!"

"Padahal aku mau jadi istri kedua!"

"Ah kamu, Pak Rupawan bilang dia tidak bakal menikah lagi! Baginya pernikahan itu cukup dengan satu orang istri!"

Memang benar tentang semua yang dibicarakan. Istri Pak Rupawan sama sekali tak bisa dandan, tapi Pak Rupawan tidak mau juga menduakan.

***

Hanya saja yang namanya hidup, kadang memang susah terpuaskan. Hati menolak, tetapi mata terpikat telak.

Melihat si Erna, gadis penggoda di sebelah rumah yang pahanya putih mulus. Melihat si Meri, janda kembang yang tiap berpakaian dadanya seperti menantang. Dan melihat si Rosita, istri bawahan yang tiap kali keluar dari kamar kontrakan semua pemuda langsung jelalatan memandang.

Kadang Pak Rupawan membayangkan juga bisa merengkuh istri yang bodinya seperti biola. Duduk mesra berdua mencium pipi yang putih mulus, sambil mendengarkan mereka berceloteh manja. Minta ini, minta itu dengan gaya yang kemayu. Membuat gemas lalu akhirnya menghabiskan malam tanpa jeda di atas ranjang.

Ah betapa puas rasanya. Punya harta, tahta dan wanita yang sedap dipandang mata.

Tapi pasrah ditepisnya bayangan-bayangan itu. Menyadari bahwa yang semula hanya angan-angan itulah akhirnya terjadi sebuah perselingkuhan yang berujung perceraian. Biarlah semua berjalan normal. Mencari uang untuk menyenangkan istri dan anak yang semakin dewasa.

Meski entah berapa banyak wanita di luaran sana terus menggoda. Bahkan beberapa di antara mereka terang-terangan minta ditiduri tanpa imbalan berlebihan.

Tapi sejauh ini, Pak Rupawan masih bisa tetap menahan.

Hingga akhirnya suatu pagi. Sang istri ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri.

"Ma! Mama! Bangun, Ma!"

Diam.

"Ma! Mama!!"

Panik, Pak Rupawan membawa istrinya ke Rumah Sakit. Berharap nyawa wanitanya bisa segera mendapat pertolongan. Tapi ternyata Tuhan berkata lain.

"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?"

"Maaf, nyawa istri Bapak sudah tak bisa diselamatkan."

Istri Pak Rupawan meninggal setelah divonis mendapat serangan jantung.

"Ma ..."

Terisak Pak Rupawan mengantar sang istri ke pemakaman. Merasa tak ada lagi tempat berbagi, tak ada lagi tempat memuaskan diri.

Hanya saja entah kenapa sebagian hatinya bukan merasakan kesedihan, tapi kelegaan.

Lega, karena akhirnya dia punya sebuah kesempatan.

Beristrikan wanita berbodi biola, yang suaranya terdengar manja. Yang tidak mengatakan lelah tiap kali tubuhnya ingin dijamah.

***

Hanya dalam hitungan hari, Pak Rupawan menjadi layaknya seorang duda incaran. Gagah, tampan, dengan begitu banyak harta kekayaan.

"Eh, Erna! Jangan ke ge-er an di depan Pak Rupawan!"

"Siapa juga yang ke ge-er an. Memang Pak Rupawan yang ngasih perhatian lebih kok!"

"Halah, dasar kalian berdua keganjenan! Pak Rupawan itu lebih suka sama yang kalem kaya aku!"

Kemana-mana terlihat wanita berparas ayu yang merayu. Dari yang pamer badan, hingga pamer kepandaian. Kepandaian membuat napas Pak Rupawan tersengal karena napsu tertahan.

"Pak, nanti malam saya pijat badannya, mau?"

"Mas, katanya mau ngajak ke klub malam?"

"Om, nonton yuk! Setelah itu makan di hotel!"

Hati Pak Rupawan mulai disibukkan dengan pilihan. Memilih antara gadis, janda, atau istri orang. Setiap berjalan, langkahnya seolah mengambang. Karena puja-puji yang bertaburan.

"Saya mau nunggu sampai hati Mas terbuka lagi untuk mencari calon istri."

"Mas, aku bisa mengurus anak-anakmu. Terutama mengurusmu hingga kita tua nanti."

"Om, Nikahi aku!"

Pak Rupawan hanya tersenyum, sambil menghitung uang yang akan digenggamkan di tangan. Nanti, ia ingin lebih lama menikmati semua ini.

***

Lalu, mulailah ditunjukkan kebenaran itu.

Perlahan, usaha yang ia tekuni seperti merosot turun dengan drastis. Mengalami kebangkrutan, hingga satu persatu akhirnya dilepaskan.

Hanya dalam hitungan bulan, Pak Rupawan banyak berubah dari seorang pengusaha kaya, menjadi seorang yang biasa saja.

Tak banyak harta, hanya cukup untuk mengurus ketiga putranya.

Mulai hening sorak sorai itu. Mulai sepi langkahnya tanpa ada yang mengiringi. Para wanita yang dulu selalu menemani, kini entah kemana tak terlihat lagi.

Dalam doa yang ia lantunkan di keheningan malam, Pak Rupawan mulai mengerti.

Terkadang, seorang suami tak menyadari, bahwa segala harta dan kemudahan yang ia miliki, adalah berkat doa tulus dari sang istri.

Dan semua itu seringkali ikut terenggut, saat mereka sudah tak lagi ada di sisi.

Penulis: Patrick Kellan
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top