Reuni - Saifullah | My Everything

Reuni

Reunian
Terlihat undangan reuni di grup WA dengan nama 'Alumni SMA 21'. Setelah 8 tahun kelulusan, akhirnya mereka akan mengadakan reuni besar-besaran.

Terlihat komentar-komentar para alumni yang rata-rata menyambut acara itu dengan gembira.

Kangen masa-masa sekolah, itu alasannya. Sisanya mungkin berniat untuk memamerkan apa yang sekarang dia punya. Dan pembahasan berlanjut tentang memori indah dan lucu di sekolah dulu.

Siapa yang dulu tak mengenal Liana? Gadis paling cantik, sangat populer hingga beberapa kali ada siswa yang berkelahi memperebutkannya. Yang sangat dikenal di kalangan kakak kelas dan adik kelas, bahkan ada beberapa guru yang coba mendekatinya.

"Liana, dapet salam lagi dari Kak Yunus!" Kayla menyampaikan.

Liana cuma tertawa kecil. Tidak berbunga lagi hatinya menerima salam manis, pujian, bahkan puja dari lawan jenisnya.

Liana, Dian, Ocha dan beberapa lainnya adalah gadis-gadis populer di SMA mereka. Sementara untuk pemuda ada Rizal, David, Tony dan entah siapa lagi.

Sementara di bangku sudut sana, terlihat Koriah. Gadis bertampang minus. Dengan seragam seadanya, tanpa mengubah ukuran seperti siswi lain agar lebih pas di bagian dada.

Kori yang pendiam, bahkan menyukai teman sekelas pun diam-diam. Fajri namanya.

Tak heran jika nanti di reuni kali ini, nama mereka lah yang paling banyak ditanyakan teman-teman.

Bukan namanya.

***

Hari itu, hari dimana reuni digelar. Panitia reuni menyewa sebuah gedung. Biaya ditanggung oleh pengumpulan dana para alumni yang datang.

Suasana terlihat nyaman. Para alumni yang datang mulai berdiri berkelompok. Membaur dengan orang-orang yang mereka kenal. Saling memanggil nama, lalu berpelukan senang menyadari siapa yang datang.

Kori memasuki pintu aula. Lalu matanya disambut oleh foto-foto lama para siswa SMA 21 yang dicetak dalam ukuran besar. Tak ada foto dirinya. Yang paling banyak adalah foto-foto Liana dan puluhan siswa yang terkenal di sekolah dari setiap tahunnya. Tapi setidaknya foto-foto itu bisa membangkitkan kenangan Koriah saat berada di SMA.

Melihat gedung sekolah, kantin, koridor, taman dan lapangan dimana dia menghabiskan setengah hari selama tiga tahun.

Ah, kerinduan itu kembali mengusik hatinya.

Apalagi, setelah mata Kori menemukan sosok itu. Sosok pemuda bertubuh tinggi dengan wajah tampak lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu dulu. Dia tengah sibuk berbincang dengan teman-teman sesama pria di sebelah sana. Terlihat seru dan menyenangkan sekali.

Dia Fajri. Pemuda yang saat mencoret punggung baju Kori hanya sempat mengucap.

"Sudah!" Sambil mengulurkan kembali spidol merah yang diberikan Kori padanya. Satu-satunya teman pria yang diizinkan Kori untuk mencoret bajunya.

Saat itu, baju Kori masih separuh bersih. Karena jarang sekali teman yang mau sukarela menuliskan sesuatu di bajunya jika tidak diminta. Berbeda sekali dengan baju Liana yang sudah berubah menjadi batik tulis berbagai warna.

Iri. Kadang Kori ingin sekali menjadi Liana. Semua perhatian tertuju pada gadis itu. Semua orang mengenalnya, bahkan para guru.

"Kori ya?" Tiba-tiba seseorang menyapa.

Kori sedikit terkejut. Tak menyangka ada yang mengenali. Saat menoleh, terlihat olehnya seorang wanita berhijab biru menatap dengan mata berbinar.

Kori ingat. Dia Delisa, teman sebangkunya.

"Delisa?" Senyum terkembang di wajah Koriah.

Lalu seperti layaknya saat dua wanita bertemu. Mereka berpelukan erat setelah mencium kedua belah pipi. Lalu saling tertawa dan membahas tentang masa-masa SMA.

Mulai berdatangan teman-teman lain ke arahnya.

"Kori?"

"Kamu Kori?"

"Ya Allah ... beneran kamu Kori?"

Mereka menggumamkan kata bernada sama. Sambil memandangi penampilan Kori dari atas sampai bawah.

"Iya ..." Kori menjawab sambil tersenyum.

Lalu disadari olehnya sosok itu menoleh. Sedikit menyipitkan mata, seperti mencoba mengingat siapa yang sedang dilihatnya saat ini.

Ada sesuatu berdesir di hati Kori saat pandangan mereka bertemu. Dan semakin berdesir saat melihat pemuda itu melangkah mendekat.

"Kamu udah kerja?" Terdengar pertanyaan salah satu teman.

Kori mengangguk diiringi ucapan alhamdulillah. Lalu pertanyaan-pertanyaan lain pun mulai bermunculan. Bekerja di mana, tinggal di kota mana, dan sudah menikah atau belum.

Kori sedikit malu mendengar pertanyaan itu. Malu karena pemuda itu pun seperti tengah mendengarkan jawaban dari mulutnya.

"Belum," jawab Koriah pelan.

Mereka menyambutnya dengan senyum tulus. Bukan ejekan. Karena mereka tahu, Kori belum menikah bukan karena dia tak laku. Lagipula saat ini mereka masih belum terlalu tua. Baru berusia sekitar 25.

"Tapi pasti udah banyak yang lamar kan?" tebak Masayu.

"Yakin deh, Kori pasti bingung pilih siapa yang bakal dijadiin suami." Lisa menyahuti.

"Beruntung sekali pemuda yang bisa dapetin kamu, Kori!" ucap Delisa sungguh-sungguh.

Tanpa sadar, Kori melirik ke arah pemuda itu. Pemuda yang ternyata juga tengah menatapnya.

Ah, debar-debarnya semakin membuat Kori salah tingkah. Karena alasan dia datang ke acara reuni ini hanya untuk bertemu dengannya.

Pemuda itu, yang sejak saat mereka duduk di kelas satu sudah membuat Kori merasa debaran rindu.

Hari minggu yang seharusnya dinikmati setelah enam hari sibuk dengan mata pelajaran yang cukup memusingkan, malah menjadi hari yang paling dibenci Kori.

Ingin sekali dia hapuskan tanggal berwarna merah itu dari kalender. Apalagi saat dia harus disiksa oleh liburan tengah semester atau libur kenaikan kelas yang sangat lama.

Masih diingatnya, satu hari dimana mereka bicara sangat dekat. Satu hari sebelum kelulusan.

"Kamu coret-coret dinding sekolah?" Pemuda itu menatapnya tak percaya.

Tak percaya. Karena yang ia tahu, Kori adalah gadis baik berwajah lugu. Yang sama sekali tak berani melanggar tata tertib sekolah. Apalagi mencoret tembok sekolah seperti yang tengah ia lakukan ini.

Kori menarik tangannya. Menunduk, tak berani membalas tatapan Fajri.

"Kenapa takut? Aku nggak bakal ngaduin kamu ke guru!" Fajri tertawa.

Baru kemudian Kori berani menoleh padanya.

"Aku cuma mau tau kenapa kamu nyoret-nyoret dinding sekolah kaya gitu!"

Kori mengulurkan tangan, menambahkan huruf H pada akhir namanya.

"Setelah lulus, mungkin nggak ada satu orangpun yang inget aku pernah sekolah di sini juga ... jadi ... aku tulis namaku sendiri. Sebagai tanda bahwa aku juga pernah sekolah di sini ..."

Kalau Liana, semua orang pasti tahu bahkan tanpa perlu ditanya, dia meneruskan kata-katanya dalam hati.

Hening untuk beberapa saat.

"Sebenernya gampang untuk membuat mereka tahu kamu lulusan sini. Jadilah sukses setelah kelulusan."

Kori menoleh.

"Populer di masa SMA itu menyesatkan. Apalagi tenarnya karena penampilan fisik, bukan karena kemampuan."

Fajri mengulurkan tangan, ikut menuliskan namanya tepat di sisi nama Kori.

"Lihat, saat reuni nanti ..." ucapnya tanpa menatap Kori. "Lihat, nama-nama yang sekarang populer itu, apa mereka tetap bisa menunjukkan kesuksesan setelah lulus dari sekolah. Karena yang aku tau, kebanyakan mereka gagal setelah jiwanya terlanjur terlena dengan pujian."

Koriah terdiam lagi. Tidak begitu mengerti apa yang dimaksud Fajri, tapi dia tidak ingin terlihat bodoh. Jadi dia pura-pura memahami.

.

Bertahun setelah kelulusan itu. Kori lulus sebagai sarjana. Lalu mulai bekerja di sebuah perusahaan ternama.

Dari sana, dia mulai memperbaiki penampilan fisiknya. Merawat diri, dengan uang yang dihasilkan sendiri. Hingga akhirnya tersiar undangan reuni para alumni.

Kori datang, untuk menunjukkan pada Fajri bahwa sekarang dia benar sudah memahami.

"Kori, apa kabar?" Terdengar suara sapaan.

Koriah menoleh. Seketika debaran jantungnya mengencang. Demi melihat Fajri yang sudah selangkah di depannya kini tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arahnya.

"Baik, Fajri." Senyum mengembang di bibir Kori. Terbalas oleh senyum manis sang pemuda.

Sudah didengarnya bahwa Fajri bekerja sebagai wiraswasta saat ini. Terbilang mapan untuk pemuda seusia mereka.

Padahal dulu, Fajri hanyalah siswa kurus berwajah manis yang pendiam. Jauh dari sorak sorai para gadis cheerleaders yang meneriakan nama siswa tenar di sekolah mereka. Sangat tak sepadan jika dibandingkan dengan siswa-siswa populer lainnya.

Tapi kini, entah di mana siswa siswi populer itu. Beberapa nama mereka disebutkan dengan keadaan kurang menguntungkan.

Seperti Dian yang memilih menjadi model majalah dewasa, Tony yang terlibat kasus kriminal, bahkan ada yang diketahui menjadi istri simpanan.

"Setelah ini, bisa kita makan di luar?" Fajri bertanya. Disambut deheman dan tawa menggoda dari yang lainnya.

Sementara wajah Kori sudah dihiasi semburat merah di kedua belah pipinya.

***

Udara menjelang malam terasa sejuk, disertai angin berembus pelan membelai rambut lembut Kori. Di sebelahnya, Fajri berjalan dengan langkah tegap dengan wajah berhiaskan senyuman.

Mereka berdua asyik membicarakan masa SMA. Bedanya, kali ini dibubuhi dengan ungkapan tentang perasaan juga.

Hingga akhirnya sesosok kecil berusia 8 tahunan yang berlarian jatuh setelah menabrak Fajri.

Dibantu berdiri oleh pemuda itu. Tak jauh dibelakangnya seorang wanita memanggil.

Wanita berpakaian sederhana. Dengan rambut diikat sedikit seadanya. Tengah menggendong seorang balita di pinggang sebelah kiri.

"Olla! Hati-hati!" Serunya sambil berlari menghampiri.

Setelah menepuk-nepuk lutut kaki anak kecil itu, dia menatap ke arah Fajri dan Kori, akan mengucapkan permintaan maaf, tapi segera tertahan.

Menyadari, bahwa dulu mereka saling mengenal.

"Liana?" Kori menggumam sebuah nama.

Sedikit tak percaya. Karena yang ia tahu, Liana dulu adalah seorang gadis cantik paling populer di SMA nya. Tapi yang di hadapannya kini, hanya sosok seorang wanita bertubuh kurus dengan dandanan tak terurus. Membawa dua anak yang hampir seumur dengan usia kelulusan mereka.

Teringat kembali saat-saat terakhir sekolah, memang perut Liana terlihat sedikit membesar. Apa itu artinya ...

Benar yang Fajri bilang. Bahwa kepopuleran penampilan fisik di masa SMA hanya akan menghasilkan jiwa-jiwa manja yang merasa selalu haus dipuja.

Menjadikan mereka terlena oleh kenikmatan sesaat yang belum waktunya dikecap, lalu berakhir dalam masa depan suram.

Hingga tak jarang beberapa dari mereka tak berani datang menghadiri reuni.

 Penulis: Patrick Kellan
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top