Cerita: Hutang - Saifullah | My Everything

Cerita: Hutang

Hutang
Dulu tak pernah terbersit dengan kata hutang, yang aku tahu, kalau ada duit ya beli, klo gak ada ya gak beli. Hanya sesederhana itu bagiku tentang kebutuhan.

****

" Mas ada duit gak 20 juta?? Pinjem dulu dong, nanti di ganti " aku mendengar percakapan adik iparku reva dengan suamiku.

" Yah gak ada va, coba nanti mas pinjem ke temen mas " entah kenapa suamiku berusaha memberi pinjaman, padahal ia tak punya.

Setelah adik iparku pulang, dengan tak sabar aku tanyakan perihal adik iparku yg meminjam uang itu.
" Reva pinjem uang buat apa yah? " Tanyaku
" Katanya mau ganti mobil, duitnya kurang " jelas suamiku 
Aku tak habis pikir dengan kebutuhan adik iparku itu, aku rasa itu bukan hal yag mendesak sampai harus meminjam, karena suamiku tak ada uang untuk meminjamakannya, aku tak tanya lebih lanjut, ku pikir ini akan terlewat.

Sebulan setelah adik iparku pinjam uang, entah dapat pinjaman dari mana, ku lihat ia datang dengan mobil barunya, avanza veloz matic warna putih plus plat nomer unik "R 3 VA" 
"Mba, mas angga mana ya?" Tanya reva dengan tas dior hijau jamrud ditangan kanannya, gak tau itu asli apa KW.

" Angga belum pulang kerja, biasanya habis magrib baru sampe " jelasku
" Habis dari mana va? " Tanyaku, sengaja tak ku tanya tentang mobil barunya
" Abis dari rumah temen tadi... yaudah reva pulang dulu ya, nanti bilangin mas kalo udah sampe telpon reva ya " pesan reva
Aku mengangguk sambil mengantarnya ke pintu dan melihatnya melaju dengan mobil barunya.

Seminggu setelah tanggal gajian, kulihat tak ada tambahan transferan masuk ke rekeningku, hanya transferan gaji dari tempatku bekerja, biasanya mas angga sehari setelah gajian langsung mentransferkan sebagian besar gajinya, dia hanya menyisihkan untuk transport dan jajan saja.

" Yah, kok belum masuk transferannya? Emang belum gajian " tanyaku ketika ia senggang,
" Beberapa bulan kedepan ayah gak bisa kasih uang bulanan dulu ya bun, soalnya kemarin ayah pinjamkan uang ke reva pakai kartu kredit " katanya santai
" Maksudnya gimana yah? Kok pake kartu kredit ?? Emang punya ? " Tanyaku tak paham, setauku ia tak punya kartu kredit
" Pakai gestun alias gesek tunai, kartu kreditnya punya temen ayah, bayarnya di cicil selama 6 bulan " jelasnya

Selama 6 bulan kedepan kebutuhan rumah tangga full pakai gajiku, seharusnya gajiku ditabung untuk biaya persalinanku, ya saat ini aku sedang hamil muda.

" Kok ayah yang bayar cicilannya? Kenapa gak reva aja? Kan dia yang pinjam " kataku
" Dia bisa bayarnya nanti kalau bonus dari rendi turun " katanya santai tanpa beban.

Rendi itu suami reva, baru baru ini ia pindah kerja diperusahaan kontraktor, katanya gajinya sih tak seberapa, tapi bonusnya tiap bulan sangat lumayan bisa buat pergi umroh tiap bulan, katanya.

Selama 6 bulan ini, aku tetap berusaha menyisihkan uang untuk biaya persalinanku, dan alhamdulillah insya allah cukup untuk biaya persalinan nanti, untuk keperluan bayi, aku dapat lungsuran dari adik iparku reva, sebelumnya dia sudah punya 1 anak laki laki yang sekarang berumur 1 tahun, baju baju bayinya masih bagus walau bekas, aku tinggal melengkapi yang belum ada saja, seperti perlengkapan mandi, handuk, dan perlak.

Sudah tiga bulan mas angga menyicil angsuran pinjaman reva, tapi sampai detik ini tak satu rupiahpun reva bayar hutangnya pada mas angga, katanya bonus rendi suaminya belum turun, padahal aku lihat update sosial medianya selalu makan makan di resto dan jalan jalan ke tempat yang selalu instagramable.

Sebulan sebelum Menjelang persalinanku, tiba tiba gino teman dekat suamiku datang dari kampung dengan honda mobilio nya, setauku ia bekerja sebagai supervisor dipabrik tekstil di surabaya, kampung halaman mas angga, karena rumahnya dekat dengan simbahnya mas angga dia sering membantu simbah disana, mas angga sudah menganggapnya saudara sendiri.

" Ngga, gimana kabarnya nih? Makin makmur aja setelah nikah " ledeknya sambil menunjuk perut angga yang buncit
" Hahaha bisa aja gin, kalo buncit mah ini karena jarang olahraga bukan karena tambah makmur " kata suamiku sambil cengengesan.

Setelah obrolan basa basi, aku yang sedang rebahan di kamar mendengar obrolan serius mereka, bukan maksud menguping tapi dengan rumah petak alias kontrakan yang kamar dan ruang tamu hanya dibatasi tembok tanpa daun pintu, sebagai penghubung ruangan hanya terhalangi hordeng dengan corak merah kembang kembang.

" Ngga ada duit 5 juta nganggur gak? Uang Cicilan mobil bulan ini dipake ibu buat nambahin beli motor adek ku si ria " kata gino sedikit berbisik tapi masih terdengar jelas ditelingaku
" Bulan depan aku ganti " tambahnya
" kayanya Ada sih no, Bentar tak liat dulu ya " mas anggapun masuk dan langsung mengampiriku, 
" Bun, gino mau pinjem duit 5 juta, ada gak? Uang buat lahiran ada kan? Bulan depan nanti dibalikin " kata mas angga
" Ada sih, tapi kan itu buat biaya persalinan nanti" kataku
" Kan lahirannya masih bulan depan? " Mas angga tetap kekeuh ingin meminjamkan
" Kalo nanti ada apa apa gimana mas? Kita gak ada uang simpanan gimana ?" Tanyaku,
" Insya allah gak ada apa apa, pinjamkan gino ya? Kasihan dia, kan dia sudah sering bantu simbah dikampung " katanya lagi meyakinkan.

Dengan terpaksa aku menyerahkan uang tabunganku pada mas angga, setelah itu gino pamit pulang, mas angga sempat menyuruhnya menginap di sini, tapi gino menolak lantaran dia sudah janji ingin mengunjugi pakde nya.

Saat bulan persalinanku tiba, aku tanyakan ke mas angga tentang pinjaman gino kemarin dan juga hutang reva adiknya.
" Yah reva sama gino sudah bayar utang belum?? Bentar lagi kan mau lahiran nih " tanyaku pada suamiku, kulihat ia hanya berkutat dengan gawainya
" Oiya bentar ayah tanya gino nya, kalo reva 2 bulan lagi katanya baru turun bonusnya " jawab suamiku tanpa menoleh sedikitpun dari gawainya

Uang tabungan sudah kutarik semua, tersisa dua juta limaratus ribu rupiah saja, tabungan mas angga, ahh jangan ditanya, jangankan ada sisa gajian, untuk ongkos kerja saja ia minta padaku, dengan uang segitu untuk lahiran normal di bidan mungkin cukup, tapi karena awal kehamilanku sering ngeflek jadi aku periksakan kehamilan pada dokter kandungan, takut beresiko akupun pilih melahirkan dibantu dengan dokter kandungan yang biasa memeriksaku.

Sampai pada akhirnya aku melahirkan, mereka tak kunjung jua membayar hutangnya, dan terpaksa mas angga menjual cepat motornya untuk menutupi biaya lahiran.

Sebulan setelah melahirkan, gino memberi kabar kalau ia tidak bisa membayar hutangnya secara langsung, ia hanya mampu mencicil tiap bulannya sebesar limaratus ribu rupiah, sedangkan adik iparku reva juga demikian, tapi seperti biasa sosial medianya tetap aktif dengan makanan dan tempat yg instagramable.

Kenapa hanya untuk memenuhi kebutuhan sekunder mereka, kami yang harus bersusah payah, terlebih setelah melahirkan aku tak lanjut bekerja, karena tak ada yang membantu menjaga si kecil.

Kaya itu bukan sekedar materi, bisa menikmati rasa syukur saja itu pertanda diri kita kaya. Kalau bisa jangan lah kau berhutang untuk ego mu sesaat, karena dibalik itu siapa tau ada perut lapar yang harus di tahan.

By : Feypuspita
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top