Surat Terbuka Untuk Pak Prabowo - Sandi - Saifullah | My Everything

Surat Terbuka Untuk Pak Prabowo - Sandi

Kira-kira 1 bulan yang lalu, ketika bencana alam di Lombok terjadi, ada sebuah catatan haters Pak Jokowi yang cukup menyita perhatian "Haters Jokowi di Lombok: Maafkan Rakyatmu yang Tak Tahu Diri...!!!". Catatan tersebut menceritakan tentang kebenciannya terhadap Pak Jokowi yang kemudian berakhir dengan penyesalan.

Tidak lama setelah peristiwa terbongkarnya cerita hoax yang melibatkan seorang wanita yang berinisial RS, kini muncul kembali sebuah surat terbuka dari fans capres dan cawapres. Namun kali ini bukan ditujukan untuk Pak Jokowi, melainkan untuk Pak Prabowo. Surat ini berasal dari pendukung Prabowo yang dikutip dari laman Facebook bernama Winadi Wibawa (4/10/2018). Berikut isi suratnya:
***
Saya Pendukung Pak Prabowo sejak 2014 bahkan tetap mendukung bapak di tahun 2019, lengkap bersama keluarga saya, kecuali anak saya yang sulung yang tetap setia menjadi pendukung Pak Jokowi sejak 2014. Saya sebenarnya keberatan atas hal itu, tetapi saya menghormati pilihan politik dia sebagai anak dan tidak mau memaksakan agar dia bisa ikut dengan saya, ya walaupun tiap kali kami berdiskusi soal pekerjaan atau keluarga dia, saya tetap masukkan paham agar dia bisa pindah Pilihan Politiknya ke Pak Prabowo. 

Bahkan karena begitu hormat dengan Pak Prabowo, saya hampir selalu mempromosikan kepada teman teman saya yang memilih Jokowi dan teman teman saya yang masih bingung memilih siapa. Itu saya lakukan terus menerus sejak bapak Prabowo deklarasi untuk nyapres kembali bersama pak Sandiaga Uno di tahun 2019, dan saya termasuk yang vokal dengan Gerakan #2019GantiPresiden. 

Bahkan saya begitu murka begitu mendengar kabar salah satu ketua tim Kampanye Nasional Pak Prabowo Sandi dihantam oleh beberapa orang. Saya hampir saja menuliskan simpati saya kepada ibu Ratna Sarumpaet di medsos dan menyebarkan kebencian saya kepada Pak Jokowi, apalagi ketika mendengar Press Release Pak Prabowo bersama Pak Amien Rais dan Pak Joko Santoso di TV, tetapi teman baik saya mencegah dan menasihati saya bahwa ini sepertinya ada yang keliru karena Tim Kampanye Pak Jokowi tidak mungkin berbuat demikian. Andaikan memang ada penganiayaan, mungkin saja itu di luar faktor Politik, faktor Utang piutang misalnya. Saya sempat berantem hebat dengan kawan saya dan sampai terbersit di pikiran saya, mungkin saja kawan saya ini benar dan saya yang salah paham. Akhirnya saya minta maaf ke dia karena sudah berselisih kepada dia dan mengikuti untuk memantau berita ini sambil fokus kepada pekerjaan saya di kantor.

Press Release Mabes Polri di siang hari bahkan masih memberikan saya kecurigaan, ah siapa tahu Polisi sudah disuap, tetapi Polri memberikan bukti yang begitu konkrit yang menghancurkan kebencian saya dan mulai mempercayai pernyataan Kepolisian di TV. Kebencian saya kepada Pak Jokowi kemudian berubah mencair ketika Ibu Ratna Sarumpaet memberikan pernyataan terbuka di TV beberapa jam kemudian setelah Press Release kepolisian. 

Pikiran saya mulai berubah drastis setelah mendengarkan semua pernyataan bahwa Ibu Ratna Sarumpaet sendiri yang menyebar hoax. Ya walaupun dia menyesal, tetapi itu menyadarkan saya, ya pak, benar benar membuat saya sadar. Saya sadar saya telah salah memilih sejak 2014.

Kenapa begitu? Apakah begitu bodohnya seorang Mantan Kopassus berpangkat Jendral Bintang tiga untuk termakan Hoax yang disebarkan Tim Kampanyenya sendiri ? Pernyataan bahwa Ibu Ratna Sarumpaet mengaku bohong di Publik berbeda terbalik sekali dengan pernyataan Pak Prabowo yang begitu berapi api menyalahkan Pemerintah, yang saat itu dipimpin pak Jokowi. Itu berarti, apa yang dibilang Ibu Ratna Sarumpaet ditelan mentah mentah oleh Pak Prabowo Sandi dan timnya tanpa verifikasi fakta di lapangan. Mereka hanya percaya berita di medsos dan mulut Tim kampanye sendiri. Ya saya akui saya juga salah, saya salah emosi karena reaksi panutan yang saya idolakan sejak 2014. Saya juga akui saya salah memilih bapak dan mencoblos bapak di tahun 2014, walaupun Pak Jokowi menjadi Presiden di tahun 2014-2019. 

Seorang Pemimpin harus verifikasi data dulu sebelum melakukan judgment, itu sudah jadi tugas pemimpin ke anak buah, termasuk ke warga negaranya sendiri. Pikiran saya bahkan berubah jadi ketakutan. Bagaimana jika bapak menjadi Presiden? Bapak bisa dengan mudahnya menyalahkan pihak lain hanya dengan membaca Medsos, melihat foto yang belum jelas bahkan omongan orang. Beneran bisa hancur negara ini seperti yang bapak pidatokan saat itu.

Pilihan ini bukan tanpa alasan pak. Malam harinya setelah Ibu Ratna Sarumpaet mengaku “Dosa” di TV, saya mendengarkan suara suara berita saat saya di rumah karena anak saya menonton jejak kerja Pak Jokowi saat menghadapi Gempa di Palu, Sigi dan Donggala. Saya begitu kaget di saat bapak Press Conference untuk membela Ratna Sarumpaet dan malam hari setelah pengakuan Ibu Ratna, bapak berubah mencaci maki bu Ratna walaupun dengan bahasa terstruktur dan sopan seolah olah ibu Ratna Sarumpaet depresi/ gila dan yang sungguh mencengangkan saya, Presiden yang saya pernah benci, tidak memberikan komentar atas kasus Press Release bapak tetapi dia fokus ke Palu & Donggala untuk membantu warganya yang sedang mengalami bencana gempa dan Tsunami yang dahsyat. Tak terasa air mata menetes di pelupuk mata saya dan saya menyadari kesalahan saya selama ini.

Saya sekarang hanya bisa menemui kawan kawan saya yang sempat saya kampanyekan kehebatan bapak dan bilang saya salah. Saya akui saya salah. Saya akan mengikuti pilihan politik kawan kawan saya untuk memilih Pak Jokowi menjadi Presiden kembali. 

Terimakasih pak Prabowo atas sandiwara Ratna Sarumpaet dan acara “Behind The Scene” nya kenapa sandiwara itu terjadi. Saya tetap menghormati Pak Prabowo sebagai Capres, tetapi saya telah menentukan pilihan untuk 2019 untuk memilih Pak Joko Widodo sebagai Presiden RI kembali.

Sekali lagi, terima kasih telah membuka mata hati saya.
SHARE:

Jangan lupa berkomentar ya

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top