Patrick Kellan: Pacar Online Part 4 - Saifullah

Patrick Kellan: Pacar Online Part 4

"Bang, bilang ... chat ama siapa?"

Dadaku sedikit berdesir saat tangannya meraih gawai di tangan. Untung segera kualihkan ke tangan yang satu lagi hingga makin sulit terjangkau olehnya.

Sementara mulut seperti terkunci. Berdebar jika chat bersama Nessa ketahuan.

"Bang!" Tangannya kini menggapai.

Hingga kami berjarak begitu dekat. Sangat dekat, sampai napas panasnya menyapu permukaan kulit wajahku.

Beberapa detik saling bertatapan, lalu ....

"Najis!"

Kami mengumpat bersamaan.

Piyan tertawa lalu kembali masuk ke dalam selimut. Sementara aku mengusap wajah, menghilangkan jejak napasnya dari sana.

"Tidur oii, Bang! Udah jam satu malam masih ngegombal ae!" ledeknya.

Aku tak menjawab. Hanya menoyor kepala belakang Piyan dan menunggu anak itu tidur lagi, lalu akhirnya kembali membuka chat.

Elah, ditinggal tidur ama si Nessa. Nggak kasih cium dulu lagi. Mana bisa tidur kalo begini?

'Kak.'

Pesan masuk dari akun bernama Jelita.

'Ya?' Aku membalas singkat.

'Yeey! Tumben dibalas!'

'Haha!'

'Kok belum tidur?'

'Kamu sendiri ngapain belum tidur?'

'Lagi ngerjain tugas kuliah. Eh liat lampu Kak Mahes masih On. Iseng aja chat. Nggak papa kan?'

'Ok.'

'Kak, mau nanya boleh?'

'Apa?'

'Suka cewe yang kaya apa sih?'

Aku tersenyum miring, lalu menjawab singkat seperti biasanya.

'Yang gak banyak nanya.'

Sindiran berhasil. Setelah itu, dia gak nanya lagi. Tapi ternyata malah berubah jadi kasih perintah.

'Setelah ini Kakak yang chat duluan lah!"

Elaaahh ...

Piyan menggeliat, lalu seenaknya menumpangkan kaki ke paha. Untung ini kamarnya, kalo di rumah sendiri mah udah dibuang nih biji nangka lewat jendela.

***

Semisterius apapun akun di dunia maya, tetap saja perasaannya nyata. Begitu juga dengan jatuh cinta dan patah hatinya. Dan yang paling lucu dari semua itu adalah bahwa di dunia nyata pun kesetiaan ikut terbawa.

Seperti hari ini saat aku mengajar lagi. Wajah-wajah polos itu terlihat menawan untuk diajak bicara. Kadang setengah menggoda saat tak sengaja bertatap mata.

"Sudah selesai?" Aku bertanya sambil melipat kedua tangan tepat di hadapan bangku gadis itu.

Dia mendongak. Sesaat cuma bengong.

"Nes?" Aku menaikkan alis.

"Ah, iya Pak!" Dia buru-buru mengangguk. Sambil nyengir tanpa dosa.

"Iya apa?"

"Sudah selesai, Pak!"

"Sudah selesai baca pertanyaannya maksud kamu? Lembar kamu masih kosong itu!"

Dia menggaruk kepala, sementara aku menghela napas dan berbalik kembali ke depan ruangan.

"Selesaikan tugas kalian, Bapak ke sini lembar jawaban sudah dikumpul di meja!"

Terdengar desah keberatan anak-anak. Aku melirik gadis itu sekilas, lalu melangkah keluar kelas.

Lucu. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari cinta maya? Bisa jadi selama ini Nessa membayangkan yang chat dengannya adalah sosok yang sesuai dengan harapan.

Masih kuingat chat kami saat itu.

'Sukanya cowok kaya apa, Nes?'

'Yang bisa buat aku nyaman dan ketawa.' jawabnya antusias.

Nyaman dan bikin ketawa? Aku mana bisa. Bisa ngomong di depan cewek aja untung-untungan. Chat bisa luwes cuma di medsos aja. Aslinya ampun-ampunan.

"Hei! Bengong aja!" Tiba-tiba seorang gadis menjajari.

Namanya Alya. Salah satu guru honor di SMA ini. Usianya sekitar setahun di bawahku. Baru beberapa kali kami ketemu dan ngobrol ini itu. Tapi keliatannya Alya sudah merasa lumayan nyaman.

Keliatan, dari caranya sering ngekor saat nggak sengaja papasan di koridor.

"Udah makan siang belum?" Dia bertanya sambil membenahi ujung jilbab yang dipakainya.

"Ini mau ke kantin."

"Asiik, bareng dong!"

Aku tertawa kecil. Kami berdua berjalan beriringan menyusuri koridor demi koridor menuju kantin yang letaknya di bangunan paling ujung.

Sepanjang perjalanan, Alya terus bicara tentang apa saja. Tentang murid-muridnya, tentang pelajaran yang diajarkannya, tentang kehidupannnya, juga tentang kebahagiaannya saat bicara.

Denganku.

Aku menepuk kepalanya pelan.

"Iya kalo kamu lagi sakit, jelas sepi di sini. Bu guru kan yang bikin semangat semua murid!" ucapku.

"Cuma murid?" Dia mengerjapkan mata indahnya.

Tahu apa maksudnya, aku tertawa lagi. Bersamaan dengan rasa panas yang menjalar di permukaan wajah.

"Bapak gurunya juga."

"Serius?" Kini senyum lucunya berubah jadi pertanyaan penuh harap.

"Serius. Kita kan temen baik." Akhirnya aku berucap.

Mengoyak sesuatu yang sempat terlihat di sepasang netra tadi. Sesuatu bernama 'binar'.

Kalau sudah begini ... mulai ada sedal yang menyisip dalam hati. Aku berpaling dan berusaha menyamarkan percakapan kami tadi.

"Mau makan apa? Aku traktir deh!"

"Yeey!" Dia tersenyum lebar.

Aku melangkah lebih dulu memasuki kantin yang masih sepi dari murid-murid. Karena bel istirahat memang belum berbunyi.

Alya nyata, Nessa maya. Lalu dengan konyol aku menyingkirkan gadis yang jelas-jelas bisa dipegang demi gadis yang bahkan aku tidak tahu saat bertemu akankah masih bertahan.

Aneh memang.

Jadi siapa yang bilang apa yang ada di dunia maya itu semuanya palsu? Nama, wajah, dan update status mungkin iya. Tapi rasa di dalam hati, tetaplah nyata.

Aku salah satu buktinya.

***

"Di mana Al?" Aku bertanya dengan nada cemas saat akhirnya suara telepon telah tersambung.

Terdengar tawa lirih gadis itu.

"Di mana?" Aku mengulang.

"Lagi di rumah sakit."

"Kenapa?"

"Nggak papa sih. Tadi pagi pas mau berangkat ke sekolah tiba-tiba pingsan."

"Maag lagi?" Aku menebak.

"Hmm ... iya."

"Bandel!"

"Tapi nggak papa kok. Beneran."

"Ya udah aku ke sana sekarang! Kamar apa?"

"Kamu kan lagi ngajar?"

"Nggak apa-apa. Aku bisa tinggalin tugas."

Alya menyebut nama dan nomor ruangan tempatnya dirawat. Setelah itu aku menutup teleponnya.

Setelah memberi tugas pada murid-murid, segera melesat pergi dengan motor besarku keluar dari halaman sekolah menuju rumah sakit di mana Alya dirawat.

.

Setelah memastikan keadaan Alya baik-baik saja, aku pamit pulang. Gadis itu mengangguk dan tertawa penuh semangat seperti biasanya, hanya saja aku tahu dia menahan rasa sakit di tubuh lemah itu.

Berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah santai, lalu semakin melambat saat kulihat sosoknya menuju ke arahku.

Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu juga ikut berjalan lambat saat tatapan mata kami bertemu.

"Mau jenguk Bu Alya, Nes?" Aku bertanya saat akhirnya kami berdiri berhadapan.

Gadis itu mengangguk pelan. Tapi ada sesuatu yang terlihat menggantung di wajah yang biasanya terlihat ceria itu.

"Tau di ruangan apa?"

"Enggak, Pak."

"Mau diantar?"

"Hmm ...." Dia menggigit bibir sendiri. "Nanti Bu Alya marah nggak?"

Mataku menyipit.

"Maksudnya?"

"Bapak ... ada hubungan sama Bu Alya kan?"

Jaaah, malah jadi ajang interogasi. Aku menahan tawa melihat ekspresinya. Lalu menggelengkan kepala. Ada-ada aja!

"Ayo cepetan kalo mau diantar!"

Akhirnya kami berjalan bersisian menuju ruangan Alya. Merasa sama-sama sedikit canggung, jadi hanya terdiam di sepanjang perjalanan.

Beberapa kali gadis itu menoleh. Lalu pura-pura melihat ke depan saat aku menoleh ke arahnya. Begitu sampai berulang-ulang. Seperti ada yang sedang ia pikirkan.

***

Aku merebahkan diri di pembaringan. Jam menunjukkan pukul 22.30. Membalas beberapa chat di WA. Memberi sedikit arahan tentang buku dan tetek bengeknya. Lalu mulai menjelajah ke timeline sendiri.

Terlihat foto-foto yang diunggah Nessa. Beberapa komen di sana membuatku tertawa, sementara sisanya membuatku sedikit ... panas.

'Abaang!'

Dia mengirim pesan.

Aku tersenyum. Beralih dari pesan-pesan penting lain tentang penjualan, dan membuka chat darinya.

'Apa? Udah makan blm?' Aku membalas.

'Telat nanyanya!'

'Daripada enggak?' Aku mengirim emot lidah.

'Udahlah dari tadi.'

'Minum udah?'

'Udah!'

'Cium Abang, udah?'

'Omes!'

'Hahaha!'

'Bang, mau tanya.'

'Paan?'

'Tadi ... ke rumah sakit?'

Aku terdiam.

'Iya. Kenapa?'

'Siapa yang sakit?'

'Temen.'

'Bang ...'

'Hmm?'

'Kita ... di dunia nyata udah pernah ketemu belum sih?'

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll