Patrick Kellan: Pacar Online Part 2 - Saifullah

Patrick Kellan: Pacar Online Part 2

"Apa ini?" Si killer menatapku tajam.

"Kertas, Pak," jawabku pelan lalu menunduk.

Tak berani membalas tatapan mata elang itu. Bukannya apa, aku takut jatuh cinta ...eh. Kalian tau kan resikonya jatuh cinta itu harus siap patah hati? Urusanku sama Angga aja belum jelas. Tiba-tiba tuh cowok tutup akun FB hanya karena gak tahan melihat aku yang sering digodain seseakun si Mahesa itu. Kan cemen namanya. Alhasil hingga saat ini statusku dan dia masih gantung. Eet daah! Kirain jemuran kali.

"Saya tau ini kertas. Maksud saya kenapa hasilnya seperti ini. Memalukan! Katanya jebolan sekolah." Eelaah, pakai nyindir lagi.

Si killer mencengkeram pinggiran meja kerjanya kuat. Rahangnya yang kokoh terlihat mengeras.

"Ooh ... lagian bapak sih, ngomong kaga jelas."

"Kamu ...." Lelaki itu makin naik pitam.

Alhasil aku kena setrap, disuruh membersihkan toilet setelah bell pulang nanti. Ah ... si bapak mah tega. Gak sadar apa, nilai plus nya jadi berkurang satu di mataku.

Aku melangkah lunglai kembali ke kelas. Tanpa pamit. Ogah banget. Secara aku masih sangat jengkel sama guru belagu yang satu itu.

Tepat pukul 16.00 bell panjang berbunyi pertanda jam pelajaran wajib hari ini usai. Adit datang nyamperin aku ke kelas.

"Dit, tunggu bentar ya. Gue mau bersihin toilet dulu."

"Toilet?" Adit menatap dengan jidat dilipat.

"Hu'um, gue kena hukum si killer itu." Aku cemberut.

"Kok bisa?"

Aku menceritakan kronologis apa adanya. Bukannya prihatin, Adit malah tertawa ngakak.

"Lo sih," ujar Adit setelah tawanya reda.

"Bantuin!"

"Ogah!"

"Adit ...!"

"Gue ada latihan futsal, Kak. Udah terlanjur janji soalnya."

"Terus gimana dong?"

"Ya lo pulang naik angkot. Hahaha."

"Yang benar aja lo."

Aku cemberut. Adit garuk-garuk kepala. Bingung juga kayaknya. Sebagai kakak yang baik, akhirnya aku ngalah.

"Ya sudah, lo balik duluan! Ntar gue naik ojol."

"Yakin?"

Aku mengangguk. Lalu mendorong punggung Adit keluar kelas.

"Beneran nih gapapa, Kak?" Ia kembali menoleh, memastikan.

"Iye. Langsung pulang! Jangan ngayap!"

"Eelaah, Kak. Lo dah kayak emak-emak, tau gak."

Adik semata wayangku itu langsung ambil langkah seribu ketika melihat tanganku terangkat. Siap untuk menoyor kepalanya.

Sekarang tinggal aku. Bersiap melaksanakan hukuman yang tak penting. Setelah merapikan barang-barang dan menyimpannya di loker sekolah, aku langsung menuju toilet. Dengan mendumel panjang pendek tentunya.

"Gue sumpahin tuh si killer jatuh cinta ama gue, eh ...."

Setengah jam kemudian ...

Aku menarik napas lega. Akhirnya hukumanku selesai. Setelah mencuci tangan dan mengeringkannya dengan tisu, aku segera mengambil peralatan sekolah yang tadi tersimpan di loker.

Pulang.

Aku mengobrak abrik isi tas. Ponselku. Kemana benda pipih persegi panjang itu? Aku mencari di setiap ruang dan kantong ransel. Nihil. Baru ingat, ponsel itu aku lempar ke sembarang arah di atas tempat tidur setelah nyetatus tadi pagi.

Bagaimana ini? Masa iya aku harus naik angkot? Mending sekali naik. Ini nyambung beberapa kali. Karena gak ada angkot yang langsung menuju kompleks perumahan kami.

Mana perut lapar banget. Karena malas untuk turun ke kantin pada jam istirahat, makan siangku terlewatkan. Dalam keadaan seperti ini memang emosi gampang sekali meledak.

Aku ngomel-ngomel sambil berjalan menuju halte dengan kaki dihentak-hentakkan ke tanah. Mulai menyalahkan si killer, Adit yang gak mau ngalah bahkan juga seseakun. Kalau saja bukan gegara chat semalaman tentu saja pagi ini aku gak akan ketiduran. Dan ponselku tidak akan tertinggal di rumah.

Tiiiin!

Aku menepi.

Tiiiinnn! Lebih panjang dan berulang-ulang. Aku berbalik sambil berkacak pinggang.

"Apa sih? Lo pikir ini jalan punya ne ...."

Nada suaraku yang tadi mencapai 8 oktaf, mendadak turun hingga titik terendah.

"Hehe ... Bapak. Kirain tadi siapa." Aku nyengir sambil garuk-garuk kepala.

"Naik!"

Aku menggeleng.

"Mau pulang kan?"

"Iya, tapi naik angkot aja."

"Oh ... ya sudah."

Tanpa ba bu lagi ia langsung tancap gas. Aku gondok setengah mati. Dasar gak punya perasaan, sudah tau aku hanya basa basi. Eh ia malah nanggapin serius. Saking kesalnya tanpa sadar aku menangis.

Entah kesambet dari mana, tau-tau lima menit kemudian Fitto muncul lagi. Persis saat aku lagi terisak. Gimana gak kesal coba. Capek, lapar dan barang bawaan jangan tanya. Sudah seperti mau pindahan. Heran, belajar kok seperti kayak kerja rodi. Satu mata pelajaran aja ada tiga buku.

"Kenapa nangis?"

"Kaga, kelilipan. Bapak kenapa balik lagi?"

Ia tidak menjawab. Malah menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bikin salting aja.

"Berat ya?" Ia bertanya tanpa ekspresi.

"Apanya?"

"Naik!"

Bukannya menjawab ia malah memerintah seenaknya. Aku menatap ragu, sesaat netra kami bertemu. Lalu aku cepat-cepat menunduk dengan wajah menghangat. Malu.

"Naik, Nesa!"

Suaranya penuh penekanan. Hingga aku tak kuasa lagi untuk membantah. Walau masih ragu aku tetap naik di boncengan motor besarnya. Berusaha untuk menjaga jarak. Tapi sepertinya sulit. Jok belakangnya terlalu nungging, hingga suka tidak suka memaksa kita untuk memeluk si pengendara. Alhasil aku menaruh tottebag yang berisi buku-buku paket di tengah. Lumayan. Setidaknya aku tidak bersentuhan langsung dengannya.

Motor meluncur mulus dengan kecepatan sedang. Aku sudah seperti robot duduk di belakang. Saling diam itu gak enak. Mau memulai obrolan tapi tak tau harus membahas apa.

Setengah jalan tanpa mengatakan apapun ia membelokkan setangnya ke sebuah rumah makan.

"Pak ...?"

"Saya lapar."

"Tapi, Pak."

"Kenapa? Mau bilang kalau kamu itu gak lapar?" Lagi-lagi bola mata hezel itu menatapku.

"Gak, Pak. Saya juga lapar. Banget malah."

"Ya sudah kenapa masih bertanya."

'Ya Tuhan. Ini manusia apa robot sih. Kaku amat'.

Akhirnya aku hanya mengekor mengikuti langkah panjangnya memasuki rumah makan. Ia memesan dua porsi nasi Padang. Minta diramasin. Parahnya ia sama sekali tak bertanya mau ku apa. Semua yang ia pesan sesuai seleranya.

Ya sudahlah! Tak guna juga dipermasahkan, toh aku jenis omnivora. Selama makan, selesai, kembali lagi ke motor, melaju di jalan raya hingga sampai depan rumahku sikapnya tetap sama. Diam seribu bahasa. Hanya suaraku saja yang terdengar sesekali memberi instruksi sebagai penunjuk jalan. Benar-benar orang aneh. Apa mungkin bego ya. Secara aku yang begini unyu-unyu malah diabaikan.

"Terimakasih un ..."

Belum selesai omonganku ia telah ngacir dengan motor besarnya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Lebih dari ajaib ini orang. Untung cakep.

***

Sampai di rumah aku langsung menghempaskan tubuh di ranjang. Hari ini lumayan melelahkan. Sambil tiduran aku teringat ponsel kesayangan. Masih tergeletak di tempat tidur.

Aku mulai berselancar. Buka ig, riwayat chat di grup WA lalu terakhir FB.

'Capek! Ada yang bersedia mijit gak?'

Eelaah, ini status alay amat. Aku tau itu, tapi tak peduli. Kirim.

Baru satu menit, udah beberapa puluh laik yang didapat. Kadang bingung juga dengan teman-teman di timelineku. Status gak jelas gitu doang ditanggapi coba. Tapi itulah mungkin yang disebut apresiasi. Saling merespon walau cuma sekedar ngasih jempol. Kalau tidak buat apa teman kalau cuma menuh-menuhi list.

'Sini Dek, Abang pijit.'

Coba tebak, kira-kira siapa yang komen seperti ini?

'Males.'

'Lha, katanya capek.'

'Iya, tapi ogah dipijit ama Abang.'

'Kenapa?'

'Tangannya kaga di sekolahin. Jadi kaga pintar.' Lalu aku nambahin emot ketawa dan ujung lidah yang digigit.

'Ajarin!'

'Kaga pintar juga.'

Aneh. Kenapa setiap kali habis chating ama dia aku seperti mendapat semangat baru. Padahal chat gak penting juga. Pantas aja Angga cemburu setengah sakarat.

'Ini kenapa ya'?

By : Patrick Kellan & Yanti Anandya

Kolom Komentar

Centang "Beri tahu saya" supaya ada pemberitahuan melalui email saat kami membalas komentar kamu.

 
Template By Saifullah
Back To Top
Auto Scroll Stop Scroll